Cherreads

Chapter 56 - ARC HUTAN TERLARANG – ADIK DEMON YANG DIUSIR

Rei duduk seperti biasa di batu datar tak jauh dari gerbang, satu tangan di lutut, satu lagi menopang dagu.

Garm bersandar santai di bawah pohon besar di belakangnya, tangan terlipat di belakang kepala.

Beberapa saat sebelumnya, Rei merasakan lagi resonansi samar dari jiwanya di dunia manusia—hangat, tenang… dengan sedikit riak malu-malu dari dua elf yang memeluknya semalaman.

Rei menghela napas pelan.

Rei : "Garm, Lirya ke mana? Sudah tiga hari aku tidak melihatnya."

Garm menguap kecil, tanpa membuka mata.

Garm : "Pulang ke rumah. Urusan keluarga, katanya. Harus beresin masalah adik-adiknya. Katanya hari ini sudah selesai dan bakal balik."

Rei : "Begitu ya…"

Ia tidak bertanya lebih jauh, namun di dalam hati, ia sedikit—sangat sedikit—mengkhawatirkan demon cewek yang akhir-akhir ini selalu duduk di sebelahnya.

Beberapa jam kemudian…

Suara langkah ringan terdengar di antara pepohonan.

Suara familiar memanggil dari kejauhan.

Lirya : "Rei!"

Rei menoleh sedikit. Lirya mendekat, duduk di tempat biasa di sebelahnya—agak lebih dekat dari jarak "teman biasa", tapi Rei tidak pernah memprotes.

Rei melirik sekilas.

Rei : "Dari mana saja?"

Lirya sedikit kaget—dia tidak menyangka Rei akan bertanya balik seperti itu. Wajahnya langsung memanas, telinga demon-nya sedikit bergerak.

Lirya : "A-aku… mengurus adik laki-lakiku. Dia dapat masalah di sekolah. Kalau adik perempuanku, seperti biasa… tidak tahu diri."

Rei menatap gerbang lagi, tapi suaranya terdengar sedikit lebih lembut.

Rei : "Masalah apa, sampai harus tiga hari?"

Rei menoleh sedikit lebih lama dari biasanya—hanya sedetik, tapi cukup membuat Lirya salah napas.

Rei: "Tiga hari itu lama."

Lirya yang tadinya mau menjawab santai malah jadi bengong.

Dalam hati, ia panik.

Lirya (dalam hati): "Dia… peduli? Dia benar-benar… peduli masalahku?"

Pipi Lirya memerah, ia menunduk cepat-cepat.

Lirya : "I-itu… bukan masalah besar, kok. Maaf kalau aku menghilang lama."

Rei menghela napas pelan.

Rei : "Kalau kau tidak mau cerita, tidak apa. Mungkin terlalu pribadi.

Maaf kalau terdengar ikut campur."

Lirya buru-buru menggeleng, panik sendiri.

Lirya : "T-tidak! Bukan itu maksudku!"

Garm yang dari tadi pura-pura tidur membuka satu mata, tersenyum miring melihat tingkah sahabatnya dan demon yang jelas-jelas jatuh cinta itu.

Garm : "…Akhirnya, kemajuan."

Lirya menghela napas, lalu mencoba menjelaskan—kali ini dengan nada yang lebih tenang.

Lirya : "Aku lahir di keluarga bangsawan demon.

Aku… anak pertama. Setelahku, ada dua adik.

Satu laki-laki, satu perempuan."

Rei menatapnya sebentar, lalu kembali menatap gerbang—tapi telinganya fokus.

Rei : "Adik perempuanmu yang di akademi sihir, kan? Kau pernah sebut."

Lirya mengangguk.

Lirya : "Iya. Dia sekarang bersekolah di akademi sihir terkemuka.

Dia anak baik, walaupun keras kepala. Tapi…"

Ia mendesah berat, sudut bibirnya turun saat mengingat adik laki-lakinya.

Lirya : "Masalah utamaku adalah adik laki-lakiku.

Dia dulu sekolah di akademi yang sama juga, tapi—"

Garm menyela, ikut berdiri mendekat.

Garm : "—tapi bocah itu terlalu sombong."

Lirya mendelik.

Lirya : "Garm, jangan potong penjelasanku!"

Garm mengangkat bahu.

Garm: "Intinya? Bocah itu kebanyakan gaya."

Lirya: "Garm—diam."

Lirya menghela napas, lalu melanjutkan.

Lirya : "Dia selalu merasa demon berada di atas segalanya.

Dia sempat berselisih dengan akademi lain—bukan sekali dua kali.

Ada juga kasus duel di luar jam pelajaran, arogan, menantang senior ras lain… pokoknya…"

Ia memijat pelipisnya.

Lirya : "…sebagai kakak, aku malu.

Sebagian masalah memang karena teman-temannya cari gara-gara dulu.

Tapi… adikku juga salah. Dia benar-benar yakin demon itu di atas semuanya."

Rei mengangguk tipis.

Ia sudah terlalu sering melihat pola yang sama: ras yang kuat, lalu merasa berhak menginjak yang lain.

Rei : "Lalu apa yang kalian lakukan?"

Lirya tersenyum pahit.

Lirya : "Keluargaku dan aku sepakat: kalau dibiarkan, dia akan jadi masalah besar di dunia ini.

Jadi… sebagai hukuman dan pelajaran, kami putuskan untuk—"

Ia menatap Rei, seolah menunggu reaksi.

Lirya : "—menyekolahkan dia di dunia manusia."

Rei diam beberapa detik.

Angin hutan terlarang berhembus pelan, mempermainkan rambut putihnya.

Rei : "…Pilihan yang menarik."

Garm menyilangkan tangan, mengangguk setuju.

Garm : "Iya, aku dengar keputusan itu. Jujur saja, aku kira itu ide gila.

Tapi semakin kupikir… mungkin itu satu-satunya cara dia belajar."

Lirya mengangguk pelan.

Lirya : "Kami memilih satu kota di dunia manusia."

"Sekolah itu tidak peduli seberapa kuat kau."

"Mereka hanya peduli… apakah kau bisa berdiri sejajar tanpa menginjak yang lain."

Ia tersenyum kecil, kali ini dengan nada bangga.

Lirya : "Adikku masih punya kepala, meski keras. Secara akademik dia tidak bodoh.

"Jadi… sekarang dia akan hidup di sana."

"Tidak boleh kembali ke dunia ini, sampai dia berubah."

"Itu keputusan keluarga. Termasuk keputusanku sebagai kakak."

"Aku tanda tangani itu sendiri. Kalau dia kembali sebelum berubah… yang pertama mengusirnya lagi adalah aku."

Rei merasakan sesuatu bergetar samar di dalam dada—resonansi tipis dengan dunia manusia.

Sekolah multi-ras, kota itu… pola energi yang ia kenal.

Dalam hati, ia bergumam.

Rei (dalam hati): "Jadi begitu. Dunia ternyata suka mengatur panggungnya sendiri, ya…"

Namun di luar, ia hanya mengangguk biasa.

Rei : "Nama sekolahnya?"

Lirya menyebutkan nama sekolah—yang sekarang juga menjadi sekolah Rei (jiwa di dunia manusia) dan teman-temannya.

Garm tidak menyadari pentingnya hal itu—tapi Rei jelas menyadari keterkaitan garis kisah yang mulai saling bersilangan.

Rei tersenyum samar.

Rei : "Sekolah yang bagus.

Banyak jiwa yang… sedang belajar tumbuh di sana."

Lirya menatap Rei.

Lirya : "Kau tahu sekolah itu?"

Rei mengangkat bahu ringan.

Rei : "…Bisa dibilang begitu."

Garm melirik curiga.

Garm : "Jangan-jangan jiwa satumu itu juga ada di sana?"

Rei hanya tersenyum, tidak mengkonfirmasi, tidak juga membantah.

Rei : "Yang jelas, jika adikmu mau berubah… tempat itu tidak buruk."

Lirya menatap tanah.

Lirya : "Aku hanya… tidak ingin dia tumbuh seperti demon sombong lain yang selalu merendahkan ras lain.

Aku… benci demon seperti itu.

Kami memang kuat, tapi itu tidak berarti kami boleh menginjak orang lain."

Rei menoleh pelan, menatap profil wajah Lirya.

Ia sudah tahu sedikit tentang masa lalu Lirya—bagaimana ia pernah dipaksa tunduk pada aturan bangsawan yang hanya mementingkan kekuatan.

Rei : "Kau kakak yang baik.

Meski adikmu mungkin membencimu sekarang."

Lirya tertawa hambar.

Lirya : "Dia memang membenciku.

Katanya aku menghukumnya terlalu keras.

Tapi… lebih baik dia marah padaku sekarang, daripada menyesal saat sudah terlambat nanti.

Kalau dia bisa hidup berdampingan dengan ras lain tanpa merasa paling tinggi…

Itu sudah cukup untukku."

Garm menyikut pelan bahu Rei.

Garm : "Dengar itu? Gadis ini bahkan bisa jadi kakak yang bagus.

Kalau dia bisa jadi kekasih yang bagus…"

Lirya : "GARM!"

Ia memukul kepala Garm dengan cukup keras sampai pria beastkin itu mengaduh.

Garm : "Aww! Itu sakit!"

Rei menahan tawa kecil, tapi sudut bibirnya naik beberapa milimeter.

Rei : "Kalau adikmu benar-benar berubah, bawa dia ke sini suatu hari nanti.

Aku ingin melihat, seberapa jauh ia sudah melangkah di dunia manusia."

Lirya menatap Rei, sedikit terkejut tapi juga senang.

Lirya : "Kalau dia berhasil… aku akan bawa dia ke sini.

Akan kuperlihatkan, bahwa dunia tidak hanya diisi oleh demon sombong, tapi juga… manusia aneh yang menjaga gerbang sendirian."

Garm : "Aku tersinggung, tapi setuju."

Rei kembali memandang gerbang. Energi dimensi itu bergetar pelan—stabil, tapi tidak pernah benar-benar tenang.

Di sisi lain gerbang, di sebuah kota di dunia manusia…

seorang bocah demon—adik Lirya—baru saja akan menjalani hari pertamanya di sekolah baru yang penuh ras berbeda.

Tanpa ia sadari, di sekolah yang sama, ada seorang manusia berambut putih dan mata heterokrom yang pelan-pelan mulai mengubah nasib banyak orang di sekelilingnya.

Rei (penjaga gerbang) menutup mata sejenak.

Rei (dalam hati): "Jiwaku di sana…

Aku titip satu bocah keras kepala lagi padamu."

Lalu, dengan tenang, ia kembali duduk sebagai penjaga—mengawasi gerbang, energi anomali, dan… secara halus, nasib orang-orang yang mulai saling terhubung oleh pilihan mereka masing-masing.

??? : "Jadi inikah dunia yang mereka pikir akan mengubahku?"

More Chapters