Ravien – Bayangan Adik dan Senyum Seorang Manusia
Setelah sampai di apartemen, Ravien membuka pintu kamar 101 dengan gerakan malas. Ia meletakkan tasnya di dekat meja kecil, lalu menjatuhkan tubuh ke kasur tipis yang sudah mulai terasa familiar.
Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu menutup mata.
Ravien (dalam hati) : Sungguh aneh… manusia lemah bisa menanggung kesedihan seperti itu dan tetap tersenyum seolah semua baik-baik saja…
Bayangan wajah Hina muncul di benaknya—senyum lembut, mata yang terlihat hangat… tapi menyimpan luka yang dalam.
Lalu, ingatan lain muncul. Ingatan dari masa kecilnya di dunia demon.
Seorang gadis kecil ras demon dengan rambut panjang dan tatapan angkuh—Seris, adiknya. Saat itu ia masih bocah, baru belajar menggunakan sihir api dan penguatan tubuh. Seris pulang sekolah dengan wajah yang sama seperti biasa: sombong, tegak… tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ia lebih pendiam. Terkadang menghindari tatapan Ravien dan Lirya. Senyumnya terasa dipaksakan.
Saat itu Ravien tidak peka. Ia hanya menganggap:
Ravien (dalam hati, dulu) : Dia pasti bertengkar dengan teman sekelasnya dan terlalu gengsi untuk cerita.
Beberapa hari kemudian, Lirya pulang dengan mata menyala marah, aura demon menyelimuti seluruh rumah.
Lirya : "Siapa yang berani menyentuh adikku…?"
Ravien baru tahu setelah itu—Seris selama berminggu-minggu diganggu oleh beberapa murid dari ras lain. Diejek, diprovokasi… hanya karena ia terlalu berbakat dan terlalu sombong. Seris menanggung semuanya sendiri, menyembunyikan luka dengan senyum mengejek, seperti tidak peduli.
Hingga Lirya mengetahuinya… dan semua pelaku itu lenyap dari dunia sosial akademi—entah dipaksa pindah, entah berhenti, entah hanya hidup dalam ketakutan selamanya. Ia tidak pernah menanyakan detailnya.
Ravien menghela napas dan duduk.
Ravien (dalam hati) : Seris menutup luka dengan kesombongan. Hina menutup luka dengan senyum.
Bedanya… Seris punya aku dan kak Lirya, sedangkan Hina... melakukannya sendirian.
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dada seorang demon sombong itu.
Ia mengibaskan kepala, bangkit dari kasur.
Ravien : "Hm… menyebalkan."
"Kenapa aku jadi ingat itu semua."
Ia mengambil handuk, menuju kamar mandi. Air dingin menyiram tubuhnya, sedikit menenangkan pikirannya yang entah kenapa terlalu ramai hari ini.
Setelah mandi, Ravien menghangatkan makanan instan yang tadi ia beli, makan dengan tenang, lalu merapikan sedikit kamarnya.
Meski demon, ia tidak tahan dengan ruangan berantakan.
Ravien (dalam hati) : Manusia lemah… tapi beberapa di antara mereka… terlalu kuat di tempat yang tidak kelihatan.
Ia lalu merebahkan diri di kasur, memejamkan mata.
Malam itu, untuk pertama kalinya, bayangan senyum pahit seorang gadis manusia menghantui pikirannya… berdampingan dengan bayangan adik demon yang dulu ia gagal mengerti.
Dan Ravien pun tertidur, ditemani resonansi tipis dari kata-katanya sendiri:
"Kalau lemah, ya akui lemah."
"Jangan hidup dengan kebohongan."
Rei – Nama Sekolah yang Masih Menyisakan Luka
Di lantai dua, di kamar 202, Rei membuka pintu apartemennya sendiri. Suasana hening menyambutnya—sudah lama ia terbiasa dengan keheningan ini.
Tas diletakkan di kursi. Seragam ia lepas pelan, digantung rapi. Ia mengambil pakaian santai, lalu masuk ke kamar mandi.
Air hangat mengalir membasahi rambut putihnya yang mulai panjang, menelusuri kulitnya pelan. Tapi aliran air itu tidak cukup untuk menghapus satu hal yang kembali muncul di pikirannya:
Nama sekolah lawan pada lomba antar sekolah nanti.
Sekolah yang sama.
Sekolah tempat ia dulu bersekolah bersama Aelria dan Mina.
Sekolah tempat ia pernah tertawa, memegang tiket bioskop, menggenggam tangan seseorang yang ia cintai.
Sekolah yang juga menjadi panggung runtuhnya dunia miliknya sendiri.
Rei bersandar pada dinding kamar mandi, menutup mata erat.
Rei (dalam hati) : Kenapa harus sekolah itu…?
Bayangan Mina muncul. Senyumnya, tawanya, genggaman tangan yang hangat… dan kata-kata kejam yang menghempaskan semua itu ke jurang.
"Manusia tanpa kekuatan… tidak pantas berada di sisiku."
Nama Hayato pun ikut muncul—beastman kuat yang menjadi bayangan di belakang semua kejadian itu.
Dan di antara mereka… Aelria kecil, yang hanya bisa menjadi saksi di saat itu.
Rei : "…Hhh."
Entah berapa lama ia bersandar di sana, membiarkan air terus mengalir. Suhu yang tadinya hangat sudah berubah suam-suam kuku sebelum ia akhirnya sadar.
Akhirnya, ia mematikan shower, mengeringkan tubuh, lalu keluar dengan pakaian santai. Rambut putihnya masih sedikit basah, terurai menutupi sebagian wajah dan mata heterokromnya.
Ia duduk di pinggir kasur, menatap lantai.
Rei (dalam hati) : …Apa aku siap kalau harus melihat simbol sekolah itu lagi? Melihat murid-muridnya… mungkin mendengar nama mereka…
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Tring—
Sebuah pesan masuk.
Airi : "Rei, kalau ada yang mengganjal, ceritakan saja ya. Ada aku di sini, dan onee-chan di dunia sana."
"Jadi... jangan berpikir kamu sendirian lagi, oke?"
Rei menatap layar ponselnya beberapa detik.
Lalu, tanpa sadar, ujung bibirnya terangkat sedikit.
Rei (dalam hati) : …Dia benar-benar memperhatikan ekspresiku tadi, ya.
Saat di kelas, ketika nama sekolah lawan muncul di papan pengumuman, sekejap saja ekspresi Rei pasti berubah—meski setelah itu ia memaksa wajahnya kembali datar. Namun Airi… rupanya menangkapnya.
Rei membalas singkat.
Rei : "Terima kasih. Serius.
Kalau aku mulai aneh, tolong marahi aku, ya."
Balasan datang cepat.
Airi :"Hehe, tentu. Aku dan onee-chan tidak akan membiarkan kamu jatuh sendirian lagi 💢✨"
Rei terkekeh pelan.
Rei : "…Sulit ya, jadi lemah kalau sudah punya orang-orang seperti kalian."
Ia meletakkan ponsel di meja samping, lalu mengambil makanan yang tadi ia beli dalam perjalanan. Ia makan tanpa terburu-buru, membiarkan kehangatan sederhana dari makanan murah itu menenangkan perut dan pikirannya.
Setelah membereskan meja, Rei berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar. Di benaknya, dua sosok elf muncul:
Aelria—dengan senyum hangat, genggaman tangan erat, dan pelukan yang seolah berkata, "Jangan tinggalkan aku lagi."
Airi—dengan pipi merah mudah, mata lembut, dan kata-kata yang selalu berusaha mendorongnya maju.
Rei (dalam hati) : …Kalau dulu aku melompat dari jembatan itu… aku tidak akan pernah bertemu mereka.
Tidak akan pernah tahu kalau rasa sakit bisa pelan-pelan digantikan oleh sesuatu yang lain.
Ia menghela napas, kali ini lebih ringan.
Rei : "Baiklah… kalau lomba itu mempertemukanku dengan masa lalu… berarti aku harus tunjukkan juga, seberapa jauh aku berjalan dari titik itu."
Dengan pikiran yang sedikit lebih tenang, ia memejamkan mata.
Di luar sana, malam bergerak pelan.
Di kamar 202, seorang manusia heterokrom terlelap—kini ditemani doa hangat dari dua elf di dunia berbeda, bukan lagi kesunyian.
Di kamar 101, seorang demon sombong terlelap—dengan bayangan senyum manusia yang perlahan meretakkan dinding dingin hatinya, sesuatu yang dulu ia benci untuk rasakan.
