—Pagi Hari – Persiapan Berangkat
Pagi hari, sinar matahari menerobos tirai kamar apartemen Rei.
Rei bangun lebih awal dari biasanya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia mulai menyiapkan beberapa set baju santai, pakaian ganti untuk berenang, dan perlengkapan pribadi di dalam tas ranselnya.
Saat ia hendak keluar kamar, ponselnya bergetar.
Grup Chat – "Lingkaran Meja 202"
Rika : "Aku udah di rumah Riku! (๑˃̵ᴗ˂̵)"
Airi : "Aku juga! Cepat datang, Rei~"
Tak lama kemudian, pesan lain masuk.
Rei :
"Bagaimana dengan Hina dan Ravien?"
Beberapa detik kemudian, balasan muncul.
Hina :
"Aku sudah bersama Ravien. Kami lagi dalam perjalanan ke rumah Riku."
Rei melihat layar ponselnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
Rei (dalam hati):
Kalau begitu… tidak perlu memaksa Ravien berangkat bersamaku, ya.
Ia memasukkan ponsel ke saku, menggendong tasnya, dan melangkah keluar menuju rumah Riku.
—Tiba di Rumah Riku
Perjalanan kaki sekitar tiga puluh menit cukup membuat tubuh Rei sedikit berkeringat, tapi udara pagi terasa segar.
Sesampainya di depan rumah besar keluarga Riku, ia melihat:
Rika sudah berdiri di depan, memegang tas kecil dan beberapa kantong snack,
Airi melambai heboh,
Hina berdiri agak di belakang, dan
Ravien bersandar santai di dekat pilar pagar dengan tangan di saku.
Airi segera menghampirinya.
Airi :
"Rei! Biar aku bantu bawain tasmu!"
Rei :
"Tidak apa-apa, aku bisa—"
Airi sudah keburu mengambil salah satu tas kecilnya sambil tersenyum puas.
Riku keluar dari dalam rumah sambil membawa kunci mobil.
Riku :
"Kalau begitu, semua sudah lengkap ya?
Ayo, kita berangkat sebelum panas!"
Mereka sempat berpamitan dengan ayah Riku yang berdiri di depan pintu, melambaikan tangan kepada rombongan anak muda yang tampak penuh semangat.
—Susunan Tempat Duduk di Mobil
Mereka naik ke dalam mobil sewaan yang cukup besar.
Kursi depan:
Riku sebagai sopir
Rika di kursi penumpang depan, tentu saja.
Kursi tengah:
Rei dan Airi di sebelahnya.
Kursi belakang:
Hina dan Ravien di sisi lain.
Riku menyalakan mesin sambil menoleh sebentar.
Riku :
"Semua sudah pakai sabuk pengaman?"
Rika :
"Sudah~ ayo berangkat, supir pribadi-ku."
Riku tertawa kecil, lalu mobil pun perlahan meninggalkan area rumah.
—Perjalanan – Obrolan, Canda, dan Ngantuk
Di awal perjalanan, suasana di dalam mobil sangat ramai.
Rika bercerita tentang baju pantai yang ia siapkan.
Airi sibuk merencanakan permainan apa yang akan mereka lakukan di pinggir pantai.
Hina sesekali tertawa kecil, walau masih tampak malu jika Ravien menatapnya.
Ravien beberapa kali menghela napas panjang, namun bibirnya sesekali terangkat ketika yang lain bercanda.
Mereka memakan snack yang dibawa Rika—keripik, permen, dan minuman manis.
Seiring waktu berjalan, energi mereka mulai turun.
Kabin mobil perlahan menjadi sunyi.
Di depan, Rika masih terjaga, menggenggam tangan Riku di sela mengemudi dan sesekali mengobrol ringan.
Rika :
"Senang ya, akhirnya kita bisa liburan ber-enam begini."
Riku :
"Ya. Aku berharap liburan ini bisa jadi awal kenangan baru buat kita."
Rika menoleh sebentar ke belakang… dan tersenyum lebar.
Di kursi tengah:
Airi tertidur pulas dengan kepala di pangkuan Rei,
Rei ikut tertidur dengan kepala sedikit tertunduk ke samping, rambut panjang putihnya bergoyang pelan seiring getaran mobil.
Di kursi belakang:
Hina tertidur sambil bersandar di bahu Ravien,
Dan entah sejak kapan, Ravien juga memiringkan kepala hingga menyentuh kepala Hina.
Posisi mereka benar-benar seperti pasangan.
Rika (dalam hati, menahan tawa):
Ini, sih… wajib diabadikan.
Pelan-pelan ia mengeluarkan ponselnya, mengatur mode senyap, lalu memotret:
Rei yang tertidur dengan Airi di pangkuannya,
Lalu beberapa foto close-up Hina dan Ravien yang kepalanya saling bersandar.
Rika (dalam hati):
Hina pasti malu banget kalau lihat ini nanti…
—Tiba di Hotel – Pantai di Depan Mata
Setelah sekitar empat jam berkendara, mereka akhirnya melewati jalan besar yang langsung menghadap hamparan laut biru.
Hotel megah berdiri tak jauh dari garis pantai—bangunan tinggi dengan balkon-balkon menghadap ke arah laut.
Riku :
"Guys, bangun… kita sudah sampai."
Airi mengerjap, sadar kepalanya masih di pangkuan Rei, lalu langsung duduk tegak dengan wajah merah padam.
Airi:
"A-Aduh! Maaf, Rei… aku ketiduran…"
Rei (tersenyum pelan, mengusap mata):
"Tidak apa-apa. Kamu capek."
Hina bangun dan refleks menjauh dari bahu Ravien, wajahnya merah seperti tomat.
Hina:
"M-maaf… aku… ketiduran…"
Ravien hanya menghela napas pelan,
tapi sudut bibirnya sedikit terangkat (hampir tak terlihat).
Dan turun dari mobil tanpa komentar.
Mereka menurunkan barang-barang dari bagasi mobil dan masuk ke lobi hotel.
Di meja resepsionis, Riku maju sebagai perwakilan.
Riku :
"Permisi, atas nama reservasi Mikazuchi Riku."
Resepsionis mengecek daftar tamu VIP di layar kristal sihir yang dipadukan dengan teknologi modern.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum profesional.
Resepsionis :
"Benar, Tuan Riku.
Anda memesan beberapa kamar VIP untuk 6 orang, masa menginap selama 3 hari 2 malam."
Ia mengambil beberapa keycard kamar pada Riku.
Resepsionis :
"Kamar Anda berada di lantai 3, nomor 305 dan 306.
Selamat menikmati masa menginap, semoga liburan Anda menyenangkan."
Riku :
"Terima kasih."
—Pembagian Kamar & Istirahat
Mereka naik dengan lift ke lantai 3.
Koridor hotel berkarpet tebal, sunyi, dengan jendela besar di ujung yang menghadap ke laut.
Riku :
"Oke, sesuai rencana…
Kamar 305 untuk kita para cowok: aku, Rei, dan Ravien.
Kamar 306 untuk para cewek: Rika, Airi, dan Hina."
Semua mengangguk.
Mereka masuk ke kamar masing-masing:
Kamar para gadis berbau lembut, dengan tiga bed rapi dan balkon yang menghadap kolam renang dan pantai.
Kamar para pria sedikit lebih maskulin, tapi tetap mewah dan nyaman.
Begitu barang-barang diletakkan:
Airi langsung rebahan di kasur sambil berteriak,
Rika membuka tirai dan berseru kagum melihat pemandangan pantai,
Hina duduk di tepi kasur sambil menghela napas lega, namun senyum kecil tak hilang dari wajahnya.
Di kamar sebelah:
Rei duduk sebentar di kasur, meregangkan badan,
Riku menyusun barang di lemari kecil,
Ravien hanya melempar tasnya ke lantai dekat kasur, lalu langsung menjatuhkan diri ke atasnya dan menutup mata.
Mereka memutuskan untuk beristirahat dulu di sore itu, sebelum memulai kegiatan apapun di pantai.
Liburan baru saja dimulai.
Dan masing-masing dari mereka—tanpa menyadari—akan membawa pulang sesuatu yang lebih besar dari sekadar kenangan musim panas.
