Suasana kelas menjelang lomba masih ramai. Beberapa murid berdiskusi soal strategi, ada yang membahas formasi tim, ada juga yang sekadar heboh soal hadiah liburan ke pantai.
Di bangkunya, Hina duduk dengan punggung sedikit membungkuk, pena menari di atas buku catatan. Ia sedang mengulang materi teori sihir pendukung—walau dirinya spesialis healing, ia tidak mau menjadi beban.
Hina (dalam hati): Kalau aku nggak bisa ikut bertarung di garis depan… setidaknya aku nggak boleh salah di bagian yang bisa kubantu.
Suara pintu geser terbuka terdengar.
Beberapa murid menoleh sekilas, lalu kembali sibuk karena mereka sudah tau siapa yang datang.
Ravien masuk dengan langkah malas khasnya—bahu sedikit turun, ekspresi ogah-ogahan seperti biasa. Tapi tetap saja, aura ras demon yang kuat membuat beberapa murid secara refleks menjauhkan pandang.
Hina sempat melirik sebentar.
Hina (dalam hati): Dia datang juga… Kupikir dia bakal sengaja telat lagi seperti biasa.
Ravien menyapu kelas dengan pandangan singkat, lalu matanya berhenti di satu titik: Hina, yang serius menulis tetapi dari tadi sebenarnya menyadari kedatangannya.
Tanpa banyak basa-basi, Ravien melangkah ke arahnya.
Hina yang merasakan bayangan mendekat di meja sampingnya mendongak pelan.
Ravien : "Hei."
Hina refleks tegak di kursinya.
Hina : "Y-ya?"
Ravien menatap sekeliling kelas dengan ekspresi sebal.
Ravien : "Di sini berisik sekali.
Ada tempat yang lebih sepi?"
Hina tersentak—padahal Ravien hanya bicara soal 'tempat sepi'.
Sekilas, otaknya melantur ke arah yang… sangat tidak perlu.
Hina (dalam hati, panik): Tempat sepi… berdua… Eh?! Hina, jangan mikir aneh-aneh!
Pipinya memanas sedikit, dan ia buru-buru menggelengkan kepala.
Hina : "T-tempat sepi… u-untuk apa?"
Ravien mengerucutkan bibir, seolah pertanyaannya sangat bodoh.
Ravien : "Untuk tidur, tentu saja.
Aku tidak bisa tidur dengan tenang kalau suasananya seramai ini."
Hening sepersekian detik.
Hina merasa malu sendiri karena pikiran ngawurnya barusan.
Hina (dalam hati): Tentu saja untuk tidur… apa lagi… Dasar, Hina.
Ia berdeham pelan, berusaha menenangkan diri.
Hina : "Kalau begitu… perpustakaan di gedung sebelah.
Di sana dilarang berisik. Biasanya juga nggak terlalu ramai."
Ravien mengangguk tipis—dan tanpa basa-basi lagi, ia menjatuhkan kalimat tambahan:
Ravien : "Kalau begitu, temani aku."
Hina : "Eh?"
Ravien menatapnya datar.
Ravien : "Kalau aku tersesat, akan menyusahkan.
Dan…"
Ia mengalihkan pandangan sesaat, seolah enggan mengakui sesuatu.
Ravien : "… entah kenapa, tidur dengan orang yang kukenal di sekitar terasa… lebih tenang."
Kata-kata itu membuat detak jantung Hina tersendat sesaat.
Hina (dalam hati): Tunggu… itu… maksudnya apa…?
Ia menunduk, menghindari tatapan Ravien.
Hina : "A-aku… b-baik. Aku… ikut."
Ravien : "Bagus. Ayo."
Dengan langkah pelan, Hina bangkit dari kursinya, memeluk buku catatan di dadanya, lalu berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Ia bisa merasakan tatapan beberapa teman sekelas mereka—bukan dalam arti negatif, lebih ke heran: "Hina dan Ravien? Berdua?"
Menuju Perpustakaan
Koridor antar-gedung cukup lengang. Dari jendela, cahaya matahari lembut masuk, memantul di lantai.
Ravien berjalan setengah langkah di belakang Hina, kedua tangan disorongkan ke dalam saku.
Sesekali Hina melirik dari ujung mata.
Hina (dalam hati):
Kalau dilihat begini… dia benar-benar seperti orang sombong yang malas.
Tapi… waktu dia menolongku dari preman itu… dan waktu dia dengar ceritaku di taman…
Wajahnya memerah tipis mengingat momen saat Ravien menembus kerumunan preman dan berkata dengan dingin untuk melepaskannya.
Ravien melirik ke samping, menyadari Hina yang tiba-tiba menunduk.
Ravien : "Kenapa menunduk begitu?
Jangan bilang kau mengantuk."
Hina hampir tersedak ludah sendiri.
Hina : "T-tidak! Aku cuma… memikirkan sesuatu."
Ravien : "Kalau itu soal lomba, berhenti terlalu khawatir.
Kalau kau panik duluan, kau sudah kalah sebelum mulai."
Hina : "Aku tidak sekuat kalian…"
Ravien menghela napas pelan.
Ravien : "Jangan paksa dirimu senyum kalau sebenarnya capek."
Hina terdiam.
Kalimat itu menusuk, tapi hangat—karena mengingatkannya akan percakapan mereka di taman beberapa waktu lalu.
Perpustakaan – Sunyi, Cahaya, dan Napas yang Tenang
Mereka tiba di depan perpustakaan gedung sebelah.
Hina mendorong pintu dengan pelan, mengintip sebentar. Di dalam, hanya ada beberapa murid yang sibuk membaca atau menulis, semua dalam keheningan.
Hina : "Di sini…"
Ravien melangkah masuk tanpa ragu. Seperti biasa, kehadirannya menarik beberapa pandang sekilas, tapi tak ada yang berani ribut di ruangan ini.
Mereka berjalan ke pojok dekat jendela besar, tempat sofa panjang dan meja kecil kosong menunggu.
Ravien : "Ini cukup."
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi di dekat jendela, bersandar santai. Cahaya matahari lembut menyorot dari samping, memantulkan warna emas samar di matanya sebelum perlahan ia pejamkan.
Hina duduk di seberang, meletakkan buku catatan di atas meja.
Hina : "A-aku akan belajar di sini, ya.
Jadi… tidurlah kalau mau."
Ravien : "Memang niatku begitu."
Ia memiringkan wajah, menyandarkan kepala di lengannya yang terlipat, punggung sedikit condong ke arah jendela. Dalam beberapa detik, napasnya mulai teratur.
Hina menatapnya sejenak.
Sunyi perpustakaan, bercampur cahaya hangat dari luar, membuat pemandangan di hadapannya terasa… sangat tenang.
Hina (dalam hati):
Kalau dia begini… sama sekali nggak kelihatan seperti demon sombong.
Lebih mirip… anak kecil yang kelelahan.
Tanpa sadar, sudut bibirnya mengangkat sedikit.
Hina (dalam hati):
Walau dia demon… wajahnya saat tidur seperti bayi…
Pipi Hina kembali memanas menyadari pikirannya sendiri. Ia buru-buru menunduk, membuka buku catatannya agar fokus.
Namun sebelum benar-benar fokus, ponselnya bergetar pelan.
📱 [Airi]:
"Hinaaa, kamu di mana? Kita lagi ngumpul di area lomba~"
Hina melirik Ravien sekilas—masih terlelap, napas stabil, sama sekali tidak terganggu.
Hina mengetik pelan.
📱 [Hina]:
"Aku di perpustakaan gedung sebelah.
Sama Ravien."
Tak lama, balasan masuk lagi.
📱 [Airi]:
"Eh?! Ngapain berdua di sana? ( ͡° ͜ʖ ͡°)"
Hina refleks menggenggam ponselnya lebih erat, wajahnya makin merah.
Hina (dalam hati): Airi… jangan pakai emotikon aneh-aneh…!
Ia cepat-cepat membalas.
📱 [Hina]:
"Bukan begitu!! Dia cuma cari tempat sepi buat tidur.
Aku cuma diminta nemenin. Nanti kami nyusul."
Setelah pesan terkirim, Hina menghela napas pelan dan memutuskan mematikan nada notifikasi ponselnya.
Hina (dalam hati):
Kalau sampai bunyi dan membangunkan dia…
dia bisa marah, dan itu ngeri…
Ia kembali menatap Ravien.
Kali ini lebih lama.
Cahaya matahari membuat garis rahang dan hidung Ravien terlihat jelas, tapi lembut. Alisnya yang biasanya tertarik dingin kini rileks, bibirnya sedikit terbuka, napasnya pelan.
Hina (dalam hati):
Orang yang sama yang marah-marah soal 'jangan tutupi luka dengan senyuman palsu'…
sekarang tidur tanpa beban seperti ini…
Ada rasa hangat yang menekan pelan di dadanya—bukan sakit seperti saat melihat Riku dan Rika bersama, tapi lebih seperti… sesuatu yang baru, yang belum ia pahami.
Hina menggeleng kecil, mencoba mengusir pikiran itu.
Hina (pelan, pada diri sendiri):
Fokus… belajar dulu, Hina.
Ia menunduk, membuka halaman yang tadi belum dipahami.
Tulisan Ravien di pojok buku latihan miliknya—koreksi jawaban dari soal sebelumnya—masih terlihat jelas.
Sesekali matanya melirik ke arah demon yang tertidur di seberangnya…
lalu kembali ke baris-baris catatan.
Di sudut sunyi perpustakaan itu, satu gadis manusia mengulang materi lomba demi tidak menjadi beban…
sementara satu demon, yang dulu menganggap ras lain selalu lemah, tertidur paling nyenyak justru ketika ada manusia itu di dekatnya.
