Senja turun perlahan, mewarnai langit dengan garis jingga lembut.
Di tengah ramainya jalan perumahan, Riku dan Rika berjalan berdampingan—pelan, tenang, seolah waktu sengaja memperlambat langkah untuk mereka.
Rika berjalan sedikit lebih dekat dari biasanya. Setelah beberapa menit, ia akhirnya bersandar pelan ke pundak pacarnya… lalu memeluk lengan Riku dengan kedua tangan.
Riku tersenyum hangat.
Ia mengelus lembut rambut Rika.
Riku :
"Biasanya kamu malu banget kalau aku giniin kamu di depan teman-teman… tapi kalau berdua malah manja begini, ya?"
Rika memerah, menunduk sedikit sambil tetap memeluk lengannya.
Rika :
"Hh… itu karena… kalau ramai aku malu. Aku belum terbiasa. Cuma… kalau cuma kita berdua… aku… nyaman."
Riku menatapnya lembut.
Riku (dalam hati):
Dia selalu mencoba terlihat kuat… tapi inilah dia yang sebenarnya. Gadisku yang manis dan pemalu…
Mereka melanjutkan perjalanan, sesekali berhenti untuk melihat papan pengumuman acara sekolah di pinggir jalan, sesekali tertawa kecil. Hembusan angin sore membuat suasana tambah hangat.
Sepanjang jalan, obrolan mereka melompat-lompat: latihan lomba, tingkah Hina yang belakangan lebih cerah sejak dekat Ravien, sampai Rei yang makin serius dengan akademik.
Rika tampak senang, namun ada sedikit kekhawatiran di wajahnya saat membicarakan Hina.
Rika :
"Aku… lega kalau Hina bisa tersenyum sekarang. Tapi… aku takut Hina terluka lagi… Ravien itu temperamen."
Riku :
"Tapi Ravien nggak pernah kasar sama Hina, kan? Dan Hina terlihat… bahagia. Kadang, orang berubah kalau ada yang percaya dulu. Dan Hina terlihat percaya."
Rika menatap Riku diam-diam.
Rika (dalam hati):
Seperti aku… yang berubah karena ada kamu…
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Rika.
Rika melepaskan pelukan lengannya, tapi masih menggenggam tangan Riku selama beberapa detik.
Rika :
"Terima kasih… sudah antar aku."
Ia maju sedikit… lalu mencium pipi Riku perlahan.
Riku tidak lagi kaget—lebih ke hangat dan bangga.
Riku :
"Sampai besok, ya. Istirahat yang cukup."
Rika masuk ke rumah setelah melambaikan tangan kecil.
Barulah setelah memastikan Rika masuk, Riku berbalik dan menelepon sopirnya.
DI RUMAH RIKU – SEBUAH KABAR BESAR
Rumah besar keluarga Riku terlihat hangat dari luar, lampu ruang tamu menyala lembut.
Ayahnya duduk sambil menonton berita. Begitu melihat Riku pulang, ia menepuk sofa di sebelahnya.
Ayah:
"Riku, kemarilah sebentar."
Riku menurut, duduk santai tapi sopan.
Ayah mematikan televisi, menatap putranya dengan senyum penuh makna.
Ayah:
"Bagaimana hubunganmu dengan Rika? Semakin harmonis?"
Riku tersenyum kecil, pipinya sedikit memerah.
Riku :
"Iya… kami makin dekat. Rika masih sering malu kalau di depan orang lain. Tapi kalau cuma berdua, dia manja sekali."
Ayah tertawa pelan, bangga.
Ayah:
"Bagus. Kamu mirip ayah waktu masih muda."
Riku mendengus geli.
Ayah kemudian bersandar, mengambil nada lebih serius namun hangat.
Ayah:
"Oh ya, besok… ibumu dan adikmu pulang. Mereka ingin makan bersama di rumah. Ajak Rika, ya. Mereka belum pernah bertemu dengan calon menantu ayah."
Riku membeku.
Riku :
"Be-benarkah!? Ibu dan—Ritsu pulang!?"
Matanya langsung bersinar.
Riku (dalam hati):
Akhirnya… setelah sekian lama… rumah akan lengkap lagi.
Ayah:
"Iya. Jadi persiapkan dirimu. Dan… pastikan Rika datang. Ayah ingin mereka mengenalnya."
Riku langsung mengangguk, sepenuh hati.
Riku :
"Tentu! Aku akan ajak dia!"
Ayah menepuk bahunya.
Ayah:
"Pergilah mandi dan makan. Lalu tidur lebih awal. Besok akan jadi hari yang panjang."
Riku pamit, mandi, makan, lalu masuk kamar.
Sebelum tidur, ia mengirim pesan singkat ke Rika :
"Besok aku jemput. Ada orang penting yang ingin mengenalmu."
Rika membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang.
Rika :
"…Seseorang?"
Ia tidak mengerti, tapi membalas:
"Baiklah."
KESOKAN HARINYA — RIKU MENJEMPUT RIKA
Riku bangun lebih awal dari biasanya, mandi dengan cepat, lalu memakai pakaian lebih rapi dari hari-hari lain.
Ia gugup tapi bersemangat.
Sampai di depan rumah Rika, ia turun dari mobil.
Rika sudah menunggu. Rambutnya diikat rapi, pakaian sederhana tapi manis—cukup membuat Riku terpana.
Rika :
"Kenapa… diam?"
Riku :
"Tidak apa-apa. Kamu… sangat cantik."
Wajah Rika memerah sampai ke telinga.
Ia menggandeng tangan Riku dengan malu-malu, masuk ke mobil bersama.
Ke Mal — WAKTU BERDUA
Sesampainya di sebuah mal, mereka berjalan keliling, memilih pakaian untuk Rika—yang sering kali membuat Riku menatapnya tanpa berkedip.
Rika cepat menangkap itu.
Rika :
"Jangan menatap terus… malu tahu…"
Riku :
"Tapi kamu lucu sekali…"
Rika keluar dari ruang ganti dengan baju yang sedikit terlalu lucu untuk seleranya.
Riku terdiam dua detik—lalu menutup mulutnya agar tidak ketawa terlalu keras.
Rika :
"Jangan ketawa…"
Rika manyun melihat pacar nya seperti itu.
Riku :
"Aku nggak ketawa."
Riku berbohong, lalu membeli snack favoritnya sebagai uang damai.
dan menikmati waktu sebagai pasangan yang benar-benar cocok.
Lalu…
Notifikasi ponsel berbunyi.
Pesan dari ayah:
"Ibumu dan adikmu sudah tiba di rumah. Kami menunggu kalian."
Riku membeku sesaat—senang sekaligus gugup.
Ia menyimpan ponsel dan menghampiri Rika yang sedang melihat aksesoris.
Riku :
"Ayo… kita pergi. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Rika menelan ludah.
Rika :
"Ke-ke mana…?"
Riku :
"Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya."
TIBA DI RUMAH KELUARGA RIKU
Mobil berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah.
Rika membelalak.
Rika :
"Riku… ini… rumahmu!?"
Riku :
"Iya. Ayo…"
Ia membuka pintu mobil, lalu mengulurkan tangan untuk menuntun Rika keluar.
Rika menggenggam tangan itu erat—gugup, deg-degan, tapi percaya.
Mereka berdiri di depan pintu rumah.
Riku memutar gagang pintu…
—Klik.
Pintu terbuka pelan.
