Cherreads

Chapter 98 - Bab: Hutan Terlarang — Desiran yang Membawa Suara

Hutan terlarang tetap sunyi seperti biasa.

Rei duduk di depan gerbang dimensi, mata setengah terpejam. Udara terasa dingin, tetapi tidak menggigit—lebih seperti napas panjang dunia yang sedang menahan sesuatu.

Lirya berdiri tak jauh, menyilangkan tangan. Ekor tipisnya bergoyang pelan, tanduk kecilnya tampak jelas di bawah cahaya redup hutan. Garm duduk bersandar di pohon, tampak santai… tapi telinganya tegak, waspada.

Sylvhia—Ratu Dryad—muncul seperti biasa dari balik pohon besar, duduk anggun di salah satu akar yang menyerupai singgasana. Matanya menatap Rei lama, seolah menunggu sesuatu.

Beberapa detik berlalu.

Lalu… angin di sekitar Rei berubah.

Angin itu tidak lagi berputar. Ia mengikat—menyusup di sela daun seperti jari-jari halus yang mencari tempat berpijak.

Suara itu datang tanpa bibir, tanpa napas.

Hanya desiran yang tiba-tiba punya makna.

Aerisyl (transmisi angin):

Aku sudah menolong elf yang kau maksud.

Rei membuka mata perlahan. Tidak kaget. Seolah ia memang menunggu kalimat itu.

Rei : 

"Baik. Terima kasih… Aerisyl."

Garm dan Lirya sama-sama terdiam.

Garm berhenti mengunyah entah apa yang ia pegang.

Telinganya semakin tegak.

Lirya menahan napas sepersekian detik—lalu menatap sekeliling, seolah berharap sosok itu menampakkan diri.

Sylvhia hanya menyipitkan mata, lalu tersenyum kecil.

Sylvhia (dalam hati): 

Jadi… kau yang datang, Aerisyl. Hmph… pemalu seperti biasa.

Angin kembali berputar, lebih tajam, seperti mengandung tanya.

Aerisyl (transmisi angin): 

Untuk apa aku harus menjaga gadis elf itu?

Rei menatap gerbang dimensi, lalu menjawab dengan tenang—terlalu tenang untuk topik seperti ini.

Rei : 

"Kalau dia mati… bagian diriku yang di luar sana akan kehilangan alasan untuk bertahan."

Lirya menegang sedikit tanpa sadar.

Rei melanjutkan, suaranya datar… tapi bobotnya membuat hutan terasa lebih sunyi.

Rei : 

"Dan kalau dia hancur—dunia ini ikut kena akibatnya. 

Karena setengah kekuatanku ada pada jiwa itu. Setengahnya lagi… ada di sini."

Angin di sekitar mereka berhenti sejenak, seperti ikut "memikirkan" kata-kata itu.

Aerisyl (transmisi angin): 

"…"

Tidak ada jawaban panjang.

Hanya hembusan yang menjauh—seperti sosok yang pergi tanpa ingin terlihat.

Sylvhia menatap arah angin itu menghilang, lalu menghela napas pelan.

Sylvhia (dalam hati): 

Dia tertarik… tapi takut mendekat. Berbeda sekali denganku.

Lirya akhirnya tidak tahan dan menghampiri Rei.

Lirya : 

"Tadi… siapa yang kau ajak bicara?"

Rei menoleh sesaat. Tatapannya tetap tenang.

Rei : 

"Aerisyl."

Garm mengangkat alis.

Garm : "Itu… bukannya salah satu Guardian Elyndor?"

Rei : "Iya."

Lirya (dalam hati):

Guardian… benar-benar turun tangan? Untuk apa…?

Lirya menatap Rei tajam, menahan rasa ingin tahu yang mengganggu dada.

Lirya :

"Dan siapa 'elf' yang kau suruh dia jaga?"

Rei diam sebentar. Seolah memilih kata yang tidak akan membuka terlalu banyak pintu.

Rei :

"Elf biasa…"

Ia berhenti sejenak.

Rei :

"Yang dulu pernah kuselamatkan."

Tatapannya sempat mengeras—seperti ada nama yang hampir keluar, lalu ditelan lagi.

Lirya mengertakkan gigi kecil—bukan marah, lebih karena ia tidak suka Rei menahan informasi.

Namun Garm menepuk batang pohon pelan, tertawa pendek—seolah ia baru menangkap sesuatu yang menarik.

Garm :

"Kau ini… makin lama makin seperti teka-teki, Rei."

Rei tidak menjawab. Ia kembali menatap gerbang.

Dan di balik pepohonan, jauh dari pandangan—angin seolah bersembunyi di bayang-bayang, mengintai gerbang dari kejauhan.

—Aelria Terbangun Setelah Dua Hari

Gelap.

Lalu cahaya.

Aelria membuka mata pelan. Pandangannya buram, kepala terasa berat—seolah ada batu besar menekan dari dalam.

Aelria : "Ugh…"

Tubuhnya terasa sakit di banyak tempat.

Bekas benturan… sisa mana yang terkuras habis… semuanya menumpuk jadi satu rasa yang membuat napasnya pendek.

Aelria (dalam hati):

Berapa lama… aku…?

Ia mencoba bangkit, tapi lengan terasa lemas.

Pintu kamar berderit.

Seorang maid masuk dengan langkah cepat, membawa kain bersih—dan ketika melihat Aelria sudah membuka mata, wajahnya berubah panik sekaligus lega.

Maid :

"Nona…! Anda sadar?!"

Aelria menatapnya pelan, mencoba bicara.

Aelria : "Aku… tidak apa-apa…"

Maid itu langsung berbalik, berlari kecil.

Maid : "Saya panggil Tuan Penguasa Kota dan healer sekarang!"

Aelria menutup mata sejenak, menahan pusing.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka.

Penguasa kota masuk dengan wajah tegang, diikuti healer dan beberapa perwira militer. Wajah mereka jelas menunjukkan kekhawatiran yang ditahan dua hari.

Penguasa Kota:

"Nona Aelria! Syukurlah… Anda akhirnya sadar."

Healer menempelkan dua jari ke pergelangan Aelria, lalu menutup mata.

Udara di sekitar telapak tangannya bergetar—mana memeriksa mana.

Healer :

"Cadangan manamu habis. Tapi stabil. Luka dalamnya butuh waktu."

Aelria menarik napas pelan.

Aelria :

"Aku… merasa lebih baik. Walau masih sakit."

Penguasa kota mengangguk cepat, lalu langsung masuk ke hal yang paling ditunggu.

Penguasa Kota:

"Bagaimana kondisi Anda bisa sampai pingsan dua hari… itu akan kita bicarakan nanti. Yang penting: kota kami aman."

Aelria tersentak kecil.

Aelria :

"Aman…?"

Penguasa Kota:

"Ya. Para goblin dan orc… lenyap."

Perwira Militer:

"Seperti… disapu angin."

Ia menelan ludah.

Perwira Militer:

"Bukan badai. Bukan mantra. Seperti… keputusan"

Aelria membeku sesaat.

Aelria (dalam hati): 

Angin… jadi itu bukan halusinasiku…

Aelria memaksa dirinya duduk lebih tegak.

Aelria :

"Kalian… melihat sosok… Ratu Roh Angin… di tempat kejadian?"

Mereka saling menatap.

Lalu penguasa kota menggeleng pelan, seolah pertanyaan itu terlalu mustahil.

Penguasa Kota:

"Tidak. Kami tidak melihat siapa pun selain pasukan kami dan monster."

Perwira Militer:

"Maaf, Nona… tapi kalau itu benar Guardian… itu tidak masuk akal.

Mereka bahkan jarang menjawab permohonan para raja."

Aelria diam.

Aelria (dalam hati):

Kenapa… aku ditolong…?

Namun ia menelan pertanyaan itu. Saat ini yang lebih penting adalah keselamatan kota—dan ia masih hidup.

Aelria :

"Kalau begitu… syukurlah. Yang penting warga selamat."

Penguasa kota menunduk hormat.

Penguasa Kota:

"Anda menyelamatkan kota ini.

Kami akan mengirim penilaian tertinggi ke pihak akademi untuk Anda."

Aelria menghela napas.

Aelria :

"Aku akan pulang… dalam tiga hari. Setelah benar-benar pulih.

Aku akan melaporkan bahwa tugasku selesai sepenuhnya."

Penguasa Kota:

"Tentu. Istirahatlah. Anda pantas mendapatkannya."

Mereka pun pamit, meninggalkan kamar kembali hening.

—Tiga Hari Pemulihan — Pertanyaan yang Tidak Mau Pergi

Tiga hari berlalu.

Aelria minum ramuan pemulih, membiarkan healer memeriksa kondisinya, dan memaksa tubuhnya kembali kuat sedikit demi sedikit.

Saat hari ketiga, ia berdiri di depan jendela mansion, menatap langit kota yang kini lebih tenang.

Aelria (dalam hati):

Kenapa… salah satu Guardian… menolongku…?

Ia memegang dada pelan, masih bisa merasakan sisa ketakutan saat tubuhnya terpental menghancurkan tembok… dan saat ia melihat orc itu hampir mengakhiri semuanya.

Lalu angin datang.

Menyayat, memusnahkan.

Dan sosok itu—yang seharusnya hanya ada di dongeng.

Aelria (dalam hati):

Aku hanya putri bangsawan elf biasa… bukan siapa-siapa bagi dunia ini…

Ia menarik napas.

Aelria (dalam hati):

Atau… mungkin… aku berkaitan dengan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sadar?

Hari itu, Aelria pamit.

Penguasa kota mengantar hingga gerbang. Para warga memberi hormat. Namun Aelria berjalan pergi dengan satu pertanyaan yang terus mengikuti langkahnya.

Dan jauh dari sana—di kedalaman hutan terlarang—angin yang sama bersembunyi dalam bayang-bayang, mengintai gerbang… seolah memastikan sesuatu tetap aman.

More Chapters