Cherreads

Chapter 81 - Bab: Hina & Ravien – “Wanita Ku”

Suara pengumuman menggema lembut lewat speaker di sudut perpustakaan.

Pengumuman :

"Kepada seluruh peserta lomba antar sekolah, dimohon bersiap. Acara akan dimulai dalam waktu sepuluh menit."

Hina menghentikan gerakan penanya.

Ia menutup buku catatan, merapikan kertas-kertasnya, dan menoleh ke arah Ravien yang masih tertidur lelap di bawah cahaya matahari.

Hina : "R-Ravien… sudah mau mulai."

Ia berdiri pelan, melangkah mendekat, lalu mencondongkan tubuh.

Hina : "Ravien… bangun. Lomba sebentar lagi mulai…"

Ravien menggerakkan alis, menggumam pendek, lalu membuka satu mata.

Ravien : "Hn… sudah waktunya?"

Hina mengangguk.

Hina : "Iya. Kita harus ke venue lomba."

Ravien menghela napas seolah dunia telah terlalu merepotkannya, tapi ia bangkit juga dari kursi, meregangkan badan sebentar.

Ravien : "Baiklah. Tunjukkan jalannya."

Mereka keluar dari perpustakaan dan berjalan di koridor gedung menuju area utama lomba. Hina berjalan sedikit di depan, Ravien mengikuti dengan tangan di saku seperti biasa.

Di tengah perjalanan, ponsel Hina bergetar.

Ia refleks melihat layar.

📱 [Airi] :

"Hinaaa, cepat ke area lomba! Kita sudah siap di sini~"

Hina sambil tetap berjalan, mengetik cepat.

📱 [Hina] :

"Iya, aku segera datang. Bareng Ravien."

Karena fokus pada layar, langkahnya sedikit kehilangan perhatian pada depan.

Dan —

Bruk!

Hina menabrak seseorang cukup keras hingga ia terdorong jatuh pantat lebih dulu ke lantai. Ponselnya terlepas dari tangan, meluncur di lantai dan berhenti tak jauh dari sepatu orang yang ditabraknya.

Hina : "A-aku… maaf! Maaf, aku—"

Suara laki-laki terdengar ketus, tajam.

Hayato : "Lihat ke depan kalau jalan. Jangan seperti anak kecil yang baru dapat ponsel."

Hina menunduk dalam-dalam, kedua tangannya gemetar sedikit.

Hina : "Ma-maaf… aku salah…"

Pria itu—Hayato—memandang ke bawah dengan tatapan jengkel. Ekor dan telinga beastman samar di tubuhnya menegas, aura fisiknya dominan.

Ia melirik ponsel Hina yang terjatuh di dekat kakinya.

Sekilas rautnya berubah—bukan simpati, tapi rasa kesal yang butuh pelampiasan.

Tanpa peringatan, ia mengangkat kaki dan menginjak ponsel itu.

Krak.

Suara kaca retak dan bodi ponsel remuk terdengar jelas.

Hayato menatap layar retak itu sejenak… lalu senyum miring muncul di sudut bibirnya.

Hina terpaku.

Napasnya tercekat.

Hina : "Ti… tunggu…!"

Ia merangkak pelan, meraih ponselnya yang kini layar depannya pecah parah, beberapa bagian casing terlepas.

Hina (dalam hati):

Ini… ponsel satu-satunya… yang kubeli dari kerja sambilan…

Tangannya bergetar saat mengangkat ponsel itu. Display hitam, retak menyilang.

Hayato mengklik lidahnya dengan kesal.

Hayato : "Sudah membuatku tidak enak hati sebelum lomba… sekarang menghalangi jalan… Dasar manusia ceroboh."

Hina menunduk lebih dalam, memeluk ponsel rusak itu ke dadanya seperti sesuatu yang berharga.

Hina : "Maaf… aku benar-benar meminta maaf…"

Tapi nada menyesalnya sama sekali tak melunakkan kemarahan Hayato. Ia mengangkat tangan, jelas-jelas hendak menjatuhkan pukulan—bukan serangan mematikan, tapi mungkin cukup keras untuk melampiaskan amarah.

Hina memejamkan mata, tubuhnya menegang.

Namun—

Tangan itu terhenti di udara.

Sebuah cengkeraman kokoh mencengkal pergelangan Hayato dari samping.

Ravien berdiri di sebelahnya, mata emasnya menatap dingin, aura demon menekan udara di sekitarnya.

Ravien : "Apa yang kau lakukan?"

Suara Ravien rendah, tapi sarat ancaman.

Hayato buru-buru menarik tangannya, merasa kekuatannya tertahan begitu saja. Ia menatap balik dengan kesal, mendapati yang menahannya adalah pemuda ras demon dengan postur tegap, mata emas, dan ekspresi sombong.

Hayato : "Dan kau siapa? Ras demon yang menganggap semua manusia lemah, sekarang membela manusia? Ironis sekali."

Ia melirik Hina yang masih berlutut memeluk ponselnya.

Hayato : "Apa karena dia pacarmu?

"Ras demon jatuh cinta pada manusia lemah… sungguh memalukan."

"Hahahaha..."

Darah Ravien seolah mendidih. Rahangnya mengeras, pandangannya menajam.

Ravien : "Mulutmu terlalu berisik untuk seekor anjing lemah."

Tanpa banyak kata lagi, Ravien melepaskan cengkeraman di pergelangan Hayato, hanya untuk mengalihkannya ke leher. Dalam satu gerakan cepat, ia mencekik kerah dan leher Hayato dengan satu tangan, lalu mengangkatnya dari tanah.

Kaki Hayato terayun di udara.

Hina membelalakkan mata.

Hina : "R-Ravien—!"

Hayato menggertakkan gigi, berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman demon itu seperti besi.

Ravien : "Kau menghancurkan ponsel satu-satunya miliknya.

Kau hendak memukulnya.

Dan kau berani menyebutnya lemah."

Ia mendekat, mata emasnya menatap langsung ke mata Hayato dari jarak sangat dekat.

Ravien : "Sekali lagi kau menghina Wanita-ku—atau orang di sekitarku—"

Ia mendekat untuk berbisik di telinga Hayato, suara rendah seperti bisikan maut.

Ravien : "—kau tidak akan sempat menyesal."

Kata-kata itu menggema di lorong.

"Wanita-ku."

Hina terdiam, jantungnya berdebar kacau.

Hina (dalam hati):

Wa… wanita… ku…? Apa itu untukku…?

Pipinya panas, matanya berkaca-kaca tipis—bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang selama ini ia anggap mustahil kini terucap begitu saja.

Hayato masih mencoba membalas dengan kata-kata, meski napasnya berat.

Hayato : "Jadi benar… manusia lemah pasangan yang tepat untuk demon lemah…"

Kalimat itu bahkan belum selesai di telinga Ravien.

Dengan gerakan kasar, Ravien melepaskan cekikannya hanya untuk memutar badan dan melempar Hayato ke arah dinding terdekat.

Bugh!

Hayato menghantam dinding dengan keras, rasa sakit menjalar di punggung dan tenggorokannya. Ia terbatuk, air liur bercampur sedikit darah di mulut.

Hayato : "Kau…!"

Ia hendak menerjang kembali, namun—

Suara berat menggema dari ujung lorong.

Guru : "Kalian berdua! Hentikan sekarang juga!"

Seorang guru dari panitia lomba bergegas mendekat, wajahnya tegang.

Guru : "Ini area lomba! Kalau kalian terus berkelahi, kalian berdua akan didiskualifikasi dan sekolah kalian akan dikenai sanksi!"

Ravien berhenti.

Ia masih menatap tajam ke arah Hayato, tapi menahan diri. Dengan napas berat yang tertahan di dada, ia memalingkan wajah.

Ravien : "…Tch,kau beruntung anjing kecil."

Ia berbalik, mengabaikan Hayato yang masih terduduk di lantai, memegang leher dan punggungnya yang sakit.

Ravien melangkah ke arah Hina, lalu berhenti tepat di depannya. Ia menunduk sedikit, mengulurkan tangan.

Ravien : "Ayo berdiri. Kita akan terlambat."

Hina menatap tangan itu, lalu menatap wajah Ravien.

Di balik sikap sombong dan aura demon yang berat, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat—dan kacau.

Pelan-pelan, ia meletakkan tangannya di tangan Ravien, membiarkan dirinya ditarik berdiri.

Hina : "Te… terima kasih…"

Ravien melirik ponsel retak di tangan Hina dan menghela napas.

Ravien : "Nanti… kita bicarakan soal itu.

Untuk sekarang, fokuslah pada lomba."

Sebelum berbalik, ia menoleh sekali lagi ke arah Hayato yang masih duduk bersandar di dinding.

Ravien : "Ini peringatan terakhir, anjing lemah.

Sentuh lagi wanita ku atau orang terdekatku—"

Tatapannya menajam.

Ravien : "—dan apa yang kau rasakan barusan hanya akan jadi pemanasan."

Setelah itu ia berbalik, menarik Hina menjauh bersama dirinya, meninggalkan Hayato yang hanya bisa menggenggam leher dan punggungnya, menahan sakit dan amarah namun tak mampu berkata apa-apa.

Hayato (dalam hati, sembari masih memegang lehernya yang memar):

Sial… kekuatan apa itu…? Dia mengangkatku dengan satu tangan… dan melemparku seperti aku cuma anak kecil…

Hayato mengepal tangan. Tapi untuk pertama kalinya, amarahnya kalah cepat dari rasa dingin yang merayap di tulang belakang.

Dia baru sadar—barusan dia menantang sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.

More Chapters