Keramaian festival sudah mulai memuncak.
Aroma makanan dari berbagai stand bercampur di udara—yakiniku panggang, takoyaki, sup hangat, hingga minuman manis berwarna-warni.
Di tengah hiruk pikuk itu, Mina berjalan pelan sambil memegang map dan kartu peserta.
Perutnya keroncongan, tapi pikirannya masih penuh dengan jadwal lomba dan tekanan dari sekolah.
Mina (dalam hati): Setidaknya… makan dulu. Kalau tidak, aku bahkan tidak akan sanggup berkonsentrasi.
Masalahnya hanya satu:
Ia sama sekali tidak tahu harus makan di mana.
Di kiri ada stand kari.
Di kanan ada stand ramen pedas.
Depan ada makanan ringan ala dunia lain yang belum pernah ia coba.
Ia berdiri di tengah-tengah jalur, menatap semua papan menu dengan bingung.
Mina (dalam hati):
Kalau di sekolah… pasti ada yang pura-pura menawarkan tempat makan, lalu membicarakanku di belakang.
Di sini… tidak ada yang mengenalku. Tapi… justru karena itu, aku tidak tahu harus bertanya pada siapa.
Saat ia masih berdiri bimbang, sebuah suara lembut menyapanya dari samping.
Rika : "Um… maaf. Kamu kelihatan bingung. Apa kamu butuh bantuan?"
Mina hampir tersentak.
Di hadapannya berdiri seorang gadis beastkin dengan telinga hewan yang manis, rambut terikat rapi, dan aura lembut—Rika.
Di sampingnya, seorang pemuda manusia dengan penguatan tubuh yang terasa kuat, tapi wajahnya penuh senyum hangat—Riku.
Keduanya bergandengan tangan begitu alami, seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah berlangsung sangat lama.
Mina : "A-ah… maaf. Aku mengganggu jalannya, ya?"
Riku menggeleng kecil.
Riku : "Tidak sama sekali. Tadi kami lihat kamu mondar-mandir di sini dari tadi. Kukira kamu tersesat atau bingung mau ke stand mana."
Rika mengangguk pelan.
Rika : "Apa kamu… peserta lomba juga?"
Mina menatap kartu di dadanya refleks, lalu mengangguk.
Mina : "Iya. Dari SMA Shirokaze. Aku… sedang cari makan sebelum lomba, tapi… terlalu banyak pilihan. Dan… aku tidak tahu mana yang enak."
Ia tersenyum canggung, sedikit malu mengakui kelemahannya pada dua orang asing.
Riku tertawa kecil.
Riku : "Wah, kalau soal makanan enak…"
Riku melirik ke pacarnya.
Riku : "Pacarku yang paling ahli. Tapi, kalau ditanya favoritku, aku akan selalu tunjuk tempat yang tadi baru saja kami kunjungi."
Rika memonyongkan bibir sebentar.
Rika : "Hei, seakan-akan aku yang rakus saja…"
Riku : "Kamu memang suka makan, tapi itu lucu kok."
Rika refleks mencubit pelan lengan Riku, tapi pipinya merah sendiri.
Mina memperhatikan dinamika mereka, dan untuk sesaat, dadanya terasa hangat dan… perih.
Mina (dalam hati):
Hubungan manusia dan beastkin… di depan umum… tanpa tatapan benci… tanpa bisik-bisik…
Riku menunjuk ke arah salah satu deretan stand di sisi kiri lapangan.
Riku : "Di sana, ada stand bento dan onigiri yang dikelola klub memasak sekolah kami. Rasa makanannya enak, porsinya lumayan, dan harganya juga bersahabat. Tadi kami sarapan di sana sebelum jalan-jalan."
Rika mengangguk semangat.
Rika : "Onigiri salmon mereka enak sekali. Kalau kamu suka yang hangat, kari mereka juga pas buat perut sebelum lomba."
Mina menatap arah yang ditunjuk, lalu kembali menatap mereka.
Mina : "Terima kasih… sudah mau memberi tahu. Kalian berdua… sangat baik."
Ada kejujuran di kata-katanya.
Tidak ada nada pura-pura.
Di saat itu, salah satu teman mereka lewat—siswi dari Seirei Gakuen—melambaikan tangan.
Teman : "Rika! Riku! Kalian di sini rupanya! Semangat ya buat lomba nanti!"
Rika : "Iya! Kamu juga, jangan lupa pemanasan sebelum lomba, ya!"
Riku : "Kalau kalah, jangan salahkan kami karena tidak menyemangati."
Mereka bertiga tertawa sebentar.
Teman itu melangkah pergi lagi, namun sebelum jauh, sempat melirik Mina dan tersenyum sopan, tanpa rasa curiga ataupun menilai.
Mina (dalam hati, terkejut):
Teman-teman mereka… menerima hubungan ini… begitu saja.
Tidak ada yang melontarkan tatapan jijik. Tidak ada yang menyindir. Tidak ada yang berbisik di belakang.
Dia tanpa sadar menunduk sedikit.
Mina : "Kalian… terlihat sangat dekat dengan teman-teman di sini."
Rika tersenyum hangat.
Rika : "Ya… kami saling dukung. Kadang ribut juga, tapi… rasanya selalu ada tempat untuk kembali. Walaupun semuanya beda ras."
Mina merasakan sesuatu menusuk lembut di dadanya.
Mina (dalam hati):
Andai saja… dulu… kisahku dengan seseorang itu… punya lingkungan seperti ini.
Mungkin… semuanya tidak akan hancur seperti sekarang.
Riku melirik ke jam di pergelangan tangan.
Riku : "Wah, sepertinya kami harus bersiap untuk sesi pembukaan. Kami masih harus cek posisi untuk lomba."
Ia kembali menatap Mina.
Riku : "Semoga lombanya lancar, Mina-san dari Shirokaze."
Rika ikut menambahkan dengan senyum tulus.
Rika : "Iya. Lakukan yang terbaik, ya. Tidak apa-apa kalau gugup, yang penting kamu pulang tanpa menyesal."
Mina sedikit terdiam.
Kata-kata itu sederhana, tapi entah mengapa terasa asing dan hangat pada saat yang sama.
Mina menunduk hormat kecil.
Mina : "Terima kasih… benar-benar terima kasih. Semoga kalian juga menang."
Riku mengangkat tangan, melambaikan sebentar.
Riku : "Kalau setelah lomba kamu butuh rekomendasi makanan lain, cari saja kami di sekitar tenda peserta."
Rika : "Atau cari stand klub memasak. Mereka pasti senang kalau tahu ada peserta dari sekolah lain yang suka makanan mereka."
Mina mengangguk, dan keduanya pun berpamitan, berjalan menjauh sambil masih bergandengan tangan.
Rika sempat menyenderkan kepala ke pundak Riku, dan Riku hanya tertawa kecil sambil membalas genggaman tangannya.
Mina berdiri di tempat, menatap punggung mereka hingga menghilang di tengah kerumunan.
Mina (dalam hati, lirih):
Kalau saja… cintaku… diberkati seperti itu…
Ia mengangkat tangan, menekan ringan dada kirinya.
Mina (dalam hati):
Mungkin… aku tidak akan berdiri sendirian seperti sekarang.
Namun, dunia—dan kesalahan masa lalunya—tidak mengijinkan hal itu.
Ia menarik napas pelan, memaksa senyum tipis muncul di bibirnya.
Mina (dalam hati):
Sudahlah. Untuk saat ini… cukup. Setidaknya ada orang yang… berbicara padaku tanpa benci.
Dengan langkah pelan namun pasti, Mina berjalan menuju stand yang tadi direkomendasikan Riku dan Rika.
Di belakangnya, di sudut lain lapangan yang sama,
seseorang dengan rambut putih dan mata berbeda warna sedang mengecek papan jadwal lomba—
tanpa mereka sadari, jarak mereka kini hanya dipisahkan oleh beberapa tenda dan beberapa menit waktu.
Takdir sedang menggeser kepingan-kepingannya pelan-pelan.
