Cherreads

Chapter 62 - INTERLUDE – RAVIEN & HINA: PAGI YANG SEDIKIT BERBEDA

Alarm di meja kecil kamar 101 belum sempat berbunyi ketika mata Ravien sudah terbuka.

Ia menatap langit-langit polos apartemen, diam beberapa detik.

Ravien : "…Sial. Aku benar-benar bangun sepagi ini cuma gara-gara omongan kakak."

Jam di dinding menunjukkan 06.00 pagi.

Dengan dengusan pelan, ia bangkit, mandi, lalu mengenakan seragam sekolah dengan gerakan cepat dan rapi. Sebelum keluar kamar, ia sempat melirik jam lagi.

Lima belas menit kemudian, Ravien berangkat.

Ravien : "Terlalu pagi untuk murid teladan… tapi ya sudah."

Ia keluar apartemen, memasukkan tangan ke saku, dan berjalan menuju sekolah.

Di gerbang sekolah, suasana pagi masih sejuk. Murid-murid sudah mulai berdatangan, namun belum terlalu ramai. Saat sosok Ravien lewat—telinga tajam, aura demon, wajah tampan dengan ekspresi malas—bisik-bisik langsung terdengar.

Murid 1 : "Itu dia demon pindahan itu, kan?"

Murid 2 : "Iya, aku dengar dia selalu terlambat dan kerjanya cuma tidur di kelas…"

Murid 3 : "Tapi… kok hari ini dia datang pagi?"

Ravien mendengar semua, tapi tidak menoleh sedikit pun. Tatapannya lurus, langkahnya mantap. Seolah seluruh dunia ini hanya gangguan kecil di pinggir pandangannya.

Di kelas, suasana masih cukup sepi.

Beberapa bangku kosong, jendela masih terbuka, udara pagi masuk membawa aroma lembut pepohonan di halaman. Di kursi dekat belakang, ada satu sosok yang sudah duduk rapi—Hina.

Gadis manusia itu membungkuk di atas meja, pena di tangan, buku catatan terbuka penuh tulisan. Rambutnya sedikit jatuh menutupi telinga dan pipinya saat ia fokus berpikir.

Ravien melangkah masuk, melirik sekilas.

Ravien (dalam hati): Manusia ini lagi… Dia datang lebih dulu.

Ia berjalan ke bangkunya—kursi di sebelah Hina—dan duduk. Refleks lamanya muncul; ia menyandarkan kepala ke tangan, lalu tidur seperti biasa.

Tapi kali ini, mata demon itu tidak langsung terpejam.

Dari sudut matanya, ia melihat gerakan kecil di sisi kanan.

Hina menulis sesuatu di buku. Berhenti. Mengernyit. Melihat ulang soal di buku pelajaran. Lalu kembali ke catatan. Seperti sedang bertarung dengan satu konsep yang belum nyantol di kepalanya.

Sesekali, rambutnya tergelincir ke depan, menutupi wajah. Hina refleks menyelipkannya kembali ke belakang telinga, lalu fokus lagi.

Ravien mengangkat sedikit kepalanya, kini menatap lebih jelas.

Ravien (dalam hati): …Jadi ini yang kakak maksud dengan 'ras yang tak sepenuhnya lemah'?

Bukan soal kekuatan sihir atau fisik yang ia lihat sekarang.

Tapi ketekunan.

Gadis yang setiap hari diam-diam menaruh onigiri dan minuman di mejanya… kini sedang bersusah payah memahami sesuatu sendirian, pagi-pagi, sebelum guru datang.

Ia melirik ke buku Hina—dengan cepat, nyaris tanpa gerakan mencolok.

Ravien (dalam hati): Serius? Cuma soal begini saja kau pusing?

Menghela napas singkat, ia akhirnya membuka mulut.

Ravien : "Itu salah. Jawabannya bukan seperti itu."

Hina kaget kecil, pena di tangan terhenti.

Hina : "Eh…?"

Ia menoleh. Ravien kini duduk sedikit lebih tegak, menunjuk pelan bagian soal di buku Hina.

Ravien : "Kau salah di langkah ke tiga. Rumus penguatan sihir tingkat dasar tidak dikombinasikan dengan pola itu. Pakai yang ini."

Ravien : "Pinjam sebentar."

Ia mengambil pensil itu hanya setelah Hina mengangguk kecil.

Gerakannya cepat, jelas, rapi.

Ravien : "Kalau kau pakai cara ini, efeknya stabil, dan hasil akhirnya…"

Ia menuliskan hasilnya.

Ravien : "…seperti ini. Paham?"

Hina menatap buku catatan, lalu melihat wajah Ravien dari samping. Untuk pertama kalinya, ia menyadari demon yang selalu tidur itu ternyata memperhatikan pelajaran—dan memperhatikan dirinya.

Hina : "A-ah… iya… mengerti. T-terima kasih, Ravien-kun."

Nada gugupnya jelas, tapi tulus.

Ravien mengalihkan pandangannya cepat, seolah baru saja melakukan sesuatu yang terlalu repot.

Ravien : "Hm. Bagus kalau mengerti."

Tanpa menunggu lanjut, ia kembali menyandarkan kepala, menutup mata.

Namun, berbeda dari biasanya, tidurnya kali ini tidak sepenuhnya dalam. Ada sedikit kesadaran yang masih terjaga, menyimak suara gesekan pen Hina di kertas, suara halaman yang dibalik, dan desahan lega kecil saat gadis itu akhirnya memahami soal-soal yang tadi ia jelaskan.

Hina sendiri melanjutkan catatannya. Di sudut halaman, ia memberi tanda kecil di bagian yang dijelaskan Ravien.

Hina (dalam hati): Ternyata… dia memperhatikan. Dia bahkan mengajarkan aku…

Senyum tipis terbit di bibirnya—senyum kecil, yang hanya tertuju pada buku catatan dan dirinya sendiri.

Beberapa menit berlalu.

Murdi-murid lain mulai berdatangan. Suasana kelas perlahan ramai. Riku dan Rika datang bersama, bergandengan tangan. Airi masuk dengan langkah ringan, menyapa beberapa teman. Rei datang sedikit setelahnya, dengan senyum tenang seperti biasa.

Mereka melihat sekilas ke arah Ravien yang—untuk sekali ini—sudah ada di tempat sebelum guru datang. Dan di sampingnya, Hina duduk dengan wajah lebih segar, catatan yang penuh, dan tatapan sedikit berbinar.

Bel masuk berbunyi.

TRIIIING…

Pintu kelas terbuka. Guru pelajaran pertama hari itu masuk dengan tumpukan buku di tangan.

Guru : "Baik, semuanya duduk dengan tenang. Kita mulai pelajaran hari ini."

Dan pagi itu tidak mengubah dunia.

Tapi ia mengubah satu hal kecil:

Ravien tidak lagi sepenuhnya tidur—dan Hina tidak lagi sepenuhnya sendiri.

More Chapters