Pintu besar itu perlahan terbuka dari dalam.
Yang muncul pertama kali adalah seorang gadis manis berambut sebahu dengan mata yang mirip Riku—namun versi lebih jenaka.
Begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, gadis itu langsung berseru:
Adik Riku : "Kakak!!"
Ia langsung melompat memeluk Riku dengan penuh tenaga.
Riku sedikit terdorong ke belakang, tapi tertawa pelan sambil membalas pelukan itu.
Riku : "Hei, pelan sedikit. Sudah lama ya, Ritsu."
Ritsu melepas pelukan, lalu baru menyadari ada gadis lain berdiri di samping kakaknya.
Rika yang dari tadi diam, refleks tersenyum malu.
Riku berdeham pelan.
Riku : "Ritsu, ini… pacar kakak."
Ritsu mengedip, lalu matanya membesar.
Ritsu : "Eeeh!? Pacar!?"
Rika menunduk sedikit, lalu membungkuk sopan.
Rika : "Pe–perkenalkan… saya Rika. Senang bertemu denganmu."
Ritsu sempat terpana. Sekilas, ia benar-benar melihat bayangan ibunya saat muda pada Rika—ramah, lembut, tapi ada aura kuat di balik senyuman.
Ritsu : "Aku Ritsu! Adik Riku! Kak Rika… cantik banget… sangat mirip dengan Ibu."
Pipi Rika memerah.
Rika (dalam hati):
Mirip Ibu…? Enggak mungkin… tapi… senang juga dibilang seperti itu…
Setelah saling menyapa, Ritsu menyingkir dari pintu.
Ritsu : "Ayo masuk. Ayah sama Ibu sudah nunggu dari tadi."
Rika sedikit membeku di tempat.
Rika (dalam hati):
Ayah… Ibu…? Jadi… 'seseorang' yang ingin kutemui itu… orang tua Riku!?
Tanpa sadar, ia menoleh ke arah Riku dan—plek!—memukul pelan pundaknya.
Rika : "Kamu curang. Kamu nggak bilang ini ketemu orang tuamu."
Riku tertawa kecil, mengelus pelan rambut pacarnya dari samping.
Riku : "Maaf, maaf… tapi tenang saja. Aku di sini. Selama aku ada, kamu nggak perlu takut."
Rika menggigit bibir bawahnya, lalu menghela napas pelan.
Rika : "…Baik. Tapi kamu jangan jauh-jauh."
Riku : "Tentu."
Mereka pun melangkah masuk.
DI RUANG MAKAN – KESAN PERTAMA ORANG TUA
Ritsu berlari kecil mendahului mereka.
Ritsu : "Ayah, Ibu! Kakak bawa seseorang!"
Di ruang makan yang sudah tertata rapi dengan hidangan hangat, Ayah dan Ibu Riku duduk menunggu.
Ayah Riku menoleh duluan, disusul Ibu.
Riku masuk beberapa langkah, lalu berhenti dan menepuk halus punggung Rika, memberi isyarat halus.
Riku : "Ayah, Ibu… ini Rika. Pacarku."
Rika menelan ludah pelan. Lalu, ia membungkuk sopan.
Rika : "Pe–perkenalkan… nama saya Rika. Terima kasih… sudah mengizinkan saya datang kemari."
Ayah Riku menatap Rika beberapa detik.
Tatapan itu bukan menghakimi—lebih seperti seseorang yang sedang mengenang sesuatu.
Akhirnya, ia tersenyum lebar.
Ayah Riku : "Cantik sekali…"
Kalimat itu lolos begitu saja.
Ibu Riku langsung melirik tajam.
Ibu Riku : "Oh? Cantik, ya?"
Ritsu : "Ayah~…"
Ayah Riku tersentak, lalu buru-buru mengangkat tangan.
Ayah Riku : "Ah! Maksud Ayah… wajahnya… mengingatkan pada Ibumu waktu muda. Mirip sekali. Itu pujian untuk kalian berdua."
Ibu Riku tertahan, pipinya sedikit memerah.
Ibu Riku : "Hmph… kalau begitu, Ayah dimaafkan."
Ritsu, tanpa basa-basi, memukul pelan lengan ayahnya.
Ritsu : "Ayah jangan buat Kak Rika canggung seperti itu, dong."
Suasana yang sempat menegangkan langsung mencair.
Rika menunduk, tersenyum malu.
Rika (dalam hati):
Mereka… terlihat hangat.
Seperti… keluarga yang sudah lama saling bercanda…
Ibu Riku menepuk kursi di samping.
Ibu Riku : "Riku, duduk di sebelah Rika. Ritsu, di seberang. Kita makan dulu. Nanti baru mengobrol pelan-pelan."
Riku : "Baik, Ibu."
Mereka duduk. Rika merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi aroma makanan membuat sedikit rasa tegangnya meleleh.
PERTANYAAN ADIK, JAWABAN RIKA
Makan siang berjalan beberapa menit dengan obrolan ringan—tentang sekolah, lomba yang akan datang, dan sedikit gurauan Ritsu tentang betapa lembeknya Riku saat kecil.
Di tengah makan, Ritsu tiba-tiba meletakkan sumpit, menatap Rika dengan mata berbinar nakal.
Ritsu : "Kak Rika."
Rika : "Ya…?"
Ritsu : "Sebenarnya Kak Rika lihat apa dari Kak Riku sih? Kakak itu… dasar jelek, cengeng, dan kadang lemot."
Riku langsung menoleh cepat.
Riku : "Hei! Kenapa tiba-tiba begitu!?"
Riku mencubit lembut pipi Ritsu.
Riku : "Jangan menjatuhkan harga diriku di depan pacarku, dasar."
Ritsu tertawa cekikikan.
Ritsu : "Kan bercanda~"
Ayah dan Ibu tertawa kecil.
Rika pun ikut tertawa, rasa gugupnya berkurang.
Ibu Riku : "Ibu juga ingin tahu, sebenarnya."
Mendengar itu, Rika mencuri pandang ke wajah Riku—yang kini sedikit memerah.
Rika (dalam hati):
Kenapa justru aku yang deg-degan…
Rika menarik napas pelan.
Rika : "Riku itu perhatian… bahkan saat dia sendiri lelah. Dia suka bikin orang lain ketawa, meski kadang dia juga takut."
Ia tersenyum kecil, menatap piringnya.
Rika : "Dan… entah sejak kapan, aku merasa… dunia ini lebih hangat kalau dia ada di dekatku."
Suasana meja makan hening sejenak—hening yang bukan kaku, tapi hangat.
Ibu Riku menatap putranya, lalu Rika, lalu tersenyum lembut.
Ibu Riku : "Itu… terdengar seperti seseorang yang benar-benar melihat anak Ibu apa adanya. Terima kasih, Rika-chan."
Riku menunduk sedikit, menyembunyikan senyum bahagianya.
Riku (dalam hati):
Terima kasih… sudah berkata seperti itu…
SOAL KELUARGA RIKA & REAKSI ORANG TUA
Ayah Riku meletakkan sumpitnya pelan.
Ayah Riku : "Kalau boleh tahu… bagaimana keluarga Rika? Ayah hanya ingin mengenal lebih dekat."
Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi di hati Rika, seperti ada sesuatu yang dicekik.
Rika menggenggam ujung rok seragamnya di bawah meja.
Rika (dalam hati):
Kalau mereka tahu aku hanya dari keluarga sederhana… apa mereka akan menolak?
Apa mereka akan menarik Riku menjauh…?
Ibu Riku melihat perubahan ekspresi kecil itu. Ia tersenyum menenangkan.
Ibu Riku : "Jangan terlalu tegang begitu, Rika-chan. Kami bertanya bukan untuk menilai tinggi-rendah. Hanya ingin mengenal lebih dalam. Soal keluarga sederhana atau bukan… selama Riku bahagia, itu cukup bagi kami."
Rika menatap Ibu Riku, sedikit tertegun.
Ada kehangatan jujur di mata wanita itu.
Seolah-olah Ibu Riku tahu apa yang ia khawatirkan.
Rika : "…Iya. Terima kasih, Ibu."
Ia mengatur napas, lalu menjawab dengan tenang.
Rika : "Keluarga saya hanya keluarga biasa. Ayah bekerja di perusahaan, Ibu mengurus rumah. Kami tinggal di rumah sederhana tidak jauh dari sekolah."
Ia ragu sejenak, lalu menambahkan:
Rika : "Kata Ayah… beliau bekerja di perusahaan milik keluarga Riku-san. Di divisi logistik."
Ayah Riku membelalak kecil.
Ayah Riku : "Nama ayahmu…?"
Rika menyebutkan nama ayahnya.
Ayah Riku tampak teringat sesuatu.
Ayah Riku : "Jadi itu… beliau? Orang itu pekerja keras. Aku baru sadar sekarang, dia selalu menolak kenaikan posisi yang terlalu cepat karena tidak ingin dicap 'naik karena kedekatan atasan'."
Ia menghela napas, lalu tersenyum kecil.
Ayah Riku : "Kalau begitu, mulai besok… Ayah akan pertimbangkan posisi yang lebih baik untuk ayahmu."
Rika spontan menggeleng.
Rika : "Mohon maaf… tapi… saya rasa Ayah tidak akan menerimanya jika itu karena saya. Dan saya sendiri… tidak tenang kalau seolah-olah keluarga saya naik karena hubungan pribadi."
Ibu Riku menatap Rika dengan sorot bangga.
Ibu Riku : "Lihat itu, Ayah. Anakmu memilih gadis yang tidak silau pangkat dan harta. Ibu suka."
Riku nyaris tersedak.
Riku : "Ibu…"
Ritsu mengangguk-angguk.
Ritsu : "Setuju. Kak Rika lulus tes calon kakak ipar."
Rika menunduk dalam, pipinya memerah.
Rika : "Te-terima kasih…"
Makan siang pun berlanjut dengan suasana jauh lebih santai. Mereka bercerita tentang masa kecil Riku, kesalahan-kesalahan konyolnya, dan bagaimana dulu ia bahkan takut serangga. Rika tertawa, sesekali menatap pacarnya dengan tatapan sayang dan geli sekaligus.
SENJA DI TAMAN KECIL – WAKTU BERDUA
Sore merayap pelan.
Setelah makan dan berbincang beberapa lama, Ibu menyuruh Riku mengajak Rika melihat taman kecil di belakang rumah.
Taman itu tidak terlalu besar, tapi tertata rapi:
rumput hijau, beberapa bunga bermekaran, dan bangku kayu di bawah pohon kecil.
Riku dan Rika duduk berdampingan di bangku itu.
Langit sudah mulai berwarna jingga keemasan.
Rika perlahan menyandarkan kepala di pundak Riku.
Riku meraih tangan Rika dan menggenggamnya hangat.
Riku : "Capek?"
Rika : "Sedikit. Tapi… lebih ke gugup, sih."
Riku tersenyum miring.
Riku : "Tadi kamu hebat. Jujur, tulus. Ayah, Ibu, dan Ritsu… menyukaimu."
Rika diam beberapa detik, lalu berbisik pelan.
Rika : "…Aku juga suka mereka. Hangat. Ramai. Seperti… rumah yang selalu ingin aku pulang ke sana."
Riku menoleh sedikit, menatap rambut beastkin Rika yang bergoyang pelan tertiup angin.
Ia mengelus lembut puncak kepala Rika, jemarinya menyusuri telinga beastkin yang ia sukai.
Riku : "Kalau begitu… mulai sekarang, rumah ini juga rumahmu."
Rika menggenggam tangannya lebih erat.
Rika (dalam hati):
Kalau ini mimpi… aku tidak ingin bangun…
Mereka terdiam, tidak butuh banyak kata.
Hanya suara angin, gemerisik daun, dan detak jantung yang terasa lebih lambat—lebih tenang—saat bersama.
Sore itu, di taman kecil rumah keluarga Riku,
seorang gadis beastkin yang dulu merasa dirinya "biasa"
dan seorang pemuda yang hanya mengandalkan penguatan tubuh,
memandang masa depan—sedikit lebih berani daripada kemarin.
