Cherreads

Chapter 103 - Bab 103: Jangan Tinggalkan Aku

Tangan Ravien masih menggenggam tangan Hina saat mereka keluar dari restoran.

Langkah Ravien panjang, seolah ia hanya ingin bergerak—bukan karena punya tujuan. Ia berjalan tanpa arah, menelusuri koridor hotel lalu keluar menuju area luar yang lebih sepi. Hina tidak bertanya ke mana, tidak protes, hanya mengikuti… seperti takut jika ia bicara, momen ini akan pecah.

Hina (dalam hati):

Tangannya… hangat. Aku… benar-benar digandeng…

Mereka berjalan sekitar lima belas menit. Suara ramai hotel pelan-pelan menghilang, diganti angin yang lembut dan suara daun.

Akhirnya Ravien berhenti di sebuah taman kecil—tenang, rimbun, dan jauh dari keramaian. Ada bangku kayu dekat pohon besar yang dahannya menjuntai seperti payung.

Ravien menatap sekeliling sebentar.

Ravien : "Di sini… lumayan."

Ia memilih bangku yang terlindung daun rimbun, lalu duduk. Posisinya santai, bahunya turun—seolah ini tempat yang ia cari sejak awal.

Hina duduk di sebelahnya, menjaga jarak sedikit. Jari-jarinya memainkan ujung baju, lalu memainkan ujung rambutnya sendiri, tidak tahu harus menaruh tangan di mana.

Selang beberapa menit, Ravien membuka suara, datar seperti biasa.

Ravien : "Kau haus?"

Hina tersentak dari lamunannya.

Hina : "S-sedikit…"

Ravien mendecak pelan seolah menilai itu jawaban yang wajar.

Ravien : "Tunggu di sini. Aku juga haus."

Ia bangkit.

Hina : "Baik…"

Ravien pergi, meninggalkan Hina di bangku taman itu.

Dan saat Ravien menghilang dari pandangan, dunia Hina terasa mendadak terlalu luas.

Hina menatap telapak tangannya—yang tadi digenggam Ravien.

Di lift… di restoran… semua terasa seperti mimpi.

Hina (dalam hati):

Apa ini saatnya aku jujur?

Detik itu juga, suara langkah mendekat.

Bukan satu.

Lebih dari satu—dan semuanya terlalu dekat.

Hina mengangkat wajah—dan dadanya langsung mengencang.

Ada beberapa pria mendekat: sebagian manusia, sebagian ras lain. Mereka tersenyum… tapi senyumnya bukan ramah. Itu senyum yang membuat kulit Hina merinding.

Pria 1: "Sendirian aja? Cantik."

Hina mencoba berdiri, tapi salah satu dari mereka bergerak menutup jalan, membuatnya kembali duduk seolah dipaksa oleh suasana.

Hina : "M-maaf… aku sedang menunggu teman…"

Pria 2 tersenyum tipis, seperti baru mendengar lelucon yang terlalu sering.

Pria 2: "Nunggu teman? Jangan bohong. Itu alasan klasik."

Pria 3 tertawa kecil, lalu mencondongkan badan sedikit.

Pria 3: "Kalau memang ada, telepon. Biar jelas."

Ia menahan senyum, seolah memberi pilihan. Tapi langkahnya menutup jarak.

Pria 3: "Atau… kita bikin kamu lupa nunggu siapa pun."

Hina mundur sedikit. Punggungnya menyentuh sandaran bangku, napasnya tercekat.

Dan tiba-tiba—kenangan SMP itu kembali.

Lorong sepi. Tawa yang mengejek. Tatapan yang menghakimi. Tubuhnya kaku, suaranya hilang.

"Ayo tinggalkan dia… anak pembawa sial. Orang tuanya saja meninggalkannya."

Hina (dalam hati):

Jangan… jangan pergi… Jangan tinggalkan aku...

Hina membeku.

Air mata langsung jatuh tanpa izin.

Hina : "Tolong…"

Para pria itu justru tertawa, puas melihatnya takut.

Pria 1 : "Bagus. Jangan berhenti nangis… biar kamu nggak sempat teriak."

Hina menggigil.

Hina (dalam hati):

Siapa pun… tolong… aku nggak mau sendiri…

Dan tanpa sadar, nama itu keluar—bukan dari bibirnya, tapi dari hatinya yang putus asa.

Hina (dalam hati):

Ravien… tolong… kumohon…

SRAK—!!

Satu pria terlempar, jatuh menghantam tanah, napasnya tersedak.

Yang lain membeku—karena dalam sekejap, taman itu terasa seperti kehilangan udara.

Ravien berdiri di sana, botol minuman masih di tangannya.

Dan justru karena itu… pemandangan itu jadi lebih mengerikan.

Udara di sekelilingnya dingin, berat—menekan dada, menutup suara.

Salah satu pria gemetar sebelum sempat bergerak.

Pria 2 : "A-apa…?"

Ravien melangkah pelan—dan setiap langkahnya membuat mereka mundur.

Satu orang lututnya ambruk, pucat, sebelum sempat lari.

Ravien meraih kerah pria yang paling dekat dan mengangkatnya dengan satu tangan.

Ravien : "Apa yang kalian lakukan…"

Matanya menyapu Hina yang gemetar.

Ravien : "...hingga membuat wanitaku menangis?"

Hina masih menangis, seolah belum percaya dirinya selamat. Suaranya pecah.

Hina : "Ravien… t-tolong… aku nggak mau sendiri… kumohon…"

Ravien menoleh sedikit—hanya sedikit—seolah kata-kata itu menancap tepat di tempat yang tidak ia jaga.

Detik berikutnya, pria yang ia angkat dilempar begitu saja.

DUAK—!!

Pria itu menghantam batang pohon dan ambruk.

Sisa yang lain tidak berani mendekat—mereka menyeret temannya yang pingsan, lalu lari terbirit-birit.

Ravien tidak mengejar.

Ia menghela napas kasar, lalu menghampiri Hina.

Tanpa bertanya, tanpa ragu…

Ia menarik Hina ke dadanya.

Pelukan itu kuat—bukan menekan, tapi melindungi. Seolah tubuh Ravien menjadi dinding yang memisahkan Hina dari dunia.

Ravien : "Jangan menangis."

Ravien : "Ada aku di sini."

Tangannya mengusap kepala Hina pelan… pelan sekali—seperti takut ia pecah bila disentuh terlalu keras.

Ravien : "Kau sudah aman."

Ravien : "Dan aku tidak akan meninggalkanmu."

Hina tidak bisa menjawab. Yang keluar hanya isak yang selama ini ia tahan—semua rasa takut, semua kesepian, semua luka lama yang ia kubur dengan senyum.

Dan Ravien… tidak bergerak.

Ia hanya menjadi sandaran.

Waktu berjalan.

Angin sore menggeser daun.

Suara taman berubah hening.

Hina menangis sampai lelah… sampai tubuhnya kehilangan tenaga.

Dan tanpa sadar, ia tertidur di pelukan Ravien.

Saat Hina membuka mata, matahari sudah condong. Cahaya hangat menembus daun, memantul di rambutnya.

Ia menyadari sesuatu… lalu membeku.

Kepalanya berada di dada Ravien.

Ravien pun tertidur—kepalanya sedikit miring, napasnya tenang.

Wajah Hina memerah sampai telinga.

Hina (dalam hati):

A-apa… yang terjadi?

Hina (dalam hati):

Aku… tertidur di dadanya…?

Ia menyentuh pipinya sendiri, terasa panas. Lalu ia sadar… matanya perih, seperti habis menangis lama.

Hina (dalam hati):

Aku ingat… beberapa pria…

Hina (dalam hati):

Aku… takut…

Ia mencoba mengingat setelah itu… tapi ingatannya terputus.

Ravien bergerak, membuka mata perlahan.

Ravien : "Kau sudah bangun."

Hina tersentak, buru-buru duduk tegak.

Hina : "A-aku… maaf—"

Hina : "Aku… aku nggak ingat setelah tadi… Apa yang terjadi?"

Ravien menatapnya sebentar, lalu berkata datar—seolah itu bukan hal besar.

Ravien : "Kau diganggu beberapa pria."

Ravien : "Aku datang membawa minum, lalu melihat itu."

Ia berhenti sejenak, memilih kata-kata, menyembunyikan bagian yang tidak ingin ia ulang.

Ravien : "Kau… menangis. Dan minta tolong."

Ravien : "Jadi aku… menyelesaikannya."

Hina menunduk, malu dan bersalah bercampur jadi satu.

Hina : "Terima kasih… Ravien…"

Hina : "Karena… sudah menjagaku…"

Ravien tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia hanya berdiri, lalu mengulurkan tangannya.

Ravien : "Ayo."

Ravien : "Hari sudah sore. Teman-temanmu pasti khawatir."

Hina menatap tangan itu beberapa detik—lalu menggenggamnya.

Hina : "Baik…"

Dan mereka berjalan pulang, Hina mengikuti dari belakang dengan tangan tetap terikat di tangan Ravien—seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya yakin ia tidak sendirian lagi.

More Chapters