Pagi itu matahari sudah tinggi ketika sang demon—kakak laki-laki Seris—akhirnya bangun.
Ia menggerutu, mengusap rambut hitam legamnya yang sedikit berantakan.
Demon :
"…Sepertinya aku terlambat. Tapi siapa peduli? Mereka harusnya bangga aku muncul."
Ia bangkit pelan, mandi dengan santai, lalu mengenakan seragam sekolah manusia yang menurutnya adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya. Setelah merapikan kerah, ia mengambil tas kecil yang berisi dokumen dari Lirya.
Demon : "Hhh… sekolah manusia. Semoga aku tidak kehilangan IQ-ku di sini."
Tiba di Sekolah — Sudah Terlambat
Gerbang sekolah sudah sepi. Murid-murid sudah masuk ke kelas masing-masing.
Beberapa staf yang lewat menoleh memperhatikan aura magis kuat yang seolah menekan ruang di sekitarnya—sebuah hal yang jarang muncul dari murid SMA biasa.
Demon hanya mengangkat dagu sedikit, melewati lorong tanpa memedulikan siapa pun.
Di ruang guru, ia menyerahkan surat rekomendasi yang ditandatangani langsung oleh pejabat dari dunia demon.
Guru piket yang menerima surat itu.
Guru (melirik berkas): "Ravien… benar?"
Demon: "Hmph."
Guru itu mengangguk, sedikit tertekan, lalu mempersilakan demon itu mengikutinya.
Murid Baru di Kelas Rei
Kelas 3-B sedang tenang ketika guru masuk.
Rei, Airi, Hina, Riku, Rika, dan teman-teman lain menatap ke depan begitu guru berdiri di podium.
Guru : "Anak-anak, hari ini ada murid pindahan dari ras demon di dunia Elyndor. Mohon diterima dengan baik."
Bisik-bisik mulai terdengar.
Murid 1 :
"Serius? Demon? Di kelas ini?"
Murid 2 :
"Tapi aura sihirnya… kuat banget."
Airi mengerutkan alis, memelototi pintu.
Rei diam, merasakan tekanan halus—energi serupa Seris, namun lebih liar.
Hina menelan ludah.
Entah kenapa, aura demon di luar membuat tengkuknya terasa dingin—bukan karena takut, tapi seperti peringatan.
Guru : "Silakan masuk!"
Pintu terbuka.
Masuklah pria demon itu—tampan, tinggi, dengan mata tajam yang memancarkan keangkuhan alami.
Beberapa murid perempuan berbisik pelan, sebagian kagum, sebagian lain merasakan tekanan tak nyaman di dada mereka—seolah udara di kelas menjadi lebih berat.
Ia berdiri dengan tangan di saku, tatapan merendahkan menelusuri ruangan.
Guru : "Silakan perkenalkan diri Anda."
Demon menggumam pelan seolah ini memberatkan hidupnya.
Ravien : "Nama lengkapku tidak penting untuk kalian."
"Panggil Ravien. Kuat dalam fisik dan sihir api. Itu saja."
"Sisanya tidak perlu kalian tahu."
Ruang kelas hening.
Beberapa murid :
"Pendek amat perkenalannya…"
Airi menatap tajam.
Rei hanya mengamati, matanya berubah sedikit gelap ketika merasakan aura Ravien—ada kemurkaan dalam aliran mananya.
Hina memegang buku, berusaha tetap tenang.
Guru batuk kecil.
Guru : "Baik, Ravien. Kamu duduk di sebelah Hina, bangku kosong itu."
Ravien di Samping Hina
Ravien berjalan ke bangku kosong di samping Hina.
Selama perjalanannya, ia bisa merasakan tatapan kagum dan kebencian yang datang bersamaan, namun ia tetap menyikapinya dengan acuh, hanya mengingat pesan Lirya untuk tidak membuat masalah.
"Jangan membuat masalah di minggu pertama."
Ia menurunkan tubuhnya ke kursi, posisi duduk malas, lengan terlipat.
Dalam hitungan detik…
Ravien menurunkan kepalanya ke meja.
Duk.
Dalam hitungan detik, napasnya sudah teratur.
Dan dia benar-benar menunduk, memejamkan mata, lalu tidur di hari pertama sekolah.
Beberapa murid tersentak—bunyi itu tidak keras, tapi terasa seperti tanda "aku tidak peduli kalian.
Hina menatapnya bingung.
Hina (dalam hati): "Dia… hanya masuk kelas untuk tidur?"
Tapi ia tidak ingin memulai masalah, jadi ia hanya menunduk kembali ke bukunya.
Semua murid lain pura-pura fokus pada guru, tapi mata mereka sering melirik Ravien—wajah tampan tetapi miring ke bawah seperti sedang marah pada dunia.
Airi membisik pada Rei.
Airi : "Rei… apa dia demon yang… kamu kenal?"
Rei pelan menggeleng.
Rei : "Tidak. Tapi auranya… mungkin satu keluarga dengan Seris."
Airi membungkuk, makin penasaran.
Riku menelan ludah.
Riku : "Kalo dia sombong macam ini… bakalan cocok gak ya di kelas kita?"
Rika hanya tersenyum tipis.
Rika : "Asal tidak membuat masalah… kita bisa berdamai."
Namun… di sisi lain kelas, Ravien—walau pura-pura tidur—sebenarnya bisa mendengar semua.
Dan ia mulai penasaran…
"Siapa 'Rei' yang disebut-sebut oleh banyak aura aneh di ruangan ini?"
Kelas berlanjut, papan tulis penuh, suara guru mengalun.
Tapi bagi Ravien, semua itu hanya latar.
Yang ia dengar cuma satu hal:
nama "Rei" yang terus muncul—seperti mantra.
Dan mantra itu, entah kenapa… terasa seperti undangan.
