Cherreads

Chapter 64 - EPILOGE ISTIRAHAT – MEJA MAKAN YANG PENUH & SATU DEMON PENYENDIRI

Kantin siang itu penuh suara—piring beradu, tawa pelan, dan obrolan tentang "ujian dadakan + demon jenius".

Di salah satu meja, Rei, Airi, Riku, Rika, dan Hina duduk melingkar, nampan makan siang sudah tertata rapi.

Riku baru saja meneguk minuman ketika melihat ekspresi pacarnya.

Riku : "Kok wajahmu kayak habis gagal ujian nasional begitu, Rika?"

Rika mengaduk supnya dengan lesu.

Rika : "…Soalnya tadi sulit. Apalagi nomor empat dan tujuh. Aku… nggak yakin sama jawabanku."

Riku tersenyum lembut, menyandarkan siku di meja, mencondongkan badan.

Riku : "Hei. Kamu sudah belajar keras. Kalau pun salah, kita belajar lagi sama-sama. Lagian…"

Ia menatap Rika penuh sayang.

Riku : "Aku lebih takut lihat kamu murung daripada lihat nilai jelek."

Rika berhenti mengaduk. Ujung telinganya memerah.

Rika : "…Dasar."

Ia cemberut kecil, tapi sudut bibirnya ikut terangkat.

Rika : "Kalau nilai aku jelek, kamu yang harus traktir makan sebulan."

Riku tertawa kecil.

Riku : "Deal. Tapi kalau nilai kamu bagus… kamu harus bilang di depan semua orang bahwa kamu gadis beastkin tercantik di kelas."

Rika : "Ma-mana mungkin aku bilang begitu!"

Airi yang duduk di sebelah Rei menahan tawa.

Airi : "Kalian berdua… tetap saja seperti biasa ya."

Rei hanya tersenyum, menikmati dinamika mereka.

Sementara itu, Hina makan pelan, matanya tampak kosong sesaat. Sendoknya berhenti di Udara, tenggelam lam pikiran nya.

Ia melirik sekeliling kantin seperti mencari seseorang—dan pandangannya berhenti pada satu sosok.

Di sudut kantin, sedikit menjauh dari keramaian, Ravien duduk sendiri.

Nampan makannya sederhana—nasibox dan minuman kaleng. Ia makan dengan tenang, seolah tidak peduli dunia. Tidak ada yang berani duduk di meja yang sama. Beberapa murid bahkan memilih mencari tempat lain saat melihatnya.

Tatapan tajam, aura malas, dan status "demon sombong tapi jenius" membuatnya seperti dikelilingi garis tak terlihat.

Hina menggenggam sendoknya erat.

Hina (dalam hati): …Dia sama seperti aku dulu.

Gadis itu mengingat masa SMP—duduk sendiri, jadi bahan bisik-bisik, jadi sasaran bully, tidak ada yang mau duduk satu meja.

Seseorang di sampingnya bergerak.

Airi mengikuti arah pandangan Hina, lalu melihat Ravien yang sendirian.

Airi : "Ah… Ravien-kun. Dia makan sendiri, ya…"

Rei menoleh.

Rei : "Ravien?"

Airi mengangguk.

Airi : "Di sudut itu. Sendirian."

Rei melihat sosok demon itu. Untuk sekejap, bayangan Aelria kecil muncul di kepalanya—elf yang dulu tidak didekati siapa pun, hanya karena beda dan datang dari dunia lain.

Rei menghela napas pelan.

Rei : "…Aku tidak suka lihat orang makan sendirian seperti itu."

Rika mengangkat alis.

Rika : "Memangnya kenapa? Dia kan memang begitu orangnya."

Rei menatap mereka satu per satu—Airi, Riku, Rika, Hina.

Rei : "Aku dulu punya pengalaman… dengan seseorang yang juga dihindari hanya karena dia berbeda. Aku tidak mau mengulang hal yang sama."

Airi tersenyum lembut. Ia tahu siapa yang dimaksud—Aelria Onee-chan.

Hina menunduk. Hatinya terasa hangat dan perih bersamaan.

Hina (dalam hati): …Dia bahkan masih kepikiran orang lain di dunia sana…

Rika menyilangkan tangan di dada.

Rika : "Tapi Ravien itu sombong, Rei. Dari awal datang ke kelas cuma tidur, nggak sopan—"

Hina spontan menatap Rika, matanya sedikit memohon.

Hina : "Rika…"

Rika terdiam sesaat. Ia lihat mata Hina—tidak marah, tidak memaksa, hanya… sungguh ingin.

Riku menghela napas, lalu menjentik pelan pipi Rika.

Riku : "Jangan terlalu cepat membenci orang yang belum benar-benar kamu kenal. Dia memang kasar, tapi sejauh ini nggak bikin masalah sama sekali."

Rika : "…"

Riku menatap pacarnya lembut.

Riku : "Lagipula… yang minta ini Hina, kan?"

Rika melirik Hina yang tersenyum kecil, agak canggung.

Hina : "Maaf… tapi aku… nggak mau ada orang yang sendirian seperti aku dahulu."

Ucapan itu membuat Rika mengembuskan napas panjang.

Rika : "Hhh… iya, iya. Aku ikut. Tapi kalau dia ngomong aneh, aku tonjok."

Airi terkikik.

Airi : "Kalau bisa jangan langsung ditonjok, ya."

Rei berdiri sambil membawa nampan makan siangnya.

Rei : "Kalau begitu, kita pindah ke meja Ravien."

Tanpa menunggu persetujuan si demon, mereka berenam berjalan ke arah sudut kantin.

Ravien sedang menyuap makanan ketika bayangan beberapa orang menutupi meja kecilnya.

Ia mendongak.

Di hadapannya: Rei dengan nampan, Airi di sebelahnya, lalu Hina, Riku, dan Rika—semuanya berdiri mengelilingi meja.

Ravien mengerutkan kening.

Ravien : "Pergilah, Kalian salah meja"

Nada sinis, tajam, tapi lelah. Seperti seseorang yang sudah siap mengusir siapa pun yang mendekat.

Rei tidak tersinggung. Ia langsung duduk di kursi kosong di samping Ravien, tanpa ragu.

Rei : "Ada. Tapi kami memilih duduk di sini."

Rei : "Kalau kamu mau mengusir, usir. Tapi aku tetap duduk."

Airi duduk di sebelah Rei. Di seberang, Riku dan Rika duduk berdampingan, dan di depan Ravien—tepat berhadapan—Hina duduk, memeluk nampannya dengan kedua tangan.

Ravien mengklik lidahnya pelan.

Ravien : "Kalian ini… begitu berani mendekati ras demon, atau begitu bodoh mengganggu waktu makanku?"

Rei tersenyum tipis.

Rei : "Mungkin keduanya. Tapi alasan utamanya: kami ingin berteman."

Ravien mengangkat satu alis, jelas tidak percaya.

Ravien : "Berteman? Dengan demon yang hanya tidur di kelas dan tidak peduli pada kalian?"

Rei menatap lurus ke depan, suaranya tenang.

Rei : "Karena aku mengenal seseorang yang dulu juga dihindari hanya karena berbeda. Dan… aku tidak mau mengulangi kesalahan dengan membiarkan hal yang sama terjadi."

Aelria kecil seolah melintas di belakang matanya—duduk sendiri di pojok kelas, buku di pangkuan, tetapi tetap tersenyum waktu Rei pertama kali menyapanya.

Ravien memalingkan wajah, seakan tidak tertarik mendengar itu.

Namun di kepalanya, suara Lirya semalam terulang:

"Cari teman. Kalau bisa, cari pacar. Percuma punya wajah tampan dan kuat tapi hidup sendirian."

Ravien (dalam hati): Menjengkelkan. Kalian semua menjengkelkan…

Airi mencondongkan badan, tersenyum manis.

Airi : "Kalau begitu, biar aku dulu yang perkenalan. Airi. Elf. Teman sekelasmu juga. Dan…"

Ia menatap Rei dengan senyum kecil.

Airi : "Pacarnya Rei… di masa depan."

Rei : "E-eh? Airi…"

Rika menghela napas berat.

Rika : "Rika. Beastkin. Dan pacar manusia bodoh di sebelahku ini."

Riku melambai kecil.

Riku : "Riku. Manusia. Penguat fisik. Calon pria paling beruntung di dunia karena dapat Rika."

Rika : "Diam."

Membuat telinga Rika memerah.

Hina memegang ujung roknya, sedikit gugup.

Hina : "Namaku Hina. Manusia. Ah… mungkin kamu sudah sadar… aku yang selalu menaruh onigiri dan minuman di mejamu…"

Ravien menatap Hina sebentar—tatapan yang sulit terbaca.

Ravien : "…Aku sudah tahu."

Ia kembali menatap makanannya.

Ravien : "Rasanya lumayan. Jadi jangan berhenti."

Cara bicaranya masih sombong, tapi…

Hina tersenyum kecil.

Hina : "Baik."

Airi menatap Ravien, lalu mengarahkan dagu ke Rei.

Airi : "Dan ini Rei. Manusia. Ahli akademik, tapi tidak punya bakat sihir. Jadi tolong jangan dipukul kalau dia terlalu baik, ya."

Rei : "Kenapa kau menjelaskanku seperti itu…"

Ravien menghela napas, memandang mereka satu per satu—ras campuran: manusia, elf, beastkin.

Sejujurnya, ia sangat terganggu dengan mereka dan tidak ingin mengulangi masa lalunya.

Ravien (dalam hati): Ini… menjengkelkan. Tapi… aku tidak bisa menghindari nya karna pesan kak Lirya.

Akhirnya ia mengangkat bahu.

Ravien : "Ravien. Demon. Kuat dalam sihir api dan penguatan fisik. Untuk akademik… kalian sudah lihat sendiri."

Riku terkekeh pelan.

Riku : "Setidaknya dia jujur soal jeniusnya."

Rika mendengus kecil, tapi kali ini tidak seketus tadi.

Rika : "Asal jangan bikin masalah saja."

Bel istirahat mendekati akhir. Mereka menyelesaikan makan mereka sambil berbicara ringan—tentang pelajaran, festival sekolah, dan gosip ujian tadi.

Saat bel tanda masuk berbunyi, murid-murid mulai bubar.

Di kelas, pelajaran berikutnya dimulai.

Rei, Airi, Riku, dan Rika kembali fokus pada guru. Hina menulis, sesekali melihat catatan tambahan.

Dan seperti biasa…

Begitu guru mulai menjelaskan…

Ravien sudah kembali tertidur, kepala bersandar di lengan.

Tapi kali ini, tatapan teman-teman sekelas berbeda.

Tidak ada lagi murni ketidaksukaan.

Beberapa murid justru berbisik pelan:

Murid 1 : "Itu dia, demon jenius yang ujian full score dalam empat menit."

Murid 2 : "Masih ngeselin. Tapi… ya, dia nggak ganggu kita juga."

Hina melihat Ravien sebentar, lalu tersenyum tipis sebelum kembali ke bukunya.

Hina (dalam hati): Kalau terus seperti ini… mungkin dia juga bisa punya tempat di sini.

Di depan, Rei menatap papan tulis… dan di sudut matanya, ia melirik Ravien.

Rei (dalam hati): …Satu lagi orang yang harus kujaga agar tidak hancur seperti aku dulu.

Di dunia lain, di depan gerbang dimensi, seseorang dengan rambut putih dan mata berbeda mungkin merasakan getaran halus dari perubahan kecil itu—jiwanya yang jauh di dunia manusia mulai dikelilingi oleh lebih banyak "benang" hubungan baru.

Dan hari itu, meski tampak biasa…

menjadi hari pertama Ravien kembali duduk satu meja dengan orang lain.

Bukan karena ia berubah total.

Tapi karena… untuk sekali ini, ia tidak menolak.

More Chapters