Hari sudah sore ketika ponsel Hina bergetar pelan di meja belajarnya yang kecil. Di layar, notifikasi dari grup chat mereka muncul:
[Grup: Lingkaran Meja 202]
Riku : "Besok hari libur. Gimana kalau kita belajar bareng di kamar Rei?"
Airi : "Setuju. Sekalian bahas strategi lomba antar sekolah."
Rika : "Aku ikut. Tapi jangan terlalu serius, bawa snack juga."
Rei : "Kalian aja yang bawa snack, aku menyediakan tempat sama meja berantakan."
Airi : "Seperti biasa"
Hina menatap layar itu cukup lama sebelum mengetik balasan.
Hina : "Aku juga ikut. Jam berapa mulainya?"
Airi : "Jam 9 pagi ya. Di apartemen Rei, kamar 202."
Hina memegang ponselnya dengan kedua tangan, diam sejenak. Ada hangat kecil yang muncul di dadanya.
Hina (dalam hati): Aku… masih punya tempat untuk datang.
Masih punya orang-orang yang mau menerimaku di samping mereka…
Bayangan masa lalunya—koridor SMP yang sepi, bisikan jahat, tawa mengejek—sekilas melintas. Tapi perlahan memudar, tertimpa wajah Rei, Riku, Rika, dan Airi yang tertawa di kantin, di taman, di kelas.
Hina (dalam hati): Rei-kun… Airi… Riku… Rika…
Aku nggak mau kehilangan ini.
Namun, saat pikirannya melayang ke soal cinta, ada sedikit rasa perih.
Riku yang sekarang selalu menggandeng tangan Rika…
Rika yang tertawa malu setiap kali rambutnya dielus…
Dirinya—yang dulu hanya bisa menatap dari jauh.
Hina menggenggam ponsel lebih erat.
Hina (dalam hati): Cinta pertamaku mungkin nggak akan jadi milikku.
Tapi… aku masih boleh bahagia sebagai teman, kan?
Notifikasi kembali muncul.
Airi : "Hina, jangan lupa ya. Kalau kamu telat, aku culik Ravien suruh jemput"
Hina bahkan sempat tersedak udara sendiri membaca itu.
Hina : "Jangan! Aku nggak akan telat. Janji."
Setelah mengirim pesan itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tipis di kamar sempitnya, menatap langit-langit.
Dan tanpa ia sadari, satu sosok lain masuk ke pikirannya.
Demon sombong yang selalu tidur di kelas, tapi diam-diam menghafal semua rumus.
Demon yang memukul preman-preman itu tanpa ragu demi menyelamatkannya.
Demon yang duduk di bangku taman dan berkata dengan nada datar:
Ravien : "Jangan pura-pura kuat kalau kau lemah.
Terimalah kelemahanmu, jalani hidup apa adanya.
Aku benci senyum palsu di dekatku."
Hina menutup mata, pipinya memanas pelan.
Hina (dalam hati): Kenapa… kata-kata itu masih terus terngiang…?
PAGI HARI LIBUR – PAKAIAN RAPI & HATI BERDEBAR PELAN
Pagi hari berikutnya, alarm ponsel berbunyi pukul 07.00.
Hina meraba-raba ponsel di samping bantal, mematikannya, lalu duduk perlahan.
Hina : "Haaah…"
Ia menatap kamar kecilnya. Dinding polos. Lemari mungil. Meja belajar murah dengan buku-buku rapi, karena hanya itulah yang bisa ia banggakan.
Hina (dalam hati): Hari ini belajar di kamar Rei…
Aku nggak boleh terlihat berantakan.
Ia membuka lemari dan menatap beberapa baju sederhana yang ia miliki. Setelah mempertimbangkan sebentar, ia memilih:
Blouse putih bersih dengan kerah sederhana.
Cardigan lembut warna pastel.
Rok selutut yang tidak terlalu mencolok.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang agak retak di sudutnya.
Hina (dalam hati): Aku cuma… Hina.
Bukan elf cantik seperti Airi.
Bukan beastkin kuat dan menarik seperti Rika.
Hanya manusia biasa…
Ia tersenyum kecil pada pantulan dirinya.
Hina : "Tapi nggak apa… yang penting aku kelihatan rapi, ya."
Ia mengambil tas kecil selempang, memasukkan:
Buku catatan pelajaran yang paling sulit ia pahami.
Pensil mekanik kesayangannya.
Penghapus yang sudah pendek tapi masih bisa dipakai.
Dan ponsel, tentu saja.
Saat hendak keluar, ia berhenti di ambang pintu.
Hina (dalam hati):
Ah, aku harus beli snack dulu.
Kalau belajar bareng, rasanya nggak enak datang dengan tangan kosong.
Ia merapikan rambutnya sekali lagi, menarik napas, lalu melangkah keluar.
PERJALANAN MENUJU MINIMARKET – LANGKAH KECIL YANG HANGAT
Udara pagi cukup sejuk. Jalanan belum terlalu ramai.
Hina berjalan pelan di trotoar, tas selempang di bahunya bergoyang ringan.
Hina (dalam hati):
Belajar kelompok, ya…
Dulu waktu SMP… bahkan duduk makan bareng pun rasanya mustahil.
Bayangan masa lalu berusaha naik ke permukaan.
Tawa sinis.
Kata-kata "anak buangan".
Loker yang dirusak.
Sepatu yang disembunyikan.
Hina menggenggam tali tasnya.
Hina (dalam hati):
Tidak apa…
Sekarang sudah berbeda.
Aku punya Rei-kun, Airi, Riku, Rika…
Dan entah kenapa, satu nama lagi melintas.
"...Dan Ravien."
Ia menggeleng cepat.
Hina (dalam hati):
K–kenapa malah kepikiran dia…?
Dia itu demon sombong… walau…
Wajah Ravien sesaat muncul di pikirannya. Wajah serius yang duduk di bangku taman, mata emasnya menatap lurus ke depan saat mendengarkan cerita pahit hidupnya.
Hina : "…walau kadang bisa baik juga."
Ia menghela napas, pipinya sedikit memerah, lalu mempercepat langkah menuju minimarket.
MINIMARKET – SENTUHAN TANGAN & DEGUP YANG TAK TERDUGA
Bel pintu minimarket berbunyi lembut saat Hina masuk.
Karyawan : "Selamat datang."
Hina tersenyum kecil, mengangguk, lalu mengambil keranjang.
Hina (dalam hati):
Kita harus belajar agak lama, jadi…
Onigiri, roti, beberapa snack manis… minuman juga.
Ia berjalan di antara rak-rak, memilih:
Beberapa onigiri berbagai rasa,
Roti isi krim,
Snack ringan,
Dua botol minuman teh dan jus.
Saat ia hendak mengambil satu kotak snack di rak bawah, tangannya bersamaan menyentuh tangan orang lain.
Hina : "A-ah—maaf…!"
Terdengar suara laki-laki yang sangat ia kenal menyela dengan tenang.
Ravien : "Kau cuma kena tanganku."
Hina : "T-tetap saja…"
Ravien : "Kalau begitu lain kali… lihat dulu sebelum ambil."
Hina terperanjat, kepalanya terangkat cepat.
Di depannya, dengan pakaian santai, kaos gelap dan jaket tipis, rambut peraknya sedikit berantakan namun tetap terlihat rapi—Ravien berdiri, menatapnya dengan mata emas yang biasa terlihat malas.
Kini, dari jarak sedekat itu… Hina baru menyadari sesuatu.
Hina (dalam hati, panik):
K–kenapa di luar seragam dia kelihatan… jauh lebih tampan…?!
Tunggu, Hina! Fokus!
Pipinya langsung memanas.
Hina : "A–aku… cuma nggak sengaja menyentuh tanganmu…"
Ravien mengangkat alis, lalu mengambil kotak snack di depan mereka, memasukkannya ke keranjang.
Ravien : "Aku tidak mati hanya karena itu. Santai saja.
Lagipula… kita ini teman, kan?"
Kata "teman" itu membuat Hina terdiam.
Hatinya menghangat, seperti ada sesuatu yang menetes lembut di tempat yang selama ini terasa kosong.
Hina (dalam hati):
…teman…
Aku… temannya Ravien.
Hina buru-buru mengalihkan pandangannya, mengambil barang belanjaan yang kurang, lalu berkata lirih.
Hina : "A–aku masih harus buru-buru. Ada janji…"
Tanpa menunggu respon, ia melangkah cepat menuju kasir, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Ravien menatap punggungnya sebentar.
Ravien (dalam hati):
Kenapa dia selalu panik begitu…?
Manusia ini semakin aneh saja.
Ia mengambil beberapa barang, membayar, lalu keluar mengikuti arah yang sama tanpa terlalu memikirkannya.
JALAN MENUJU APARTEMEN – DUA LANGKAH YANG MULAI SEIRAMA
Hina berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya, tas dan kantong plastik di tangannya bergoyang.
Hina (dalam hati, gelisah):
Apa-apaan tadi itu?
Kenapa jantungku berdegup seperti ini cuma karena lihat dia pakai baju biasa…?
Ini… bukan rasa yang sama seperti dulu saat aku melihat Riku-kun dari kejauhan…
Ia menggigit bibir bawah, tanpa sadar mempercepat langkah.
Namun beberapa saat kemudian—
Ravien : "Hei. Kalau jalan secepat itu, kau kira kau sedang lomba lari?"
Suara itu terdengar tepat di sebelahnya.
Hina hampir melompat kaget. Ia menoleh, dan benar—Ravien sekarang berjalan di sisi kirinya, kantong belanja di tangan.
Hina : "S–sejak kapan kamu… di sini…?"
Ravien : "Sejak beberapa saat lalu. Kau terlalu sibuk dengan kepalamu sendiri sampai tidak sadar."
Hina makin ingin menenggelamkan wajahnya ke kantong plastik.
Hina : "Maaf… aku cuma… banyak pikiran."
Ravien menatapnya sekilas. Ada sedikit rasa ingin tahu dalam tatapan itu.
Ravien : "Tentang lomba antar sekolah?"
Hina menggeleng pelan.
Hina : "Bukan. Hanya… hidup."
Jawaban itu membuat Ravien diam sejenak.
Ia bisa melihat sekilas bayangan yang sama seperti waktu di taman—gadis yang selalu tersenyum, tapi menyimpan gelap di sudut matanya.
Namun kali ini, ia memilih tidak menggali.
Ravien : "Hm. Jangan terlalu dipikirkan. Kau bisa pecah."
Hina hampir tertawa, tapi menahannya.
Hina (dalam hati):
Ini… bentuk kepedulianmu, ya?
Mereka berjalan beriringan seperti itu, tanpa banyak kata.
Sesekali angin berhembus, membuat rambut Hina dan ujung jaket Ravien ikut bergerak.
Tak lama sebuah motor melintas terlalu dekat. Ravien refleks menarik lengan Hina setengah langkah ke belakang—gerakannya cepat, dingin, tapi tepat.
Ravien: "Jangan melamun."
Hina: "…Iya."
Hina menyadari satu hal kecil:
Di samping orang yang dulu ia anggap hanya demon sombong, ia tidak merasa setakut dulu ketika berjalan sendirian pulang di koridor SMP.
Ada rasa aman yang aneh.
Dan ia tidak tahu harus bagaimana terhadap rasa itu.
DEPAN APARTEMEN – RAHASIA KECIL TERBONGKAR
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan gedung apartemen Sakura-so.
Hina berhenti sebentar.
Hina (dalam hati):
Ini… apartemen Rei-kun…
Jangan bilang…
Ravien mengeluarkan kunci dari saku jaketnya, berjalan menuju pintu masuk dengan santai.
Ravien : "Kau tidak masuk?"
Hina berkedip.
Hina : "A–aku… memang mau ke sini. Aku ada janji belajar dengan teman-teman."
Ravien mengerutkan dahi tipis.
Ravien : "Di apartemen ini juga?"
Hina mengangguk pelan.
Hina : "Iya. Di kamar 202…"
Ravien berhenti sejenak, menatap Hina dengan ekspresi seperti baru menyadari sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Ravien : "Kamar 202… lantai 2, kan?"
Hina : "Iya. Rei-kun tinggal di sana."
Ravien menghela napas pendek, lalu melangkah ke lorong lantai dasar.
Ravien : "Begitu ya.
Kalau begitu… sepertinya kita memang sudah jadi tetangga dari awal tanpa menyadarinya."
Hina mengikuti langkahnya dengan tatapan heran.
Hina : "Tetangga…?"
Ravien berjalan ke depan sebuah pintu dengan angka 101 di atasnya.
Ia memasukkan kunci, memutar, dan membuka pintu sedikit.
Ravien : "Kamar 101. Ini tempat tinggalku."
Pintu kamar terbuka sebagian, memperlihatkan ruangan yang sederhana namun rapi.
Tidak mewah, tapi bersih—menyiratkan bahwa meski sombong, Ravien tidak asal dalam menjaga ruang hidupnya.
Hina terdiam di koridor, kantong snack di tangannya terasa sedikit lebih berat.
Hina (dalam hati, tercengang):
Jadi selama ini…
Saat aku datang ke apartemen Rei…
Dia… tinggal tepat di bawahnya…?
Ada sensasi aneh merambat di dadanya—campuran kaget, geli, dan sedikit… senang?
Hina (dalam hati):
Kami bukan cuma teman sekelas…
Tapi juga… tetangga.
Ravien menatap Hina sekali lagi sebelum masuk.
Ravien : "Kalau kesulitan pelajaran… ketuk pintu."
(jeda)
"Kalau ada yang ganggu kamu—ketuk lebih keras."
"Tapi jangan tiap hari."
Hina menatapnya, mata sedikit membesar.
Hina : "I–iya…"
Ravien mengangguk ringan, lalu masuk dan menutup pintu.
Hina masih berdiri di sana, menatap angka 101 beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat kepala, melihat ke atas—ke arah lantai dua, ke kamar 202 tempat Rei menunggunya.
Hina (dalam hati, jantung berdebar pelan):
…teman. Teman yang tinggal selantai… dan satu dunia yang sama denganku.
Hina menatap angka 101 beberapa detik—lalu mendongak ke atas, ke lantai dua, ke kamar 202.
Jantungnya berdetak pelan, namun kali ini bukan karena takut.
Ia menarik napas, menggenggam kantong snack, lalu melangkah menuju tangga.
Membawa buku catatan… dan hati yang diam-diam mulai bertunas.
