Beberapa hari berlalu sejak ujian dadakan itu.
Rutinitas di kelas Rei kembali normal—atau setidaknya, normal versi mereka:
Rei serius belajar.
Airi menempel di sebelahnya, sesekali menggoda.
Riku dan Rika sibuk jadi pasangan baru yang saling menggoda satu sama lain dengan cara manis.
Hina tersenyum hangat, mengamati semuanya dari kursinya.
Dan Ravien… tetap jadi demon yang tidur di tengah pelajaran.
Bedanya, sekarang ia tidak lagi benar-benar sendirian.
Setiap istirahat, Rei dan yang lain selalu membawa makanan mereka ke meja Ravien di kantin.
Rei : "Kalau kau tidur terus, otot lehermu bakal sakit, tahu."
Ravien : "Biarkan saja. Itu urusanku."
Riku : "Tapi jangan sampai sakit pas lagi sparing. Nanti jatuhnya bukan keren, tapi konyol."
Ravien hanya mendecak, tapi tidak mengusir mereka.
Pelan-pelan, ia mulai mengerti satu hal yang kakaknya pernah katakan:
Ras yang kalian sebut lemah itu… punya sesuatu yang ras kita tidak punya.
Ia belum mau mengakuinya keras-keras, tentu saja. Tapi kehangatan yang selalu muncul di meja makan itu—dengan tawa, keluh kesah, dan suara rebutan makanan—sulit untuk diabaikan.
Pengumuman yang Mengguncang Kelas
Suatu siang, saat pelajaran teori sihir baru berjalan setengah, suara dari pengeras suara sekolah terdengar.
"Untuk seluruh siswa, harap memperhatikan. Pihak sekolah akan mengadakan Lomba Antar Sekolah tahun ini…"
Semua kepala di kelas otomatis terangkat dari meja.
Pengumuman itu berlanjut—mengenai:
Kategori akademik dan non-akademik,
Bisa diikuti perorangan maupun tim,
Dan yang paling membuat kelas bergemuruh:
Hadiah: liburan 4 hari 3 malam di resort pantai, hotel lengkap, semua biaya ditanggung.
Begitu pengumuman selesai, kelas langsung pecah.
Murid 1 : "Serius? Pantai? Gratis?!"
Murid 2 : "Kalau menang, ya. Lawannya antar sekolah, tahu."
Murid 3 : "Tapi lumayan banget… hotel gratis…"
Guru mencoba menenangkan, tapi percuma. Sampai akhirnya ia berdehem cukup keras.
Guru : "Baik, baik. Diskusikan nanti waktu istirahat. Sekarang fokus dulu ke pelajaran."
Pelajaran kembali berjalan… setengah hati. Dari tadi, yang lebih kuat dari sihir apapun di kelas adalah bayangan pantai, ombak, dan kursi santai.
Saat bel istirahat bunyi, informasi tambahan mulai menyebar dari mulut ke mulut.
Di tengah suasana ramai itu, Ravien mengangkat kepala dari meja, wajahnya terlihat jengkel.
Ravien :"…Berisik. Terlalu berisik. Kebisingan ras lemah ini… mengganggu tidurku."
Ia berdiri sambil menguap malas.
Ravien : "Apa ada tempat sunyi di sekolah ini atau tidak?"
Rei menoleh.
Rei : "Tempat sunyi?"
Ravien : "Aku mau menyendiri. Kepalaku pusing mendengar kalian ribut soal pantai."
Airi menaruh sumpit, berpikir sebentar.
Airi : "Kalau tempat yang lumayan tenang… ada taman kecil di sebelah selatan gedung utama. Biasanya tidak terlalu ramai."
Ravien mengerjap sekali.
Ravien : "Taman?"
Ia melipat tangan.
Ravien : "Aku tidak tahu letaknya. Dunia manusia ini masih membingungkan."
Airi melirik ke arah Hina.
Airi : "Kalau begitu… Hina, antar dia, ya."
Sendok Hina nyaris jatuh.
Hina : "E-eh?! Aku?"
Ia refleks melihat Ravien yang kini memandangnya.
Ravien : "Kau tahu letaknya?"
Hina mengangguk pelan.
Hina : "Ya… aku sering lewat sana."
Ravien menghela napas, seolah memilih opsi yang paling tidak menyebalkan.
Ravien : "Kalau begitu, antar aku. Sekali ini saja."
Hina berdiri dengan sedikit gugup.
Hina : "Baik… ayo."
Riku memandang punggung mereka berdua sebentar.
Riku : "Apa nggak apa-apa, ya, Hina sama Ravien berdua?"
Rika mengangkat bahu.
Rika : "Selama Ravien tidak mencari masalah, dan Hina tidak tampak terpaksa, biarkan saja. Dari yang kulihat… Hina peduli, dan Ravien tidak menolak."
Airi tersenyum kecil.
Airi : "Aku… cuma berharap Hina juga punya tempat untuk tertawa tanpa pura-pura kuat."
Rei menatap ke arah pintu kelas yang baru saja tertutup.
Rei : "Perlahan saja. Kita ada di sekelilingnya, sekarang."
Hina dan Ravien baru saja keluar kelas, pintu menutup pelan di belakang mereka.
Beberapa detik setelah itu, suasana kelas kembali berisik—pembicaraan soal lomba, pantai, dan "liburan gratis" menguasai udara.
Rika bersedekap sambil menatap papan tulis yang kosong.
Rika : "Kalau hadiahnya liburan ke pantai, aku nggak mau kalah. Aku sudah kebayang makan buffet sama tidur di kamar hotel yang kasurnya empuk…"
Riku menatap pacarnya dengan senyum geli, lalu mengelus rambut beastkin Rika pelan.
Riku : "Kalau sampai kita nggak menang pun, nggak usah sedih. Aku bakal ajak kalian liburan juga. Mau pantai, gunung, atau luar negeri, bilang saja. Selama pacarku yang minta, aku usahakan."
Rika langsung memerah.
Rika : "Ja-jangan ngomong gitu di depan orang banyak…"
Beberapa teman sekelas yang mendengar ikut bersiul pelan.
Murid 1 : "Ih, manis banget…"
Murid 2 : "Standar pacar langsung naik ini mah…"
Airi tertawa pelan melihat mereka, lalu menoleh ke Rei.
Airi : "Kalau Rei juga janji ajak aku liburan, aku bakal belajar akademik dua kali lipat semangat."
Rei menghela napas kecil, senyum tipis.
Rei : "Aku sudah sering ngajak kamu ke apartemen untuk belajar bareng. Itu belum cukup melelahkan, ya?"
Airi : "Beda, Rei. Apartemen itu 'belajar sampai pusing'. Pantai itu 'rebahan sampai lupa hari'."
Riku terkekeh.
Riku : "Intinya, kalau kita ikut lomba dan menang, liburan gratis. Kalau kalah, liburan pakai dompetku. Lumayan, kan?"
Rika : "Iya juga… menang syukur, kalah pun tetap liburan…"
Suasana kelas terasa hangat. Namun di sisi lain, beberapa murid tampak cemas setelah melihat nama lawan.
Murid 3 :"Mereka bilang lawannya sekolah kuat dari distrik lain, kan?"
Murid 4 :"Iya. Katanya sekolah elite yang tiap tahun selalu masuk jajaran atas turnamen antar sekolah. Kalau begitu, berat…"
Riku mengangkat alis.
Riku : "Belum lihat sistem lomba aja sudah ciut. Kalau kayak gini, gimana mau maju?"
Rei diam, tatapannya menyisir sekeliling kelas—wajah teman-teman, kursi Hina yang kosong, tempat Ravien tadi bersandar sebelum pergi.
Rei : "Yang penting… kita lihat dulu informasinya lengkap. Cabangnya apa saja, sistem seleksinya bagaimana. Baru kita putuskan mau ambil bagian atau tidak."
Airi mengangguk.
Airi : "Setuju. Papan pengumuman pasti sudah ditempel, kan?"
Rei berdiri dari tempat duduknya.
Rei : "Ayo, kita lihat dulu ke bawah. Biar nggak cuma dengar rumor."
Riku mengacungkan jempol.
Riku : "Gas."
Rika merapikan tasnya.
Rika : "Kalau ada cabang fisik, aku mau daftar."
Airi ikut berdiri, merapikan rambutnya.
Airi : "Aku ikut Rei di akademik. Kalau nggak ada cabang 'manja ke Rei', ya sudah, aku jadi support saja."
Rei : "Cabang 'manja ke Rei' itu bukan lomba, itu rutinitas harian, Airi."
Airi tertawa kecil.
Mereka keluar kelas bersama, meninggalkan kursi hina yang kosong dan meja tempat Ravien tadi bersandar.
DI DEPAN PAPAN PENGUMUMAN
Koridor lantai satu penuh sesak. Siswa-siswi dari berbagai kelas berkerumun di depan papan pengumuman utama.
Riku mengerutkan kening.
Riku : "Wah, ramai banget. Kita bisa sampai depan nggak ini?"
Rika melipat tangan.
Rika : "Serahkan padaku."
Ia maju duluan, telinga beastkin-nya sedikit bergerak, auranya tegas. Dengan sopan tapi mantap, ia mendorong pelan kerumunan.
Rika : "Permisi. Mau lihat juga. Nanti gantian, kok."
Jalur kecil terbuka. Rei, Airi, dan Riku mengikutinya dari belakang hingga mereka berdiri di depan lembar pengumuman.
Rei membaca cepat.
Di sana tertulis:
LOMBA PERSAHABATAN ANTAR SEKOLAH
Cabang Akademik:
– Tes Tertulis Antar Sekolah
– Debat Strategi & Kebijakan Antar Ras
– Analisis Kasus Dimensi
Cabang Non-Akademik:
– Turnamen Sihir & Penguatan Fisik (Individu)
– Pertarungan Tim Simulasi (5 vs 5)
– Estafet Kerjasama Multiras
Sekolah Tuan Rumah: Akademi Sihir & Integrasi Ras Aelcrest
Sekolah Tamu:
– SMA Integrasi Gerbang Shirokaze
– dan beberapa sekolah lainnya.
Mata Rei berhenti pada satu nama.
SMA Integrasi Gerbang Shirokaze.
Dunia di sekelilingnya seperti mengecil sesaat.
Suara-suara di koridor meredup di telinga, berganti gema kenangan:
– Lapangan latihan di Shirokaze dengan langit jingga.
– Koridor panjang dengan jendela besar.
– Mina berdiri di depan, dengan mata dingin, mengucapkan kalimat yang menghancurkan.
– Bayangan Hayato di belakangnya, berdiri sebagai pemenang yang sudah ditentukan sejak awal.
Rei menarik napas pelan—tapi tangannya tanpa sadar menggenggam jari-jarinya hingga memutih sebentar. Ia memaksa senyum tipis yang terlalu rapi.
Airi berdiri di sebelahnya, membaca pengumuman yang sama.
Airi : "Shirokaze… jadi itu lawan utama kita, ya. Namanya sering terdengar di berita sih…"
Riku mencondongkan tubuh untuk membaca.
Riku : "Oh, sekolah itu. Aku pernah dengar. Katanya standar kekuatan muridnya tinggi semua. Bahkan murid 'biasa' mereka sudah setara prajurit."
Rika mengangguk pelan.
Rika : "Ayah pernah cerita. Sekolah itu kerja sama langsung dengan beberapa perusahaan besar dan keluarga bangsawan. Murid yang lulus dari sana biasanya langsung 'laku'."
Airi melirik ke Rei sekilas.
Airi : "Rei… nggak apa-apa?"
Rei mengangkat wajah, membalas dengan senyum tipis yang terlalu rapi.
Rei : "Aku hanya… kaget saja mendengar namanya. Shirokaze memang bukan sekolah sembarangan."
Jawaban yang aman. Separuh benar, tapi menyembunyikan sisanya.
Riku mengusap dagunya.
Riku : "Kalau gitu, makin menarik, kan? Kalau cuma lawan sekolah lemah, tidak seru. Kalau bisa ngejegal sedikit saja murid Shirokaze, itu sudah prestasi."
Rika mengangkat tangan setengah.
Rika : "Aku mau ikut cabang fisik. Kalau ketemu murid sombong, aku mau lihat siapa yang jatuh duluan di arena."
Airi tertawa.
Airi : "Selama kamu nggak sampai mukul wasit, itu masih aman."
Rei kembali menatap pengumuman, kali ini ke bagian cabang akademik.
Rei : "Di akademik, peluang kita lumayan. Sekolah kita mungkin kalah di jumlah murid kuat, tapi teori dan analisis lintas dunia… kita tidak sejauh itu tertinggal."
Airi menatap sisi wajah Rei diam-diam.
Airi (dalam hati): Rei selalu seperti ini… kalau pun ada sesuatu yang mengganggunya, dia akan mengubahnya jadi pembahasan taktis. Bukan berarti dia baik-baik saja… hanya… menundanya.
Airi menggeser sedikit lebih dekat, ujung jarinya menyentuh ringan lengan Rei.
Airi : "Kalau kamu ikut cabang akademik… aku akan ikut juga. Kita persiapkan bareng, seperti biasa."
Rei menoleh sebentar, tatapannya sedikit melunak.
Rei : "Kalau kamu ikut, aku jadi lebih tenang. Kamu biasanya melihat detail-detail yang aku lewatkan."
Riku menepuk bahunya sendiri, pura-pura tersinggung.
Riku : "Hei, aku juga bisa ikut akademik, tahu. Walaupun nilai teoriku nggak setinggi kalian, aku bisa jadi tukang bercanda sebelum ujian biar kalian nggak stres."
Rika tertawa kecil.
Rika : "Ya sudah, kamu ikut cabang fisik saja. Aku butuh partner yang bisa kuajak latihan tiap hari."
Riku : "Ah, ini baru jujur."
Kerumunan di depan papan pengumuman mulai berganti-ganti. Beberapa murid yang baru datang bereaksi, ada yang bersorak, ada yang mengeluh.
Murid 5 : "Wah, Shirokaze… berat…"
Murid 6 : "Tapi hadiahnya pantai, lho. Sayang kalau nggak dicoba."
Murid 7 : "Dengar-dengar, sekolah kita cuma boleh kirim satu tim inti per cabang. Kayaknya bakal ada seleksi internal."
Riku melirik Rei dan Airi.
Riku : "Kalau nanti ada seleksi, kita daftar nggak?"
Airi menatap Rei, seperti menyerahkan jawaban padanya.
Rei terdiam sesaat, lalu menarik napas pelan.
Rei : "…Aku akan daftar akademik."
Riku : "Oh?"
Rei menatap kembali ke tulisan Shirokaze di kertas itu.
Rei (dalam hati): Aku sudah memilih untuk hidup sebagai 'Rei' di sini.
Kalau aku terus berlari setiap nama itu muncul… aku tidak akan pernah keluar dari masa lalu.
Rei : "Kalau suatu hari kita berdiri di arena yang sama dengan murid Shirokaze… aku ingin berdiri bukan sebagai orang yang kabur… tapi sebagai orang yang sudah menentukan jalannya sendiri."
Airi tersenyum kecil—senyum yang campuran bangga dan lega.
Airi : "Kalau begitu, aku juga daftar. Onee-chan pasti akan cemburu kalau tahu aku bisa lihat Rei bertanding duluan."
Rika mengangkat tangan tinggi.
Rika : "Aku daftar cabang fisik! Entah turnamen individu atau tim."
Riku tersenyum.
Riku : "Aku ikut cabang tim saja. Kalau di arena ada gadis manis yang jatuh, aku bisa berpura-pura menolong—"
Rika langsung menarik telinga Riku pelan.
Rika : "Coba ulangi aku nggak dengar."
Riku : "A-aku ikut supaya bisa melindungi pacarku di arena! Itu maksudku!"
Airi tertawa lepas. Rei menghela napas, tapi senyumnya lebih tulus sekarang.
Bel hampir berbunyi tanda akhir istirahat.
Mereka berbalik meninggalkan papan pengumuman. Di tengah langkah itu, Riku sempat menoleh ke arah tangga yang menuju taman.
Riku : "Menurut kalian… Hina nanti mau ikut juga nggak, ya? Minimal jadi tim support?"
Rika mengangkat bahu.
Rika : "Dia bakal bilang, 'yang penting kalian pulang dengan selamat'. Hina tipe yang lebih memilih menyemangati dari pinggir."
Airi menatap kosong sebentar ke arah luar jendela, ke arah taman yang tak terlihat dari sini.
Airi (dalam hati): Hina…Semoga di taman sana, kamu juga menemukan alasan untuk tersenyum lagi.
Entah itu lewat Ravien… atau siapapun yang akhirnya berani melihatmu sebagai pusat dunia mereka sendiri.
Dua kursi kosong itu menandai hal yang sama—
bukan ketidakhadiran,
melainkan awal dari pilihan-pilihan yang tidak bisa ditarik kembali.
