Hari-hari setelah festival dan lomba antarsekolah kembali mengalir seperti biasa.
Rei, Airi, Riku, Rika, Hina, dan Ravien menjalani rutinitas sekolah:
belajar, ke kantin, latihan di lapangan, dan—secara pelan tapi pasti—menyaksikan satu perubahan kecil:
Hina dan Ravien… makin sering terlihat berdua.
Di jam pulang sekolah, teman-teman kelas mulai terbiasa melihat:
Hina berjalan di samping demon bermata emas itu,
Ravien membawa tas Hina dengan satu tangan—bahunya tampak malas, tapi langkahnya selalu menyesuaikan ritme Hina.
Di depan gerbang apartemen, Hina berhenti setengah langkah, menatap ujung sepatunya.
Hina: "Terima kasih sudah mengantar…"
Ravien: "Hn. Jangan pulang sambil melamun."
Hina mengangguk kecil. Dan Ravien—tanpa sadar—menunggu sampai Hina benar-benar masuk.
Lalu di kelas, setiap kali Hina memiringkan kepala kecilnya karena tidak mengerti soal tertentu, sebelum Rei atau Airi sempat bergerak—
Ravien :
"Berikan bukunya."
Ia akan menarik buku catatan Hina, menjelaskan pelan-pelan, kadang menghela napas panjang karena Hina butuh penjelasan dua-tiga kali… tapi tetap saja mengulang tanpa benar-benar marah.
Dalam hati Hina, perlahan tumbuh satu kalimat yang belum berani ia ucapkan:
Hina (dalam hati):
Kalau seperti ini terus… aku benar-benar akan jatuh cinta padanya…
—Menjelang Ujian Semester dan Libur Musim Panas
Pengumuman ujian semester awal pun ditempel di papan pengumuman.
Bukan ujian yang membuat suasana sekolah mendadak hidup—
melainkan kalimat di bawah jadwal itu:
"Setelah ujian semester 1 selesai, dimulai LIBUR MUSIM PANAS. "
Koridor langsung ramai.
Ada yang sudah membahas pantai,
ada yang merencanakan pulang ke kampung keluarga,
ada yang sibuk membentuk kelompok belajar.
Rei dan teman-temannya berkumpul di kelas selepas jam pelajaran.
Airi menjentikkan jarinya.
Airi :
"Jadi! Untuk persiapan ujian… kita belajar bareng lagi, kan? Kali ini jangan di kamar Rei. Terlalu sering."
Rei menghela napas, pasrah.
Rei :
"Maaf semuanya, jika kalian bosan dengan suasana kamarku."
Airi menatap ke arah yang lain.
Airi :
"Gimana kalau di kamar Ravien saja?"
Semua langsung menoleh ke demon yang sedang bersandar di kursinya.
Ravien :
"…Tidak."
Jawabannya cepat.
Ravien :
"Sekali saja kalian masuk, kamar jadi medan perang. Tidak akan terulang."
Rika tertawa kecil.
Rika :
"Ya, sih. Kamar Rei dan Ravien terlalu kecil buat berenam, apalagi kalau bawa buku banyak."
Ia kemudian menoleh ke samping, menatap pacarnya.
Rika :
"Kalau begitu… Riku.
Apa boleh kita belajar di rumahmu?"
Riku tersenyum santai.
Riku :
"Tentu boleh.
Rumahku terlalu sepi kalau cuma diisi aku dan ayah."
Mereka semua langsung setuju. Riku mengatur jadwal belajar beberapa hari sebelum ujian dimulai.
Sementara itu, Ravien bersedekap, menutup mata.
Ravien: "Aku tidak ikut. Ujian manusia tidak relevan untukku. "
Airi: "Relevan. Karena kalau nilai Hina turun, yang kena tatapannya kamu. "
Ravien melirik Hina. Hina menatap balik—tidak memaksa, tapi terlalu jujur untuk diabaikan.
Hina: "Kalau… Ravien ikut, aku… lebih tenang… "
Ravien mendecih pelan.
Ravien: "Merepotkan. "
Ada jeda pendek. Lalu akhirnya Ravien menghela napas berat.
Ravien :
"…Baiklah."
Rei menahan senyum.
Rei (dalam hati):
Selamat ya, Hina.
Sepertinya, mulai sekarang… kau tidak akan berjalan sendirian lagi.
Namun di saat senyum itu muncul, sebuah bayangan lain menari di benaknya.
Aelria.
Sudah hampir dua minggu bola kristal di kamar Rei tidak menyala sama sekali.
Tidak ada panggilan. Tidak ada suara lembut elf itu.
Rei (dalam hati):
Aelria… kau baik-baik saja, kan?
Airi memperhatikan ekspresi Rei yang sempat melamun.
Airi menggenggam tangan Rei pelan.
Airi :
"Rei… jangan khawatir. Onee-chan pasti baik-baik saja.
Kalau sesuatu terjadi, dia pasti akan memberi kabar."
Rei menatap tangan Airi, lalu tersenyum lembut.
Rei :
"Iya… kau benar.
Untuk sekarang, aku harus fokus dulu di sini."
—Hari Belajar Bersama di Rumah Riku
Beberapa hari kemudian, hari yang mereka janjikan pun tiba.
Rei, Airi, Hina, dan Ravien berjalan bersama menuju alamat rumah Riku, dipandu oleh Rika yang sudah hafal jalan setelah beberapa kali berkunjung.
Begitu melewati gerbang besar dan melihat bangunan rumahnya…
Airi :
"Uwaaah…"
Hina :
"Be-besar sekali…"
Rumah Riku bak rumah keluarga bangsawan manusia:
pekarangan rapi, taman kecil, dan bangunan utama berlantai dua dengan desain elegan.
Rei (dalam hati):
Ini… jauh dari kehidupan apartemen 202…
Ravien melirik sekilas, menguap kecil.
Ravien :
"Kecil."
Yang lain :
"…"
Rika langsung menatapnya tajam.
Rika :
"Jangan samakan rumah kekasihku dengan rumah bangsawan demonmu di dunia lain!
Untuk ukuran manusia, ini sudah mewah."
Ravien mengangkat bahu, tapi sebelum sempat membalas, Hina mencolek ujung bajunya pelan.
Hina :
"Ravien… jangan terlalu jujur…"
Ravien menatap Hina sebentar, kemudian menghela napas.
Ravien :
"Baiklah."
Mereka tiba di depan pintu utama.
Rika mengetuk pelan.
Tak lama, pintu terbuka.
Riku berdiri di sana dengan senyum ramah.
Riku :
"Selamat datang. Masuk, ayo."
Mereka melangkah masuk satu per satu, mengganti sepatu, lalu menelusuri lorong luas menuju lantai dua.
Di sepanjang jalan:
Hina terpukau melihat dekorasi interiornya,
Airi tak henti melirik kanan-kiri,
Rei memperhatikan tata ruang yang rapi,
Ravien (hanya memberikan satu komentar pendek dalam hati):
Masih kalah dari ruang tamu rumah Ka Lirya…
Mereka tiba di kamar Riku.
Kamar itu cukup besar:
ada ranjang, lemari, rak buku, meja belajar panjang yang cukup untuk beberapa orang, dan karpet empuk di lantai.
Tidak sewangi dan serapih kamar Rei dan Ravien, tapi tetap sangat nyaman.
Rika :
"Silakan duduk."
Posisi mereka pun otomatis terbentuk:
Rei duduk di sebelah Airi,
Riku di sebelah Rika,
Hina duduk dekat ujung meja, dan Ravien mengambil posisi di sisi Hina.
Riku :
"Tunggu sebentar, aku ambil minuman dan camilan dulu."
Rika :
"Aku ikut."
Mereka berdua keluar, menyisakan Rei, Airi, Hina, dan Ravien di kamar.
—Obrolan Kecil Sebelum Belajar
Rei mulai mengeluarkan buku catatan, rangkuman materi, dan beberapa soal latihan.
Hina melakukan hal serupa, walau tumpukan bukunya lebih sedikit dan banyak sticky note warna-warni.
Airi :
"Baik, strategi ujian:
kita fokus di materi yang paling sering keluar di ujian tahun-tahun sebelumnya."
Ravien menyandarkan punggung ke dinding.
Ravien :
"…Kalian tidak bosan?
Sehari-hari sudah belajar di sekolah, sekarang belajar lagi."
Airi melirik.
Airi :
"Kita masih murid. Akademik itu penting, tahu.
Kalau mau dapat libur musim panas yang tenang, ya harus lewat ujian dulu."
Ravien memutar mata… tapi diam.
Ia lalu menatap Rei, untuk pertama kalinya bertanya sesuatu yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Ravien :
"Rambut putihmu dan mata kirimu yang berbeda warna…
itu hasil kebangkitan di usia 17? Hanya itu?"
Rei berhenti menulis sebentar.
Rei :
"Kurang lebih, ya.
Dari hasil tes kebangkitan, yang dianggap 'resmi' hanya perubahan warna rambut dan mata kiri."
Hina mengangguk kecil.
Hina :
"Itu benar.
Rei tidak punya bakat sihir, tapi… refleksnya tidak normal, bahkan dibanding beastkin."
Airi menambahkan.
Airi :
"Dan… sebenarnya Rei punya sesuatu dalam dirinya.
Semacam… kekuatan tersembunyi.
Tapi itu hanya keluar kalau dia atau orang terdekatnya dalam bahaya."
Rei teringat kembali saat-saat menghadapi monster anomali, saat hampir kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
Ravien diam beberapa detik, menatap Rei agak lama.
Ravien (dalam hati):
Energi yang selalu kurasakan… bukan ilusi.
Kekuatan itu bukan level manusia biasa.
Bahkan… mungkin lebih menakutkan dari Ka Lirya…
Namun ia menepis pikirannya sendiri. Rei di depannya hanyalah manusia yang terlihat kelelahan, memegang pena dan buku catatan.
Ravien :
"Kalau begitu, sisanya hanya soal bagaimana kau memanfaatkan apa yang kau punya."
Saat itu, pintu kamar terbuka.
Riku masuk sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan. Rika di belakangnya membawa piring kecil berisi kue.
Riku :
"Maaf menunggu. Ini minuman dan camilannya."
Airi :
"Terima kasih~"
Mereka mengatur piring dan gelas, lalu suasana mendadak terasa seperti ruang belajar privat yang hangat.
Airi menoleh ke Riku sambil menyeruput minumannya.
Airi :
"Ngomong-ngomong, Riku… di rumah cuma kamu saja?
Kelihatannya sepi."
Riku menaruh gelas, tersenyum tipis.
Riku :
"Ayah sedang bekerja.
Ibu dan adikku… sudah kembali ke luar negeri tiga hari lalu."
Rika menatap Riku lembut. Riku hanya tersenyum, sudah terbiasa.
—Sesi Belajar dan Rencana Latihan
Pelajaran pun dimulai.
Rei menjelaskan beberapa trik cepat di soal akademik,
Airi menambahkan catatan warna-warni,
Riku membantu menjelaskan bagian yang rumit,
Rika serius memperhatikan walau sesekali melirik pacarnya dengan mata berbinar,
dan Hina…
berkali-kali memiringkan kepala.
Hina :
"…Eeh, jadi kalau rumusnya dipakai di contoh ini… jawabannya bukan yang C…?"
Ravien, yang (lagi-lagi) sebenarnya tidak ingin terlibat, akhirnya menarik buku di hadapan Hina.
Ravien :
"Begini.
Kau salah di langkah ke-tiga. Lihat…"
Ia menjelaskan pelan, menuliskan ulang langkah-langkahnya, sampai Hina mengangguk pelan.
Setiap kali Hina mengangguk pelan dan berkata "Aku mengerti,"
Ravien menghela napas—tapi tidak berhenti.
Ravien (dalam hati):
Serius sekali.
Padahal ini soal sepele.
Kenapa aku bisa tertarik pada gadis selemah ini…?
Namun, tangannya tetap bergerak, menuliskan penjelasan, mengulang jika diminta.
Dua jam belajar pun berlalu dengan intens.
Saat jam dinding menunjukkan sore, mereka semua mulai merebahkan tubuh masing-masing.
Airi menjatuhkan badan di atas karpet.
Rei menyandarkan kepala ke dinding, mengendurkan otot leher.
Rika meregangkan tangan sambil menghela napas.
Riku duduk di lantai sambil memainkan gelas kosong.
Ravien… menjatuhkan kepala ke meja.
Ravien :
"Aku lebih memilih melawan sepuluh monster daripada belajar seperti ini."
Yang lain :
"…"
Mereka tertawa bersama.
Tak lama kemudian, Riku bangkit.
Riku :
"Aku dan Rika mau ke halaman belakang sebentar. Anginnya enak sore-sore begini."
Rika :
"Kalau kalian butuh air atau camilan, panggil saja, ya."
Mereka berdua pergi meninggalkan kamar.
Tinggallah Rei, Airi, Hina, dan Ravien.
—Tawaran Latihan dari Demon
Suasana kamar menjadi lebih tenang.
Rei kembali menulis sesuatu di catatannya—bukan soal ujian, melainkan sketsa jadwal sendiri.
Ravien melirik, lalu bertanya tiba-tiba.
Ravien :
"Untuk apa kau belajar sekeras ini, Rei?
Kau sendiri tahu kan—dibanding ras lain, kekuatanmu…"
Rei berhenti, tapi tidak menoleh.
Rei :
"Aku tidak punya sihir, tidak punya kemampuan khusus.
Yang bisa kuandalkan cuma refleks… dan otak.
Kalau aku tidak belajar, aku tidak punya apa-apa."
Ravien bersedekap.
Ravien :
"Kalau begitu… bagaimana kalau aku melatihmu dalam teknik pertarungan?"
Hina dan Airi serentak menoleh.
Hina :
"Eh…?"
Rei mengangkat kepala, kaget.
Rei :
"Aku… dilatih olehmu?"
Ravien menatap lurus.
Ravien :
"Kenapa? Kau kira aku tidak bisa?"
Rei tidak langsung menjawab. Kata-kata Ravien sebelumnya di kelas terngiang di kepala.
Ravien (mengulang di benak Rei):
Apa kau akan terus seperti ini, tanpa kemajuan, dan hanya mengandalkan perlindungan orang lain?
Hening sejenak.
Airi hendak membuka suara.
Airi :
"Rei—"
Rei mengangkat tangan pelan, memberi tanda agar Airi menunggu.
Rei menarik napas dalam, lalu menghembuskannya.
Rei :
"Aku mengerti maksudmu, Ravien.
Aku… juga tidak ingin selamanya lari dan bergantung pada orang lain."
Bayangan masa lalu—Mina, Hayato, rumor, dan hari ia ingin mengakhiri hidup—melintas kilat, lalu disusul oleh ingatan lain:
Aelria yang menggenggam tangannya,
Airi yang menangis di sisinya,
teman-teman yang kini tertawa bersama.
Rei :
"Aku tidak ingin lagi ada kejadian seperti serangan monster anomali…
dan aku hanya berdiri, tidak bisa melakukan apa-apa.
Kalau dengan dilatih olehmu aku bisa berubah…
Maka—tolong latih aku."
Ravien mengangguk singkat, seolah jawaban itu sudah sesuai yang ia harapkan.
Ravien :
"Kita akan mulai saat libur musim panas dimulai.
Jangan berharap aku akan lembut.
Kakak pertamaku—Ka Lirya—tidak pernah lembut saat melatihku."
Hina menarik ujung baju Ravien pelan.
Hina :
"Jangan… terlalu keras, Ravien…"
Ravien menoleh sedikit.
Ravien :
"Ini demi kebaikannya.
Aku tidak bisa melindungi satu orang tambahan jika sesuatu yang buruk terjadi.
Setiap orang harus menguatkan dirinya sendiri."
Hina menunduk, tapi ada senyum kecil di bibirnya.
Hina :
"…Terima kasih.
Sudah mau melatih Rei."
Airi menatap Rei, separuh khawatir, separuh bangga.
Airi (dalam hati):
Kalau ini jalanmu untuk berhenti menyalahkan diri sendiri…
Aku akan mengawasi dari dekat.
Setelah satu jam beristirahat, bercanda ringan, dan membahas sedikit rencana liburan musim panas, Riku dan Rika kembali ke kamar.
Riku :
"Hei, sudah siap berhenti? Mau kupanggilkan mobil atau kalian pulang jalan kaki?"
Rei mulai memasukkan buku ke dalam tas.
Rei :
"Kami pulang saja jalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh."
Airi mengemasi catatan penuh warna-warni.
Hina merapikan kotak bekal yang ia bawa,
Ravien berdiri terakhir, memutar bahu seperti baru selesai latihan ringan.
Mereka berpamitan di depan rumah Riku.
Airi pulang ditemani Rei,
Hina pulang ditemani Ravien,
sementara Riku menunggu sebentar di depan rumah untuk kemudian mengantar Rika setelah yang lain pergi.
Di bawah langit petang yang mulai oranye,
mereka berpisah satu per satu—
Tanpa sadar, bukan hanya ujian semester yang sedang mereka hadapi,
tapi juga musim baru dalam hidup mereka:
Musim di mana cinta, keberanian, dan kekuatan… akan naik ke tahap berikutnya.
