Cherreads

Chapter 63 - INTERLUDE – UJIAN DADAKAN & “DEMON JENIUS”

Pelajaran pagi berjalan seperti biasa.

Guru berdiri di depan kelas, menulis beberapa rumus dan diagram di papan tulis, menjelaskan hubungan antara teori sihir penguatan dan pola sirkulasi mana dasar. Murid-murid mencatat dengan serius.

Rei duduk tenang, sesekali mengangguk kecil setiap kali ada bagian yang terasa "klik" di kepalanya.

Airi fokus menulis, telinga halusnya bergerak pelan tiap ada kata penting.

Riku agak mengernyit, berusaha mengingat contoh tadi.

Rika serius, tapi sesekali melirik Riku di sampingnya.

Hina… menyalin sambil sesekali melihat catatan pagi tadi—bagian yang Ravien jelaskan.

Satu-satunya yang tampak tidak terhubung dengan dunia adalah…

Ravien.

Kepalanya bersandar di lengan, mata terpejam, napas teratur. Seolah ruang kelas ini hanyalah penginapan sementara sebelum kembali tidur.

Beberapa menit kemudian, guru berhenti menulis.

Guru : "Baik. Kalau begitu, kita coba lihat seberapa jauh kalian mengerti."

Suasana kelas langsung tegang.

Murid 1 : "Jangan bilang…"

Guru mengeluarkan setumpuk kertas dari tasnya.

Guru : "Ujian dadakan. Sepuluh soal. Waktu pengerjaan… lima puluh lima menit."

Seluruh kelas:

"EEEH?!"

Keluhan pelan, desahan putus asa, dan sedikit tawa panik terdengar bersamaan.

Guru tersenyum tipis.

Guru : "Tenang saja. Soalnya hanya berdasarkan apa yang tadi saya jelaskan. Kalau kalian memperhatikan, tidak akan sesulit itu."

Satu per satu murid maju mengambil kertas soal.

Saat giliran Hina, guru menahannya sebentar.

Guru : "Hina, tolong ambilkan satu lagi untuk Ravien."

Hina : "Baik, Sensei."

Ia mengambil dua lembar, kembali ke bangkunya. Ravien masih tertidur pulas, sama sekali tidak terganggu kegaduhan ujian dadakan ini.

Perlahan, Hina meletakkan kertas soal di mejanya, menindih ujungnya dengan penghapus agar tidak terbang. Lalu ia mulai mengerjakan bagiannya sendiri.

Suara pen kertas memenuhi ruangan.

Rei menunduk, membaca soal dengan teliti. Matanya bergerak cepat mengikuti kalimat-kalimat panjang. Tangan kanannya mulai menulis jawaban dengan ritme yang stabil.

Tak sampai sepuluh menit, ia mengisi seluruh lembar jawaban.

Airi yang duduk di sebelahnya melongo kecil.

Airi : "Rei-kun… sudah selesai?"

Rei menggaruk belakang kepala, sedikit malu.

Rei : "Sepertinya begitu. Akademik saja yang bisa kubanggakan, jadi… ya, setidaknya jangan sampai kalah di sini."

Ia berdiri dan melangkah ke depan untuk mengumpulkan kertasnya.

Beberapa murid yang memperhatikan terbelalak.

Murid 2 : "Seriusan? Baru sepuluh menit, lho…"

Menit ke-15.

Airi sudah menyelesaikan soal-soalnya. Ia bangkit dan mengumpulkan kertas, menyusul Rei. Setelah kembali ke tempat duduk, ia menghela napas lega.

Airi : "Huft… lumayan susah juga."

Hina menutup penanya beberapa saat kemudian. Wajahnya lega—bukan karena merasa jenius, tapi karena merasa cukup yakin dengan jawabannya. Ia ikut maju, mengumpulkan kertas, lalu kembali duduk.

Pelajaran berikutnya dijelaskan sambil menunggu murid lain selesai. Suasana sedikit lebih santai, namun beberapa siswa masih berkutat dengan soal ujian.

Menit ke-30.

Riku akhirnya menaruh pen di meja.

Riku (dalam hati): Huff… otak kayak mau meledak…

Ia berdiri, menyerahkan jawaban ke guru, lalu kembali duduk di samping Rika.

Riku : "Rika, pelan-pelan saja. Kamu pasti bisa kok."

Rika tidak menoleh, matanya masih fokus ke kertas ujian.

Rika : "Jangan ganggu. Kalau aku gagal, kamu yang traktir makan satu minggu."

Riku mengangkat tangan kecil-kecilan sebagai tanda menyerah.

Riku : "Baik, baik, aku diam…"

Menit ke-55.

Kebanyakan murid sudah mengumpulkan jawaban. Kelas mulai gaduh kecil, tapi guru mengangkat tangan.

Guru : "Lima menit lagi. Setelah itu, yang belum mengumpulkan… nilainya kosong."

Ia melirik daftar nama.

Guru : "…Sepertinya hanya satu orang yang belum mengumpulkan."

Seluruh tatapan serentak beralih ke satu titik.

Ravien.

Masih tertidur.

Beberapa murid saling bisik-bisik.

Murid 3 : "Ya sudah lah, nilai dia pasti nol…"

Murid 4 : "Pantas saja, kerjanya tidur terus."

Hina menggigit bibir, gelisah. Ia menoleh ke arah Ravien yang masih tenang seperti tidak ada apa-apa.

Hina (dalam hati): Kalau dibiarkan… dia benar-benar dapat nol.

Dengan ragu, ia menyentuh pelan bahu Ravien.

Hina : "Ravien-kun… Ravien-kun, bangun. Sudah hampir selesai ujiannya…"

Ravien bergeser pelan, membuka mata setengah.

Ravien : "…Hah? Kenapa kalian menatapku, ada masalahkah?"

Hina : "Sekarang sedang ujian dadakan. Waktu tinggal kurang dari empat menit. Hanya kamu yang belum mengerjakan."

Ravien mengerjap sekali, lalu melirik meja. Lembar soal ujian ada di sana, tertahan oleh penghapus yang Hina taruh tadi.

Ia menghela napas pendek.

Ravien : "Tch. Ujian saja kalian ribut sekali."

Tanpa banyak drama, ia meraih kertas soal, lalu—tanpa izin panjang—mengambil pulpen dari meja Hina.

Ravien : "Pinjam sebentar."

Hina : "A-ah… iya…"

Dan lalu… waktu seolah melambat untuk semua orang.

Ravien menunduk, membaca sekilas soal-soal di kertas.

Tidak ada gumaman. Tidak ada keluhan.

Pulpen bergerak cepat, nyaris tanpa jeda.

Bahunya tetap rileks—seolah yang lain baru mulai mendaki, sementara dia sudah sampai puncak dan sedang menunggu.

Guru yang tadinya hendak menegur karena Ravien baru mulai mengerjakan, spontan diam dan memperhatikan.

Murid 1 : "Eh… dia beneran ngerjain?"

Murid 2 : "Cepat banget…"

Hina, yang duduk di sebelahnya, memperhatikan dengan mata membesar. Ia melihat susunan rumus, pola, dan jawaban yang mengalir begitu saja—beberapa di antaranya bahkan lebih rapi dan ringkas dibanding cara yang diajarkan guru.

Bel istirahat berbunyi.

TRIIIING…

Guru : "Baik, waktu habis. Yang belum selesai, berhenti menulis dan kumpulkan—"

Sebelum kalimat itu selesai, Ravien sudah berdiri, meletakkan pulpen dan melangkah ke depan.

Ia memberikan kertas jawabannya di atas tumpukan lainnya.

Ravien : "Ini."

Guru sempat memandangnya, heran. Tapi Ravien sudah berbalik, berjalan santai keluar kelas tanpa menunggu komentar siapa pun.

Guru : "Eh— Ravien, kau tidak mau istirahat dulu di kelas—"

Terlambat. Pintu sudah tertutup.

Begitu pintu tertutup, kelas langsung meledak dengan bisik-bisik.

Murid 3 : "Dia baru bangun, ngerjain cuma beberapa menit…"

Murid 4 : "…Jangan-jangan jawabannya ngawur semua?"

Murid 2 mengangkat tangan.

Murid 2 : "Sensei! Tolong koreksinya sekarang! Kami penasaran!"

Murid 1 ikut.

Murid 1 : "Iya Sensei, koreksi punyanya Ravien saja dulu!"

Guru : "Kalian ini…"

Ia menghela napas, namun akhirnya kalah oleh rasa penasaran mereka sendiri. Guru mengambil lembar jawaban paling atas—punya Ravien—dan mulai memeriksanya dengan cepat.

Satu soal. Dua soal. Tiga soal.

Alisnya sedikit terangkat.

Guru : "Hm…"

Guru menahan napas. Tangannya yang memegang pulpen merah berhenti sejenak—seolah mencari kesalahan yang pasti ada.

Hening mencengkeram kelas. Semua murid menatap ke arah tangan guru yang bergerak dengan pulpen merah, menunggu coretan salah.

Namun…

Tidak ada tanda silang.

Hanya ceklis.

Satu demi satu.

Hingga soal ke sepuluh.

Guru menutup lembar jawaban, menatap kelas.

Guru : "…Semua jawabannya benar."

Kelas meledak.

Murid 3 : "HAH?!"

Murid 4 : "Seriusan? Kurang dari empat menit?!"

Murid 2 : "Gila… ternyata Ravien jenius, walau sombong…"

Airi tertawa kecil, setengah kagum, setengah bingung.

Airi : "Walaupun attitude-nya bermasalah… otaknya sih jelas tidak."

Riku menyandarkan punggungnya ke kursi.

Riku : "Itu sih… cheat dalam bentuk hidup."

Rika mendengus kecil, masih kesal pada sifat malasnya.

Rika : "Kalau dia mau serius dari awal, Sensei mungkin bisa tenang setiap pelajaran. Tapi ya… demon tetap demon."

Hina memandangi meja kosong di sebelahnya, tempat Ravien tadi duduk. Di atasnya, tidak ada lagi kertas ujian—hanya bekas tekanan pena yang masih tertinggal samar.

Hina (dalam hati): Dia… memang sombong. Tapi…

Bayangan Ravien yang menghajar preman demi menyelamatkannya, dan Ravien yang diam-diam memperhatikan catatan paginya, muncul bersamaan di kepala Hina.

Hina (dalam hati): …dia juga tidak seburuk yang semua orang kira.

Dan sejak hari itu, di lorong-lorong sekolah mulai beredar satu rumor baru:

"Di kelas Rei ada demon jenius yang kerjanya cuma tidur, tapi bisa jawab ujian penuh cuma dalam beberapa menit."

Walau orang-orang menyebutnya sombong, malas, dingin.Tapi ada satu gadis manusia yang duduk di sebelahnya setiap hari—

yang diam-diam tahu,

bahwa di balik mata emas yang selalu terpejam itu,

ada seseorang yang mulai membuka mata sedikit demi sedikit.Bukan hanya untuk ujian.

Tapi juga… untuk dunia di sekitarnya—

dan mungkin, suatu hari nanti,

untuk gadis yang selalu meletakkan onigiri di sudut mejanya.

More Chapters