Sudah beberapa minggu sejak Ravien masuk ke kelas Rei.
Polanya selalu sama:
Pagi: datang terlambat, masuk dengan wajah datar dan mata malas.
Jam pelajaran: tidur dengan tenang, tangan disilangkan di dada.
Istirahat: tetap di bangku, tidak pernah ke kantin.
Sore: pulang cepat tanpa basa-basi.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah absen:
Setiap jam istirahat,
setiap hari…
Onigiri dan sebotol air selalu muncul di sudut mejanya.
Ia tidak pernah menanyakannya lagi.
Karena ia sudah tahu pasti dari siapa.
Hina akan pura-pura fokus ke buku,
tapi Ravien menangkap, dari sudut mata, gerakan pelan tangan gadis itu yang meletakkan makanan di mejanya sebelum fokus belajar kembali.
Tanpa kata.
Tanpa tuntutan balasan.
Dan Ravien—meski mulutnya keras—tidak pernah sekalipun melewatkan makanannya.
Ravien (dalam hati): Gadis ini… selalu melakukan hal yang sama.
Bodoh… tapi… berguna.
Namun entah kenapa, setiap kali ia membuka bungkus onigiri itu, dada yang biasanya dingin terasa… sedikit tidak asing.
Hari Libur – Demon dan Minimarket
Hari libur tiba.
Ravien bangun siang, seperti biasa di akademi dulu.
Kamar 101 tertata rapi—bersih, hampir terlalu teratur untuk ukuran kamar anak seusianya.
Ravien menguap panjang.
Ravien : "…Terlalu sunyi."
Perutnya protes. Selama beberapa hari, pola makan Ravien hampir selalu:
Onigiri dari Hina di sekolah
Lalu pulang → tidur.
Kadang hanya minum air seadanya.
Ravien (dalam hati): …Kalau hari ini juga hanya tidur, aku bisa mati bukan karena kekuatan, tapi karena lambung.
Ia mandi cepat, mengganti pakaian kasual, dan keluar dari kamar.
Lorong apartemen sepi, hanya suara TV samar dari kamar lain.
Di luar, udara kota manusia menyambutnya.
Ravien berjalan menuju minimarket terdekat yang sebelumnya sudah ia lihat saat pindah.
Minimarket – Demon Belanja ala Cepat
Pintu otomatis minimarket terbuka.
"Cinggg…"
Ravien masuk, langsung menuju rak makanan tanpa banyak melihat sekeliling.
Ia mengambil:
Beberapa onigiri,
Sandwich,
Air mineral,
Dan minuman kaleng.
Kasir : "Selamat datang—"
Ravien hanya meletakkan barang-barang di meja kasir tanpa kata.
Kasir memindai satu per satu.
Kasir : "Total segini, ya."
Ravien menyerahkan uang, mengambil plastik belanja, dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali.
Kasir hanya bisa memandangi punggungnya.
Kasir (pelan): "…Dingin sekali, cowok itu."
Jeritan di Gang Samping
Dalam perjalanan pulang, Ravien memilih lewat jalan samping—lebih sepi, lebih cepat.
Langkahnya santai, plastik belanja bergoyang pelan di tangannya.
Tiba-tiba—
"Tolong!! Jangan!!"
Suara teriakan perempuan memotong keheningan.
Ravien berhenti.
Secuil rasa malas muncul di wajahnya.
Ravien (dalam hati): Masalah orang lain. Bukan urusanku.
Ia hendak melanjutkan langkah, namun…
Bayangan masa lalu terlintas:
Seris kecil, menangis ketakutan, dikerumuni beberapa murid sombong dari ras lain.
Sorot matanya waktu itu—campuran takut dan marah.
Kakak pertama mereka datang menghajar semuanya tanpa ampun.
Suara kakaknya kala itu menggema di kepalanya:
"Kalau kau kuat dan kau hanya menonton saat ketidakadilan terjadi…
kau tidak jauh beda dengan pelakunya."
Ravien mengklik lidahnya.
Ravien : "…Sial."
Ia berbelok menuju sumber suara.
Hina dan Para Preman
Di gang sempit di samping jalan utama,
seorang gadis manusia disudutkan oleh beberapa pemuda—ras manusia dan ras beastkin.
Mereka tertawa-tawa, sebagian memegang tasnya, sebagian mencoba menarik tangannya.
Gadis itu—Hina—berusaha melepaskan diri.
Hina : "Lepaskan! Aku bilang lepaskan! Aku tidak mau ikut kalian!"
Preman Manusia (tersenyum miring, suara rendah): "Santai aja, cantik. Kita cuma mau ngajak jalan-jalan bentar. Nggak ada yang perlu takut kok… asal kamu nurut."
Preman Beastkin (menggertakkan taring kecilnya): "Jangan bikin susah sendiri. Cewek manusia kayak kamu paling enak diajak main kalau nggak banyak cingcong."
Hina menendang salah satu, tapi tenaga manusia biasa jelas kalah.
Hina (dalam hati, panik): Tidak ada orang… Aku harus kabur—
Tiba-tiba suara datar namun tajam terdengar.
Ravien : "Lepaskan gadis itu… sebelum kalian menyesal."
Semua menoleh.
Seorang pemuda ras demon berdiri di ujung gang,
Aura Ravien bocor sedikit—cukup untuk membuat napas mereka serasa berat.
Ia menahan diri. Bukan karena takut… tapi karena ada satu nama yang terlintas: Lirya.
Preman Manusia mengerutkan kening.
Preman Manusia : "Hah? Demon? Apa urusanmu di sini? Jangan ikut campur kalau tidak mau babak belur."
Ravien mendengus.
Ravien: "Mundur. Sekarang."
"Atau aku ajari kalian cara berjalan dengan tulang yang masih utuh."
Preman Beastskin tertawa sinis.
Preman Beastskin : "Jangan sok kuat, anak kemarin sore!"
Mereka melepas Hina dan berlari menyerang Ravien.
Hina : "Jangan! Berhenti!!"
Terlambat.
Bagi Ravien, itu bahkan bukan pertarungan.
Itu lebih mirip latihan peregangan pagi.
Dalam sekejap, ia menghilang dari tempatnya berdiri—meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.
Satu tendangan ke perut,
satu pukulan ke rahang,
satu lagi dihajar dengan siku ke dada.
BRAKK!
Preman Manusia terhempas ke dinding.
Preman Beastkin jatuh menabrak tong sampah.
Preman Manusia lainnya bahkan belum sempat maju, sudah terjengkang hanya karena terkena hantaman sisa tekanan dari pukulan Ravien.
Ia tidak memakai api. Tidak perlu.
Satu-satu tubuh mereka jatuh—bukan hancur, hanya dibuat sadar posisi.
Ravien : "Kalau kalian mau berlagak kuat… latih dulu kemampuan kalian.
Dengan level begini, kalian bahkan tidak pantas dipanggil preman."
Salah satu dari mereka memegangi perutnya, bangkit sempoyongan.
Preman Manusia : "Gila… demon sialan…"
Mereka saling pandang, lalu memutuskan kabur terbirit-birit dari gang itu.
Ravien tidak mengejar.
Ravien : "Lemah."
Ia berbalik hendak pergi.
Hina masih terengah-engah, memegangi tasnya yang tadi ditarik.
Tangannya gemetar saat meraih kembali tas itu—bukan karena lemah, tapi karena ia baru sadar betapa dekatnya ia dengan bahaya.
Saat Ravien melewatinya, ia menunduk dalam-dalam.
Hina : "T-terima kasih… sudah menolongku…"
Ravien tidak berhenti.
Ia hanya sedikit menoleh—sekilas.
Mata emasnya melihat wajah gadis itu dari samping.
Ah.
Itu gadis di sebelah bangkunya.
Gadis yang selalu meletakkan onigiri di mejanya setiap hari.
Ia tahu.
Tapi mulutnya tetap memilih jalan lain.
Ravien: "Jangan lewat gang itu lagi."
(lalu berjalan pergi)
Tanpa berhenti, tanpa melihat lebih lama,
ia melanjutkan langkahnya menyusuri gang dan keluar ke jalan utama.
Hina menatap punggungnya yang menjauh.
Hina (dalam hati): …Ravien-kun.
Ternyata… kamu tidak sesombong yang orang-orang kira.
Ia menggenggam tasnya lebih erat.
Hina (dalam hati): Sekarang giliran aku… yang harus belajar jadi lebih kuat.
Hatinya masih berdegup kencang—antara takut, lega, dan… sesuatu yang hangat dan aneh.
Ke Rumah Rei – Setelah Gemetar, Ada Tempat Pulang
Beberapa menit kemudian, setelah memastikan para preman benar-benar pergi, Hina akhirnya keluar dari gang dan melanjutkan perjalanannya.
Kakinya masih sedikit gemetar, tapi ia memaksa tersenyum.
Hina (dalam hati): Aku tidak boleh buat Rei, Airi, dan yang lain khawatir.
Tujuan sebenarnya hari itu:
Apartemen Rei – mereka berencana belajar bareng untuk menghadapi tugas dan latihan berikutnya.
Ia tidak tahu… bahwa orang yang baru saja menyelamatkannya,
tinggal di gedung apartemen yang sama.
Dan di sisi lain, Ravien yang sudah sampai di kamar 101 menjatuhkan diri di kasur, memandang langit-langit.
Ravien (dalam hati): Gadis itu… selalu tersenyum bahkan setelah diganggu.
Bodoh sekali.
Namun, di sudut bibirnya… tersungging sedikit senyum yang bahkan tidak ia sadari.
Seperti mengingat kembali moment-moment masa lalu.
