Cherreads

Chapter 102 - Bab 102: Tangan yang Menuntun

Lift hotel turun pelan, memantulkan cahaya lampu di pintu logamnya seperti cermin buram.

Di dalamnya hanya ada empat orang: Ravien, Hina, Rei, dan Airi.

Airi berdiri rapat di sisi Rei—tangannya menggenggam tangan Rei tanpa ragu, seakan itu hal paling wajar di dunia. Sesekali Airi menyenggol lengan Rei, berbisik kecil, lalu terkikik pelan.

Airi : "Kalau nanti kamu salah pilih makanan, aku nggak tanggung jawab ya."

Rei : "Kamu yang tadi maksa aku turun cepat…"

Airi : "Hehe."

Rei menurunkan suaranya, seolah takut mengganggu orang lain di lift.

Rei : "Pelan. Kita bareng yang lain."

Airi menyeringai, lalu menempelkan bahunya ke bahu Rei dengan gaya manja yang sudah jadi kebiasaan.

Di sisi lain, Hina melihat semuanya dari sudut matanya. Ia menunduk, bibirnya melengkung tipis—senyum yang bukan sedih, tapi ada rasa kosong yang menyelip di baliknya.

Hina (dalam hati):

Andai… aku bisa seperti mereka.

Ravien menangkap gerakan itu—bukan dari Hina langsung, tapi dari pantulan pintu lift. Ia melihat Hina menunduk… dan melihat Airi yang memanjakan Rei tanpa beban.

Ravien (dalam hati):

Sungguh menyusahkan…

Ia mendecakkan lidah kecil, seperti kesal pada sesuatu yang ia sendiri tidak mau akui.

Ding.

Pintu lift terbuka.

Mereka bergerak keluar, dan saat Hina melangkah, tiba-tiba tangan kanannya ditangkap.

Hangat. Tegas. Tanpa tanya.

Ravien menggenggam tangan Hina dan menuntunnya berjalan di sampingnya.

Hina tersentak, menoleh cepat. Ravien bahkan tidak menatapnya—tatapannya lurus ke depan, seolah ini keputusan biasa yang tidak perlu penjelasan.

Hina (dalam hati):

E…Eh…?

Namun detik berikutnya, jantung Hina berdetak terlalu kencang. Ia menunduk lagi, tapi kali ini senyumnya berbeda—lebih hangat, lebih hidup.

Hina (dalam hati):

Terima kasih… Ravien…

Di belakang mereka, Airi menahan tawa, lalu menoleh ke Rei dengan mata yang berbinar.

Airi (pelan) : "Ternyata rencana kita berhasil."

Rei memandang punggung Ravien dan Hina, lalu menghela napas kecil—antara geli dan pasrah.

Rei : "Kamu itu… jahat."

Airi : "Kalau nggak dipancing, Ravien nggak akan bergerak."

Rei : "Tapi jangan keterlaluan."

Airi mengangguk, kali ini lebih serius.

Airi : "Tenang. Kita cuma bantu sebisanya."

Rei : "Cinta nggak bisa dipaksa."

Airi merapat, menyandarkan kepala ke pundak Rei sambil tetap menggenggam tangannya.

Airi : "Iya… aku tahu."

Mereka berjalan mengikuti Hina dan Ravien, yang sudah sedikit lebih jauh.

---

—Restoran Hotel — Pagi yang Terlalu Hangat

Restoran hotel ramai dengan aroma roti panggang, sup hangat, dan kopi. Ravien memilih tempat duduk tanpa banyak bicara. Hina duduk di seberangnya—dengan posisi yang rapi dan hati yang belum tenang.

Tak lama Rei dan Airi datang.

Rei duduk di samping Ravien. Airi duduk di samping Hina.

Susunan itu membuat Hina sadar sesuatu: ia duduk tepat berhadapan dengan Ravien.

Hina (dalam hati):

Tenang… tenang… ini cuma sarapan…

Mereka membuka menu. Airi dan Rei berdiskusi, saling tunjuk menu, saling menggoda soal selera.

Sementara itu… Ravien?

Ia meletakkan kepala di meja, seperti mau tidur lagi.

Airi memanggil pelayan.

Airi : "Kami pesan ini, ini, ini…"

Pelayan mencatat dengan sopan, lalu melirik Ravien yang "sudah tumbang".

Pelayan : "Untuk… yang ini cukup?"

Airi menahan tawa, lalu membisik ke Hina.

Airi (pelan):

"Bangunin dia. Tanya mau pesan apa."

Hina gugup. Ia menoleh ke Ravien, lalu menepuk pelan bahunya.

Hina : "Ravien… kamu mau pesan apa? Pelayan mau catat…"

Ravien menjawab tanpa membuka mata, suaranya berat seperti orang yang setengah sadar.

Ravien : "Samakan saja… dengan yang kau pesan."

Hina membeku sebentar.

Hina (dalam hati):

Dia… percaya seleraku?

Airi tertawa kecil dan mengangguk pada pelayan.

Airi : "Sama seperti pesanan Hina ya."

Pelayan pergi.

Saat menunggu, Airi dan Rei mengobrol pelan. Lalu Airi menyadari—Hina menatap ponselnya sejak tadi, jari-jarinya bergerak cepat seolah sedang mengetik sesuatu.

Airi : "Hina, kamu kenapa? Dari tadi main ponsel."

Hina tersentak, buru-buru menyembunyikan layar.

Hina : "N-nggak apa-apa! Cuma… main game."

Airi menatapnya beberapa detik, curiga—tapi akhirnya tersenyum.

Airi : "Oke… kalau begitu."

Hina menunduk. Ia tidak mungkin bilang kalau ia sedang membalas pesan dari Aelria yang sedang menuju tempat mereka berlibur.

Hina (dalam hati):

Aku harus merahasiakan ini dari mereka... terutama Rei.

---

—Noda di Bibir, Jantung yang Berhenti

Makanan datang. Ravien bangun tepat waktu—seolah ia punya insting khusus hanya untuk makanan.

Mereka makan bersama. Airi kadang menyuapi Rei dengan sendoknya sendiri, membuat Rei pasrah tapi tidak menolak.

Ravien memalingkan wajah sedikit, terlihat "geli".

Ravien : "Bisakah kalian makan dengan normal…"

Airi : "Ini sudah nampak normal bagiku."

Rei tersenyum kecil, sementara Ravien mencoba fokus makan.

Kemudian Ravien menatap Hina.

Ada noda kecil di pinggir bibir Hina—sisa saus, kecil sekali.

Tanpa bicara, Ravien mengangkat tangan. Jemarinya menyentuh pinggir bibir Hina, menghapus noda itu pelan—terlalu dekat.

Hina berhenti mengunyah.

Hina (dalam hati):

A-Apa…?

Dan sebelum Hina sempat bereaksi, Ravien menjilat saus itu tanpa ekspresi, lalu menoleh sejenak—

seperti baru menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya.

Ravien : "Makanlah pelan-pelan. Jangan seperti anak kecil."

Tanpa komentar lebih lanjut ia kembali makan.

Namun wajah Hina meledak merah. Ia benar-benar membeku, sendoknya berhenti di udara.

Rei dan Airi juga memerah—kaget dengan "keberanian" yang tidak disangka muncul dari Ravien.

Airi menutup mulutnya sebentar, lalu berbisik setengah tertawa.

Airi : "Ravien… kamu cukup berani ya."

Ravien menoleh, alisnya turun.

Ravien : "Ada apa? Aku hanya mengambil saus yang menempel di bibirnya. Tidak lebih."

Hina hampir tenggelam di kursinya.

Hina : "T-terima kasih…"

Suaranya kecil sekali.

Ravien kembali makan, seolah tidak sadar betapa kacaunya suasana hati Hina.

Setelah selesai, Ravien memanggil pelayan dan membayar.

Mereka berdiri, keluar dari restoran.

---

—Berpisah untuk "Rencana Kecil"

Begitu di luar restoran, Airi langsung menarik tangan Rei.

Airi : "Ayo jalan-jalan! Temani aku!"

Rei : "Hah—Airi—"

Airi : "Sekarang! Jadi ikut saja jangan banyak alasan!"

Rei akhirnya pasrah.

Rei : "Iya… iya…"

Mereka pergi berdua, meninggalkan Hina dan Ravien.

Hina berjalan di belakang Ravien dengan wajah tertunduk, masih mengingat sentuhan tadi.

Hina (dalam hati):

Aku… harus bagaimana sekarang…? Aku bahkan nggak bisa bernapas…

Ravien berhenti sebentar, menoleh sedikit.

Ravien : "Kau mau ke mana?"

Hina tersentak, mengangkat wajah.

Hina : "A-aku… nggak tahu. Ini juga pertama kali aku ke sini…"

Ravien menatapnya beberapa detik—seolah menilai apakah jawaban itu "layak".

Lalu tanpa banyak kata, ia mengulurkan tangan.

Ravien : "Peganglah. Jangan tertinggal."

Hina menatap tangan itu, lalu menggenggamnya.

Hina : "Baik…"

Dan kali ini, Hina tidak menunduk karena malu saja—tapi karena ia takut senyumnya terlihat terlalu… bahagia.

More Chapters