Cherreads

Chapter 99 - Bab: Libur Musim Panas dan Nomor yang Mengarah ke Rei

Kereta kuda sihir melaju pelan di jalur batu yang memantulkan cahaya rune.

Aelria duduk di dekat jendela, rambut peraknya tergerai sedikit, mata hijau zamrudnya menatap langit yang bergerak perlahan.

Aelria (dalam hati):

Akhirnya… aku bisa kembali ke akademi. Tak lama lagi… aku bisa menghubungi Rei…

Ia menahan senyum kecil—senyum yang muncul tanpa izin setiap kali nama itu muncul di pikirannya.

Aelria (dalam hati):

Semoga dia baik-baik saja… semoga dia tidak terlalu khawatir…

Perjalanan dua jam terasa cepat, sampai akhirnya gerbang akademi yang megah tampak di depan. Simbol-simbol sihir di pilar gerbang bersinar lembut.

Aelria turun, merapikan pakaiannya, lalu melangkah cepat menuju ruang penguji untuk menyerahkan laporan.

Pintu terbuka. Aroma kertas, tinta sihir, dan kristal penyimpan data memenuhi ruangan.

Seorang petugas penguji mengangkat kepala saat Aelria masuk. Ekspresinya jelas terkejut.

Petugas Penguji:

"Aelria Elvaris…? Kau terlambat dari jadwal kepulangan tugas."

Aelria menunduk sopan, lalu menyerahkan gulungan laporan dan segel tugas.

Aelria : "Maaf. Situasinya… lebih berat dari perkiraan."

Petugas menerima, membuka, lalu membaca cepat. Alisnya terangkat ketika sampai pada bagian tertentu.

Petugas Penguji: "Di laporan ini… kau menulis orc yang kau hadapi bukan orc pada umumnya."

Aelria mengangguk, suaranya tetap tenang.

Aelria : "Iya. Ada… rasa yang aneh pada energinya. Tipis, tapi jelas."

Petugas memiringkan kepala.

Petugas Penguji: "Lalu kenapa ia 'lenyap' dari pertempuran sesuai laporan warga? Kau tidak mencatat detail itu."

Aelria menahan napas sebentar.

Aelria : "Saat aku terpental… aku langsung tidak sadarkan diri. Jadi aku tidak melihat akhir pertarungannya."

Aelria (dalam hati):

Itu bukan yang sebenarnya… tapi kalau aku bilang ada perempuan dengan kekuatan angin seperti Guardian… akademi akan menggali tanpa henti.

Petugas menatap Aelria lama, seolah menguji apakah ada sesuatu yang disembunyikan. Namun akhirnya ia menutup laporan.

Petugas Penguji: "Baik. Kau sudah menyelesaikan tugas.

Istirahatlah kondisimu masih terlihat tidak stabil."

Aelria : "Terima kasih."

Aelria keluar dari ruangan itu dengan langkah lebih ringan—seolah beban formalitas sudah ditaruh.

Aelria (dalam hati):

Selamat… setidaknya aku tidak ditahan untuk interogasi.

Sesampainya di asramanya khusus—hanya untuk Aelria dan teman-teman satu asrama.

Begitu ia membuka pintu, suara yang ramai langsung menyambut.

Nerine : "Akhirnya pulang juga!"

Noelle : "Terlambat. Kupikir kau tersesat di kota kecil itu."

Rinna melompat kecil dari sofa, ekornya bergoyang santai.

Rinna : "Hei, hei! Kenapa tugasmu lama banget dibanding kami?"

Aelria menghela napas panjang, seolah baru sekarang tubuhnya benar-benar merasa lelah.

Aelria : "Karena berat… Aku sampai harus menghadapi orc yang punya energi anomali."

Seketika suasana hening.

Seris—yang sedari tadi tenang—mengangkat pandangannya. Aura dinginnya terasa lebih tebal walau ia tidak bergerak.

Seris : "Energi anomali…?"

Aelria mengangguk.

Aelria : "Iya. Rasanya… mirip seperti saat aku bertemu monster anomali di hutan terlarang waktu kecil."

Nerine membelalakkan mata.

Nerine : "Tunggu—kau pernah menghadapi itu… waktu kecil?!"

Aelria berjalan masuk ke kamar, membuka lemari, mulai mengganti pakaian dengan santai karena semua di ruangan itu sesama wanita.

Seris menatap punggung Aelria, suaranya datar tapi tajam.

Seris : "Kalau begitu… bagaimana kau bisa selamat waktu kecil?"

Aelria menarik napas, mencoba mengingat tanpa menampilkan getar emosinya.

Aelria : "Waktu itu… aku dibantu seorang bocah berambut putih."

Noelle yang biasanya malas pun langsung menoleh.

Noelle : "Bocah… berambut putih?"

Nerine : "Seperti Rei?"

Aelria mengangguk pelan.

Aelria : "Aku tidak sempat melihat wajahnya. Saat aku berusaha menoleh… aku sudah kehilangan kesadaran."

Aelria mengganti pakaiannya, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan—karena bagian ini yang paling mengganggu pikirannya.

Aelria : "Dan kali ini… aku juga seperti itu. Aku melihat sesosok perempuan dengan kekuatan angin… sangat kuat. Mirip Guardian dunia kita."

Rinna mencondongkan badan, telinga beastkinnya tegak.

Rinna : "Kau ditolong Guardian?!"

Aelria menggeleng pelan.

Aelria : "Aku… tidak bisa memastikan. Karena lagi-lagi… aku keburu pingsan sebelum bisa melihat jelas."

Aelria (dalam hati):

Aku melihatnya… aku yakin itu dia… tapi kalau aku mengaku, semuanya jadi rumit.

Rinna mengubah pertanyaan, mencoba menurunkan ketegangan.

Rinna : "Kalau begitu, tugasmu selesai?"

Aelria : "Selesai."

Fiora—peri berambut emas panjang yang sejak tadi membaca buku—menutup halaman perlahan.

Fiora : "Keputusanmu tidak menyebut detail itu pada akademi… pilihan yang bagus."

Semua menoleh pada Fiora.

Fiora : "Di buku-buku tua… Guardian jarang turun tangan."

Fiora : "Kecuali kalau ancamannya sudah melewati batas para penghuni dunia ini."

Fiora menatap Aelria pelan.

Fiora : "Makanya… kalau ada yang menolongmu, itu berarti ada sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira."

Aelria menatap lantai sejenak.

Aelria (dalam hati):

Iya… itu yang membuatku semakin bingung. Aku ini… hanya bangsawan elf biasa…

Nerine tiba-tiba mengangkat tangan tinggi-tinggi, mengusir suasana serius.

Nerine : "Sudah! Kalau tugas selesai, kita bahas liburan!"

Noelle : "Akhirnya ada topik yang tidak membuatku pusing."

Rinna : "Setuju! Kita ke mana?"

Aelria tersenyum kecil, lalu mengangkat wajahnya.

Aelria : "Bagaimana kalau… liburan ke dunia manusia?"

Hening sebentar.

Lalu… tawa pecah.

Rinna menyeringai lebar.

Rinna : "Oh? Liburan… atau mau ketemu kekasihmu?"

Nerine menepuk meja, berisik seperti biasa.

Nerine : "Nah itu! Ada yang sudah nggak tahan!"

Noelle menutup mulutnya dengan tangan, tapi sudut bibirnya naik.

Noelle : "Kalau tidak kita setuju, nanti ada yang murung seminggu."

Aelria langsung memerah.

Aelria : "A-Aku tidak bilang begitu…!"

Aelria (dalam hati):

Tapi… mereka benar…

Mereka tertawa makin keras—sampai Fiora memotongnya dengan suara lembut.

Fiora : "Aku… tidak bisa ikut ke dunia manusia."

Semua terdiam seketika.

Fiora menunduk sedikit.

Fiora : "Keluargaku memanggilku pulang. Aku harus membantu orang tuaku mengurus toko bunga di kampung halaman."

Aelria dan yang lain saling pandang. Sedih, tapi cepat berubah jadi tekad.

Aelria : "Kalau begitu… kita buat rencana."

Noelle : "Rencana yang masuk akal."

Nerine : "Ayo!"

Rinna mengangkat jari, seolah jadi pemimpin rapat dadakan.

Rinna : "Tujuh hari di dunia manusia."

Rinna menatap Fiora dengan senyum hangat.

Rinna : "Sisa liburannya… kita pulang ke sini dan bantu Fiora di toko bunga."

Fiora membelalakkan mata, lalu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Fiora : "Kalian… serius?"

Seris menutup bukunya pelan.

Seris : "Ya. Itu lebih efisien daripada membiarkanmu kerja sendiri."

Noelle : "Dan… aku tidak suka melihat teman satu asrama kelelahan sendirian."

Nerine : "Pokoknya gitu!"

Aelria menatap mereka semua, dada terasa hangat.

Aelria (dalam hati):

Aku… benar-benar beruntung punya mereka…

Ia menarik napas, lalu tersenyum—kali ini lebih tulus.

Aelria : "Baik. Kalau begitu… kita siapkan semuanya."

Dan di balik senyum itu, satu hal masih berputar pelan di kepalanya.

Aelria (dalam hati):

Setelah ini… aku harus menghubungi Rei… Aku ingin mendengar suaranya… secepatnya.

Beberapa hari berlalu.

Akademi kembali berjalan normal, sampai akhirnya—di pagi yang cerah—lonceng besar di menara utama berbunyi lebih lama dari biasanya. Semua murid dari berbagai ras dikumpulkan.

Kepala pengajar berdiri di podium, senyumnya lebar.

Kepala Pengajar : "Selamat. Kalian telah menyelesaikan ujian semester dan tugas lapangan yang berlangsung lebih dari dua minggu."

Sorak-sorai meledak di lapangan.

Kepala Pengajar : "Mulai hari ini, kalian mendapat libur musim panas selama dua minggu. Kalian dibubarkan lebih awal."

Teriakan senang, pelukan, bahkan ada yang nyaris menangis bahagia.

Asrama Aelria

Siang itu Aelria kembali ke asrama bersama teman-temannya: Noelle, Nerine, Seris, Fiora, dan Rinna.

Kantong sub-ruang sudah disiapkan. Pakaian rapi, perlengkapan mandi, beberapa buku tipis—dan barang-barang kecil yang "penting untuk liburan" menurut Nerine.

Nerine : "Kalau kita ke dunia manusia, aku mau coba semua jajanan di sana!"

Noelle : "Kau akan meledak duluan sebelum sampai tujuh hari."

Rinna : "Kalau meledak, aku bisa bawa pulang sisa-sisanya?"

Aelria tertawa kecil, lalu menatap Fiora yang sedang merapikan pita rambutnya.

Fiora tersenyum, tapi matanya lembut—ada sedikit sedih.

Fiora : "Aku pamit duluan ya. Aku pulang sebentar minta izin dan bantu urusan keluarga."

Aelria : "Hati-hati. Nanti kabari kalau sudah siap."

Fiora : "Iya. Kalian juga."

Mereka saling berpelukan singkat. Lalu Fiora pergi lebih dulu.

Tak lama kemudian, yang lain pun berpencar—mengunjungi keluarga masing-masing, meminta izin resmi.

—Gerbang Teleportasi Antar Dunia

Siang menjelang sore, mereka kembali berkumpul di gerbang teleportasi yang dulu pernah mereka gunakan.

Aelria sudah berdiri di sana, rambut peraknya diikat rapi. Noelle dan Nerine datang bersamaan, Seris menyusul dalam diam, Rinna muncul dengan kantong sub-ruang yang tampak terlalu penuh.

Rinna : "Aku bawa yang penting-penting."

Noelle : "Itu bukan penting. Itu rakus."

Mereka menyerahkan surat izin dari orang tua masing-masing kepada petugas gerbang.

Petugas Gerbang: "Liburan tujuh hari di dunia manusia. Setelah itu kembali. Jangan membuat masalah."

Nerine : "Kami akan jadi warga teladan!"

Noelle (datar): "Dia bohong."

Petugas menghela napas, lalu mengizinkan.

Cahaya gerbang dimensi membesar, suara sihir seperti gelombang air memenuhi udara—dan mereka melangkah masuk.

Dunia Manusia

Dalam sekejap, udara berubah. Aroma jalanan, suara kendaraan, dan langit manusia yang "berbeda" menyambut mereka.

Ini kali kedua bagi Noelle, Nerine, Seris, dan Rinna.

Dan kali ketiga bagi Aelria.

Aelria (dalam hati): Aku kembali…

Mereka menuju hotel yang dulu pernah mereka datangi, check-in, lalu beristirahat karena perjalanan dimensi selalu menguras stamina.

Keesokan Pagi

Aelria dan Seris pergi ke mal.

Tujuan utamanya jelas: toko ponsel.

Aelria : "Kita butuh ini. Biar gampang saling hubungi… dan biar nggak tersesat."

Bola kristal komunikasi di tangan Seris berpendar pelan—saluran suara masih tersambung dengan yang lain di hotel.

Rinna (suara dari kristal): 

"Aku tidak tersesat. Aku hanya menjelajah."

Noelle (suara dari kristal): "Kau kemarin 'menjelajah' sampai masuk gudang staf."

Aelria membeli beberapa ponsel—untuk dirinya dan teman-temannya di hotel.

Bola kristal komunikasi dua arah memang barang mewah; di akademi pun hanya siswa tertentu yang memilikinya.

Di dunia manusia, ponsel jauh lebih murah—dan jauh lebih praktis untuk saling menghubungi kapan saja.

Setelah selesai, Aelria dan Seris makan siang di salah satu tempat yang tenang.

Aelria mengaduk minumnya pelan, pikirannya melayang.

Aelria (dalam hati):

Rei… aku ingin langsung menghubungi dia. Tapi… aku juga ingin memberi kejutan.

Seris memperhatikan dari seberang meja. Tatapannya tenang, aura dinginnya tetap sama, tapi suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Seris : "Bersabar. Tidak lama lagi kalian bertemu."

Aelria menatap Seris, lalu tersenyum tipis.

Aelria : "Aku tahu… tapi aku bingung bagaimana mengabari mereka tanpa merusak kejutan."

Seris diam sebentar… lalu tangannya masuk ke kantong sub-ruang.

Ia mengeluarkan bola kristal komunikasi.

Aelria mengerjap.

Aelria : "Seris? Mau menghubungi siapa?"

Seris : "Kakakku."

Aelria terdiam sesaat.

Seris : "Ravien."

Aelria (dalam hati):

Ravien… kakak Seris… yang dulu terkenal sombong…

Seris menatap kristal, lalu menyalurkan mana. Cahaya berkedip.

Seris : "Menurut info dari kakak pertama kami, kak Lirya… Ravien tinggal di apartemen yang sama dengan Rei. Bahkan kamar Ravien… kamar yang dulu pernah kupakai."

Aelria membelalakkan mata.

Aelria : "Serius?!"

Kristal menyala terang. Suara terhubung.

Ravien (suara dari kristal, malas):

"Apa…? Kenapa menghubungiku."

Seris menghela napas kecil—gaya khasnya.

Seris : "Aku butuh nomor ponsel Rei atau teman-temannya."

Dari samping, Aelria ikut menyapa.

Aelria : "Hai, Ravien."

Hening sepersekian detik.

Ravien : "Oh. Elf itu."

Aelria (dalam hati):

Masih sama saja…

Ravien : "Aku tidak punya nomor Rei."

Seris : "Tidak ada sama sekali?"

Ravien : "Tidak. Aku baru punya ponsel juga."

Seris : "Kalau begitu… nomor yang kau punya?"

Ravien terdengar mendecak, lalu ada suara seperti ia mengangkat ponselnya.

Ravien : "Satu."

Seris : "Berikan."

Ravien : "Merepotkan."

Ia menyebutkan angka satu per satu.

Aelria cepat-cepat mencatatnya di ponsel barunya.

Aelria : "Nomor siapa itu?"

Ravien menjawab datar, seolah tidak penting.

Ravien : "Hina."

Aelria dan Seris saling pandang.

Aelria (dalam hati):

Hina… gadis manusia itu…

Seris menyipitkan mata, suaranya tetap tenang tapi ada 'tekanan' halus.

Seris : "Kak… apa kau sudah berpacaran?"

Ravien : "Belum."

Ravien : "Tapi… aku memang sedikit tertarik dengannya."

Aelria tak bisa menahan diri, langsung menggoda.

Aelria : "Wah—selamat ya. Mantan demon sombong akademi akhirnya tertarik pada seseorang lagi."

Seris memijat pelipisnya pelan, lalu menatap kristal.

Seris : "Ingat, Kak. Dari yang kulihat… Hina gadis polos. Tapi dia menyimpan kesedihan."

Seris : "Jangan buat dia hancur."

Ravien terdiam sebentar.

Ravien : "Aku lebih tahu. Jangan mengajariku."

Nada malas itu kembali.

Ravien : "Sudah. Aku mau tidur siang. Mengganggu."

Cahaya kristal meredup. Komunikasi terputus.

Aelria menatap catatan nomor itu, lalu tersenyum kecil.

Aelria (dalam hati):

Baik… Hina… ini jalanku untuk menghubungi Rei tanpa merusak kejutan.

Seris berdiri.

Seris : "Kita bawa makanan untuk yang lain."

Aelria mengangguk, lalu mereka memesan beberapa makanan untuk dibawa pulang ke hotel.

More Chapters