—Hotel Aelria — Rencana Kejutan Dimulai
Setelah panggilan itu berakhir, kamar hotel terasa seperti habis dilewati angin hangat.
Aelria menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama, seolah memastikan lokasi yang dikirim Hina benar-benar nyata.
Aelria (dalam hati):
Jadi… besok. Akhirnya.
Nerine sudah berguling-guling di kasur dengan wajah super semangat.
Nerine : "Kita harus merayakan! Malam ini kita makan enak!"
Noelle : "Asal kalian tidak bikin kamar hotel jadi arena perang."
Rinna : "Ayolah. Kita ke mal, makan, lalu main sebentar. Biar liburan terasa liburan."
Seris hanya mengangguk.
Seris : "Jangan terlalu mencolok. Kita tamu di dunia ini."
Aelria tersenyum kecil.
Aelria : "Kita makan sore ini. Lalu ke mal sebentar. Malam pulang, istirahat. Besok pagi kita bergerak."
Mereka keluar hotel sore itu—makan bersama, tertawa, saling menggoda, dan untuk sesaat Aelria benar-benar bisa "bernapas".
Tapi setiap kali ia diam sebentar…
Aelria (dalam hati):
Rei… ekspresimu nanti seperti apa ya?
Malam pun datang.
Mereka kembali ke hotel, dan karena mereka menyewa dua kamar (masing-masing muat tiga orang), pembagian pun terjadi tanpa banyak debat:
Kamar 1: Aelria, Seris
Kamar 2: Nerine, Rinna, dan Noelle
Aelria sempat membantu menata barang di kamar Nerine, Rinna, dan Noelle, lalu kembali ke kamarnya bersama Seris.
Di bawah lampu kamar hotel yang hangat, Aelria menyiapkan pakaian santai yang rapi—bukan terlalu formal, tapi cukup untuk terlihat "siap bertemu seseorang penting".
Aelria (dalam hati):
Ini bukan perang… tapi rasanya lebih menegangkan.
Mereka tidur lebih awal.
Pagi datang cepat.
Mereka sarapan di restoran hotel—aroma roti hangat, sup, dan minuman manis memenuhi ruang. Nerine makan paling heboh. Noelle makan paling "aku tidak peduli", padahal piringnya bersih duluan. Rinna sibuk memandangi orang-orang sekitar seolah ingin memetakan rute kabur.
Seris menatap Aelria sebentar.
Seris : "Kau tegang."
Aelria : "Sedikit."
Aelria (dalam hati):
Tidak. Banyak.
Jam menunjukkan pukul 08.00 tepat.
Aelria berdiri.
Aelria : "Oke. Kita cari mobil sewaan dan sopir."
Dengan bantuan pegawai hotel, mereka mendapatkan mobil sewaan dan sopir yang siap mengantar ke arah pantai sesuai lokasi yang Hina kirim.
Tak lama, mereka berkumpul di depan hotel, naik ke mobil, lalu berangkat.
Jalanan menuju pantai dipenuhi cahaya pagi—dan tiap kilometer terasa seperti hitungan mundur menuju satu pertemuan.
Aelria memandang keluar jendela.
Aelria (dalam hati):
Tunggu aku, Rei… sebentar lagi.
—Hotel Rei — Pagi yang Manis dan Canggung
Di sisi lain, pagi di hotel Rei dimulai dengan suara air mandi dan langkah-langkah malas.
Rei bangun lebih dulu, mandi, lalu berpakaian rapi—rambut putihnya yang sedikit lebih panjang diikat rapi, membuat penampilannya tampak lebih dewasa daripada biasanya.
Tak lama, Ravien juga selesai mandi dan berpakaian. Berbeda dengan gaya malasnya yang sering terlihat di sekolah, hari ini penampilannya lebih "rapi" walau ekspresinya tetap seperti orang yang sedang menahan kantuk dan kesal pada dunia.
Di kamar itu, tersisa satu orang yang masih tumbang sempurna di kasur.
Riku.
Rei melirik Riku yang masih tertidur pulas.
Rei (dalam hati):
Dia memang kelelahan… menyetir kemarin.
Ravien menguap pelan.
Ravien : "Biarkan saja. Aku tidak suka membangunkan orang lemah yang sedang mengisi ulang tenaga."
Rei melirik Ravien, tapi tidak membantah.
Lalu—ketukan pintu terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Rei menghampiri dan membuka pintu.
Di sana sudah berdiri tiga gadis dengan pakaian santai yang rapi: Rika, Hina, dan Airi.
Begitu mata Airi bertemu Rei—dengan rambut putih yang rapi terikat dan mata yang memantulkan cahaya pagi—jantung Airi seperti tersandung.
Airi (dalam hati):
Kenapa… tiap lihat Rei rapi begini… rasanya aneh….
Di sisi lain, Hina juga terpaku.
Ravien berdiri di belakang Rei, rambutnya rapi, wajah tampan, ekspresi "kesal bawaan lahir". Hina menelan ludah tanpa sadar.
Hina (dalam hati):
Kenapa… dia kelihatan lebih… berbahaya hari ini.
Mereka berdua terlalu diam.
Rika langsung menepuk pundak mereka bergantian.
Rika : "Hei. Bangun. Kita sarapan. Cepat."
Airi tersentak, Hina juga.
Airi : "I-iya…"
Hina : "Iya…"
Rei tertawa kecil melihat mereka.
Rei : "Ayo. Turun."
Mereka semua hendak keluar, tapi Rika menoleh ke dalam kamar.
Rika : "Riku mana? Kok nggak muncul?"
Rei menunjuk kasur.
Rei : "Masih tidur. Aku tidak mau membangunkannya… dia benar-benar capek."
Rika menatap kasur sebentar, lalu menarik napas.
Rika : "Kalau begitu… aku tunggu di sini."
Airi dan Hina langsung menoleh cepat, kaget.
Airi : "Kamu… mau nunggu dia bangun?"
Hina : "Di kamar… ini?"
Rika menaikkan alis, santai sekali.
Rika : "Kenapa kalian kaget?"
Rika menyilangkan tangan, lalu bicara dengan nada datar yang malah menusuk.
Rika : "Kalian lupa ya… dulu Rei pernah tidur sekamar dengan dua elf."
Wajah Rei seperti langsung panas.
Rei : "Rika… jangan dibahas pagi-pagi."
Airi ikut memerah.
Airi : "Itu… itu…"
Airi (dalam hati):
Jangan ungkit itu di pagi hari…!
Ravien, yang berdiri di dekat pintu, malah tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip meledek.
Ravien : "Ternyata kamu tidak sepenuhnya polos ya, Rei."
Rei menatap Ravien dengan tatapan kesal, tapi Ravien sudah melangkah pergi duluan menuju lift.
Ravien : "Aku lapar."
Hina yang mendengar "aku lapar" seperti refleks… bergerak.
Tanpa disuruh siapa pun, Hina mengejar Ravien dengan langkah kecil cepat.
Hina : "T-tunggu…!"
Airi dan Rei saling melirik.
Airi (dalam hati):
Dia ngikut… tanpa diminta…
Rei (dalam hati):
Kemajuan.
Rei mengajak Airi ikut turun.
Rei : "Airi, ayo sarapan."
Airi mengangguk dan spontan menggenggam tangan Rei.
Airi : "Ayo."
Mereka berjalan bersama meninggalkan pintu kamar.
Sementara itu, Rika masuk ke kamar, menutup pintu pelan, lalu menatap Riku yang masih tidur.
Rika duduk di sisi kasur, menatap wajah pacarnya dari dekat.
Rika (dalam hati):
Capek banget ya…
Rika mencium kening Riku pelan, lalu berbaring di sampingnya.
Tak lama, Rika ikut tertidur—dengan ekspresi tenang, seolah kamar itu adalah tempat paling aman di dunia.
Di luar kamar, langkah-langkah menuju sarapan makin menjauh.
Dan di jalanan menuju pantai… ada rombongan lain yang sedang datang diam-diam.
