Cherreads

Chapter 61 - INTERLUDE – RAVIEN: TELEPON DARI DUNIA DEMON

Setelah meninggalkan gang tempat ia menolong Hina, Ravien kembali ke apartemen dengan langkah santai.

Begitu masuk ke kamar 101, ia meletakkan kantong belanjaan di meja, membuka salah satu makanan instan, dan memakan seperlunya hanya untuk meredam rasa lapar. Setelah itu, ia berdiri dan mulai merapikan ruangan kecil itu.

Meski seorang demon, Ravien selalu memastikan tempat tinggalnya rapi. Kekacauan hanya ia toleransi di medan tempur—bukan di kamarnya sendiri.

Kasur diluruskan, meja dibereskan, barang-barang kecil disusun rapi. Apartemen mungil, tapi bersih—setidaknya, layak ia sebut "markas sementara".

Saat senja mulai turun, sebuah bola kristal di sudut meja memancarkan cahaya lembut.

Ravien melirik, menghela napas pendek.

Ravien : "…Kakak, ya."

Ia menyentuh bola kristal itu. Permukaan beningnya bergetar, lalu memunculkan bayangan wajah cantik dengan tanduk kecil dan rambut panjang—Lirya.

Lirya : "Ravien. Bagaimana keadaanmu di dunia manusia?"

Ravien menyandarkan punggung ke tepi kasur, nada suaranya tetap datar dan sombong seperti biasa.

Ravien : "Sama saja. Sekolah yang membosankan, murid-muridnya biasa saja, pelajarannya terlalu mudah. Jadi aku habiskan waktu untuk tidur."

Dahi Lirya langsung berkedut.

Lirya : "Jadi kebiasaanmu di akademi dulu masih berlanjut di sana? Ravien, tujuanmu dikirim ke dunia manusia bukan untuk tidur di kelas."

Ravien mengangkat bahu.

Ravien : "Aku datang, duduk, mendengar sedikit, tidur, lalu tetap bisa menjawab pertanyaan guru. Bukankah itu sudah cukup? Untuk apa aku serius belajar dari ras yang bahkan dianggap lemah di dunia kita?"

Lirya menghela napas panjang—napas seorang kakak yang sudah sangat terbiasa dengan adik keras kepala.

Lirya : "Ras yang kamu anggap lemah itu… tidak semuanya lemah. Aku bilang ini bukan karena teori, tapi karena aku sudah melihatnya sendiri."

Ravien mengerutkan alis.

Ravien : "Melihat apa?"

Lirya menatap lurus melalui kristal.

Lirya : "Aku menemukan seorang manusia yang kekuatannya melebihi diriku. Bahkan… menurutku, melebihi raja demon saat ini. Dan dia memikul tanggung jawab yang tidak akan sanggup diambil oleh raja-raja di dunia kita."

Ravien terdiam sebentar.

Ravien : "…Seorang manusia? Lebih kuat dari raja demon? Kakak bercanda?"

Sebelum Lirya sempat menjawab, wajah lain tiba-tiba ikut muncul dari samping—Garm yang menyelip masuk ke dalam jangkauan kristal.

Garm : "Dia tidak bercanda, Ravien. Manusia itu benar-benar ada. Dan lebih gila lagi, dia berhasil menjatuhkan kesombongan kakakmu sampai hancur, dan membuatnya jatuh cinta."

Lirya refleks menoleh ke arah Garm di dunia nyata, lalu memukul kepala lelaki beastkin itu.

PLAK!

Lirya : "Diam, Garm! Siapa yang memberi izin kamu ikut bicara!?"

Garm mengusap kepalanya sambil tertawa.

Garm : "Au… au… Tapi benar kan? Kalau adikmu tidak tau fakta, dia akan terus sombong."

Lirya mendengus dan mendorong Garm keluar dari jangkauan kristal. Bayangan Garm menghilang dari pandangan Ravien.

Ravien masih terdiam, mencoba mencerna.

Ravien (dalam hati): Kakak yang selalu merasa di atas, calon ratu iblis, bisa luluh kepada manusia? Manusia seperti apa itu…?

Lirya kembali menatapnya, kali ini dengan ekspresi lebih lembut, tapi tetap tegas.

Lirya : "Ravien, dengarkan baik-baik. Di sana kamu bukan pangeran demon, bukan pewaris keluarga besar. Kamu murid, sama seperti yang lain. Cobalah hidup seperti murid pada umumnya. Belajar dengan benar, bukan hanya tidur."

Ravien memalingkan wajah sedikit.

Ravien : "Hmph…"

Lirya melanjutkan, bibirnya membentuk senyum tipis yang menggoda.

Lirya : "Dan… kalau bisa, carilah teman. Kalau lebih berani lagi, carilah pacar. Percuma punya wajah tampan dan kuat kalau tidak ada yang kau genggam di masa depan selain ego."

Ravien tersedak udara.

Ravien : "Pacar? Aku datang ke sini untuk hukuman, bukan untuk main cinta."

Ravien (dalam hati): …Aku tidak ingin kejadian itu terulang.

Lirya tertawa pelan.

Lirya : "Justru karena hukuman inilah kamu bisa belajar sesuatu yang tidak diajarkan di dunia kita. Jangan jadi seperti Garm—cuma bisa mengagumi wanita dari jauh, tidak berani mendekat."

Dari jauh terdengar protes lemah Garm yang kembali dipukul.

Garm : "Hei! Aku masih bisa dengar itu!"

Lirya mengabaikannya. Ia menatap Ravien sekali lagi.

Lirya : "Intinya… berhentilah melihat dunia hanya dari ketinggian. Dunia terlihat berbeda kalau kamu berani berjalan di tanah yang sama dengan mereka."

Ravien terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mendengus kecil.

Ravien : "…Baiklah. Aku akan mencoba… setidaknya sedikit."

Lirya mengangguk, puas.

Lirya : "Bagus. Kalau tidak, hukumanmu bisa jadi lebih berat. Kamu tahu sendiri, Ravien. Aku tidak suka mengulang perintah."

Ravien sedikit merinding membayangkan hukuman buruk apa yang akan menimpanya jika tidak ada perubahan pada dirinya.

Ravien : "Itu… aku paham. Tidak perlu diulang."

Lirya tersenyum.

Lirya : "Kalau begitu, istirahatlah. Dan jangan lupa jaga kebersihan, jaga nama keluarga. Jangan bikin masalah."

Ravien : "Iya, iya."

Cahaya bola kristal perlahan meredup. Koneksi terputus, meninggalkan Ravien sendirian di kamar kecil itu.

Ia bersandar di kursinya, menatap langit senja yang mulai menggelap dari jendela mungil.

Ravien (dalam hati): Manusia yang lebih kuat dari raja demon…

Kakak jatuh cinta pada dia…

Sekarang aku hidup di dunia manusia, di sekolah ras campuran…

Dan disuruh mencari pasangan sembari harus melupakan masa lalu...

Bayangan Hina tiba-tiba melintas di pikirannya—gadis yang ia tolong di gang tadi.

Hina yang gemetar, tapi tetap mencoba bersuara sopan.

Hina yang tadi berterima kasih, meski ia mengabaikannya dan pergi begitu saja.

Hina yang… setiap hari diam-diam menaruh onigiri dan minuman di mejanya.

Ravien mengklik lidahnya pelan.

Ravien (dalam hati): …Dia gadis yang bodoh. Terlalu baik untuk dunia seperti ini.

Namun, untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia manusia,

pikiran itu tidak membuatnya kesal—

justru sedikit mengganggu tidurnya.

Ucapan kakaknya bergema lagi:

"Carilah teman. Kalau bisa… carilah pacar."

Ravien menutup mata keras-keras.

Ravien: "Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi."

Untuk sesaat, kamar 101 terasa seperti ruang sempit yang menahan sebuah rahasia besar—rahasia yang bahkan ia sendiri belum berani menyebut.

More Chapters