Cherreads

Chapter 53 - INTERLUDE – MINA & Hayato : FESTIVAL SAKURA YANG PAHIT

Keesokan harinya, sekolah berjalan seperti biasa…

hanya saja, untuk Mina, "biasa" sudah lama tidak terasa normal.

Seperti hari-hari lain, ia datang bersama Hayato.

Mereka berjalan berdampingan di gerbang sekolah—sepatu menginjak kelopak sakura yang mulai berguguran.

Beberapa murid melirik.

Ada yang cepat-cepat mengalihkan pandangan, ada yang berbisik pelan.

Kirra : "Lihat tuh… pasangan calon keluarga besar."

Kou : "Kalau nggak ingat apa yang dulu terjadi sama cowok itu… mungkin aku bisa ikut seneng."

Haru (pelan): "Udah lah, jangan keras-keras… nanti ketua OSIS dengar."

Mina berjalan dengan wajah tenang.

Kakinya melangkah, tubuhnya tegak, tapi di dalam—

Mina (dalam hati): "Aku nggak punya hak buat marah. Mereka nggak salah…"

Persiapan Festival Sakura

Di kelas, guru wali berdiri di depan papan tulis, mengumumkan sesuatu dengan semangat.

Wali Kelas: "Baik, seperti yang kalian tahu, sekolah akan mengadakan Festival Sakura untuk menyambut musim baru. Setiap kelas harus menyiapkan stand atau atraksi."

Suara riuh langsung pecah.

Ada yang ingin buka stand makanan, ada yang ingin bikin rumah hantu, ada yang usul mini panggung musik.

Wali Kelas : "Silakan bentuk kelompok 4–5 orang. Setiap kelompok akan menangani satu bagian."

Begitu kata "kelompok" keluar, suasana ruangan berubah.

Murid-murid langsung berdiri, menarik kursi, memanggil teman dekat.

Bangku Mina tetap diam.

Ia tahu pola ini.

Ia sudah menghafalnya.

Kumpulan kecil terbentuk:

Grup anak-anak yang jago sihir,

Grup mereka yang kuat secara fisik,

Grup "ceria" yang penuh gosip dan tawa.

Namanya tidak dipanggil.

Mina (dalam hati): "Seperti biasa…"

Ia menunduk, memainkan ujung penanya.

Suara kursi digeser berhenti tiba-tiba ketika sebuah suara berat memotong riuh kelas.

Hayato : "Tunggu sebentar."

Seluruh kelas diam.

Ketua OSIS berbicara, dan semua orang tahu reputasinya—apalagi setelah insiden-insiden di luar yang membuat namanya semakin besar.

Hayato berdiri, menatap seisi kelas satu per satu.

Hayato : "Aku perhatikan, tidak ada yang mengajak Mina."

Beberapa murid menelan ludah.

Kirra : "Bukan begitu, cuma…"

Hayato mengangkat tangan, menghentikan alasan yang bahkan belum sempat keluar.

Hayato : "Aku tidak peduli alasan personal kalian.

Tapi secara struktur kelas, kita butuh kerjasama yang baik.

Kalau ada yang sengaja mengucilkan satu anggota kelas…

aku anggap itu mengganggu kekompakan—dan itu bertentangan dengan aturan sekolah."

Ia tersenyum tipis, tapi matanya tidak.

Hayato : "Kalian nggak mau, kan, masalah kecil ini naik ke OSIS dan guru-guru?"

Suasana jadi kaku.

Mina merasakan mata-mata yang tadinya menolak, kini terpaksa menoleh padanya.

Kou : "Ini namanya dipaksa, woy…"

Haru (mendengus): "Yah, daripada disikat ketua OSIS, mending beresin cepat."

Akhirnya, salah satu kelompok dengan enggan membuka mulut.

Kirra : "Mina… kalau kamu belum ada kelompok, gabung sama kami aja."

Nada suaranya sopan di permukaan, tapi kosong.

Seolah hanya menjalankan kewajiban administratif.

Mina mengangkat wajah, tersenyum kecil.

Mina : "Terima kasih… aku ikut, kalau tidak merepotkan."

Senyumnya tetap ada, tapi ujung jarinya menekan buku catatan sampai kertasnya berkerut.

Dalam hati, ia tahu:

Bukan diterima, hanya tidak boleh ditolak.

Kelompok yang Tersusun Paksa

Kelompok Mina bertugas mengurus dekorasi utama stand kelas—portal bunga sakura di depan stand dan beberapa ornamen gantung.

Mereka berkumpul di ruang kelas setelah jam pelajaran, meja penuh kertas, pita, dan desain yang harus dipilih.

Kirra : "Oke, kita bagi tugas.

Aku dan Yunna bagian desain.

Kou dan Haru bagian logistik."

Mina menunggu namanya disebut.

Beberapa detik lewat… tidak ada.

Akhirnya, salah satu dari mereka melirik sekilas.

Kirra : "Mina, kamu bisa bantu potong ornamen sakura. Yang rapi, ya."

Mina : "Baik."

Tidak ada yang langsung menyodorkan gunting atau template.

Ia sendiri yang bangkit, mengambil alat, dan duduk di sudut meja.

Ia bekerja rapi—memotong ornamen sakura dengan presisi, menyusun pita sesuai pola yang sudah diputuskan.

Sesekali, mereka melirik.

Yunna (pelan): "Dia rapi juga, ya…"

Kou (pelan): "Iya… tapi tetap aja. Kamu tahu sendiri masa lalunya."

Mina mendengar sepenggal, tapi tidak bereaksi.

Mina (dalam hati): "Mereka benar.

Aku nggak bisa menuntut apa-apa… setelah apa yang aku lakukan."

Ia berhenti sejenak, menatap selembar kertas sakura di tangannya.

Dalam satu kelopak, ia seperti melihat:

Senyum Rei di bawah pohon sakura lama,

Aelria yang berdiri di samping mereka, tertawa lembut,

Dan dirinya sendiri… yang menggenggam dua dunia dan akhirnya menjatuhkannya.

Mina menggenggam pelan.

Mina (dalam hati): "Rei… waktu itu, saat aku bilang 'ya'… perasaan itu tidak pernah palsu.

Yang palsu adalah diriku…

yang pura-pura seolah tidak ada Hayato dan janji keluarga."

Ancaman Halus Hayato

Beberapa hari sebelum festival, Mina pulang sedikit lebih malam karena lembur dekor.

Di belakang sekolah, dua murid dari kelas lain sedang mengobrol, tapi suara mereka cukup jelas.

Murid 1: "Serius, ya. Kalau bukan karena Hayato, dari dulu gue nggak bakal mau satu kelompok sama dia."

Murid 2: "Ya, tapi ngaku deh… waktu Hayato dulu itu…

kalimat yang dia ucapin ke Rei tuh keterlaluan banget."

Mina berhenti di balik dinding, tanpa sengaja mendengar.

Murid 1: "Keluarga, alasan, janji, apalah itu… ucapan tetap ucapan.

Aku kalau jadi Rei, mungkin udah beneran lompat dari atap sekolah."

Mina memejamkan mata—dadanya sesak.

Sebelum perbincangan berlanjut, langkah kaki lain terdengar dari arah lorong.

Hayato : "Kalian masih di sekolah jam segini?"

Dua murid itu refleks kaku.

Murid 1: "Ah, Kurogane-senpai! Kami cuma…"

Hayato tersenyum, tapi tatapan matanya dingin.

Hayato : "Aku nggak dengar jelas, tapi…

sepertinya kalian menyebut nama Mina, ya?"

Suasana memadat.

Murid 2: "B-bukan… kami cuma—"

Hayato melangkah lebih dekat, suaranya tetap tenang.

Hayato : "Aku nggak melarang kalian punya pendapat.

Tapi kalau gosip kalian mengganggu konsentrasi kelas atau mencemarkan nama salah satu anggota kelas…

sebagai ketua OSIS aku wajib turun tangan."

Murid 1: "Tidak akan terulang lagi! Maaf!"

Murid 2: "Kami nggak akan ngomongin dia lagi…"

Hayato : "Bagus."

Ia berbalik, berjalan pergi.

Tanpa Hayato sadari, Mina berdiri tidak jauh, memeluk buku di dadanya.

Mina (dalam hati): "Kau… melindungiku dengan cara seperti itu…"

Ada rasa hangat—karena dilindungi.

Tapi juga dingin—karena ia tahu,

perlindungan yang dipaksakan hanya akan membuat kebencian terhadapnya semakin dalam, hanya dibungkus dengan rasa takut.

More Chapters