Pagi berikutnya, Aelria terbangun jauh lebih awal dari biasanya.
Kepalanya masih berat oleh lelah sepekan lomba dan perjalanan, tapi ia memaksa tubuhnya bangkit. Setelah mandi dengan cepat, ia mengenakan seragam tempur akademi—versi ringan yang memudahkan gerak—lalu menggantung jubah di bahunya.
Aelria (dalam hati):
Kalau aku ingin cepat pulang… tugas ini harus selesai tanpa celah.
Ia keluar dari mansion dan berjalan menuju kediaman Penguasa Kota. Udara pagi kota kecil itu masih dingin, dengan sisa kabut tipis menggantung di jalan-jalan batu.
Di ruang pertemuan, sudah ada Penguasa Kota dan beberapa perwira militer dari ras lain menunggu.
Peta wilayah sekitar kota tergelar di atas meja:
Garis besar tembok kota,
Letak goa yang dulu menjadi sarang goblin,
Titik-titik merah yang menandai lokasi serangan beberapa minggu terakhir.
Aelria menatap peta dengan serius.
Aelria :
"Menyerang goa tanpa tahu jumlah mereka hanya akan menambah daftar korban. Itu bukan strategi—itu bunuh diri."
Salah satu perwira beastkin, pria berwajah keras dengan bekas luka di pipi, mengangguk berat.
Perwira :
"Pasukan kami sudah beberapa kali mencoba.
Setiap kali kami mundur, jumlah mereka seolah tidak berkurang."
Aelria menggigit bibir pelan, lalu menghela napas.
Aelria :
"Kalau begitu… kita balik caranya.
Kita kirim tim pengintai kecil, dari beberapa arah berbeda.
Mereka tidak masuk terlalu dalam ke goa,
Hanya mengawasi jalur keluar-masuk goblin,
Dan bila memungkinkan, menghabisi kelompok patroli kecil yang keluar."
Ia menatap semua yang hadir.
Aelria :
"Pelan, tapi pasti.
Sedikit demi sedikit, kita kurangi jumlah mereka di luar, sambil mengumpulkan informasi.
Sampai kita yakin… kapan saat terbaik untuk menyergap."
Ruangan itu sempat hening beberapa detik.
Penguasa Kota lalu mengangguk mantap.
Penguasa Kota :
"Rencana yang… aman, tapi efektif.
Kalau para perwira setuju, kita jalankan."
Para perwira saling pandang, lalu setuju satu per satu.
Aelria menambahkan pelan:
Aelria :
"Aku juga akan ikut dalam beberapa operasi pengintaian.
Aku tidak bisa hanya duduk diam menunggu laporan."
Perwira berbekas luka tersenyum tipis.
Perwira :
"Kalau begitu, kami akan menyiapkan pasukan kecil yang bisa mengimbangi ritme gerakmu."
—4 Hari Pertama – Perang Bayangan
Empat hari berikutnya terasa seperti perang yang berjalan dalam bisikan.
Setiap pagi, beberapa tim kecil keluar dari gerbang kota:
3–5 prajurit tangkas,
Satu penyihir pendukung,
Dan sesekali Aelria sendiri yang memimpin tim.
Mereka bersembunyi di semak, bebatuan, dan bayangan pohon.
Menunggu patroli goblin lewat,
Menyerang cepat,
Menghabisi mereka sebelum sempat berteriak.
Aelria berkali-kali melontarkan sihir penekanan bunyi, memastikan pertempuran kecil itu tidak mengundang perhatian dari goa utama.
Selama empat hari, hasilnya terasa:
Jumlah goblin patroli yang berkeliaran di sekitar jalur dagang berkurang drastis,
Serangan kecil terhadap kafilah berhenti,
Jalanan sekitar kota mulai tampak lebih aman.
Di hari keempat, saat mereka kembali ke kota menjelang senja, salah satu prajurit muda berseru pelan:
Prajurit Muda:
"Kalau begini terus… mungkin masalah kota ini akan selesai sebelum malam festival panen…"
Aelria hanya tersenyum tipis.
Aelria (dalam hati):
Kalau benar, aku bisa kembali ke akademi lebih cepat… dan…
…dan menghubungi Rei.
—Hari ke-5 – Goa yang Kosong
Di hari kelima, laporan pengintai mulai berubah.
Perwira :
"Tidak ada goblin patroli yang terlihat sepanjang hari.
Jalur yang biasanya ramai… sekarang kosong."
Kerutan kekhawatiran muncul di dahi Aelria.
Aelria :
"Kosong…? Seharian penuh?"
Perwira mengangguk.
Penguasa Kota :
"Apakah mungkin mereka sudah kabur? Atau habis?"
Aelria memandang peta lagi, lalu menghela napas.
Aelria :
"Kita tidak boleh berasumsi.
Tapi… tidak ada salahnya memeriksa goa utama sekarang.
Dengan pasukan terkontrol, bukan penyerbuan besar-besaran."
Siangnya, Aelria dan sepasukan prajurit mendekati goa yang selama ini menjadi sarang goblin.
Udara di sekitar mulut goa dingin dan lembap.
Bau busuk yang biasanya menyengat… kini hampir tidak ada.
Mereka masuk perlahan, formasi rapat.
Tidak ada jejak goblin berkeliaran,
Tidak ada suara geraman,
Hanya dinding batu lembap dan beberapa tulang berserakan.
Prajurit lain berseru pelan:
Prajurit :
"Mereka benar-benar pergi…?"
Aelria menyusuri lorong demi lorong, sihir penerang melayang di atas bahunya.
Sekilas, semua tampak kosong.
Namun alisnya tetap berkerut.
Aelria (dalam hati):
Ini… terlalu bersih.
Seperti seseorang yang memutuskan pindah rumah, tapi tetap meninggalkan sampah di mana-mana.
Monster tidak akan membersihkan jejak seperti ini…
Tapi tanpa bukti lain, mereka tak bisa berbuat banyak.
Malam itu, laporan ke Penguasa Kota resmi:
Sarang goa dalam keadaan kosong.
—Hari ke-6 – Serangan Balasan
Keesokan harinya, suasana kota terasa anehnya tenang.
Terik siang mulai naik ketika Aelria duduk di ruang makan kediaman penguasa kota, bersama tuan rumah dan beberapa petinggi militer.
Mereka makan siang sederhana: sup panas, roti, dan sedikit daging panggang.
Penguasa Kota:
"Kalau benar ancaman goblin sudah hilang… kota ini akhirnya bisa bernapas lega."
Aelria hanya menatap supnya.
Aelria (dalam hati):
Entah kenapa… aku tidak suka rasa tenang seperti ini.
Tiba-tiba, pintu ruang makan terbuka kasar.
Seorang prajurit masuk dengan napas terengah, wajah pucat.
Prajurit :
"Tuan! Nona penyihir!
Laporan darurat! Gerombolan goblin dan beberapa orc…
sedang menyerang gerbang kota timur!"
Suasana meja makan langsung berubah tegang.
Kursi bergeser, sendok terjatuh. Penguasa kota berdiri dengan wajah mengeras.
Penguasa Kota :
"Mereka menyerang di siang bolong…?!"
Aelria ikut berdiri, kursinya hampir terguling.
Aelria :
"Ayo ke sana.
Kita tidak boleh terlambat lagi."
Namun mereka terlambat. Kota sudah dalam Kekacauan.
Di luar, dunia sudah berubah.
Di bagian depan kota dekat gerbang timur:
Rumah-rumah terbakar,
Jeritan terdengar dari berbagai arah,
Anak-anak dan wanita berlarian mencari perlindungan.
Goblin-goblin berlarian liar, menyerang warga tanpa pandang bulu—
menebas, menggigit, dan merusak apa saja yang mereka lewati.
Di antara mereka, beberapa sosok orc besar mengangkat senjata berat, menghantam dinding rumah, bahkan merobohkan tiang penyangga.
Aelria melihat semuanya… dan perutnya terasa mual.
Aelria (dalam hati, gigi terkatup):
Mereka… membantai tanpa pandang bulu…
Anak-anak, orang tua… tidak peduli…
Prajurit yang bersamanya menyerbu maju.
Perwira :
"Lindungi warga!
Jangan biarkan makhluk itu menembus lebih dalam!"
Aelria mengangkat tangan, lingkaran sihir bercahaya muncul di depan tubuhnya.
Aelria :
"Multi Bind – Root of Light!"
Dari tanah, akar-akar bercahaya menyeruak, menyambar kaki beberapa goblin, mengikat mereka di tempat.
Pasukan kota memanfaatkan celah itu, menghabisi monster-monster yang terbelenggu.
Serangan demi serangan Aelria menyalak:
Ledakan cahaya kecil,
Tembakan sihir jarak menengah,
Penghalang tipis untuk melindungi warga yang berlari.
Namun waktu berjalan… dan setiap mantra menggerus cadangan mana-nya.
Lima belas menit berlalu terasa seperti satu jam penuh.
Napas Aelria mulai memburu.
Aelria (dalam hati):
Napasku… berat…
Mana… hampir habis…
Namun serangan goblin belum juga surut.
Dan saat itulah, tanah di sekitarnya terasa lebih berat, dan sihir di udara bergetar tak stabil.
—Munculnya Orc Beranomali
Dari kerumunan goblin, satu sosok muncul lebih tinggi dari yang lain.
Orc—tapi berbeda:
Tubuhnya lebih besar,
Kulitnya lebih gelap dengan garis-garis seperti retakan bercahaya samar di beberapa bagian,
Matanya memancarkan kilau aneh, seolah ada sesuatu yang mengalir di dalamnya.
Aura di sekeliling orc itu… bergetar.
Aelria merasakan sedikit sengatan di kulitnya.
Aelria (dalam hati, kaget):
Anomali…
Ada energi anomali tipis di tubuhnya!
Prajurit di sekitarnya tampak goyah.
Perwira :
"Apa… itu pemimpin mereka…?"
Orc itu mengangkat senjata besar—semacam kapak raksasa—dan menghantamkan ke tanah.
Gelombang kejutnya membuat beberapa prajurit terlempar.
Aelria menggertakkan gigi, memaksa tubuhnya berdiri tegak meski lututnya gemetar.
Aelria :
"Kalau aku menjatuhkan yang satu ini…
Gerombolan lain mungkin akan terpukul mundur…"
Ia mengangkat tangannya lagi, memaksa lingkaran sihir muncul.
Aelria :
"Sevenfold Light Lance!"
Tujuh tombak cahaya meluncur, disusul panah sihir, tembakan elemen, dan tebasan jarak jauh para prajurit.
Namun ketika debu mereda—
Orc itu masih berdiri.
Kulitnya hanya tergores sedikit. Garis-garis bercahaya di tubuhnya berdenyut pelan, seperti menyerap sebagian serangan.
Aelria terbelalak.
Aelria (dalam hati):
Ini… tidak mungkin…
Serangan gabungan seperti itu… setidaknya harus melukai parah…
Beberapa prajurit mulai kehilangan semangat.
Prajurit :
"Tidak mempan… sama sekali…?"
Aelria hampir tak bisa bernapas dengan normal. Mana-nya sudah di ambang batas, tapi ia memaksa.
Namun orc itu menggeram, bukan karena kesakitan—melainkan kemarahan.
Dalam sekejap, ia menerjang ke arah Aelria.
Aelria melompat ke samping, berhasil menghindari tebasan langsung—
tapi gelombang serangannya menghajar tanah di belakangnya.
Ledakan pecahan batu menghantam Aelria seperti hantaman palu.
Tubuh Aelria terpental keras, menghantam tembok rumah di belakangnya.
Dinding itu retak dan sebagian runtuh.
Aelria : "—Kuh…!"
Darah memancar keluar dari sudut bibirnya.
Lantai di bawahnya terasa jauh… dan goyah.
Penglihatan mulai berputar.
Suara jeritan dan benturan di medan perang terasa seperti datang dari kejauhan.
Aelria (dalam hati, kabur):
Tidak…
Bukan… di sini…
Aku masih harus… pulang…
Orc itu mengangkat senjata lagi, mendekat.
Prajurit di sekeliling berusaha menghalangi, tapi mereka tersungkur satu per satu, terpental oleh kekuatan fisik monster itu.
Kapak itu terangkat tinggi, siap menghantam Aelria yang setengah berlutut.
Aelria mencoba mengangkat tangan, tapi mana-nya nyaris kosong.
Aelria (dalam hati):
Kalau sekarang… aku—
—Ratu Roh Angin Turun
Sebelum kapak itu turun, sebuah hembusan angin melintas di belakang orc.
Bukan angin biasa.
Hembusan itu seperti pisau-pisau tak terlihat—tajam, dingin, dan padat.
WHUUSH!!
Orc itu terhuyung, mengeluarkan geraman kesakitan. Di punggung dan bahunya muncul luka-luka terbuka, seolah tubuhnya ditebas berkali-kali oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Aelria membelalakkan mata, memaksa dirinya tetap sadar.
Aelria (dalam hati):
Apa… itu…?
Ia mengangkat wajah.
Di atas kepalanya, di tengah pusaran angin, sesosok wanita perlahan mengambil wujud:
Rambut panjangnya melayang seperti kabut angin,
Matanya berkilat tajam seperti badai di kejauhan,
Tubuhnya seolah setengah transparan, menyatu dengan udara.
Para prajurit yang masih sadar menatap dengan campuran takjub dan takut.
Prajurit :
"Apa yang terjadi?"
Aelria terpaku.
Ia pernah mendengar kisah tentang para guardian dunia Elyndor dari ayah dan ibunya, juga dari buku-buku dongeng.
Tapi melihatnya… di depan mata…
Aelria (dalam hati, nyaris tak percaya):
Tidak mungkin…
Kenapa… sosok sekuat itu… muncul di sini…?
Ratu Roh Angin menatap sekeliling medan pertempuran dengan ekspresi dingin.
Dengan satu gerakan tangannya, angin menggulung:
Menyapu barisan goblin,
Memotong mereka seperti rumput,
Menebas orc-orc yang tersisa tanpa memberi kesempatan melawan.
Jeritan monster bercampur dengan deru badai.
Dalam hitungan detik, goblin yang tadi memenuhi jalan-jalan kota berubah menjadi tumpukan tubuh tak bernyawa—lalu perlahan terurai oleh hembusan angin menjadi debu hijau gelap yang terbawa pergi.
Orc beranomali itu mencoba mengangkat senjata sekali lagi, tapi hembusan angin pekat menghajar tubuhnya dari berbagai arah, memotong tendon, mematahkan tulang, lalu meremukkannya hingga rubuh.
Tak lama kemudian, kota yang tadi dipenuhi raungan dan jeritan…
kembali sunyi.
Ratu Roh Angin menatap ke arah Aelria.
Ada sekilas sesuatu di mata sang roh—seperti pengakuan, atau mungkin… penilaian.
Namun sebelum Aelria bisa mengucap apa pun—
Tubuhnya akhirnya tidak kuat lagi.
Mana habis. Luka dalam yang ia derita akibat benturan tembok mengamuk di dalam tubuhnya.
Aelria (dalam hati, samar-samar):
Rei…
Maaf…
Sepertinya… aku akan sedikit terlambat lagi…
Darah terakhir menetes dari sudut bibirnya, penglihatan menggelap, dan tubuhnya jatuh limbung ke tanah.
Sadar terakhirnya hanya diisi oleh suara angin… yang anehnya, terdengar hangat.
—Dan setelah itu, gelap.
