Cherreads

Chapter 93 - Bab: Malam Sebelum Ujian & Tekad Musim Panas Hina

Enam hari menjelang ujian semester, rumah keluarga Hiragi (rumah Riku) berubah fungsi.

Bukan lagi sekadar rumah besar yang sunyi,

melainkan markas belajar kecil dengan:

buku dan catatan berserakan rapi di meja kamar Riku,

suara Airi yang kadang menjelaskan dengan antusias,

Rika yang sesekali merengek manja karena soal sulit,

Rei yang menjadi "guru darurat",

Hina yang berjuang keras dengan alis mengerut,

dan Ravien… yang setiap hari mengeluh di awal, tapi tetap mengajari Hina sampai akhir.

Hari demi hari, pola mereka sama:

Pagi di sekolah,

siang ke rumah Riku,

belajar hingga sore,

lalu pulang bersama dengan hati yang sedikit lebih tenang.

Dan tanpa mereka sadari,

hari keenam—hari terakhir sesi belajar—pun tiba.

—Rencana Libur Musim Panas di Pantai

Sore itu, di kamar Riku:

Buku-buku sudah mulai ditutup satu per satu.

Semua tampak lelah, tapi ada rasa lega juga—materi-materi utama sudah mereka bahas.

Riku meregangkan tubuhnya, lalu tiba-tiba menepuk kedua tangannya untuk menarik perhatian.

Riku :

"Baik, sebagai tuan rumah sesi belajar enam hari ini…

Aku punya usulan."

Airi :

"Usulan? Jangan bilang, belajar tambahan setelah ujian ya…"

Riku :

"Tentu tidak.

Setelah ujian selesai dan libur musim panas dimulai…

Gimana kalau kita semua pergi liburan ke pantai?"

Sejenak hening.

Lalu—seperti meledak bersamaan:

Airi :

"Pantai!? Aku setuju!!"

Rika :

"Liburan bareng? Dengan hotel juga? Waaah…"

Hina menatap mereka satu per satu, matanya mulai bersinar.

Hina :

"Kalau… kita semua pergi bersama…

sepertinya… menyenangkan…"

Rei tersenyum tipis.

Bayangan laut biru dan langit terang menari di benaknya—sesuatu yang jauh dari hutan terlarang dan anomali.

Rei :

"Tidak buruk.

Liburan musim panas di pantai setelah ujian… kedengarannya enak."

Mereka semua menatap sosok yang masih bersandar di dinding: Ravien.

Ravien menghela napas.

Ravien :

"Pantai itu… panas dan berisik."

Beberapa detik berlalu.

Ravien :

"…Tapi kalau kalian tetap pergi, aku ikut.

Karena akan bosan jika hari-hari liburku hanya untuk tidur."

Airi :

"Ngaku saja, kamu cuma tidak mau Hina sendirikan."

Ravien membuang muka, pura-pura tidak dengar.

Namun di sudut lain, hati Hina berdesir pelan.

Hina (dalam hati):

Liburan musim panas… bersama semua orang…

dan Ravien juga ada di sana…

Riku menutup sesi itu dengan mengangkat tangan seperti pemimpin kelompok.

Riku :

"Jadi sudah diputuskan.

Kita hadapi ujian dulu, lalu pantai!"

Semua mengangguk kompak.

Tak lama kemudian, matahari mulai condong rendah di langit.

Mereka pun berkemas.

Airi dan Rei bersiap pulang bersama,

Rika masih sebentar membantu Riku merapikan ruangan,

Hina menepuk pelan tas kecilnya, memastikan semua bukunya sudah masuk,

Ravien berdiri paling santai, seolah enam hari belajar ini cuma lewat di udara begitu saja.

Setelah berpamitan, mereka semua berpisah di depan gerbang rumah Riku, dengan satu tujuan yang sama di benak:

Besok. Ujian.

Setelah itu… musim panas menunggu.

—Malam Sunyi Rei dan Kekhawatiran pada Aelria

Sesampainya di apartemen, Rei membuka pintu kamar 202 seperti biasa.

Suara pintu menutup, lalu kesunyian menyambutnya.

Ia menggantung tas, mengambil pakaian ganti, dan masuk ke kamar mandi.

Air hangat mengalir, menenangkan sedikit lelah di tubuhnya.

Namun justru di dalam keheningan itulah, satu nama muncul lagi dan lagi.

Aelria.

Sudah tiga minggu bola kristal di kamarnya tidak pernah bersinar.

Tidak ada panggilan.

Tidak ada suara cerewet lembut dari elf itu.

Tidak ada tawa kecilnya saat menggoda Rei bersama Airi.

Setelah selesai mandi, Rei menjatuhkan diri di kasur, rambut putihnya masih sedikit lembap.

Rei menatap langit-langit.

Rei (dalam hati):

Tiga minggu tanpa kabar…

Apa kau sibuk, Aelria?

Atau terjadi sesuatu…?

Tangan kanannya terulur ke meja kecil di samping kasur, menyentuh lembut permukaan bola kristal yang kini tampak mati.

Rei tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka kecil yang sudah mengeras.

Rei :

"…Aku percaya kamu baik-baik saja di sana."

Ia menutup mata.

Di kepalanya, bayangan Aelria muncul—senyum hangat, telinga panjang, tatapan mata yang selalu seolah menyelam ke dalam luka terdalam Rei.

Rei (dalam hati):

Besok ujian.

Setelah itu… mungkin aku akan punya waktu luang di musim panas…

Kalau bisa, aku ingin mendengar suaramu lagi.

Dengan pikiran itu, ia memaksa dirinya untuk tidur—meski hatinya terasa belum benar-benar tenang.

—Malam Hina: Chat Singkat dan Perasaan yang Meledak Diam-Diam

Di kamar kecilnya, Hina duduk di tepi ranjang dengan tas kecil sudah tergeletak di lantai.

Di meja belajarnya:

Buku catatan berserakan,

kertas-kertas latihan ujian tertumpuk rapi,

dan ponsel barunya—hadiah dari seseorang yang kini memenuhi pikirannya.

Layar ponsel menyala, memantulkan cahaya lembut di mata Hina.

Jempolnya bergerak ragu di atas keyboard.

Akhirnya, ia mengetik:

Hina :

"Ravien, semangat untuk ujian besok.

Terima kasih sudah mengajariku selama seminggu ini."

Hina menatap pesan itu beberapa detik, lalu menekan kirim.

Detik berjalan pelan.

Hina menggigit bibirnya, menunggu.

Tidak sampai satu menit…

Notifikasi masuk.

Ravien :

"Ya. Sama-sama."

(Ada jeda. Lalu satu pesan lagi masuk.)

"Jangan begadang"

Pendek. Dingin. Sangat Ravien.

Tapi bagi Hina, itu sudah cukup membuat dadanya hangat.

Hina tersenyum kecil.

Hina (membalas singkat):

"Selamat malam."

Setelah pesan terkirim, Hina meletakkan ponselnya di dada, lalu merebahkan diri di kasur.

Cahaya lampu kamar yang hangat membuat ruangan terasa lebih sempit—atau mungkin, itu hanya karena pikirannya yang penuh.

Hina (dalam hati):

Ravien…

Apa aku…

harus jujur tentang perasaan ini…?

Ia mengingat kembali kata-kata Ravien di hari insiden tabrakan yang membuat dirinya hendak terkena pukulan oleh Hayato:

"Sekali lagi kau menghina Wanita-ku—atau orang di sekitarku—"

Saat itu, Hina terlalu shock dan sedih untuk memikirkan arti kalimat itu.

Sekarang, di keheningan kamar…

Wajahnya memerah hingga telinga.

Hina menutup wajah dengan bantal, mengayunkan kakinya ke atas kasur seperti gadis yang baru saja mendengar pengakuan cinta.

Hina (dalam hati, dengan suara hampir menangis malu):

Wanita ku…

Ponsel…

Dia menghafal tanggal ulang tahunku…

Dia selalu makan masakanku, meski bilang itu cuma 'bayaran'.

Kenapa… kenapa dia begitu baik padaku…?

Namun setelah larut sebentar dalam rasa manis itu, bayangan lain muncul.

Riku dan masa lalu Hina.

Saat SMP, saat sendirian, saat tidak ada yang mau berada di sisinya.

Saat ia menyukai seseorang, tapi hanya bisa memendam, lalu menyaksikan orang itu pergi dan bahagia bersama orang lain.

Hina mengepalkan tangan kecilnya di atas selimut.

Hina (dalam hati):

Apa aku harus menyatakan perasaan lebih dulu…?

Kalau aku diam saja…

Apa aku akan kembali kehilangan—seperti dulu dengan Riku?

Namun ketakutan lain muncul, tak kalah besar.

Hina :

Tapi… kalau aku ditolak…

Kalau Ravien hanya menganggapku teman…

Apa semuanya akan hancur?

Apa aku akan sendirian lagi…?

Ia mengingat lagi seluruh momen:

Ravien memanggilnya wanita ku dengan wajah marah demi dirinya,

Ravien mengangkat Hayato dengan satu tangan, seolah dunia bisa runtuh demi melindungi Hina,

Ravien mengabaikan cemoohan demi menjatuhkan beastkin itu,

Ravien datang ke mal, membiarkannya memilih ponsel, lalu berkata,

"Selamat ulang tahun."

Dan, tentu saja, Ravien yang meminta:

"Teruslah buatkan bekal untukku.

Anggap saja bayaran ponsel itu."

Hina kembali menutup wajah dengan bantal, tubuhnya menggeliat kecil karena malu.

Hina (pelan):

Aku… sudah sangat… mencintainya…

Hampir tak terdengar, bibirnya bergetar.

Hina :

"Ravien…"

Ia menatap langit-langit, lalu menghembuskan napas pelan.

Hina (dalam hati):

Aku tidak mau lagi hanya berada di pinggir cerita orang lain…

Tidak mau hanya menjadi gadis yang tersenyum palsu dan bilang 'tidak apa-apa'.

Saat liburan nanti…

aku akan berjuang.

Aku… akan mencoba mengatakan perasaan ini.

Walau pipinya masih memerah dan jantungnya berdegup kencang, sebuah tekad kecil tertanam di dalam dirinya.

Bukan tekad yang besar seperti menyelamatkan dunia.

Hanya tekad seorang gadis yang ingin berhenti kehilangan hal yang ia sayangi.

Hina memeluk bantalnya erat-erat.

Hina :

"…Untuk sekarang…

fokus dulu ke ujian."

Ia memejamkan mata.

Di ambang tidur, ia membayangkan:

Laut biru musim panas,

teman-temannya tertawa,

dan sosok demon bermata emas itu berdiri tidak jauh darinya—

dan mungkin, jika ia cukup berani saat itu…

Ia akan memanggilnya bukan hanya sebagai teman.

Malam berlalu pelan.

Ujian menunggu di pagi hari.

Dan di suatu sudut kecil di kota itu,

seorang gadis yang dulu selalu sendirian, akhirnya berani menggenggam satu hal baru:

Harapan untuk cintanya sendiri.

More Chapters