SMA Shirokaze – Janji, Rumor, dan Nama Lawan
Di SMA Shirokaze, pengumuman lomba antar sekolah langsung membuat suasana mendidih.
Lapangan dipenuhi murid yang berlatih sihir dan penguatan tubuh. Koridor dipenuhi poster kecil: "Siap Mengharumkan Nama Shirokaze!" dan "Liburan Pantai Menunggu Juara!".
Tapi di sudut balkon lantai dua, seorang gadis dengan rambut sebahu menatap ke bawah tanpa semangat.
Mina bersandar pada pagar, memeluk buku ke dada.
Mina (dalam hati): Aku tidak pantas ikut euforia seperti mereka…
Di bawah, beberapa murid dari kelas lain bercakap lirih sambil melihat ke arah Mina dan Hayato yang baru keluar dari ruang OSIS.
Murid 1 : "Lomba tahun ini pasti Hayato-kun yang maju di bagian non-akademik, ya."
Murid 2 : "Iya, apalagi katanya dia sama Mina itu pasangan emas sekolah. Walaupun…"
Murid 1 : "Walaupun... semua orang tahu dulu dia mengkhianati seseorang, kan?"
Bisikan itu cukup pelan, tapi tetap sampai ke telinga Mina. Bahunya menegang.
Hayato, yang berjalan di sampingnya, sempat melirik tajam ke arah sumber suara. Murid-murid itu langsung menunduk, pura-pura sibuk.
Hayato : "Jangan dengarkan mereka, Mina."
Mina : "…Aku sudah biasa."
Itu jawaban refleks. Bohong yang sudah terlalu sering ia gunakan.
Hayato menghela napas pelan.
Hayato : "Tadi di ruang guru mereka minta aku jadi kapten tim non-akademik. Duel, estafet sihir, dan pertandingan strategi taktis. Untuk akademik… guru Matematika merekomendasikan beberapa orang. Namamu juga disebut."
Mina menatap lantai.
Mina : "Aku…?"
Hayato : "Nilai teorimu tidak pernah turun, Mina. Mereka bukan buta."
Mina tahu. Di atas kertas, ia masih "sempurna".
Nilai tinggi. Sihir stabil. Reputasi keluarga yang terselamatkan.
Tapi di dalam dirinya… ada satu nama yang tidak pernah bisa ia hapus dari lembar hidupnya sendiri.
Rei.
Mina : "Aku akan ikut… kalau itu bisa membantu sekolah."
Hayato diam sejenak, lalu mengangguk.
Hayato : "Baik. Nanti OSIS akan umumkan susunan tim resmi setelah semua sekolah lawan dipastikan."
Tak jauh di ruang guru, beberapa pengajar berkumpul di depan papan pengumuman internal. Di sana, daftar sekolah peserta tertempel.
Guru 1 : "Hmm… jadi salah satu lawan kita nanti… akademi gabungan kota sebelah, lalu sekolah campuran ras yang baru naik pamor, dan…"
Ia berhenti agak lama di satu nama.
Guru 2 : "Ada apa?"
Guru 1 : "…Tidak. Hanya teringat seseorang."
Di baris tersebut, tertulis jelas nama sekolah Rei sekarang.
Namun daftar detail pertandingan—termasuk siapa melawan siapa di babak awal—belum diumumkan ke murid. Hanya staf yang tahu.
Guru 1 (dalam hati) : "Kalau benar rumor itu… mungkin kau akan melihat masa lalumu berdiri di sisi lawan, Mina."
Poster besar pun disiapkan, untuk besok ditempel di papan pengumuman.
Kelas Rei – Tim Kecil yang Mulai Terbentuk
Di sekolah Rei, teman-teman sekelasnya sudah datang dan duduk rapi untuk mengikuti pelajaran.
Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Pelajaran siang itu selesai, dan guru homeroom keluar setelah mengingatkan soal pendaftaran lomba antar sekolah.
Begitu pintu menutup, suasana kelas langsung ramai.
Rika menoleh ke samping dengan mata berbinar.
Rika : "Riku, liburan pantai selama empat hari, hotel lengkap, dan semua fasilitas gratis. Kau tidak tertarik?"
Riku mengelus rambut Rika pelan sambil tersenyum.
Riku : "Kalau kamu mau, bahkan tanpa menang lomba pun… aku akan cari cara mengajakmu liburan. Tapi kalau bisa berangkat dengan semua orang juga, bukankah lebih seru?"
Rika : "…Kau selalu saja bicara seenaknya."
Pipi Rika merah, tapi sudut bibirnya tersenyum.
Di sisi lain, Airi mencondongkan tubuh ke meja Rei.
Airi : "Rei, untuk akademik, pasti kamu kepilih kan? Nilai teori dan strategi kamu selalu di atas."
Rei menggaruk kepala pelan.
Rei : "Kalau gurunya minta, ya aku ikut. Bukan karena ingin pantai gratis. Aku hanya tidak mau sekolah kita dipermalukan."
Riku : "Bahasanya tetap sama saja dengan bilang 'iya, aku ikut'."
Mereka tertawa kecil.
Di bangku sebelah jendela, Ravien seperti biasa tertidur, tangan terlipat, wajah menghadap ke bawah. Hanya Hina yang menyadari, telinga demon itu sebenarnya bergerak sedikit ketika lomba dibahas.
Saat istirahat, mereka memutuskan tetap di kelas.
Buku makan siang bento sederhana terbuka di meja.
Riku : "Kalau soal formasi, menurutku begini. Rei untuk akademik dan strategi. Bagian non-akademik, aku bisa urus penguatan tubuh, Rika juga. Airi di sihir pendukung. Hina…"
Hina tersentak kecil.
Hina : "A-aku?"
Rei menatapnya lembut.
Rei : "Kau sangat hebat di penyembuhan. Dalam lomba non-akademik, pasti ada sesi dukungan tim. Kalau ada healer yang bisa dipercaya, itu mengubah keadaan."
Hina menunduk, menggenggam ujung rok seragamnya.
Hina : "Tapi… aku tidak suka bertarung. Kalau harus di garis depan…"
Airi menggeleng dengan senyum.
Airi : "Tidak semua pejuang harus berada di depan. Ada yang menjaga dari belakang, memastikan semua orang bisa bangkit lagi. Itu justru posisi yang paling berat, kan, Rei?"
Rei mengangguk.
Rei : "Posisi yang kita sebut 'fondasi'. Kalau fondasi rapuh, semua runtuh. Menurutku… hanya sedikit orang yang bisa sekuat itu."
Hina terdiam. Kata-kata itu terasa menembus dinding yang selama ini ia pasang di dalam dirinya sendiri.
Hina (dalam hati): Fondasi… ya…?
Di tengah obrolan itu, Airi melirik ke arah Ravien yang masih "tertidur".
Airi : "Kalau Ravien ikut, jujur saja, peluang menang kita naik drastis. Dia jenius, sihir fisik dan apinya kuat sekali. Tapi… dia sepertinya tidak tertarik."
Rika menyilangkan tangan dan mengerling sinis ke arah demon yang tertidur.
Rika : "Mungkin sebenarnya dia cuma bicara besar kemarin. Karena takut, ya?"
Suasana langsung hening sejenak.
Beberapa detik kemudian, telinga Ravien bergerak halus. Ia membuka satu mata, dan menatap mereka satu per satu.
Ravien : "Ras manusia memang pandai memancing emosi..."
Ia duduk tegak, menyeringai tipis.
Ravien : "Baiklah. Aku ikut di cabang non-akademik. Biar sekolah lawan itu tahu apa artinya melawan ras demon sejati."
"Tapi ingat—aku maju hanya sesuai keinginanku sendiri."
Airi dan Rei saling bertatap, lalu terkekeh pelan.
Airi : "Terima kasih, Ravien."
Ravien : "Jangan salah. Aku bukan melakukannya demi kalian. Ini hanya demi… harga diri ras demon."
Hina menunduk sedikit, tersenyum tanpa sadar.
Hina (dalam hati) : Dia bilang demi ras demon… tapi dia tetap duduk di kelas ini, makan onigiri yang kubelikan, dan sekarang mau ikut tim yang sama.
Selang beberapa menit, mereka mulai mencatat nama masing-masing di formulir pendaftaran tim yang diedarkan guru.
Rei menulis namanya di kolom:
Kategori Akademik – Strategi & Teori Sihir
Kategori Non-Akademik (Cadangan) – Analisis Lapangan
Riku mengisi kolom penguatan fisik.
Rika memilih petarung jarak dekat.
Airi menulis penyihir pendukung—dan juga akademik.
Hina menandai penyembuh.
Dan Ravien… menulis namanya di posisi petarung utama.
Riku : "Formasi kita keren juga, ya. Kayak party utama di game."
Rika : "Jangan santai dulu. Lawannya sekolah elite. Itu bukan bocah-bocah yang hanya jago gaya."
Rei hanya menatap formulir itu lama, sebelum menandatangani.
Sekilas, nama sekolah lawan terlintas di kepalanya—Shirokaze.
Rei (dalam hati) : Kalau memang dunia ingin mempertemukan kita di arena… kali ini, aku tidak akan jatuh sendirian.
Bel masuk berbunyi. Mereka kembali ke pelajaran masing-masing.
Di luar kelas, di koridor, guru homeroom berjalan sambil membawa setumpuk formulir pendaftaran tim. Ia sempat melirik nama-nama di lembar tim Rei dan kawan-kawan.
Guru Homeroom (dalam hati) : Dengan komposisi seperti ini… kalau mereka kompak, peluang menang tidak kecil. Masalahnya… apakah mereka siap menghadapi lebih dari sekadar pertandingan?
Di papan pengumuman aula utama, petugas mulai memasang daftar resmi sekolah peserta.
Satu baris besar akhirnya ditempel:
SMA Shirokaze vs SMA Seirei Gakuen.
Arena yang sama menunggu—
dengan luka lama, harapan baru, dan pertemuan yang tak bisa dihindari lagi.
