Malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Sakura yang tertiup angin lembut menari seolah merayakan keputusan besar dua hati yang akhirnya saling jujur. Resmi sudah — Rika dan Riku berpacaran sejak detik pengakuan itu di bangku taman.
Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari area taman, tangan mereka masih kaku, hangat, namun gugup. Riku sesekali melirik ke samping, memastikan bahwa yang ia genggam memang benar tangan Rika… bukan mimpi.
Tak lama, ponsel keduanya bergetar hampir bersamaan.
Notifikasi Grup "Lima Cahaya"
Airi : "Aku dan Rei sudah pulang duluan yaa~ capek banget abis festival hehe."
Rei : "Bener, next time kita harus atur stamina. Hahaha."
Hina : "Aku juga udah pulang… lupaaa bilang. Sekarang udah di kamar kok."
Rika membaca cepat lalu mendesah pelan.
Rika : "Ini pasti ulah mereka. Sengaja ninggalin kita berdua."
Riku hanya tertawa kecil sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
Riku : "Ya… tapi berkat mereka, kita bisa saling jujur hari ini. Jadi… aku nggak bisa marah."
Rika melirik sekilas, wajahnya merona kembali.
Rika : "Tapi aku masih ingat seseorang yang bilang mau menyerah, loh."
Riku hanya tersenyum malu dan mengalihkan pandangan.
Perjalanan Pulang — Malu, Hangat, dan Indah
Riku memutuskan untuk mengantar Rika pulang dengan berjalan kaki. Alasannya sederhana — ia ingin menikmati malam itu sedikit lebih lama bersama gadis yang kini menjadi kekasihnya.
Jalanan sepi, hanya ditemani suara jangkrik dan daun yang bergesekan. Keduanya berjalan berdampingan, tangan masih terikat kaku seperti baru belajar menggenggam.
Beberapa menit penuh keheningan membuat wajah mereka semakin panas — hingga akhirnya Rika membuka obrolan.
Rika : "Riku… sebenarnya… apa yang kau suka dariku? Aku ini cuma beastkin biasa. Nggak cantik seperti Airi atau Aelria… dan nggak seceria, sebaik Hina…"
Kata-kata itu terdengar tulus namun penuh keraguan. Riku berhenti sebentar, lalu menggenggam tangan Rika lebih erat, membuat Rika mendongak terkejut.
Riku :
"Pertama… jangan bandingkan dirimu dengan mereka. Dan kedua… yang kusukai dari dirimu itu bukan hal yang bisa dibandingkan."
Riku menatap mata Rika tanpa ragu, suaranya hangat dan tenang.
Riku :
"Kau mirip ibu. Dia juga beastkin… kuat, tapi hatinya lembut. Kau perhatian sama teman-temanmu, kau kerja keras tanpa mengeluh. Dan kalau kau bilang dirimu tidak cantik… itu salah. Buat aku, Rika… kau adalah beastkin tercantik yang pernah aku lihat."
Rika menunduk dalam-dalam, telinga beastkin-nya bergerak kecil karena malu. Pipinya hampir berwarna setara sakura yang jatuh di pundaknya.
Rika :
"H-…hentikan, aku malu…"
Mereka berjalan lagi, langkah demi langkah yang semakin nyaman. Rika merasa dadanya hangat — seperti firasat yang dulu ibunya bilang, "Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang melihat cantiknya dirimu, bukan bentuk luarmu." Hari itu… akhirnya datang.
Di Depan Rumah Rika — Ciuman Pertama yang Manis
Mereka tiba di depan rumah Rika. Lampu terasnya menyala lembut. Rika berhenti, menatap Riku yang menunggu kata-katanya.
Rika :
"Terima kasih… bukan cuma karena jujur malam ini. Tapi… karena selalu peduli sama aku dari dulu."
Riku tersenyum tipis, lalu dengan gerakan pelan mengangkat tangannya dan mengelus kepala Rika. Telinga beastkin-nya sedikit bergerak karena tersentuh.
Riku :
"Aku yang harus berterima kasih… karena menerima aku. Dan jangan bilang dirimu tidak cantik lagi, ya?"
Rika membeku. Elusan itu… hangat, lembut, dan membuat jantungnya melonjak. Tanpa berpikir panjang — mungkin juga karena rasa malu yang memuncak — ia maju selangkah.
Chu.
Ia mencium pipi Riku dengan cepat, lalu langsung mundur beberapa langkah sambil wajahnya merah padam.
Rika :
"S-selamat malam!!"
Ia berlari ke pintu rumah seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan permen. Pintu ditutup tergesa, meninggalkan Riku yang masih berdiri terpaku.
Riku menyentuh pipinya yang baru saja dicium, wajahnya memanas dari telinga sampai leher.
Perlahan, ia tersenyum lebar — senyum bahagia seorang pria yang baru mendapatkan dunia.
Riku :
"…Terima kasih, Rika."
Dengan langkah ringan yang bahkan tidak ia sadari, ia mulai berjalan pulang, membawa pulang ingatan manis yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya.
Malam itu… adalah awal dari kisah yang lebih besar antara seorang gadis beastkin dan manusia yang mencintainya.
