Beberapa minggu berlalu setelah festival sakura.
Kehidupan sekolah mereka perlahan kembali stabil—dengan bentuk yang baru.
Di koridor, di taman, di kantin…
Riku dan Rika kini hampir tidak pernah terlihat terpisah.
Mereka selalu berjalan berdampingan, sering bergandengan tangan jika di luar kelas, dan di dalam kelas duduk bersebelahan.
Saat istirahat:
Riku dengan santai menggeser bekal ke arah Rika.
Riku : "Kalau nggak suka lauk kamu, ambil punyaku aja."
Rika menghela napas, pipinya merah.
Rika : "Jangan terlalu manja pada pacar sendiri…"
Tapi sumpitnya tetap bergerak mengambil lauk dari kotak makan Riku.
Di meja lain, Airi hanya bisa tersenyum—dan tentu saja, tidak mau kalah.
Ia semakin sering berada di sisi Rei: memanggilnya saat istirahat, duduk di sebelahnya waktu belajar kelompok, mengaitkan lengan ketika mereka pulang lewat taman dekat sekolah.
Rei hanya bisa pasrah setiap kali Airi menempel seperti anak kucing manja.
Rei : "Airi, kalau kau terlalu dekat, aku susah menulis."
Airi : "Kalau begitu, tulis setelah aku puas, Rei."
Murid-murid lain melihat mereka dan berbisik pelan.
Murid 1 : "Apa Airi sekarang sudah resmi pacaran sama Rei?"
Murid 2 : "Entahlah, tapi… dari cara dia menatap Rei sih, jawabannya jelas."
Rei kadang hanya bisa menghela napas, tapi dalam hatinya, ia tahu satu hal:
kehadiran Aelria dan Airi di hidupnya… membuat hari-hari yang dulu gelap terasa jauh lebih hangat.
KRISTAL KOMUNIKASI – KABAR DARI DUNIA LAIN
Seperti biasa, seminggu sekali, di malam yang telah mereka sepakati, bola kristal pemberian Seris memancarkan cahaya lembut di kamar Rei.
Rei duduk bersila di lantai, bola kristal di depannya.
Di sisi kanan, Airi duduk menempel, memeluk bantal.
Di sisi kiri, Hina bersila sambil memegang cangkir teh hangat.
Di belakang mereka, Riku dan Rika duduk berdampingan, punggung bersandar ke kasur Rei.
Kristal itu bergetar pelan, lalu cahaya hijau kebiruan meluas.
Wajah Aelria muncul, disusul Rinna, si kembar Noelle & Nerine, Seris, dan Fiora yang berdiri agak di belakang.
Aelria tersenyum cerah, mata hijau berkilau.
Aelria : "Rei! Airi! Yang lain juga!"
Airi melambaikan tangan antusias.
Airi : "Onee-chan~!"
Rei tersenyum lembut, sembari ikut melambaikan tangan.
Rei : "Bagaimana akademi? Kau tidak menyusahkan Seris dan yang lain kan, Aelria?"
Seris, dari belakang, melipat tangan pura-pura kesal.
Seris : "Terlalu menyusahkan. Tapi ya… itu Aelria."
Aelria : "Seris, jangan merusak citra sahabatmu."
Tawa kecil terdengar di kedua sisi dunia.
Setelah beberapa salam singkat, topik pun mengarah ke hal yang paling sering mereka bahas beberapa minggu ini.
Rinna bersandar ke pundak salah satu kembar, menyeringai.
Rinna : "Jadi, jadi, kalian berdua—"
Ia menunjuk Riku dan Rika dari dalam pantulan kristal.
Rinna : "—benar-benar resmi sekarang?"
Riku menggaruk tengkuknya, malu.
Rika menunduk, ekor beastkin-nya (yang hanya Aelria pernah lihat langsung) seolah berkibas dalam imajinasi semua orang.
Riku : "…Ya."
Rika : "…M-mohon kerja samanya."
Noelle dan Nerine nyaris berteriak bersamaan, membuat Riku dan Rika makin salah tingkah.
Aelria menatap mereka dengan lembut.
Aelria : "Aku senang… akhirnya kau jujur, Riku."
Riku sedikit terkejut disebut.
Riku : "…Aelria-san."
Aelria tersenyum tipis, namun penuh makna.
Aelria : "Kalau terus memendam, akhirnya hanya akan berakhir seperti aku dulu.
Dan itu… menyakitkan untuk semua orang, bukan hanya dirimu sendiri."
Rei menatapnya dari samping bola kristal.
Rei : "…Kau sudah jauh lebih kuat, Aelria."
Aelria menggeleng kecil.
Aelria : "Aku hanya… tidak ingin ada yang mengulang kesalahan yang sama."
Dalam hati, Airi mengamini kata-kata itu.
Airi memeluk bantal lebih erat, pipinya sedikit menghangat ketika menyadari bahwa dirinya pun sudah jauh lebih jujur tentang perasaannya pada Rei dibanding beberapa bulan lalu.
Airi (dalam hati): "Kalau onee-chan saja berani mengizinkanku berada di sisi Rei… aku juga harus berani menjaga perasaan itu dengan jujur."
NAMA YANG TIBA-TIBA DISEBUT – HINA
Obrolan berlanjut ke hal-hal ringan:
– Latihan sihir di akademi,
– Kesibukan festival internal mereka,
– Rencana-rencana kecil setelah lulus nanti.
Tapi di sela tawa, Aelria tiba-tiba menatap ke arah seseorang di sisi Rei.
Hina.
Hina sedang tertawa kecil mendengar tingkah si kembar, namun tawa itu selalu berhenti sedikit lebih cepat daripada yang lain.
Aelria memperhatikannya beberapa detik.
Lalu ia membuka suara dengan lembut.
Aelria : "Hina… kalau kamu nyaman cerita, aku boleh tanya satu hal?"
Hina yang sedang menyeruput teh hampir tersedak.
Hina : "E-eh… apa, Aelria-san?"
Aelria mengangguk pelan.
Aelria : "Dulu kamu pernah bilang ada seseorang yang kamu suka. Aku cuma… ingin memastikan kamu tidak memikulnya sendirian."
Riku, Rika, dan Airi refleks menoleh pada Hina.
Rei juga ikut melihat, alisnya sedikit terangkat.
Aelria melanjutkan, suaranya tidak menghakimi, hanya… lembut dan penasaran.
Aelria : "Beberapa minggu ini aku sering mendengar tentang Riku dan Rika… lalu tentang Airi dan Rei…
Tapi tidak ada yang bercerita tentang Hina.
Apakah… semuanya baik-baik saja?"
Hina menunduk, jari-jarinya melingkar di cangkir teh yang sudah mulai dingin.
Hina : "Aku… baik-baik saja kok. Nggak usah khawatir, Aelria-san."
Aelria tersenyum tipis, tapi matanya tajam—mata seseorang yang sudah sering melihat orang lain pura-pura kuat.
Aelria : "Saat itu, waktu bermain di kamar Rei… Hina berkata ada seseorang yang ia suka, tapi tidak ingin menyebutkan siapa.
Sekarang… apakah perasaan itu masih sama?"
Suasana kamar mendadak lebih hening.
Airi menggigit bibir, tersadar sesuatu.
Riku menatap Hina sekilas—ada rasa ganjil di dalam dadanya, seolah ada sesuatu yang tadinya ia abaikan.
Rei memutuskan untuk tidak memaksa.
Ia tau rasanya dipaksa jujur saat belum siap.
Rei : "Kalau Hina tidak ingin bercerita, tidak apa-apa.
Yang penting, kau tidak menyakiti dirimu sendiri, Hina."
Hina mengangkat wajah, menatap Rei dan teman-temannya yang duduk berdekatan.
Dalam sekejap, ia seperti melihat garis tipis antara apa yang ia miliki dan apa yang tidak pernah menjadi miliknya.
Hina tersenyum—senyum yang rapi. Tapi jari-jarinya mengencang di gagang cangkir, membuat sendok kecil di dalamnya berdenting pelan.
Hina: "Orang itu… sudah bahagia."
Hina sembari tersenyum menegakkan punggungnya, seolah berusaha untuk tidak membiarkan kelemahan terlihat.
Hina: "Dan aku memilih… ikut bahagia."
Rika merasakan sesuatu menusuk halus di dalam dada.
Airi memegang bantal sedikit lebih kuat.
Riku, tanpa sadar, mengepalkan tangan di atas lututnya—marah pada dirinya sendiri karena baru menyadari sesuatu yang sudah terlalu lama ada di depan matanya.
Riku : "Hina…"
Hina menggeleng pelan, menatap ke arah bola kristal.
Hina : "Aelria-san, aku benar-benar baik-baik saja.
Sekarang aku punya orang-orang yang bisa kusebut keluarga.
Rei, Airi, Riku, Rika… dan kalau suatu hari nanti aku menemukan seseorang yang bisa kucintai lagi…
Aku ingin waktu itu aku sudah benar-benar siap menerima dan kehilangan sekaligus."
Senyum Hina membalas.
Aelria terdiam sesaat.
Di sisi lain kristal, Fiora dan Seris saling bertukar tatapan—menyadari kedewasaan yang sedikit… menyedihkan.
Seris menghela napas pelan.
Seris : "Kalau suatu hari kau butuh tempat menangis jauh dari pandangan mereka… datanglah ke dunia kami, Hina."
Hina tertawa kecil.
Hina : "Kalau aku datang, kalian pasti kelelahan menghadapi keluhanku."
Noelle : "Tidak apa-apa! Kami spesialis mendengar drama cinta!"
Nerine : "Betul! Dan kami bisa menyiapkan bantal, selimut, dan makanan manis!"
Suasana yang sempat berat perlahan kembali menghangat.
Namun, di hati masing-masing, kata-kata Hina menggantung seperti bayangan lembut yang tidak hilang.
Rei (dalam hati): "…Hina."
Ia tahu siapa yang Hina maksud.
Dan ia tahu satu hal:
ia tidak akan membiarkan Hina merasa sendirian—tidak untuk kali ini.
MALAM ITU – KAMAR SUNYI HINA
Panggilan kristal berakhir satu jam kemudian.
Cahaya hijau memudar, menyisakan pantulan wajah mereka sendiri di bola transparan itu.
Riku dan Rika berpamitan duluan.
Riku : "Aku antar Rika pulang dulu, ya. Besok kita latihan bareng lagi."
Airi juga pulang ke rumahnya dengan senyum ceria, meninggalkan Rei sendirian di apartemen kecilnya.
Hina berjalan pulang sendirian melewati trotoar malam.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di aspal basah sisa hujan siang tadi.
Ia membuka pintu kamar. Bau deterjen murah dan kertas buku menyambutnya—bau yang selalu sama, seperti pengingat bahwa tak ada siapa pun yang menunggu.
Hina menaruh tas. Kunci beradu dengan meja, berbunyi terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
Tidak ada suara "Selamat datang dari orang tua".
Tidak ada aroma masakan rumah.
Hina (dalam hati): "Aku bilang aku baik-baik saja… padahal masih belajar untuk benar-benar jadi baik-baik saja."
Ia menengadah menatap langit-langit.
Bayangan Riku dan Rika tertawa di taman festival muncul di benaknya.
Lalu wajah Rei yang tersenyum hangat… ketika memeluk Aelria dan Airi di hari perpisahan elf itu dari dunia manusia.
Hina tersenyum, tapi ada yang hilang di balik matanya.
Hina : "Cinta pertama… dan juga cinta yang tidak berbalas… ya."
Namun setelah beberapa detik, ia menghapus senyum pahit itu sendiri, menggantinya dengan senyum lembut yang hanya ia tunjukkan pada dirinya sendiri.
Hina : "Tapi aku tidak sendirian.
Aku punya mereka.
Itu saja… sudah lebih dari cukup dibanding masa SMP-ku dulu."
Ia berdiri, menyiapkan mi instan sederhana.
Suara air mendidih memenuhi kamar kecil itu, mengusir sedikit rasa sepi.
Dalam hati, sebuah tekad kecil tumbuh:
Hina (dalam hati): "Suatu hari nanti… aku ingin jujur lebih cepat."
"Bukan untuk memiliki—
tapi supaya ia tidak perlu berpura-pura kuat di depan cermin setiap malam."
Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma samar sakura yang mulai gugur.
Di dunia lain—di depan gerbang dimensi yang dijaga—Rei (Elyndor) membuka matanya sesaat.
Rei : "…Benar-benar, semua orang di sekeliling jiwa itu… terlalu lembut sekaligus terlalu keras pada diri sendiri."
Lirya meliriknya dari samping.
Lirya : "Kau mengatakan sesuatu?"
Rei hanya tersenyum kecil.
Rei : "Tidak. Hanya merasa… satu hati baru saja membuat keputusan kecil untuk terus melangkah."
Malam pun berlalu.
Di satu sisi dunia, cinta baru mulai mekar.
Di sisi lain, cinta yang tidak terbalas belajar berubah bentuk—bukan hilang, tapi menjadi kekuatan untuk tetap tersenyum bersama orang-orang yang ia sayangi.
