Cherreads

Chapter 77 - POV ORANG TUA RIKU – ORANG TUA & CALON MENANTU

Malam sudah turun sepenuhnya ketika Riku dan Rika duduk berdua di taman belakang.

Dari jendela ruang keluarga, kedua orang tua Riku memperhatikan sekilas siluet mereka.

Ibu Riku tersenyum lembut.

Ibu Riku : "Lihat itu… Riku akhirnya bisa tersenyum seperti itu lagi."

Ayah Riku menyandarkan punggung di sofa, menyesap teh hangat.

Ayah Riku : "Ya. Senyum yang… bukan cuma demi menyemangati orang lain. Tapi senyum orang yang benar-benar… disayangi dan menyayangi."

Ia menatap kosong sebentar ke arah pintu kaca, lalu beralih menatap istrinya.

Ayah Riku : "Kau ingat? Waktu dulu kita masih SMA…"

Ibu Riku langsung mengembungkan pipi.

Ibu Riku : "Kalau kau menyebut-nyebut mantan, aku lempar cangkir ini."

Ayah Riku : "Hei, hei. Tidak ada mantan. Hanya kau. Dari dulu sampai sekarang."

Ibu Riku menghela napas, tapi ujung bibirnya terangkat.

Ibu Riku : "Jawaban yang tepat."

Mereka sama-sama tertawa kecil.

Sebentar kemudian, suasana menjadi sedikit lebih tenang.

Ayah Riku : "Jujur saja… tadi waktu Rika bilang ia anak dari karyawan perusahaanku, Ayah sempat khawatir."

Ibu Riku : "Khawatir karena…?"

Ayah Riku : "Bukan karena status, justru sebaliknya. Ayah takut kalau dia… tipe yang memanfaatkan situasi. Tapi…"

Ia mengingat ekspresi tegang Rika saat menolak tawaran kenaikan jabatan bagi ayahnya.

Ayah Riku : "Ternyata dia malah menolak. Dengan tegas. Takut keluarganya dicap naik jabatan karena hubungan pribadi. Anak seperti itu… langka."

Ibu Riku mengangguk pelan.

Ibu Riku : "Dan dia tidak mencoba merendahkan dirinya. Hanya jujur. Mengakui bahwa keluarganya biasa saja, tapi tidak mencoba menutupi, tidak juga minta dikasihani."

Ia tersenyum sendiri.

Ibu Riku : "Itu… mengingatkanku pada seseorang."

Ayah Riku mengangkat alis.

Ayah Riku : "Siapa, ya?"

Ibu Riku : "Seorang pria yang dulu terlalu takut mengaku suka, sampai harus berteriak di depan pintu kelas sekolah di hadapan murid-murid lain."

Ayah Riku langsung terbatuk.

Ayah Riku : "T-tolong jangan diungkit di usia segini…"

Ibu Riku terkikik.

Ibu Riku : "Riku memilih gadis yang tidak silau harta dan jabatan. Dan yang membuatku tenang, dari tatapan Rika tadi… dia tidak mencintai 'pewaris perusahaan besar', tapi hanya… Riku, anak kita."

Beberapa detik, mereka hanya duduk dalam diam yang nyaman.

Lalu Ibu Riku bersuara pelan:

Ibu Riku : "Bagaimana menurutmu? Sebagai ayah."

Ayah Riku menatap luar jendela lagi. Riku terlihat tertawa kecil ketika Rika menepuk pelan dadanya, mungkin karena digoda sesuatu.

Ayah Riku : "Sebagai ayah… aku ingin menguji gadis itu lebih jauh."

Ibu Riku melirik tajam.

Ibu Riku : "Uji dengan cara baik-baik."

Ayah Riku mengangkat kedua tangan.

Ayah Riku : "Tenang. Bukan uji yang macam-macam. Hanya… melihat apakah dia bisa berjalan bersama Riku, bukan hanya saat senang, tapi nanti juga saat Riku jatuh."

Ia menghela napas.

Ayah Riku : "Lalu sebagai pria yang dulu juga pernah takut ditolak… aku senang, karena anak kita punya seseorang yang mau menggenggam tangannya seerat itu."

Ibu Riku terdiam sebentar, lalu mengangguk.

Ibu Riku : "Kalau begitu… mulai hari ini, kita sambut Rika sebagai 'calon keluarga', ya."

Ayah Riku tersenyum.

Ayah Riku : "Terdengar bagus."

Ritsu tiba-tiba menyelip di antara mereka, menyandarkan dagu di sandaran sofa.

Ritsu : "Kalau aku sih dari tadi sudah setuju. Kak Rika… 100 dari 100."

Ibu Riku : "Hmm? Penilaian resmi adik ipar, ya?"

Ritsu mengacungkan jempol.

Ritsu : "Iya. Dan… untuk pertama kalinya, aku lihat Kak Riku tidak terlihat kesepian, walaupun dikelilingi banyak orang."

Kalimat itu membuat kedua orang tuanya saling pandang sebentar.

Ayah Riku : "…Itu juga benar."

Malam itu, tanpa pesta besar, tanpa pengumuman resmi,

sebuah keluarga diam-diam sepakat menerima satu gadis beastkin sederhana

sebagai seseorang yang layak berada di sisi anak laki-laki mereka.

 HARI LOMBA – LANGKAH MINA DI TANAH LAWAN 

Pagi yang cerah menyelimuti area SMA Seirei Gakuen.

Bendera-bendera kecil dengan lambang sekolah berkibar di sepanjang pagar,

tenda-tenda putih berdiri di lapangan utama,

suara murid-murid berbagai ras bercampur menjadi satu—riuh, tapi hangat.

Sorak, tawa, dan percakapan mengisi udara.

Bagi banyak orang, ini adalah hari festival dan adu prestasi.

Bagi seseorang, ini terasa seperti hari persidangan.

Mina melangkah turun dari bus rombongan SMA Shirokaze.

Seragamnya rapi, rambutnya tertata sempurna, ekspresinya—terkendali.

Namun, begitu kakinya menyentuh lantai parkiran, efeknya terasa jelas.

Murid-murid Shirokaze yang turun bersama dengannya secara refleks membuat sedikit jarak.

Bahkan di antara kerumunan teman satu sekolah, ia seperti titik kosong.

Beberapa bisikan lirih terdengar.

Murid Shirokaze 1 : "Itu Mina… 'dia' juga ikut, ya."

Murid Shirokaze 2 : "Ya wajar, kan. Keluarganya punya koneksi. Lagipula dia selalu dekat ketua OSIS."

Mina mendengar semua itu.

Ia sudah terbiasa.

Mina (dalam hati):

Tidak apa. Selama aku masih bisa berjalan… aku masih bisa bertahan.

Hayato melangkah turun dari bus di sisi lain, dikerumuni beberapa pengurus OSIS dan murid kuat lainnya.

Sekali ia muncul, fokus orang-orang langsung teralihkan.

Murid Shirokaze 3 : "Hayato-senpai!!"

Murid Shirokaze 4 : "Ketua, kami sudah menyiapkan dokumen lomba sihir!"

Mina melirik sekilas.

Hayato menoleh, tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Hayato hanya mengangguk singkat, lalu kembali sibuk dengan urusan panitia.

Ia tidak menghampirinya.

Ia tidak menggandeng tangannya di depan umum.

Mina pun tidak berharap itu.

Mina (dalam hati):

Ini sudah peran kita masing-masing, 'kan? Aku… calon istri yang diam di belakang layar. Bukan pasangan yang boleh berjalan setara.

Sementara murid-murid Shirokaze mulai menyebar—ada yang langsung ke tenda persiapan, ada yang hanya tertarik pada stan makanan—Mina tetap berdiri sejenak di tengah jalan, memegang map kecil yang berisi formulirnya.

Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara.

[Pengumuman]

"Untuk seluruh peserta lomba akademik dan non-akademik, silakan menuju meja administrasi utama di lapangan timur untuk konfirmasi kehadiran. Terima kasih."

Mina menarik napas dalam dan melangkah.

Namun, begitu ia menengok ke belakang…

Tak ada yang menoleh. Tak ada yang mengajak. Mereka berjalan dalam kelompoknya sendiri—atau pura-pura tidak melihatnya.

Ia menahan senyum tipis.

Mina (dalam hati):

Sudah biasa… jangan berharap lebih.

 MEJA ADMINISTRASI – PERBEDAAN DUA DUNIA 

Lapangan timur sudah ramai.

Tenda panjang dengan spanduk bertuliskan

"MEJA ADMINISTRASI – LOMBA ANTAR SEKOLAH"

berdiri di tengah. Beberapa murid Seirei Gakuen dengan seragam berbeda warna bergerak cekatan—memeriksa daftar, membagikan kartu peserta, menjelaskan jadwal.

Mina sempat berhenti, menyadari ia tidak tahu persis tenda mana yang khusus untuk peserta akademik.

Di tengah kebingungannya, dua murid Seirei Gakuen lewat sambil membawa beberapa kertas.

Mina memberanikan diri mengangkat tangan.

Mina : "Maaf… boleh saya tanya sebentar?"

Kedua murid itu berhenti.

Yang satu adalah gadis manusia berambut pendek, satunya pemuda beastkin dengan ekor kecil terlihat dari belakang.

Murid Seirei (perempuan) : "Ah, ya. Ada yang bisa kami bantu?"

Nada suaranya sopan, tanpa ragu, tanpa tatapan sinis.

Seperti cara orang normal menjawab pertanyaan orang asing.

Mina sedikit terkejut, tapi segera menguasai diri.

Mina : "Saya dari SMA Shirokaze. Peserta lomba akademik. Untuk konfirmasi peserta… saya harus ke meja yang mana?"

Murid Seirei (laki-laki) melihat papan info cepat-cepat, lalu menunjuk.

Murid Seirei (laki-laki) : "Untuk akademik, di bagian tengah tenda, barisan ketiga dari kiri. Di sana khusus soal ujian teori dan sihir. Kalau butuh bantuan, bilang saja ke panitia yang memakai pin biru."

Murid Seirei (perempuan) : "Dan… jangan ragu bertanya lagi kalau masih bingung. Hari ini pasti cukup kacau."

Mina membungkuk sedikit.

Mina : "Terima kasih banyak."

Murid Seirei (perempuan) : "Sama-sama. Semoga sukses di lombanya, ya!"

Murid Seirei (laki-laki) : "Kami tunggu penampilan kalian."

Mina berdiri sebentar, menatap punggung mereka yang menjauh.

Tidak ada tatapan mencurigai.

Tidak ada bisik-bisik, "Oh, itu Mina dari Shirokaze…"

Tidak ada jarak yang sengaja dibuat.

Mina (dalam hati):

…Mereka… benar-benar menganggapku hanya sebagai 'peserta dari sekolah lain'. Bukan sebagai 'Mina si pengkhianat'.

Ia menghela napas pelan.

Sesuatu di dadanya terasa hangat sekaligus perih.

 NAMA DI DAFTAR & HARAPAN KECIL 

Di barisan ketiga, staf administrasi—seorang guru muda dari Seirei Gakuen—sedang memeriksa daftar.

Guru Panitia : "Nama sekolah?"

Mina : "SMA Shirokaze."

Guru Panitia : "Nama peserta?"

Mina : "Mina."

Guru Panitia melihat daftar, menggeser jarinya, lalu mengangguk.

Guru Panitia : "Baik, sudah terdaftar. Ini kartu peserta dan jadwal lengkap. Ujian akademik pertama jam 10.30 di gedung timur lantai dua, ruang A-3. Tolong datang 15 menit sebelum mulai."

Ia menyerahkan sebuah kartu dengan nama dan nomor peserta, serta selembar kertas jadwal.

Guru Panitia : "Kalau butuh pemandu, di dekat tangga nanti ada murid kami yang bertugas mengantar peserta."

Mina menerimanya.

Mina : "Terima kasih, Pak."

Guru Panitia tersenyum ramah.

Guru Panitia : "Semoga bertanding dengan baik. Di sini, yang kami nilai adalah kemampuan—bukan masa lalu."

Mina menahan napas sepersekian detik. Jemarinya mengencang di tepi kartu peserta.

Ia menatap guru itu, mencoba membaca apakah itu hanya kalimat umum…

Atau—tanpa mereka sadari—kata-kata itu tepat mengenai jantungnya.

Namun, guru itu sudah memandang ke peserta berikutnya di belakangnya.

Mina (dalam hati):

Kemampuan… bukan masa lalu…

Ia menggenggam kartu peserta itu lebih kuat.

Mina (dalam hati):

Di sekolah lama, namaku selalu dihubungkan dengan satu hal: penghancur hati seorang 'manusia tanpa bakat' yang mereka anggap lemah.

Tapi di sini… mereka belum tahu apa pun. Mereka memanggilku hanya sebagai 'Mina dari Shirokaze'. Bukan… 'Mina yang membuat seseorang mungkin… sudah mengakhiri hidupnya'.

Ia menatap sekeliling—murid-murid Seirei Gakuen tertawa, bercanda, menyusun strategi, menyemangati satu sama lain.

Mina menggigit bibir bawahnya.

Mina (dalam hati):

Tolong… setidaknya di tempat ini… biarkan aku bertanding hanya sebagai peserta lomba.

Bukan sebagai penjahat di cerita yang bahkan belum sempat aku jelaskan.

Untuk sesaat, angin yang lewat terasa seperti membisikkan sesuatu di telinganya—

bahwa di tempat yang sama, seseorang yang dulu ia hancurkan dunianya,

sekarang berdiri sebagai murid di sisi lain gelanggang.

Namun, untuk saat ini, Mina belum menyadarinya.

Yang ia tahu hanya satu:

Hari ini, di SMA Seirei Gakuen, Mina akan bertanding bukan hanya demi sekolahnya—

tapi demi satu hal yang lebih sulit:

membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih boleh berdiri di panggung dunia ini.

More Chapters