Siang itu taman dekat sekolah terasa tenang. Hembusan angin membawa bau dedaunan dan tanah yang hangat, ditemani suara burung yang sesekali berkicau di dahan.
Ravien duduk di salah satu bangku taman, menyandarkan punggung dengan santai seperti biasa seolah dunia tidak ada urusan dengan dirinya. Hina berhenti di depan bangku itu dan membungkuk sedikit.
Hina : "Kalau begitu… aku kembali ke kelas dulu, ya. Terima kasih sudah—"
Ia membalikkan badan, bersiap melangkah pergi.
Suara berat tapi tenang memotong langkahnya.
Ravien melirik Hina yang akan beranjak pergi.
Ravien : "Hei. Duduk."
Hina berhenti, menoleh pelan.
Hina : "…Hah?"
Ravien menatapnya sekilas, lalu kembali menatap ke depan.
Ravien : "Temani aku sebentar. Ada hal yang sudah lama ingin kutanyakan."
Hina terdiam sesaat, sedikit bingung. Namun akhirnya ia melangkah pelan dan duduk di sebelah Ravien, menjaga jarak satu lengan, kedua tangannya terlipat di pangkuan sembari menundukkan wajahnya. Hening menyelimuti mereka beberapa detik, hanya angin yang lewat di antara pepohonan.
Ravien menutup mata sejenak, lalu membuka mulut tanpa menoleh.
Ravien : "Senyumanmu."
Hina : "…Eh?"
Ravien : "Senyumanmu selama ini. Itu penuh dengan rasa… sedih dan kebohongan. Itu sangat menyebalkan."
Hina membeku. Jantungnya berdebar, napasnya sedikit tertahan.
Ravien : "Aku benci orang yang ada di dekatku tapi pura-pura baik-baik saja. Itu mengingatkanku pada adikku dulu."
Ravien terdiam sejenak. Ada bayangan lain yang melintas di benaknya—seseorang yang juga tersenyum dengan cara yang sama.
Ravien : "Dia menutupi semua kesedihan dengan senyum bodoh… sampai semuanya terlambat."
Ujung jari Hina mencengkeram rok seragamnya.
Hina : "Aku… aku tidak…"
Kata-kata itu terhenti di tenggorokan.
Hina (dalam hati): Bagaimana mungkin… Demon yang baru beberapa minggu jadi temanku bisa melihat apa yang bahkan teman-teman lamaku tidak pernah sadari…?
Ravien : "Ceritakan, aku tidak suka berteman dengan orang yang penuh kebohongan hanya demi egonya."
Beberapa detik hening berlalu. Lalu perlahan, seperti bendungan yang retak, kata-kata itu keluar.
Hina menarik napas dalam-dalam.
Hina : "…Aku hidup sendiri sejak kelas dua SMP. Orang tuaku berpisah… dan tidak ada yang mau mengurusku. Di sekolah… aku dibully. Diledek 'anak buangan', 'tidak diinginkan'… dan tidak ada yang berdiri di sisiku."
Matanya menunduk, menatap tanah.
Hina : "Setiap hari pulang ke rumah kosong… tidak ada yang menyambut. Tidak ada yang bertanya, 'Hari ini bagaimana?'"
Ia tersenyum—senyum tipis yang rapuh.
Hina : "Setelah mendapatkan kebangkitan dan masuk SMA ini, aku janji pada diriku sendiri… 'Aku tidak boleh sendirian lagi'. Jadi… aku pakai topeng. Aku jadi ceria, banyak tertawa, ramah dengan semua orang. Kalau sakit, aku simpan sendiri. Kalau takut… aku pura-pura berani."
Angin berhembus, meniup rambutnya pelan.
Hina : "Lalu… aku bertemu Riku. Dia… berbeda. Dia baik, ceroboh, kadang bodoh… tapi hangat. Untuk pertama kalinya, aku suka seseorang."
Hina tersenyum getir.
Hina : "Tapi orang yang dia sukai… adalah Rika. Aku tahu itu sejak lama. Cara dia melihat Rika… cara dia selalu memperhatikan Rika diam-diam… aku hanya pura-pura tidak tahu."
Kedua tangannya mengepal pelan.
Hina : "Saat mereka akhirnya bersama… sakit. Sangat sakit. Tapi… aku tidak ingin dihantui masa lalu lagi. Aku takut… kalau aku jujur dan cemburu, pertemanan kami hancur… dan aku kembali sendirian."
Ia menunduk semakin dalam.
Hina : "Jadi aku memilih tertawa… menertawakan candaan mereka… menghibur mereka… walau setiap malam… dada ini perih. Aku tahu aku lemah. Tidak sekuat Rika. Tidak secerah dan seberani Airi."
Ia menghembuskan napas pelan.
Hina : "Itu… semua alasannya. Itu kenapa senyumku kelihatan… aneh, dan mungkin terlihat menyembunyikan kebohongan."
Hening.
Ravien tidak langsung menjawab. Ia menatap langit, awan yang perlahan bergerak, lalu menghela napas pendek.
Ravien : "Aku mengerti alasanmu."
Hina menoleh sedikit, matanya ragu.
Ravien : "Tapi… aku tidak setuju dengan caramu."
Hina : "…Eh?"
Ravien : "Buat apa berpura-pura kuat kalau kenyataannya lemah? Kalau lemah, akui saja. Menangis tidak akan membunuhmu. Tapi hidup dengan kebohongan… itu yang perlahan membunuh."
Ravien (dalam hati): ...Karena aku paling benci kebohongan.
Nada suaranya datar, tapi bukan penghinaan—lebih seperti kenyataan yang diucapkan tanpa filter.
Ravien : "Aku paling benci orang yang menutupi luka dengan senyuman. Adikku dulu seperti itu. Dia pikir kalau dia tersenyum, kami tidak akan khawatir. Nyatanya, justru senyum itu yang membuat kami terlambat menyadari semuanya."
Hina terbelalak pelan.
Ravien : "Kalau kau menganggap kami temanmu… setidaknya, jujurlah pada dirimu sendiri. Jangan terus-menerus menginjak perasaanmu sendiri, hanya demi mempertahankan sesuatu yang mungkin… sudah menyakitimu."
Hina terdiam.
Hina (dalam hati): Dia bilang… 'kalau kau menganggap kami temanmu'…
Hina terdiam. Dadanya terasa hangat—dan entah sejak kapan, lebih ringan.
Sebuah kehangatan kecil muncul di tengah dadanya, bercampur perih.
Hina mengangkat wajah, tersenyum—kali ini sedikit lebih jujur, sedikit lebih… manusia.
Hina : "…Terima kasih, Ravien."
Ravien hanya mengangkat alis.
Ravien : "Untuk apa?"
Hina : "Karena… memperhatikan aku. Karena tidak berpura-pura. Karena… mau mendengar ceritaku."
Ravien mengalihkan pandangan, seolah risih.
Ravien : "Aku hanya tidak suka orang yang dekat denganku terlihat seperti bom waktu yang siap meledak. Itu sangat menyebalkan bagiku."
Tapi di ujung bibirnya, ada sedikit lengkungan yang nyaris tidak terlihat.
Setelah beberapa detik, Ravien berdiri sambil meregangkan badan.
Ravien : "Sudah cukup. Kalau berlama-lama di sini, nanti guru berisik."
Ia menoleh ke Hina.
Ravien : "Ayo. Kembali ke kelas."
Hina mengusap ujung matanya sekilas—entah ada air mata atau hanya refleks—lalu berdiri dan mengangguk kecil.
Hina : "Iya."
Mereka berjalan berdampingan kembali ke sekolah. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, tetapi jarak di antara mereka… sudah berbeda dari sebelumnya.
KEMBALI KE KELAS
Sesampainya di kelas, bel masuk hampir berbunyi. Murid-murid kembali ke tempat duduk masing-masing.
Rei sempat menoleh, melihat Hina dan Ravien masuk hampir bersamaan. Hina duduk dengan wajah sedikit lebih tenang dari sebelumnya, matanya fokus ke buku pelajaran. Ravien… seperti biasa, menjatuhkan tubuh di kursinya dan mengambil posisi untuk tidur.
Guru masuk, pelajaran dimulai.
Hina kali ini mencatat materi dengan tekun, tanpa melamun sejauh biasanya. Kata-kata Ravien terus terngiang di kepalanya.
"Kalau lemah, ya akui lemah."
"Jangan hidup dengan kebohongan."
"Kalau kau menganggap kami temanmu…"
Lalu ia melihat Demon di sampingnya.
Hina (dalam hati): Terima kasih Ravien-kun.
Sementara di sampingnya, napas Ravien pelan dan teratur, seolah dunia pelajaran tidak menyentuhnya sama sekali—tapi Hina tahu, di balik mata tertutup itu, ada seseorang yang jauh lebih peka daripada orang-orang di sekitarnya selama ini.
Beberapa jam kemudian bel pulang pun akhirnya berbunyi.
Murid-murid berkemas, berisik membicarakan lomba antar sekolah dan rumor tentang Shirokaze. Rei dan teman-teman berkumpul seperti biasa. Hina mengemasi bukunya dan melirik sebentar ke arah Ravien yang berdiri tanpa banyak bicara, lalu berjalan keluar.
Untuk pertama kalinya sejak SMP…
Hina merasa… mungkin ia tidak lagi sepenuhnya sendirian.
Dan untuk pertama kalinya juga—
ia mempertimbangkan hidup tanpa topeng, meski itu berarti menunjukkan luka yang selama ini ia sembunyikan.
