Cherreads

Chapter 59 - ARC RAVIEN – HARI PERTAMA: BENIH YANG SANGAT KECIL

Pelajaran siang itu berjalan seperti biasa.

Guru menjelaskan, murid mencatat…

dan satu demon di kursi belakang—masih tidur tanpa beban.

Di meja guru, selembar kertas rekomendasi terlipat rapi.

"Sangat pintar dalam teori dan praktik sihir.

Catatan: temperamen tinggi, rasa superioritas berlebihan, sulit diatur.

Mohon pengawasan ketat pada minggu pertama."

Guru hanya bisa menghela napas.

Guru : "Baiklah… lanjut ke halaman 42."

Istirahat Siang – Niat Kecil Hina

Bel istirahat berbunyi.

Kursi berderit, murid bangkit. Rei, Airi, Riku, dan Rika berdiri dan bersiap ke kantin.

Rei : "Hina, ayo."

Hina masih duduk. Matanya melirik Ravien—masih tertidur pulas, bahkan tidak bergeming sejak pagi.

Hina (dalam hati): Kalau dia tidak makan dari pagi… perutnya pasti sakit nanti…

Ia menggigit bibir sebentar, lalu bangkit berdiri.

Hina : "Baik, Rei. Ayo."

Mereka berlima menuju kantin.

Di kantin, suasana ramai seperti biasa. Mereka mengambil makanan masing-masing lalu duduk di meja yang sama.

Rika masih memasang wajah tidak senang.

Rika : "Dari pagi cuma tidur. Dia kira sekolah ini penginapannya demon apa?"

Riku mencoba menenangkan.

Riku : "Yaa… yang aku dengar dari Ayah, banyak ras demon itu sombong. Dan ini sekolah kita juga jarang sekali menerima demon. Pasti dia belum bisa menyesuaikan diri."

Airi mengangguk pelan.

Airi : "Ibu juga pernah bilang… beberapa ras demon dan peri punya rasa bangga berlebihan.

Tapi… Seris dan Fiora tidak seperti itu."

Rei tersenyum tipis.

Rei : "Iya. Ras tidak menentukan semuanya. Sama seperti manusia—ada yang baik, ada yang menyebalkan."

Rika mendengus.

Rika : "Tetap saja menyebalkan. Kalau mau sombong, jangan di kelas kita."

Riku mengangkat tangan dan mencubit lembut pipi Rika.

Riku : "Kalau kamu terus marah, makanannya jadi tidak enak. Nanti kamu lapar lagi."

Rika langsung memerah.

Rika : "Ka… kalau aku lapar lagi, kamu yang traktir!"

Mereka semua tertawa.

Hina ikut tertawa, tapi di dalam hati…

Hina (dalam hati): "Mereka kelihatan sangat bahagia… Aku senang.

Tapi… mungkin cinta memang bukan untukku, ya?"

Saat mereka selesai makan dan bersiap kembali ke kelas, Hina berhenti sebentar di depan rak makanan.

Ia mengambil satu onigiri dan satu botol minuman.

Hina (dalam hati): "Dia memang menyebalkan… tapi kalau pingsan karena lapar, kasihan juga."

Kembali ke Kelas – Onigiri Tanpa Nama

Kelas masih sunyi saat mereka kembali.

Ravien… masih tertidur di posisi yang sama.

Beberapa murid melirik, ada yang kagum, ada yang kesal, tapi tidak ada yang berani mengganggu.

Hina duduk perlahan.

Dengan hati-hati, ia meletakkan onigiri dan botol minum di sudut meja Ravien—agar tidak jatuh, tapi cukup terlihat.

Ravien tidak bergerak sama sekali.

Hina tersenyum kecil pada dirinya sendiri, lalu kembali menghadap ke depan saat guru masuk.

Pelajaran berlanjut.

Ravien Bangun – Otak Demon, Perut Manusia

Sekitar satu jam setelah istirahat, Ravien akhirnya membuka mata.

Ravien : "…Hh."

Ia mengerjapkan mata, melihat ke sekeliling.

Beberapa murid sedang fokus ke papan tulis mengikuti pelajaran.

Guru menyadari ia bangun dan memutuskan mengetes rekomendasi yang ia baca.

Guru : "Ravien, kalau kamu sudah bangun, coba jawab.

Jika inti sihir api dipadatkan dengan formasi tiga lapis, apa efek samping terhadap aliran mana tubuh?"

Ravien mendengus malas.

Ravien : "Aliran mana akan mengalami tekanan balik di jalur sekunder,

tapi bisa dinetralisir kalau penggunanya memperkuat inti jalur utama dengan penguatan tubuh.

Itu saja."

Guru terdiam sesaat, lalu mengangguk kagum.

Guru : "…Benar. Penjelasannya lengkap sekali."

Murid lain berbisik pelan.

Murid 1 :

"Jadi dia tidak bodoh…"

Murid 2 :

"Walau masih tetap menyebalkan, tapi pintar."

Ravien menghela napas panjang.

Ravien (dalam hati): Pelajaran level begini… anak kecil pun bisa.

Perutnya tiba-tiba keroncongan keras.

Grrrrrkkk…

Beberapa murid menoleh.

Ravien menahan malu, memalingkan wajah ke samping.

Saat itulah ia melihatnya:

Onigiri dan sebotol air, terletak rapi di sudut meja.

Ia menoleh ke Hina.

Ravien : "Hei. Ini dari kamu?"

Hina menoleh, tersenyum lembut.

Hina : "Iya. Kupikir… kau pasti lapar. Dari tadi kau tidak istirahat makan."

Hina kembali menatap papan tulis, seolah itu hanya titipan biasa—bukan kebaikan yang menunggu balasan.

Ravien menatap onigiri itu sebentar. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—perasaan aneh yang mirip… hangat?

Ia mengabaikannya.

Ravien: "Tch… ini cuma kebetulan aku lapar."

Hina: "Iya, kebetulan." (senyum kecil)

Ravien (dalam hati): Hmph. Aneh. Tapi… aku memang lapar.

Dengan gerakan sedikit kasar, ia mengambil onigiri itu, membukanya, dan memakannya.

Tanpa sepatah kata terima kasih pun.

Hina hanya tersenyum kecil di bangkunya.

Hina (dalam hati): Syukurlah… dimakan.

Pulang – Dua Dunia dalam Satu Gedung

Bel pulang berbunyi.

Murid-murid berkemas, suasana kelas sedikit lebih rileks.

Rei, Airi, Riku, Rika, dan Hina keluar bersama seperti biasa, saling berpamitan di gerbang.

Riku : "Besok kumpul lagi, ya!"

Rika : "Jangan telat, Riku."

Riku : "Aku akan berusaha!"

Rei : "Hati-hati di jalan, semuanya."

Airi : "Sampai besok!"

Hina hanya tersenyum hangat dan melambaikan tangan.

Hina : "Sampai besok."

Mereka berpisah ke arah masing-masing.

Sementara itu, Ravien keluar dari gerbang sekolah dengan langkah cepat.

Ia ingin segera sampai di apartemen, kembali ke ruangan kecilnya, dan… mengomel sendiri tentang dunia manusia.

Di Apartemen

Lorong lantai 1 cukup sepi saat Ravien berjalan.

Ia membuka pintu kamar 101, melempar tas ke ranjang, dan menjatuhkan diri di atas kasur.

Ravien : "…Hari pertama yang melelahkan.

Manusia terlalu berisik."

Namun, saat menutup mata, bukannya kesal… yang terlintas adalah:

– senyum lembut Hina,

– onigiri yang rasanya sederhana,

– dan tatapan mata Rei yang terasa… aneh.

Ravien mengerutkan dahi.

Ravien (dalam hati): Gadis di sebelahku itu… terlalu lembut. Namun ada yang ia sembunyikan."

"Dan manusia bernama Rei itu… kenapa auranya terasa aneh…

Ia diam.

Seperti ada sesuatu di dalam gerbang dimensi nun jauh di sana yang beresonansi pelan.

Ravien mendengus, menepis perasaan itu.

Ravien : "Sudahlah. Besok saja kupikirkan nanti.

Aku datang ke sini untuk 'hukuman'… bukan untuk peduli pada manusia."

Tapi, tanpa ia sadari…

Benih kecil yang ditanam Hina tadi siang—onigiri tanpa nama dan tanpa paksaan—sudah tertanam di sudut hati demon sombong itu.

Ravien menatap langit-langit, lama.

Lalu berbisik pelan, hampir tak terdengar:

"Besok… jangan pikir aku akan menerima apa pun lagi."

Tapi perutnya hangat.

Dan untuk pertama kalinya, Ravien merasa…

hangat yang sudah lama tidak ia izinkan masuk ke hidupnya.

More Chapters