—Di Bus Kepulangan SMA Shirokaze — Antara Kemenangan dan Bisikan Jahat Masa Lalu
Sorak-sorai kemenangan awalnya memenuhi seluruh bus SMA Shirokaze.
Mereka menang telak.
Mereka mendapatkan hadiah liburan pantai.
Mereka merasa berjaya.
Namun kegembiraan itu hanya bertahan setengah perjalanan.
Di kursi depan, dua orang murid berbicara pelan:
Murid A :
"Kasihan juga Hayato, ya… sampai segitunya…"
Murid B mengangkat bahu.
Tatapannya dingin.
Murid B :
"Kasihan?
Dia cuma panen apa yang dia tanam.
Selama ini sok jagoan.
Ya pantas dihajar demon itu."
Ucapan itu terdengar cukup keras untuk menggetarkan suasana bus.
Beberapa murid yang sebelumnya merasa iba… kini mulai mengangguk setuju.
Lainnya bergumam sinis:
"Memang dia jahat dulu ke orang itu…"
"Ya, wajar… karma."
"Setidaknya bukan lagi kita yang dibebani nama buruk karena dia."
Di bangku paling dekat jendela, Mina mendengar semuanya.
Ia menunduk.
Tangannya menggenggam rok sekolahnya erat-erat.
Mina (dalam hati):
Jadi… yang mereka bicarakan bukan aku.
Untuk saat ini… aku aman.
Namun bayangan Hayato yang tak sadarkan diri di mobil ambulans terpisah menghantui pikirannya.
Mina menggigit bibir.
Mina (dalam hati):
Kalau dia tidak kembali…
mungkin aku juga bisa bebas dari perjanjian keluarga…
tapi… apakah semua kesalahanku akan pergi menjauh daRiku?
Tatapannya kosong, menembus kaca bus.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Mina jujur pada dirinya sendiri:
Mina (hati kecil, lirih):
Tidak peduli Hayato kembali atau tidak…
Rei tidak akan mau memaafkan aku.
Dia bahkan tidak melihatku sekali pun saat ujian tadi…
Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya mati-matian.
Bus terus melaju, tapi hati Mina justru diam di tempat — penuh penyesalan, ketakutan, dan kebingungan tentang masa depannya.
—Di Dunia Lain — Rei Sang Jiwa Pengembara & Bisikan Resonansi
Sementara itu di kedalaman hutan terlarang, Rei lain — jiwa aslinya — masih duduk bersila di depan gerbang dimensi.
Di sekelilingnya, udara hutan penuh denting halus energi.
Selama beberapa minggu ini, Rei sudah terbiasa:
memejamkan mata,
merasakan denyut jiwa dirinya di dunia manusia,
melihat potongan pengalaman melalui resonansi…
…tanpa pernah benar-benar menggerakkan tubuhnya.
Ia merasakan semuanya:
tatapan Mina yang bergetar saat memasuki ruang ujian,
Hayato yang terangkat dan menghantam tembok,
tangis Hina yang memeluk Ravien,
tawa kecil teman-teman saat belajar,
rasa khawatir dirinya terhadap Aelria,
dan bahkan perasaan Ravien yang mulai tumbuh pada Hina.
Rei menghela napas sangat pelan.
Rei (dalam hati):
Kau sudah kuat, ya…
kau bisa menatap masa lalu tanpa runtuh lagi.
Aku terkesan.
Ia membuka sedikit matanya—warna biru di kanan dan hitam di kiri berkilau lembut.
Rei (masih dalam hati):
Dan tentang elf itu…
tidak perlu kau risaukan.
Aelria baik-baik saja.
Bahkan mungkin…
kau akan mendapat kejutan.
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Namun kedamaian itu tidak bertahan lama—
Karena Sylvhia, Ratu Dryad, muncul dari balik pepohonan dengan aura harum tanah basah.
Sylvhia :
"Rei-ku sayang~ hari ini kau melamun lagi?
Siapa yang kau pikirkan?
Elf manis itu atau manusia kecil di sana?"
Rei menghela napas untuk kesekian kalinya.
Lirya, yang sedang duduk di dekat Rei, langsung berdiri.
Lirya :
"Jangan ganggu Rei terus.
Dan hentikan memanggilnya 'Rei-ku sayang'. Itu menjijikkan."
Sylvhia tersenyum nakal.
Sylvhia :
"Eh? Cemburu?
Ara~ ternyata ksatria agung kita ini mudah panas juga."
Lirya :
"Aku tidak cemburu!"
Garm yang bersandar dipohon sisi lain, memejamkan mata sambil tersenyum kecil.
Garm (dalam hati):
Sungguh…
sahabatku ini memang tidak pernah bisa lepas dari situasi rumit.
Dua wanita hebat dunia ini memperebutkannya…
sementara dia hanya duduk diam seperti meditator suci.
Rei hanya mengangkat wajah sedikit.
Rei :
"Aku ingin tenang lima menit saja… apakah itu terlalu sulit?"
Sylvhia mendekat, duduk di sampingnya tanpa meminta izin.
Sylvhia :
"Tenang?
Dengan wajah tampan seperti itu?
Mustahil, Rei sayang."
Lirya :
"Kau… keluar dari zona ku!!"
Rei (dalam hati):
Dulu aku takut pada kebisingan seperti ini… sekarang, aku justru membutuhkannya.
Dan seperti biasanya — keributan kecil kembali terjadi di hutan itu.
Namun di balik semua kegaduhan itu,
Rei merasakan ketenangan yang tidak dia dapatkan dulu.
Tempat ini,
orang-orang ini,
dan perjalanan dua dunianya—
Telah membentuk sesuatu dalam diri Rei yang tak lagi rapuh seperti dulu.
—Minggu Ujian — 5 Hari Akademik, 2 Hari Non-Akademik
Liburan musim panas tinggal menghitung hari.
Namun sebelum itu—para murid SMA SeiRei Gakuen harus melewati 7 hari ujian semester.
Di setiap kelas, suasana terasa jauh lebih serius dari biasanya:
Tidak ada Ravien yang tidur dengan santai.
Tidak ada Rika yang mengeluh lapar setiap 10 menit.
Tidak ada Airi yang menggoda Rei sesuka hati.
Bahkan Hina pun tampak sangat fokus.
Bahkan Ravien—meskipun tetap tidur—bangun ketika lembar ujian dibagikan, mengerjakan semua soal dengan cepat, lalu tidur lagi.
Para guru sudah terbiasa.
Rei dan Ketidakmampuannya di Non-Akademik
Untuk ujian non-akademik yang berupa praktik kekuatan:
siswa beastkin menampilkan kecepatan,
siswa elf menampilkan sihir,
siswa demon menampilkan kekuatan fisik,
namun Rei… hanya bisa ikut bagian teori.
Tapi tidak ada seorang pun yang mengejek.
Bahkan murid dari kelas lain berkata:
"Tidak apa-apa, Rei. Kamu selalu bantu kami mengerti pelajaran. Itu lebih penting."
Rei hanya tersenyum kecil dan membungkuk pelan.
Di dalam hatinya, ada rasa hangat yang dahulu tidak pernah ia rasakan di SMA lama.
—Ujian Berakhir — Semua Murid Dikumpulkan di Lapangan
Setelah tujuh hari panjang yang melelahkan, bel terakhir berbunyi.
Seketika seluruh sekolah bersorak lega.
Mereka dipanggil ke lapangan untuk mendengarkan pengumuman akhir.
Kepala sekolah berdiri di mimbar, tersenyum lembut.
Kepala Sekolah :
"Terima kasih atas kerja keras kalian.
Walau kita tidak menang dalam lomba antar sekolah kemarin—dan meski terjadi insiden yang tidak kita harapkan—kita harus selalu melihat setiap kejadian dari dua sisi, bukan satu."
Murid-murid mengangguk, beberapa terlihat berpikir.
Kepala Sekolah melanjutkan :
"Di sekolah ini, tidak peduli ras kalian apa—beastkin, demon, elf, atau manusia—kita satu keluarga.
Dan bapak berharap kalian memanfaatkan liburan musim panas dua minggu ini untuk beristirahat, menjalin hubungan lebih baik, dan kembali dengan semangat baru."
Pidato selesai—dan lapangan langsung meledak oleh sorakan gembira.
—Rencana Liburan — Kumpul di Rumah Riku
Setelah kembali ke kelas, Riku mengangkat tangan dan berkata:
Riku :
"Besok pagi kumpul di rumahku, ya!
Mobil sewaan sudah siap. Kita liburan ke pantai!"
Rika langsung memukul lengannya sambil tersenyum malu.
Rika :
"Jangan lupa beliin aku makanan sebelum berangkat, ya!"
Airi tertawa, Hina tersenyum malu, dan Ravien hanya mendengus tanpa protes.
Semua sepakat.
Semua bersemangat.
Rei tersenyum tipis—setidaknya untuk sesaat ia bisa melupakan kekhawatiran di hatinya.
—Setelah Pulang Sekolah — Airi "Menculik" Rei untuk Kencan
Dalam perjalanan pulang, Airi memegang erat lengan Rei.
Airi :
"Ayo ikut aku!"
Rei terkejut dengan paksaan yang tiba-tiba.
Rei :
"A-apa? Mau ke mana?"
Airi mengerutkan bibir.
Airi :
"Kencan.
Kita baru selesai ujian, dan wajahmu muram terus akhir-akhir ini.
Aku nggak suka lihat kamu seperti itu."
Rei spontan menghela napas, menyerah pada sifat keras kepala Airi.
—Kencan Mereka — Manis, Lucu, dan Penuh Penyembuhan
• Di Toko Pakaian
Airi mondar-mandir melihat baju lucu.
Airi :
"Huaaa ini bagus tapi mahal… yang ini lucu tapi kecil… rey, lihat deh yang ini—"
Rei hanya tersenyum melihat tingkahnya seperti anak kecil.
• Di Arena Permainan
Airi :
"Rei! Aku mau boneka itu! Yang cakarannya lucu banget!"
Rei memasukkan koin, memutar tuas…
Dan dalam sekali percobaan, bonekanya terangkat.
Airi membelalakkan mata.
Airi :
"Wahh! Rei kamu jago banget!"
• Makan Siang
Mereka makan ramen di restoran kecil yang nyaman.
Rei sempat melamun, memikirkan seseorang yang hilang kabar selama sebulan lebih:
—Aelria.
Airi melihat itu tapi tidak menyinggungnya.
• Menonton Film Horor
Airi ketakutan luar biasa.
Ia menutup mata, memeluk lengan Rei, kadang bersembunyi di dada Rei tiap jumpscare muncul.
Rei tersenyum dan mengelus rambutnya.
Rei :
"Terima kasih… sudah menemani dan selalu ada, Airi."
Airi menatapnya malu-malu, pipi memerah.
Airi:
"Akulah yang senang… bisa bersamamu seperti ini."
—Saat Perjalanan Pulang
Airi menggandeng lengan Rei erat-erat, menyenderkan kepala di bahunya.
Airi :
"Aku tidak sabar liburan besok… dan terima kasih sudah mau kencan denganku."
Rei tersenyum lembut.
Rei :
"Aku juga senang jika kamu senang."
Airi menatap Rei sambil tersenyum hangat.
Airi :
"Andai saja Onee-chan bisa ikut… pasti tambah seru."
Rei tersenyum pahit.
Rei :
"Ya… aku juga berharap."
—Airi Mengingat Ulang Tahun Hina
Airi :
"Nanti pas liburan kita rayakan ulang tahun Hina ya!
Dia pasti senang, meski telat."
Rei mengangguk.
Rei :
"Tentu. Dia pantas bahagia… terutama setelah semua yang dia alami."
Perjalanan pulang itu terasa hangat.
Seolah keduanya saling mengisi kekosongan di hati masing-masing.
—meski satu hati masih menunggu kabar jauh di dunia lain.
—dan satu lagi diam-diam mencintai pria di sampingnya.
