Pagi setelah pengakuan itu, hidup Riku terasa beda—bukan karena rutinitasnya berubah, tapi karena senyum yang menempel sejak semalam tak juga mau pergi.
Walaupun rutinitas sama: bangun, mandi, sarapan dengan ayah, sementara ibu dan adik muncul lewat hologram di meja makan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan:
Senyum yang tidak mau hilang dari wajahnya.
Ayahnya menatap sambil menyeruput kopi.
Ayah Riku : "Jadi, Nak… mau jelasin kenapa dari tadi muka kamu kayak orang habis menang lotre?"
Dari layar hologram, ibunya ikut memiringkan kepala.
Ibu Riku : "Jangan-jangan… ini soal gadis yang kamu suka kemarin?"
Riku yang sedang mengunyah roti terdiam sejenak, tanpa sadar menyentuh pipi yang semalam dicium Rika
Riku menunduk, tapi senyumnya tidak hilang.
Ayah Riku menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum lebar.
Ayah Riku : "Jadi, udah resmi pacaran, ya?"
Riku : "…Gimana Ayah bisa tahu sih…"
Ibu Riku tertawa dari hologram.
Ibu Riku : "Soalnya wajah kamu itu sama persis kayak Ayah kamu waktu pertama kali Ibu jawab 'iya'."
Riku akhirnya menyerah, mengangguk pelan.
Riku : "Iya… kami resmi pacaran."
Ayahnya menepuk meja, bangga.
Ayah Riku : "Bagus! Itu yang Ayah maksud. Lelaki jangan cuma berdiri di bayangan."
Ibu Riku : "Ceritakan, dong. Gimana? Di taman? Lagi festival? Ada kembang api?"
Riku menghela napas malu, tapi mulai menceritakan:
— bagaimana mereka ditinggal berdua di bangku taman,
— bagaimana ia hampir menyerah,
— bagaimana Rika marah karena ia ingin menyerah,
— dan bagaimana akhirnya Rika mengaku bahwa orang yang membuatnya tertarik… adalah dirinya.
Saat bagian itu, senyum Riku lembut sekali.
Riku : "…Terus dia tiba-tiba… cium pipi aku… terus lari masuk rumah."
Ayah Riku tiba-tiba mengetuk kepala Riku pelan dari samping.
Ayah Riku : "Yang Ayah nggak suka cuma satu bagian."
Riku mengerjap.
Riku : "Bagian mana?"
Ayah Riku : "Bagian di mana kamu bilang mau menyerah karena takut dia suka orang lain.
Itu kelakuan pengecut. Untung dia marah dan paksa kamu jujur."
Riku menggaruk tengkuknya.
Riku : "…Aku juga nyesel bilang gitu, kok."
Ibu Riku tertawa kecil.
Ibu Riku : "Yang penting, kamu ngambil langkah maju. Cinta itu bukan soal nggak takut, tapi soal berani walau takut."
"Dan kamu sudah lakukan itu."
Riku mengangguk mantap.
Riku : "Iya. Makasih, Ayah, Ibu… Kalau bukan karena nasihat kalian sama Rei… mungkin aku masih diem aja sampai sekarang."
Setelah sarapan dan gurauan ringan, Riku menatap jam. Waktunya untuk memulai hari, dan pikiran tentang Rika semakin menguat
06.25 pagi.
Riku berdiri, merapikan seragamnya.
Riku : "Kalau gitu, aku berangkat dulu. Aku mau jemput dia."
Ibu Riku tersenyum senang sekali.
Ibu Riku : "Sampaikan salam untuk Rika-chan, ya."
Ayah Riku : "Dan jangan bikin dia nangis. Kalau sampai dia nangis karena kamu, Ayah yang kirimmu ke pelatihan fisik ekstra."
Riku tertawa kecil.
Riku : "Tenang aja. Aku nggak akan melakukan hal bodoh itu lagi."
PAGI DI GANG KECIL – JEMPUTAN PERTAMA
Riku turun dari mobil keluarga di ujung gang – ia sengaja meminta sopir berhenti lebih jauh.
Riku : "Sampai sini aja, Pak. Sisanya saya jalan sendiri."
Supir : "Baik, Riku-sama. Hati-hati."
Alasan sebenarnya sederhana:
Ia ingin momen ini terasa seperti "pacar menjemput", bukan "anak konglomerat datang dengan mobil mewah".
Udara pagi sejuk.
Rumah sederhana keluarga Rika berdiri di ujung gang, dengan pot-pot tanaman kecil di depannya.
Riku berhenti di depan pintu rumah itu, menarik napas panjang.
Riku : "Oke… tenang. Cuma jemput pacar. Bukan lawan raja iblis."
Ia mengangkat tangan, mengetuk pintu pelan.
Tok tok.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka.
Rika muncul di ambang pintu, masih mengikat rambut beastkin khasnya sambil menggigit pelan ujung karet rambut. Seragam sudah rapi, tapi telinganya yang halus dan ekor kecil di belakangnya bergerak gelisah.
Begitu melihat Riku, gerakan tangannya terhenti.
Rika : "…Riku?"
Riku sempat bengong.
Ia terbiasa melihat Rika di lapangan latihan, berkeringat, wajah tegas.
Melihat Rika pagi-pagi dengan rambut masih setengah terikat seperti ini… sesuatu di dadanya berdebar.
Riku menggaruk pipinya.
Riku : "P-pagi. Aku… kepikiran buat jemput kamu."
Rika memalingkan wajah sebentar, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Rika : "…Tunggu sebentar."
Ia menghilang ke dalam rumah.
Sesaat, terdengar suara ayah Rika dari dalam:
Ayah Rika : "Siapa, Rik—oh. Itu anak laki-laki yang semalam Ayah lihat antar kau pulang itu, ya?"
Rika : "Ayah, jangan keras-keras!"
Ibunya tertawa pelan.
Ibu Rika : "Bilang pada dia: kalau menyakitimu, laporkan pada Ayah dan Ibu."
Riku di luar menegang. Telinganya yang sudah terlatih jelas menangkap itu.
Riku : "…Aku harus benar-benar nggak boleh macam-macam, nih."
Tak lama kemudian, Rika keluar kembali, kali ini dengan rambut sudah terikat rapi dan tas di punggung.
Rika membuka pintu pelan.
Rika : "Maaf… menunggu."
Riku tersenyum lembut.
Riku : "Nggak apa-apa. Kita berangkat?"
Rika mengangguk. Mereka mulai berjalan berdampingan di gang kecil itu.
Beberapa langkah pertama… sunyi.
Lalu, Riku memberanikan diri mengulurkan tangan pelan, menyentuh punggung tangan Rika.
Rika menoleh sekilas, mata mereka beradu.
Riku : "…Boleh?"
Rika menunduk, telinganya bergerak gelisah.
Rika : "…Jangan lepaskan di tengah jalan, ya."
Riku tertawa kecil.
Riku : "Aku nggak bodoh untuk melepas hal paling berharga yang baru kuraih semalam."
DI GERBANG SEKOLAH – HINA & SERANGKAIAN RASA
Saat mereka tiba di dekat gerbang sekolah, beberapa murid sudah mulai berdatangan.
Beberapa orang yang mengenal mereka langsung membelalakkan mata.
Murid 1 : "Eh, lihat deh. Itu…"
Murid 2 : "Seriusan? Riku dan Rika… pegangan tangan?"
Murid 3 : "Ya… dari dulu kelihatan sih. Cuma akhirnya resmi juga, ya."
Ada yang bersiul pelan, ada yang cuma tersenyum maklum.
Tidak ada yang memusuhi. Di mata mereka, ini hanya sebuah pasangan baru di antara banyak pasangan di sekolah.
Di sisi lain gerbang, Hina baru turun dari bus.
Ia berjalan pelan, tas di bahu, rambut bergoyang mengikuti langkah.
Ketika matanya tidak sengaja menangkap pemandangan Riku dan Rika bergandengan tangan, dunia sejenak melambat.
Hina berhenti.
Jari-jarinya mencengkeram tali tas sedikit lebih kuat.
Di depan sana, Riku terlihat gugup tapi bahagia.
Rika—yang biasanya tegas dan dingin di lapangan—kini menunduk malu, namun tidak melepaskan genggaman tangannya.
Hina menutup mata sesaat.
Hina (dalam hati): Kuat, Hina. Demi kebahagiaan mereka.
Tapi… kenapa dada ini tetap perih?"
Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa tubuhnya berjalan lagi.
Saat jarak mereka cukup dekat, Riku melihat Hina dan mengangkat tangan bebasnya.
Riku : "Pagi, Hina!"
Hina tersenyum—senyum yang ia latih bertahun-tahun untuk menutupi semua luka.
Hina : "Pagi. Kalian… kelihatan cocok."
Nada Hina menggoda, seperti biasa saat mengusili pasangan baru.
Rika sedikit kaget, lalu menatap Hina dengan canggung.
Rika : "…Maaf, Hina. Kalau…"
Hina menggeleng cepat.
Hina : "Tidak ada yang perlu minta maaf.
Kalian nggak merebut apa pun dariku.
Aku cuma… agak kaget saja. Tapi aku ikut senang."
Dalam hati, kalimatnya punya lanjutan yang tidak ia ucapkan:
Hina : (dalam hati) "Aku akan menyimpan perasaanku sendiri.
Cukup jadi sahabat baik yang bisa tertawa di dekatmu… walaupun malam nanti aku mungkin menangis sendirian."
Riku menatap Hina sejenak—entah kenapa, ia merasa ada sesuatu di balik senyum itu.
Namun ia belum cukup peka untuk memahami semuanya.
Riku : "Terima kasih, Hina."
Hina mengangkat tangan, menepuk pelan bahu Riku.
Hina : "Kalau sampai kau buat Rika menangis, aku orang pertama yang akan memukulmu, ingat itu."
Rika : "Betul. Aku setuju."
Riku : "Kenapa kalian kompak di bagian itu aja…"
Untuk sesaat, mereka bertiga tertawa bersama.
Di tengah tawa itu, Hina mencoba sedikit lega—bahkan bila hatinya masih perih.
KELAS BARU, DINAMIKA BARU
Di kelas, Rei sudah duduk di kursinya, sedang membaca buku sambil menunggu jam pelajaran dimulai. Di sebelahnya, Airi duduk santai sambil menatap jendela.
Pintu kelas terbuka.
Riku masuk lebih dulu, diikuti Rika yang datang agak dekat di belakangnya.
Walau mereka melepas gandengan tangan tepat sebelum memasuki koridor kelas, aura di antara mereka… berbeda.
Airi menatap, alisnya terangkat.
Airi : "…Ada sesuatu yang berubah."
Rei menutup buku, melirik ke arah mereka.
Rei : "Hm?"
Hina masuk beberapa detik kemudian, duduk di kursinya dengan senyum kecil yang hangat.
Begitu Riku duduk, Airi mencondongkan tubuh ke arah Rei.
Airi : "Rei, tebakanku bener nggak? Riku dan Rika kelihatan… lebih dekat dari biasanya."
Rei memandangi keduanya sebentar.
Riku yang biasanya agak canggung kini sering mencuri pandang ke arah Rika.
Rika—yang biasanya fokus pada bukunya—mendadak mengalihkan wajah tiap kali pandangan mereka bertemu.
Rei : "…Kurasa, mereka sudah saling jujur, ya."
Airi tersenyum puas.
Airi : "Yah, bagus lah.
Cinta yang cuma dipendam itu bikin dada sesak."
Ia menoleh ke Rei, menatap lengan yang pernah ia genggam, pipi yang semalam pernah ia cium sebelum berpisah dengan Aelria.
Airi (dalam hati): "Itu juga berlaku buat aku dan onee-chan…"
Hina menatap mereka dari sudut meja, tersenyum pelan.
Ia senang lingkaran kecil mereka semakin kuat—bahkan kalau hatinya harus belajar berdamai dengan kenyataan.
Hari itu, bel berbunyi, pelajaran dimulai.
Di luar jendela, kelopak sakura perlahan-lahan jatuh.
Musim berganti, hubungan berubah, luka lama tidak hilang… tapi mulai bergerak ke babak baru.
Dan di antara semua itu, sebuah takdir yang tak terhindarkan sedang bergerak—mengarahkan tiga jiwa yang saling terhubung, yang tak tahu bahwa jalan mereka akan bersinggungan di titik yang sama.
