Cherreads

Chapter 57 - ARC AELRIA & SERIS – KAKAK DEMON YANG DIUSIR KE DUNIA MANUSIA

Sore itu, bel pelajaran terakhir di akademi berbunyi, dan hiruk pikuk murid dari berbagai ras mulai bubar dari lapangan latihan sihir.

Di dalam kamar asrama khusus mereka berlima, suasana jauh lebih santai.

Aelria menjatuhkan diri di atas kasurnya, masih dengan seragam latihan, rambut peraknya diikat tinggi. Nerine dan Noelle berguling di kasur mereka, sementara Rinna duduk bersila di lantai sambil mengunyah snack. Fiora pura-pura membaca buku, tapi telinganya fokus pada gosip.

Nerine menoleh ke Seris yang sedang menuang teh.

Nerine : "Ngomong-ngomong, Seris… rumor di akademi benar ya? Kakak laki-lakimu sudah tidak bersekolah di sini lagi?"

Noelle ikut menyambung, matanya berbinar penasaran.

Noelle : "Katanya dia bikin masalah besar di kelas duel. Sampai-sampai namanya dihapus dari daftar murid aktif."

Seris menghela napas panjang—campuran lelah dan pasrah.

Seris : "…Iya. Itu bukan rumor. Itu benar."

Aelria bangkit setengah duduk, menatap Seris.

Aelria : "Bagaimana keadaan kakakmu sekarang? Setelah dia… dikeluarkan?"

Seris duduk di kursi dekat jendela, menyilangkan kaki, ekor kecil demon-nya (yang selama ini ia sembunyikan dengan sihir) tampak bergerak gelisah.

Seris : "Dia tidak benar-benar 'dikeluarkan'… lebih tepatnya, keluarga yang menarik dia dari akademi.

Kenapa? Karena kakak laki-lakiku itu… jauh lebih sombong dariku. Bahkan lebih parah dari Lirya-onee-sama."

Nerine : "Lebih sombong dari Lirya? Itu… prestasi."

Rinna terkekeh pelan.

Rinna : "Itu sih level musuh terakhir."

Seris memutar cangkir di tangannya.

Seris : "Dia selalu menganggap ras demon itu nomor satu.

Duel seenaknya, menantang ras lain, tidak mau mengakui kesalahan.

Sampai akhirnya, satu insiden kemarin jadi titik puncak."

Fiora menutup bukunya, ikut fokus.

Fiora : "Lalu? Hukuman dari keluarga kalian?"

Seris menghela napas lagi, kali ini dengan sedikit senyum miring.

Seris : "Kakak pertamaku—Lirya-onee-sama—mengusulkan sesuatu.

Karena dia satu-satunya yang bisa menekan kakak laki-lakiku itu…"

Aelria mencondongkan badan.

Aelria : "Jadi…?"

Seris menatap mereka satu per satu.

Seris : "Kakak laki-lakiku mendapat hukuman untuk bersekolah di dunia manusia.

Bukan akademi demon, bukan akademi gabungan, tapi sekolah multi-ras di kota manusia.

Dia dilarang kembali ke dunia kita sebelum bisa berubah.

Dan itu… keputusan resmi keluarga."

Nerine bersiul pelan.

Nerine : "Hukuman yang… keras. Tapi terdengar memuaskan juga."

Noelle : "Aku bisa membayangkan wajahnya saat dengar keputusan itu."

Seris mengingat kembali adegan di ruang keluarga—kakak laki-lakinya menggebrak meja, berteriak menolak, lalu terdiam saat Lirya berdiri dan menatap tajam sambil berkata: "Kalau kau tetap seperti ini, aku sendiri yang akan mengikatmu dan menyeretmu ke sana."

Ia tersenyum tipis.

Seris : "Dia awalnya menolak, jelas saja.

Tapi… kalau Lirya-onee-sama sudah bicara, bahkan dia pun tidak bisa sombong.

Pada akhirnya, dia berangkat juga.

Sekarang… seharusnya dia sudah menginjakkan kaki di dunia manusia."

Aelria menatap keluar jendela, memikirkan satu kota tertentu—kota tempat Rei sekarang hidup.

Aelria (dalam hati):

Jangan-jangan… sekolah yang sama?

Namun ia hanya menyimpan itu di dalam hati.

POV KAKAK LAKI-LAKI SERIS – DEMON DI KAMAR 101

Gerbang dunia manusia tampak seperti retakan cahaya di tengah ruang ritual.

Begitu ia melangkah, hawa dunia lain langsung menyapa: udara yang lebih tipis, aroma campuran logam, beton, dan kehidupan kota.

Pria demon itu—kakak laki-laki Seris, adik dari Lirya—mengklik lidahnya pelan.

Demon : "Hmph… dunia manusia. Lemah, rapuh, dan penuh batasan."

Namun bahkan dalam kesombongannya, ingatan akan tatapan kakaknya Lirya membuat tengkuknya dingin.

"Kalau kau tidak berubah, hukumanmu berikutnya tidak akan sesederhana 'bersekolah di dunia manusia'."

Kata-kata kakak pertamanya bergema di kepalanya.

Ia menggertakkan gigi.

Demon (dalam hati):

Kenapa aku harus tunduk? Hanya karena aku demon, mereka ingin aku 'jadi contoh yang baik'. Menjijikkan.

Tapi ia bukan bodoh. Ia tahu batas.

Melanggar keputusan keluarga—apalagi keputusan yang sudah disetujui Lirya—berarti bunuh diri sosial… dan mungkin harfiah.

Ia turun dari zona gerbang yang terhubung dengan dunia manusia dan dunia Elyndor.

Di hadapannya, kota itu terbentang: gedung-gedung menengah, jalanan ramai, suara kendaraan, dan di kejauhan—sekolah besar dengan barier sihir samar di sekelilingnya.

Sekolah tempat ia akan "dihukum".

Demon : "Jadi ini tempatku sekarang…"

Ia mengecek kembali slip kertas yang diberikan Lirya—peta kecil yang sangat rapi, dengan catatan singkat.

"Apartemen ini dekat dengan sekolah. Murah, aman, dan pemiliknya tidak cerewet soal ras. Jangan membuat masalah di hari pertama." – Lirya

Demon : "Kakak sialan… bahkan mencarikan tempat tinggal."

Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan sebuah bangunan apartemen sederhana. Dua lantai, catnya sudah sedikit pudar tapi terawat. Ada tanaman pot di depan, dan papan nama kecil yang ramah Sakura-so.

Bagi standar bangsawan demon, ini jelas bukan tempat tinggal layak.

Demon (mengerutkan hidung): "Jadi… aku harus tinggal di kandang seperti ini?"

Namun bayangan hukuman "lebih berat" jika ia menolak membuat bulu kuduknya merinding.

Ia menghela napas tajam, lalu melangkah masuk.

Di dalam, seorang ibu manusia paruh baya yang energik—pemilik apartemen—menyambutnya di bangunan kecil berbeda dengan bangunan utama.

Lena : "Selamat datang~ Oh, anak baru ya?"

Pria demon itu menaruh amplop yang sudah distempel.

Demon : "…Surat rekomendasi."

Wanita itu membuka amplop, membaca sekilas, lalu matanya sedikit membesar.

Lena : "Ooh… jadi kamu kerabat Seris-chan, ya? Mirip sekali auranya. Sama-sama demon, sama-sama… agak galak wajahnya, tapi baik, kan?"

Demon mengerjap, kaget.

Demon : "Kau… mengenal Seris?"

Pemilik tertawa kecil.

Lena : "Tentu saja. Dia pernah tinggal di sini beberapa waktu. Gadis demon yang sopan dan rajin.

Katanya ia sedang mencari seseorang saat itu."

Pria demon itu mengklik lidah, tapi ada sedikit rasa lega aneh mendengar adiknya pernah menginjak tempat yang sama.

Demon : "Hmph… orang itu memang suka mengatur."

Pemilik mengeluarkan satu kunci dari rak kecil di belakangnya.

Lena : "Ini kuncinya. Kamar 101. Lantai 1, lurus dari pintu masuk, sebelah kiri.

Aturannya seperti biasa: jangan berisik tengah malam, jangan bawa monster aneh, dan kalau bawa pulang teman, jangan buat keributan. Selama itu, aku tidak peduli kau dari ras apa."

Demon mengambil kunci itu.

Demon : "…Mengerti."

Saat ia berbalik, pemilik apartemen masih menambahkan dengan nada ceria.

Lena : "Kalau butuh sesuatu, bilang saja.

Oh iya—di lantai dua ada anak manusia berambut putih dengan mata berbeda warna. Rei-kun.

Anak itu sopan sekali. Kalian pasti akan sering berpapasan."

Pria demon itu berhenti.

Rei.

Nama yang terlalu familiar di telinganya, mengingat bagaimana Lirya dan Seris kadang menyebut "satu manusia aneh" dari dunia lain.

Namun ia hanya mengangkat bahu dan melangkah.

Demon (dalam hati):

Manusia tetap manusia. Entah rambutnya putih atau matanya beda warna, tetap lemah.

Ia berjalan menyusuri koridor lantai 1, menemukan pintu 101 dengan cepat.

Kunci diputar, pintu terbuka.

Kamar itu sederhana:

– Satu kasur ukuran sedang,

– Lemari kecil,

– Meja belajar,

– Jendela yang menghadap ke halaman samping apartemen,

– Bau deterjen dan kayu lama yang bersih namun sederhana.

Demon menaruh tasnya di sudut, berdiri di tengah ruangan.

Demon : "…Sempit."

Ia ingat lagi pesan Lirya.

"Terima semua ini sebagai bagian dari hukuman. Kau hidup terlalu nyaman selama ini."

Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit.

Demon (dalam hati):

Sekolah multi-ras… hidup bersama manusia, beastkin, elf…

Mereka pikir aku akan berubah hanya karena dicemplungkan ke sarang makhluk lemah?

Namun jauh di lubuk hatinya, ada sedikit rasa penasaran—yang tidak akan pernah berani ia akui.

Demon (dalam hati):

…Sekolah itu… seperti apa, sebenarnya?

Di atas sana, di lantai dua, ada jiwa lain yang baru saja melewati luka lama dan menemukan keluarga baru di dunia berbeda.

Namun untuk saat ini, kedua sosok itu belum saling bersinggungan.

Yang satu, demon sombong yang "dibuang" ke dunia manusia karena masalahnya di akademi.

Yang satu, manusia yang pernah hampir hancur oleh cinta, lalu dipeluk kembali oleh takdir.

Dunia pelan-pelan sedang menyiapkan panggung pertemuan mereka.

Di malam hari, ketika angin membawa aroma yang asing, demon itu duduk di atas kasurnya, menatap langit-langit yang tak memberi jawaban.

Demon (dalam hati): Dunia manusia… apa yang akan aku pelajari di sini? Mungkin lebih baik aku tetap keras kepala dan menunjukkan siapa yang lebih kuat.

Tapi suara kecil dalam dirinya bertanya, Atau mungkin aku memang membutuhkan perubahan?

More Chapters