Cherreads

Chapter 96 - Bab: Flashback 1 Bulan Lalu – Ujian & Misi Aelria

—Pengumuman Ujian Semester & Lomba Akademi

Sudah hampir satu bulan sejak kali terakhir Aelria benar-benar bisa mengobrol santai dengan Rei.

Hari itu, di aula besar akademi sihir para elf, suara kepala akademi bergema mantap.

Kepala Akademi :

"Mulai minggu depan, kalian akan memasuki ujian semester.

Dan sebelum itu… akademi kita juga akan mengikuti kompetisi antar-akademi melawan beberapa sekolah besar lainnya.

Persiapkan diri kalian."

Sejak hari itu, hidup Aelria dan teman-teman sekelasnya berubah total.

Pagi sampai siang: kelas teori dan latihan sihir,

Sore: latihan taktik, simulasi pertempuran,

Malam: belajar materi ujian sambil menahan kantuk.

Aelria (dalam hati, saat menatap langit malam dari balkon asrama):

Rei, sepertinya aku akan sulit menghubungimu beberapa waktu ke depan…

Tapi aku janji, kalau semua ini selesai… aku akan menelponmu duluan.

Di kamarnya, kristal komunikasi yang menghubungkannya dengan Rei tergeletak tenang di atas meja.

Beberapa kali tangannya hampir meraihnya—tapi ditahan.

Dan setiap hari tanpa suara Rei terasa lebih panjang dari yang seharusnya.

Aelria :

"Sedikit lagi… kalau aku lemah sekarang, aku hanya akan mempermalukan nama kami di akademi ini."

—Kompetisi Antar-Akademi – Minggu yang Melelahkan

Kompetisi pun dimulai.

Selama satu minggu penuh, akademi Aelria bertanding melawan berbagai akademi dari ras dan wilayah yang berbeda.

Turnamen sihir duel,

Strategi kelompok 5 vs 5,

Simulasi pertahanan kota,

Tes kombinasi elemen dan sihir pendukung.

Aelria dan timnya hampir tidak punya waktu untuk bernapas.

Namun hasilnya jelas:

Hari pertama sampai hari ketujuh,

Akademi mereka tetap berada di posisi teratas.

Tim Aelria beberapa kali nyaris tumbang:

Serangan sihir kombinasi dari akademi lain,

Trap taktik yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan tim mereka,

Strategi licik yang menyerang titik lemah mental para peserta.

Tapi setiap kali itu terjadi, Aelria menggigit bibir dan memaksa diri untuk maju satu langkah lagi.

Aelria terengah, setelah menyelesaikan duel terakhir di hari ketujuh.

Aelria (dalam hati):

Kalau… di dunia lain… Rei juga sedang berjuang sendiri…

Maka aku juga tidak boleh kalah di sini

Saat pengumuman kemenangan akhir, sorak-sorai memenuhi arena.

Elf, beastman, dan ras lain yang menjadi murid di akademi itu mengangkat tangan mereka, berseru puas.

Aelria hanya tersenyum lelah… dan baru menyadari betapa berat tubuhnya saat ia akhirnya duduk di bangku ruang tunggu.

Seris :

"Kau baik-baik saja, Aelria?"

Aelria :

"Capek… tapi, aku baik. Hanya butuh tidur selama… satu minggu penuh mungkin."

Seris tertawa kecil, lalu menepuk pelan pundaknya.

Namun sebelum mereka benar-benar bisa beristirahat…

—Tugas Baru – Menyidik Energi Anomali

Keesokan harinya, saat mereka semua mengira bisa tidur tenang, pihak akademi mengumpulkan murid-murid tingkat atas di sebuah ruang briefing.

Instruktur :

"Selamat atas kemenangan kalian dalam kompetisi.

Tapi pekerjaan kalian belum selesai."

Di depan Aelria, peta besar dunia mereka terbentang di atas meja kristal.

Beberapa titik di peta bersinar samar—menandai lokasi-lokasi dengan energi anomali.

Instruktur :

"Kami mendeteksi anomali energi di beberapa wilayah:

Hutan berkabut di utara,

Daerah pegunungan,

Dan sebuah kota kecil dekat goa yang menjadi sarang monster."

Para murid dibagi menjadi beberapa tim kecil.

Ada yang mendapat tugas penyelidikan murni,

Ada yang diminta melakukan pengukuran energi,

Dan ada yang, seperti Aelria, mendapatkan tugas campuran: membasmi monster biasa sekaligus memantau anomali.

Instruktur :

"Aelria. Kau akan pergi sendirian ke sebuah kota kecil di wilayah barat.

Di dekat kota itu ada sebuah goa yang dihuni goblin dan orc.

Energi anomali tidak terlalu kuat di sana, tapi aktivitas monster entah mengapa meningkat di sana."

Aelria menerima gulungan surat tugas bertanda lambang akademi.

Instruktur :

"Serahkan surat ini pada penjaga kota setempat.

Mereka sudah mendapat informasi awal dan akan bekerja sama denganmu.

Jangan gegabah, dan jangan lupa: tugas ini juga bagian dari penilaian ujian."

Aelria menatap gulungan surat itu, lalu mengangguk mantap.

Aelria :

"Baik. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin."

—Tiba di Kota Kecil – Permintaan Penguasa Kota

Perjalanan menuju kota kecil itu memakan waktu.

Kereta sihir berguncang halus, meninggalkan lanskap hutan dan ladang di kejauhan.

Saat Aelria turun di gerbang kota, udara di sana terasa berbeda—sedikit lebih dingin, sepi, dan tegang.

Dua orang penjaga kota, lengkap dengan baju zirah ringan, menghentikannya.

Penjaga 1:

"Selamat datang. Ada keperluan apa ke kota ini?"

Aelria mengeluarkan gulungan surat bermaterai akademi.

Aelria :

"Aku Aelria, murid dari akademi sihir.

Aku datang untuk menjalankan tugas penyelidikan dan pembasmian monster di goa dekat kota ini."

Penjaga 2 melihat segel surat itu, lalu saling pandang dengan rekannya.

Penjaga 2:

"Mohon ikut bersama kami. Tuan Penguasa Kota sudah menunggu."

Di ruang audiensi sederhana namun rapi, Aelria berdiri di hadapan seorang pria ras beastkin paruh baya—penguasa kota—yang tampak lelah, tapi tegas.

Penguasa Kota:

"Jadi, kau yang dikirim akademi."

Aelria menunduk sopan.

Aelria :

"Benar. Tolong jelaskan situasi yang terjadi."

Penguasa Kota menghela napas berat.

Penguasa Kota:

"Beberapa bulan terakhir, aktivitas goblin dan orc dari goa di luar kota meningkat.

Mereka menyerang kafilah, menculik penduduk, dan mengganggu jalur dagang.

Pasukan kami sudah beberapa kali melakukan penaklukan, tapi sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka terus bertambah."

Ia melanjutkan.

Penguasa Kota:

"Kami akan mengerahkan pasukan.

Namun kami butuh seseorang dari akademi untuk:

Mengawasi kemungkinan anomali energi,

Dan jika perlu, membantu menghabisi para monster itu."

Aelria mendengarkan dengan serius.

Di kepalanya, ia sudah mulai menyusun:

Jalur masuk ke goa,

Pembagian tugas antara pasukan kota dan dirinya,

Kemungkinan adanya monster komandan di balik goblin dan orc biasa.

Aelria :

"Baik.

Aku akan bekerja sama dengan pasukan kota dan menilai situasi di lapangan.

Tolong siapkan peta wilayah sekitar goa dan laporan insiden terakhir."

Penguasa Kota mengangguk, lalu memanggil seorang pelayan.

Penguasa Kota :

"Untuk sementara, kau bisa beristirahat di mansion yang kami sediakan untuk tamu akademi.

Kau tampak sangat lelah."

Aelria :

"Terima kasih. Aku akan menyusun strategi malam ini, dan besok pagi mulai bergerak."

—Mansion Kota & Rasa Rindu yang Disembunyikan

Mansion yang disediakan tidak terlalu besar, namun nyaman:

Ruang tamu hangat dengan sofa empuk,

Kamar tidur yang rapi dengan jendela menghadap ke jalan kota,

Meja kecil di dekat tempat tidur dengan lampu kristal.

Begitu masuk kamar, Aelria menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.

Aelria (dalam hati, menatap langit-langit):

Latihan seminggu, lomba tujuh hari tanpa henti…

Lalu sekarang, misi di kota kecil…

Ia memejamkan mata sesaat.

Wajah Rei muncul di benaknya—senyum canggung, rambut putih yang sekarang dikuncir, dan tatapan mata berbeda warna yang hangat tapi selalu menyimpan sedikit luka.

Aelria (dalam hati, pelan):

Rei…

Maaf, ya. Sudah lebih dari seminggu… mungkin hampir dua… aku belum sempat menghubungimu.

Tangannya terulur ke arah tasnya.

Di dalamnya—tersimpan bola kristal komunikasi yang menghubungkannya dengan Rei di dunia lain.

Aelria mengusap permukaan kristal itu, tapi tidak mengaktifkannya.

Aelria :

"Kalau aku menelpon sekarang… aku tidak yakin bisa berbicara sebentar saja.

Dan kalau percakapan kita terputus karena aku harus kembali ke tugas… aku tidak mau itu."

Ia menghela napas pelan.

Aelria (dalam hati):

Biarkan aku menyelesaikan ini dulu.

Kalau sudah berhasil… aku akan menghubungimu dengan kepala tegak, dan bilang kalau aku juga berjuang di sini, sama seperti dirimu.

Tubuhnya terasa semakin berat.

Suara kota di luar jendela perlahan memudar.

Aelria menutup mata, menggenggam kristal di tangan.

Aelria (dalam hati, sebelum terlelap):

Tunggu aku sedikit lagi… Rei.

Jangan runtuh sebelum aku kembali…

Dan di kota kecil yang jauh dari akademi,

Aelria tertidur sore itu—membawa lelah, beban tugas, dan rindu yang belum sempat ia ucapkan.

More Chapters