Cherreads

Chapter 79 - Bab – Menjelang Pertandingan, Luka Lama yang Mulai Bergetar 

Di depan papan besar yang penuh nama sekolah dan jadwal pertandingan, Rei berdiri diam.

Tulisan itu terpampang jelas:

SMA Seirei Gakuen vs SMA Shirokaze

Matanya menelusuri huruf demi huruf, dan dada kirinya terasa mengencang.

Nama itu—Shirokaze—bukan sekadar sekolah.

Itu adalah tempat di mana dunia lamanya runtuh.

Rei (dalam hati): Jadi… benar. Sampai juga di titik ini.

Ia menarik napas pelan, berusaha menata gelombang emosi yang mulai mengguncang.

Rei (dalam hati):

Tenang. Sekarang bukan lagi aku yang sama seperti dulu.

Di sini… aku punya tempat untuk kembali. Aku punya orang-orang yang menungguku.

Saat ia masih fokus pada papan, tiba-tiba kedua matanya tertutup oleh dua telapak tangan yang hangat dari belakang.

???: "Tebak, siapa?"

Tanpa ragu, tanpa pikir panjang, sudut bibir Rei terangkat tipis.

Rei: "Pasti Aelria."

Suasana hening sepersekian detik.

Lalu ia merasakan tubuh di belakangnya menegang.

Airi: "…Hmph."

Telapak tangan itu perlahan lepas dari matanya.

Rei berbalik—dan mendapati Airi berdiri di sana dengan pipi mengembung cemberut, tangan terlipat di depan dada.

Airi: "Onee-chan itu lagi di dunia lain, tahu?

Kalau di sini, yang nutup mata kamu itu sudah pasti aku."

Rei menahan tawa yang nyaris keluar, matanya sedikit menyipit dengan ekspresi puas.

Rei: "Ah, iya ya. Jadi yang barusan adalah Airi, ya?"

Airi: "Jelas!"

Meski mulutnya protes, sorot mata Airi sama sekali tidak marah—lebih seperti anak kecil yang iri karena nama orang lain disebut lebih dulu.

Rei menatapnya sebentar, lalu kembali melirik papan pertandingan.

Airi: "Gimana? Sudah lihat jadwal pastinya?"

Rei: "Sudah. Lawan pertama… berat. Bukan cuma soal kekuatan. Tapi…"

Ia tidak melanjutkan.

Kata-kata lain tertahan di tenggorokan, bercampur dengan bayangan masa lalu—tiket bioskop yang tak pernah terpakai, kata-kata kejam di koridor, percobaan bunuh diri yang menempel di namanya.

Airi memiringkan kepala, menatap wajah Rei dari samping.

Ia tidak tahu persis apa yang Rei pikirkan, tapi ia tahu satu hal: tatapan itu bukan tatapan orang yang hanya gugup soal lomba.

Tanpa peringatan, Airi melangkah maju dan memeluk Rei dari depan.

Kepalanya menempel di dada Rei, kedua tangannya melingkar di pinggangnya.

Rei sempat tertegun.

Rei: "A… Airi?"

Airi mengeratkan pelukan, suaranya pelan tapi jelas.

Airi: "Rei… semangat, ya."

Airi: "Aku nggak tahu kamu lagi mikirin apa. Kamu nggak cerita, dan aku nggak mau maksa.

Tapi… jangan berjuang sendirian."

Rei terdiam.

Suara detak jantungnya sendiri terdengar jelas di telinganya.

Airi: "Ada aku di sini. Dan ada Onee-chan di dunia sana, yang pasti lagi ngomel-ngomel kalau tahu kamu kelihatan murung.

Kalau berat… bagi dikit. Jangan kamu pikul semua sendirian lagi."

Rei menunduk sedikit, menatap rambut Airi yang menyentuh seragamnya.

Ada sesuatu yang hangat dan menenangkan di situ, seperti jangkar yang menahan pikirannya agar tidak tenggelam terlalu jauh.

Rei (dalam hati):

Aelria di sana… Airi di sini… Kalau aku hancur lagi, kedua orang itu yang paling dulu terluka, ya…

Pelan, Rei mengangkat tangannya dan mengelus kepala Airi dengan lembut.

Rei: "…Terima kasih, Airi."

Airi tidak menjawab langsung, tapi pelukannya justru mengencang sebentar.

Rei: "Karena kamu… dan Aelria… aku ingat satu hal penting."

Airi: "Apa?"

Rei tersenyum tipis.

Rei: "Aku nggak boleh hancur untuk yang kedua kalinya."

Airi menggigit bibir, menahan emosi yang tiba-tiba menghangat di dadanya.

Airi (dalam hati): 

Iya. Jangan hancur lagi, Rei. Kalau kamu jatuh… kali ini, aku yang akan tarik kamu lagi.

Perlahan, Airi melepas pelukan itu, meski pipinya masih sedikit merah.

Tak lama, dua sosok lain mendekat dari arah samping lapangan.

Riku: "Yo, kalian berdua asyik sendiri."

Rika: "Benar-benar kelihatan seperti sudah resmi banget, ya…"

Rika menutup mulutnya, terkekeh pelan.

Di sampingnya, tangan mereka masih saling menggenggam.

Rei melirik mereka.

Rei: "Habis dari mana kalian berdua?"

Riku mengangkat dagu dengan gaya sok percaya diri.

Riku: "Tentu saja dari menjalankan tugas penting sebagai pacar yang baik."

Rika: "…Tugas penting?"

Riku mengelus lembut kepala Rika.

Riku: "Memanjakan wanita tercantikku sebelum lomba dimulai."

Rika refleks memerah, lalu menjewer kuping Riku.

Rika: "Jangan ngomong seenaknya di depan orang lain!"

Riku: "I-itu kan fakta… a-aduuuh, pelan-pelan, Rika…"

Airi tak tahan lagi dan tertawa kecil. Rei ikut tersenyum, suasana tegang di dadanya sedikit mencair.

Namun tawa itu meredup pelan ketika Airi tiba-tiba teringat sesuatu.

Airi: "Ngomong-ngomong… Hina mana ya? Dari tadi aku nggak lihat dia."

Riku dan Rika saling berpandangan.

Riku: "Benar juga. Pagi tadi dia sudah bareng kita."

Rika: "Apa dia sakit?"

Airi buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan.

Airi: "Aku chat dulu, ya."

Beberapa menit hening.

Lalu ponselnya bergetar, balasan masuk.

Airi membaca cepat, lalu mengangkat wajah.

Airi: "Hina bilang dia lagi di perpustakaan. Sama Ravien."

Riku mengangkat alis.

Riku: "Perpustakaan? Di hari lomba?"

Rika: "Ravien… mencari tempat sepi buat tidur lagi pasti."

Airi terkekeh.

Airi: "Katanya gitu. Ravien lagi cari tempat tenang buat istirahat, dan Hina ikut menemani. Katanya mereka bakal nyusul pas lomba mulai."

Rei mengangguk pelan.

Rei: "Kalau begitu, nggak apa-apa. Selama mereka bareng, aku nggak khawatir."

Airi menatap layar ponselnya lagi, senyum tipis muncul.

Airi (dalam hati): 

Hina… semoga kamu juga pelan-pelan menemu orang yang benar-benar melihat kamu.

Rei kembali menatap papan pertandingan untuk terakhir kali.

Nama SMA Shirokaze menatap balik dari kejauhan—seperti bayangan masa lalu yang menolak pudar.

Tapi kali ini, di sisi kanan dan kirinya, ada Airi, Riku, dan Rika.

Di tempat lain, ada Hina dan Ravien.

Di dunia lain, ada Aelria yang menunggu kabar.

Rei (dalam hati):

Baiklah. Kalau aku harus berhadapan dengan masa laluku…

aku akan melakukannya sebagai diriku yang sekarang.

Dan perlahan, langkah mereka bergerak menuju area persiapan lomba—

sementara, di sisi lain sekolah, sepasang gadis dan demon tertidur di perpustakaan,

dan di antara kerumunan stand makanan, seorang gadis dari Shirokaze memakan bento hangat sambil mencoba menata kembali hatinya yang retak.

More Chapters