Langit sore di dunia manusia tampak lebih lembut daripada langit di akademi—lebih "sunyi", tapi juga terasa ramai oleh suara kendaraan dan langkah orang-orang yang tak pernah habis.
Aelria dan Seris berjalan berdampingan kembali menuju hotel. Di tangan Aelria ada kantong belanja kecil berisi kotak-kotak ponsel baru, sementara Seris menenteng beberapa makanan bungkus untuk teman-teman mereka.
Aelria (dalam hati):
Akhirnya… satu langkah lebih dekat.
Begitu sampai, mereka naik ke kamar hotel—tempat Noelle, Nerine, dan Rinna sudah menunggu dengan berbagai ekspresi: penasaran, malas, dan terlalu bersemangat.
Di Kamar Hotel
Aelria meletakkan kantong belanja di atas meja, lalu mengeluarkan kotak ponsel satu per satu.
Nerine : "WAAAH! Ini buat aku?!"
Noelle : "Jangan teriak. Kupingku belum liburan."
Rinna : "Aku bisa save kontak semua orang, kan? Biar gampang kabur kalau tersesat."
Seris : "Kau tersesat bukan karena sulit menghubungi. Kau tersesat karena kau memilih 'menjelajah'."
Rinna nyengir tanpa rasa bersalah.
Aelria tersenyum kecil, lalu membagikan ponsel sesuai jumlah mereka. Suasana kamar mendadak hangat: bunyi plastik dibuka, suara tombol dinyalakan, cahaya layar pertama kali menyala seperti "mainan baru" yang disambut anak-anak.
Mereka saling menyimpan kontak.
Aelria : "Oke. Ini penting. Kalau ada yang terpisah, jangan panik. Telepon."
Noelle : "Yang panik pasti Nerine."
Nerine : "Aku tidak panik! Aku hanya… ekspresif!"
Aelria tertawa pelan, tapi di balik tawanya, pikirannya sudah melangkah jauh.
Aelria (dalam hati):
Sekarang… waktunya.
Rinna melempar tubuhnya ke sofa, memeluk bantal hotel.
Rinna : "Jadi rencana liburan kita apa? Jalan-jalan? Makan? Belanja? Atau—"
Rinna menyipit nakal.
Rinna : "—menemui Rei?"
Aelria tersedak kecil, lalu memalingkan muka.
Aelria : "Aku mau… bikin kejutan untuk Rei."
Nerine langsung duduk tegak.
Nerine : "KEJUTAN?! Aku suka! Kita nyamar jadi turis?"
Noelle : "Kau sudah seperti turis."
Aelria menghela napas, menahan senyum.
Aelria : "Tapi aku harus tahu dulu… Rei liburan ke mana. Kalau aku muncul tiba-tiba di tempat yang salah, itu bukan kejutan—itu cuma memalukan."
Seris mengangguk kecil. Tatapannya tetap dingin, tapi jelas mendukung.
Seris : "Telepon Hina."
Nama itu membuat Aelria otomatis menatap ponselnya.
Aelria (dalam hati):
Hina… gadis manusia yang selalu tersenyum… yang ternyata dekat dengan Ravien.
Aelria menekan kontak yang tadi ia catat dari Ravien. Nada panggil terdengar, satu… dua…
Di kamar hotel, suara panggilan itu seperti berdetak di antara mereka.
Lalu, akhirnya—
Hina (telepon):
"Halo…? Ini siapa ya?"
Suara gadis itu lembut, seperti orang yang masih ragu tapi tetap sopan.
Aelria menarik napas.
Aelria : "Halo. Ini Aelria… Aelria Sylven."
Hening sepersekian detik.
Aelria : "Apa benar ini… Hina?"
Hina (telepon):
"Iya… ini Hina. Tapi—Aelria…? Kamu dapat nomor ini dari mana?"
Nada Hina berubah. Waspada, tapi tidak kasar—lebih seperti seseorang yang takut ini lelucon.
Aelria melirik Seris sebentar, lalu menjawab jujur.
Aelria : "Dari Ravien."
Di sisi lain, terdengar Hina menghela napas, seperti baru menurunkan bahu yang tegang.
Hina (telepon): "Oh… jadi begitu."
Aelria (dalam hati):
Nada itu… seolah-olah ia 'sudah terbiasa' dengan hal-hal yang bikin jantungnya jatuh.
Aelria tidak ingin berlama-lama menggantung pembicaraan.
Aelria : "Hina, aku mau tanya soal Rei."
Begitu nama Rei disebut, suasana kamar seperti ikut menahan napas.
Aelria : "Kalian ada rencana liburan musim panas ini?"
Di seberang, suara Hina terdengar lebih pelan—seperti menoleh ke sekitar sebelum menjawab.
Hina (telepon): "Ada… besok kami berangkat. Riku yang atur semuanya. Kami rencana ke pantai… dan hotelnya sudah dipesan."
Aelria menutup mulutnya dengan tangan, menahan senyum yang hampir meledak.
Aelria (dalam hati):
Syukurlah… aku tidak terlambat.
Aelria : "Hina… aku juga sedang di dunia manusia."
Rinna yang mendengar itu langsung menutup mulutnya sendiri dengan bantal agar tidak berteriak.
Aelria : "Aku ingin bikin kejutan untuk Rei. Bisa minta lokasi hotel dan pantainya?"
Di ujung telepon, Hina terdiam sebentar.
Hina (telepon): "Aku… aku harus tanya dulu ke Riku. Tunggu sebentar ya."
Aelria : "Iya. Aku tunggu."
Nada telepon hening beberapa menit. Aelria memandangi layar ponsel seperti menatap pintu yang sebentar lagi terbuka.
Seris memperhatikan wajah Aelria.
Seris (dalam hati):
Dia menahan diri… tapi dia sudah hampir melompat.
Beberapa menit kemudian, ponsel berbunyi lagi—pesan masuk.
Lokasi hotel. Lokasi pantai.
Aelria menahan napas lagi, kali ini karena dada terasa penuh.
Aelria : "Hina… terima kasih."
Hina (telepon): "Tidak apa-apa. Tapi… kamu beneran jangan bilang siapa-siapa ya?"
Aelria : "Iya. Jangan bilang ke siapa pun. Ini rahasia."
Hina (telepon): "Tenang… aku simpan."
Aelria ragu sesaat, lalu tersenyum kecil, suaranya melembut.
Aelria : "Hina…"
Hina (telepon): "Iya?"
Aelria : "Apa… kamu dekat dengan Ravien?"
Di kamar hotel, Nerine mencondongkan badan ke ponsel Aelria seperti ingin mendengar lebih jelas. Noelle menatap ke langit-langit, pura-pura tidak peduli. Rinna menahan tawa. Seris hanya diam—tenang, tapi jelas mendengarkan.
Di seberang telepon, Hina terbatuk kecil.
Hina (telepon): "E-eh? Tidak… kami cuma teman kok."
Jawabannya cepat, terlalu cepat.
Aelria (dalam hati):
Terlalu gugup untuk sekadar 'teman'.
Seris mencondongkan tubuh sedikit dan berbicara ke arah ponsel, suaranya datar tapi tegas.
Seris : "Hina ini aku Seris. Aku setuju kalau Kak Ravien bersama kamu."
Hina (telepon): "Eh…?"
Seris : "Dari cara Kak Ravien berbicara… dia berubah. Masih sombong, tapi… tidak sama."
Hina terdiam sejenak.
Lalu suara Hina terdengar lebih kecil, seperti bicara sambil menunduk.
Hina (telepon): "Tapi… aku ini cuma manusia biasa. Ravien itu tampan… pintar… kuat…"
Hina (telepon): "Rasanya tidak mungkin dia… menyukai aku."
Kata-kata itu jatuh pelan, seperti butir hujan.
Aelria merasakan sesuatu sesak di dadanya—bukan karena sedih saja, tapi karena ia mengenali nada itu: nada seseorang yang sudah terlalu lama merasa "tidak pantas."
Aelria : "Hina… perasaan itu harus diperjuangkan."
Aelria : "Kalau kamu terus mundur karena takut… kamu tidak akan pernah tahu isi hati Ravien yang sebenarnya."
Seris menambahkan, suaranya dingin, tapi ada 'perlindungan' di dalamnya.
Seris : "Kak Ravien sombong. Tapi dia tidak pernah menyakiti orang yang tidak pantas disakiti—terutama perempuan."
Seris : "Kalau sampai dia menyakiti seorang gadis… Kak Lirya akan memukulinya tanpa ampun."
Di seberang telepon, terdengar Hina menelan ludah.
Seris melanjutkan, nadanya lebih berat.
Seris : "Kak Ravien dikeluarkan dari akademi dulu… karena dia memukuli pelaku bully yang mengganggu seorang gadis—sampai hampir tewas."
Seris : "Dia tidak tahan melihat orang terdekatnya disakiti."
Hina (telepon): "…Dia memang begitu…"
Ada jeda. Seolah Hina tiba-tiba melihat ulang semua kejadian yang pernah ia alami.
Hina (dalam hati):
Insiden tabrakan… 'wanitaku'… Hayato… darah…
Aelria menangkap perubahan nada itu.
Aelria : "Kamu pernah lihat sisi itu?"
Hina tersentak, seolah baru sadar ia hampir "keceplosan terlalu jauh."
Hina (telepon): "A-aku… pernah tabrakan dengan seseorang… dan ponsel lama ku hancur oleh orang itu, lalu waktu itu Ravien yang bantu."
Hina sengaja menyederhanakan, menghindari bagian yang paling memalukan dan paling menggetarkan di hatinya.
Seris : "Hm."
Seris tidak memaksa.
Lalu Seris bertanya dengan datar, seolah mengganti topik, tapi sebenarnya menembak tepat.
Seris : "Ponselmu yang sekarang… kamu dapat ganti dari orang yang menabrakmu?"
Hina (telepon): "…Tidak."
Hina (telepon): "Aku dapat dari Ravien."
Hina (telepon): "Hadiah ulang tahun."
Di kamar hotel, Nerine menutup mulutnya—kali ini bukan agar tidak berteriak, tapi karena terkejut.
Rinna nyengir lebar.
Noelle akhirnya melirik, alisnya naik sedikit—tanda "oh?" versi Noelle.
Seris menatap ponsel, suaranya tetap datar, tapi ada kepastian.
Seris : "Kejar dia, Hina."
Seris : "Kak Ravien sudah lama tidak sebaik itu kepada siapa pun."
Seris : "Sebagai adiknya… aku dukung kamu."
Di ujung telepon, suara Hina terdengar bergetar halus, bukan menangis—tapi seperti orang yang tiba-tiba dapat tempat berpijak.
Hina (telepon): "Terima kasih…"
Aelria ikut tersenyum.
Aelria : "Jaga rahasiaku ya, Hina."
Hina (telepon): "Iya. Aku janji."
Panggilan ditutup.
Aelria menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa ringan, tapi juga hangat—hangat yang ia rindukan berbulan-bulan.
Aelria (dalam hati):
Rei… tunggu aku.
Aelria menatap Seris.
Aelria : "Seris… kakakmu benar-benar begitu?"
Seris mengangguk kecil.
Seris : "Benar."
Seris : "Aku tidak suka kesombongannya."
Seris : "Tapi di balik itu… dia kakak yang perhatian."
Seris : "Kalau dia memilih melindungi seseorang… dia akan melakukannya sampai akhir."
Di sofa, Rinna menggoyang-goyangkan kaki, senyum nakalnya muncul.
Rinna : "Hehe… kalau begitu…"
Rinna : "Kejutan untuk Rei… dan romansa untuk Hina."
Nerine : "LIBURAN KITA SERU!"
Noelle : "Kalian berisik."
Tapi kali ini, bahkan Noelle tidak sepenuhnya menahan sudut bibirnya.
Di luar jendela hotel, cahaya sore turun perlahan—membawa rasa bahwa sesuatu besar akan terjadi… bukan dengan ledakan, tapi dengan pertemuan yang sudah lama ditahan.
