Cherreads

Chapter 73 - Bab – KAMAR 101, DEMON YANG TERLALU RAPIH

Pintu kamar 101 terbuka pelan. Seorang demon berambut perak dengan mata emas menatap ke arah mereka dengan ekspresi datar setengah kesal.

Ravien :

"Apa kalian semua tersesat, atau apartemen ini tiba-tiba berubah jadi ruang kelas?"

Riku mengangkat tangan, senyum santainya tidak goyah sedikit pun.

Riku :

"Bukan, bukan. Kami cuma mau mampir ke kamar teman kami. Soalnya… kami baru tahu hari ini kalau kamu tinggal di tempat yang sama dengan Rei."

Tatapan Ravien langsung beralih ke Hina. Mata emasnya menyipit tipis, ekspresi wajahnya seperti berkata, "Ini salahmu, kan?"

Hina refleks mengangkat buku catatannya, menutupi setengah wajah.

Hina :

"…Maaf."

Hina (dalam hati):

Aku cuma… nggak enak kalau mereka nggak tahu. Tapi… sekarang dia kelihatan marah…

Ravien diam sejenak. Ia tahu: kalau pintu ini ditutup, mereka akan mengetuk sampai pagi.

Ravien :

"Hhh… kalau aku usir pun kalian pasti balik lagi."

Ia memiringkan badan, membuka pintu lebih lebar.

Ravien :

"Masuklah. Tapi jangan ribut."

Begitu mereka melangkah masuk, langkah kaki langsung terhenti.

Kamar Ravien…

Bersih.

Rapi.

Lantai mengilap, meja tertata, rak buku tersusun lurus, dan udara dalam kamar dipenuhi aroma segar herbal lembut—bukan bau pengap, bukan bau keringat, apalagi bau darah.

Riku dan Rei saling melirik.

Riku :

"…Ini beneran kamar demon?"

Rei hanya terkekeh pelan.

Rei :

"Kelihatannya harapanmu tentang 'kamar gelap penuh tengkorak' resmi hancur, Riku."

Ravien menutup pintu, pura-pura tidak melihat ekspresi mereka.

Ravien :

"Duduk sana."

Ia berjalan ke arah lemari kecil, membuka bagian bawah dan mengeluarkan beberapa kaleng dan botol minuman kesukaan pribadinya, lalu meletakkannya di meja rendah di tengah ruangan.

Ravien :

"Aku cuma punya minuman ini. Mau suka syukur, nggak suka… ya sudah."

Satu per satu, mereka mengambil minuman itu dan duduk. Rei dan Airi duduk berdampingan, Riku dan Rika di sisi lain, sementara Hina berakhir duduk di ujung kasur… dan tanpa sadar, Ravien menjatuhkan dirinya tepat di sebelahnya.

Hina refleks menegakkan punggung. Jarak mereka lebih dekat daripada saat duduk di kelas. Napasnya sedikit tercekat.

Airi meneguk minumannya pelan, lalu tersenyum.

Airi :

"Ravien, kamar kamu… bersih sekali, ya. Dan… wanginya enak, segar."

Ravien mengalihkan pandang, telinga sedikit memerah meski ekspresinya tetap datar.

Ravien :

"Walau aku demon, bukan berarti aku suka tinggal di tempat berantakan. Tempat tinggal itu… harus nyaman."

Riku terkekeh.

Riku :

"Jujur, aku kira kamarmu bakal suram, penuh bayangan api, tengkorak, gitu-gitu—"

Ravien menatapnya datar.

Ravien :

"Kalau kamu kangen tengkorak, aku bisa pajang versi kepalamu di dinding."

Riku :

"…Batalkah."

Hina menunduk sedikit, menatap sekeliling.

Hina (dalam hati):

Kamar Ravien bahkan lebih bersih dari kamar aku sendiri… padahal aku manusia…

Rei membuka tasnya, mengeluarkan buku pelajaran dan lembar catatan.

Rei :

"Kalau begitu, kita lanjut belajar saja. Waktu libur sebelum lomba ini nggak akan banyak."

Airi langsung merapat, mencondongkan tubuh sambil menyandarkan sedikit beban pada Rei.

Airi :

"Kalau ada yang Airinya nggak ngerti… Rei yang ajarin, ya?"

Rei :

"Tentu. Pelan-pelan saja, kita bahas satu-satu."

Riku sudah duduk sangat dekat dengan Rika, dan setiap kali Rika mengerutkan kening di atas soal, tangan Riku akan bergerak memutar bukunya, menjelaskan pelan, atau sekadar menepuk lembut puncak kepala pacarnya.

Riku :

"Pelan saja, Rika. Kita ulang dari dasar. Kamu pasti bisa."

Rika :

"A-aku sudah nyoba berkali-kali, tapi—"

Riku :

"Kalau kamu lapar, fokusmu turun. Nanti kalau sudah selesai satu halaman, aku beliin makanan manis. Janji."

Rika memerah, bibirnya melengkung kecil.

Rika :

"…Itu bukan cara adil untuk menyuapku. Tapi… baiklah."

Suasana kamar hangat oleh tawa kecil dan gurauan ringan.

Hina menatap mereka dari sudut matanya—Rei dan Airi yang tampak alami bersama, Riku dan Rika yang jelas-jelas sepasang kekasih, penuh perhatian manis.

Ia menunduk ke buku soalnya sendiri. Angka-angka menari di hadapannya, beberapa konsep masih belum masuk ke kepala.

Hina (dalam hati):

…Fokus, Hina. Jangan lihat yang lain. Kamu datang ke sini buat belajar, bukan buat iri.

Ia menggigit pelan ujung pulpen. Satu soal khusus benar-benar membuatnya buntu. Keningnya berkerut dalam.

Tanpa ia sadari, dari samping, sepasang mata emas memperhatikannya.

Ravien :

"…Kau mau menatap soal itu sampai lubangnya tembus kertas?"

Hina terlonjak kecil.

Hina :

"A-ah, m-maaf…"

Ravien menghela napas pendek, lalu sedikit mendekat. Bahunya kini hampir menyentuh bahu Hina. Ia menarik buku Hina sedikit ke arah dirinya.

Ravien :

"Tunjukkan. Bagian mana yang tidak kau mengerti?"

Jantung Hina berdebar lebih cepat. Jarak sedekat ini membuatnya sadar betapa tajam dan tenangnya mata emas itu saat membaca soal.

Hina menunjuk pelan salah satu nomor.

Hina :

"Y-yang ini… aku… selalu salah di langkah kedua…"

Ravien menatap soal itu beberapa detik.

Ravien :

"Ini sebenarnya simpel. Yang bikin kamu jatuh itu langkah awalnya."

Jarinya bergerak di atas kertas, tidak menyentuh, tapi mengikuti alur perhitungan.

Ravien :

"Pertama, Jangan lompat ke rumus. Pecah dulu dua tahap—lihat, substitusimu kebalik. Selebihnya… cuma efek berantai."

Suara Ravien rendah, fokus. Hina mengikutinya perlahan, matanya bergantian menatap angka dan profil samping Ravien yang begitu dekat.

Hina (dalam hati):

Dia… benar-benar memperhitungkan semua langkah. Dan cara dia menjelaskan… mudah dimengerti…

Ravien berhenti, menatap wajah Hina yang dari tadi tampak sedikit kosong.

Ravien :

"…Hei. Kau dengar aku, atau kau sedang menatap wajahku?"

Hina hampir menjatuhkan pulpen.

Hina :

"A-aku dengar! M-maksudku… iya… aku mengerti…"

Pipinya mulai memanas. Ia cepat-cepat menunduk, mengulang langkah yang baru saja dijelaskan Ravien. Kali ini, jawabannya benar.

Hina :

"…Bener. Berhasil…"

Ravien mengalihkan tatapannya lagi, menyandarkan punggung sedikit.

Ravien :

"Bagus. Jangan minta aku ulang tiga kali. Itu menyebalkan."

Namun sudut bibirnya terangkat sedikit—hampir tak terlihat, tapi cukup bagi dua orang di seberang meja.

Airi dan Riku berhenti sejenak, saling berpandangan.

Airi tersenyum kecil, matanya melembut.

Airi (dalam hati):

Sepertinya… ada orang yang akhirnya peduli pada Hina, bukan cuma sebagai 'teman ceria'… tapi betulan melihat dirinya.

Riku juga melirik ke arah Hina dan Ravien yang kini canggung duduk bersebelahan namun tidak menjauh.

Riku (dalam hati):

Kalau itu orangnya… aku tidak keberatan. Hina pantas dapat seseorang yang mau menahan 'badai dalam diri Hina' tanpa pura-pura nggak lihat.

Di tengah tumpukan buku, kertas, dan minuman sederhana, kamar kecil milik seorang demon yang selalu tampak malas itu terasa hangat.

Tanpa mereka sadari, lingkaran itu melebar lagi—

menambahkan satu demon pemarah yang diam-diam paling tidak tahan melihat orang kesepian memaksa diri terus tersenyum.

More Chapters