Cherreads

Chapter 51 - Bab: Malam Sakura — Pengakuan di Bangku Taman

Kelopak sakura berjatuhan pelan, menutupi bangku taman dan trotoar seperti selimut merah muda yang mengundang malam menjadi hangat. Lampu taman memancarkan cahaya hangat yang membuat bayangan mereka tampak lembut; angin berbisik membawa aroma manis bunga dan sedikit tanah basah. Rei, Airi, dan Hina berdiri sebentar lalu, dengan alasan sepele — membeli minuman atau melihat sesuatu dari kejauhan — meninggalkan Rika dan Riku duduk berdua di bangku taman. Sepi menempel manis; hanya suara daun dan langkah jarak jauh yang terdengar.

Riku menoleh ke arah Rika, melihat wajahnya yang diterangi remang lampu. Ada keberanian dan keraguan yang berperang di matanya.

Riku : "Waktu itu, kau bilang belum tahu siapa yang kau suka… kalau sekarang?"

Rika menatap ke depan sejenak, kelopak sakura menempel di rambutnya. Dia menarik napas ringan.

Rika : "Sekarang… sudah ada."

Kalimat itu sederhana, tapi Riku terdiam. Di dalam dadanya, sesuatu berdegup cepat. Ia menelan udara dan berkata dalam hati: Andai saja orang itu aku.

Riku : "Lalu… siapa dia?"

Rika menoleh, menatap Riku. Ada kelembutan di matanya yang membuat jantung Riku hampir melompat.

Rika : "Kau tahu… aku juga belum yakin karena dia seorang pria bodoh tapi hatiku sangat hangat dan aman bila dengannya. Bagaimana denganmu?."

Taman seketika hening. Riku menelan, suaranya bergetar saat ia memilih untuk jujur.

Riku : "Ada gadis yang kusukai. Bukan manusia. Dia kuat, baik hati, dan cantik. Kadang aku berpikir… menyerah saja. Mungkin percuma."

Rika menatap lama. Hening itu seperti ruang kosong yang menantang ucapan selanjutnya. Riku menunduk sebentar, lalu mengangkat muka dengan senyum pahit.

Riku : "Tapi… selamat ya. Kalau kau sudah menemukan orang yang membuat hatimu hangat—semoga kau bahagia."

Rika kaget, bukan karena ucapan selamat — melainkan karena nada pasrah Riku. Darah di pipinya memanas. Di dalam, kemarahan kecil memuncak, namun ia berusaha menahan agar tidak melukai perasaan sahabatnya.

Rika : "Kenapa menyerah?"

Riku bangkit tiba-tiba, seakan harus bergerak dari tempat itu. Ia berdiri—mata menatap jauh mencari Rei, Airi, dan Hina. Rika mengikuti geraknya dengan panik.

Rika : "Tunggu! Gadis itu... apa Airi yang kau maksud?"

Riku berhenti, napasnya tersengal. Di kepalanya berpacu seribu kemungkinan; ia tak ingin berharap, takut hancur. Namun hatinya juga menuntut keberanian.

Riku : "Sebenarnya… itu bukan dia."

Rika masih tak berbalik, tapi suaranya menegang.

Rika : "Kalau bukan Airi, siapa?"

Ada jeda panjang. Riku menatap mata Rika, mengumpulkan keberanian yang selama ini ia simpan di buku catatan kecilnya.

Riku : "Rika… itu… kau."

Rika terkejut — ia berdiri dari bangku taman dan menatap Riku penuh ingin tahu. Hening menggantung beberapa detik, lalu Rika, tanpa berkata, mendekat. Dengan tenang ia mengangkat kerah baju Riku, menatapnya langsung ke mata, suaranya sedikit meninggi.

Rika : "Kenapa memilih menyerah sebelum mencoba? Kenapa nggak jujur dari awal? Untuk apa perhatianmu selama ini kalau kau mau menyerah begitu saja?"

Riku menahan napas. Panas menyebar di seluruh wajahnya.

Riku : "Karena… aku takut. Aku takut kau punya orang lain yang lebih pantas. Aku takut jika aku mencoba dan ditolak, pertemanan kita akan hancur. Jadi aku memilih mundur sebelum merusaknya."

Kata-kata itu mengalir jujur—menyakitkan, namun nyata. Rika berdiri di hadapannya, mata berbinar—bukan karena marah, tetapi karena sesuatu yang lain. Ada kerinduan, ada kelegaan, ada kecewa karena harus menunggu.

Rika : "Itu bodoh. Kau sudah melakukan hal yang terbalik. Tapi… aku sadar. Aku perhatikan semua perilakumu sejak kita belum berteman sampai sekarang. Kau selalu ada. Kau selalu…"

Suara Rika melemah, lalu ia mengumpulkan sisa keberanian.

Rika : "Ya. Orang yang membuat hatiku hangat, merasa aman, dan berani berharap itu… adalah kau, Riku."

Riku hampir tidak percaya mendengarnya. Dunia seperti berhenti; hanya detak jantungnya yang menjadi musik yang keras. Dalam hati ia berbisik syukur pada segala hal — pada orang tua, pada Rei, pada keberuntungan.

Dengan suara gemetar namun penuh harap, Riku mengajukan pertanyaan yang telah lama menghapus tidurnya di malam hari.

Riku : "Maukah kau… berpacaran dengan aku? Aku—aku hanya manusia biasa. Aku hanya punya penguatan tubuh, bukan sihir. Tapi aku akan berusaha jadi yang terbaik untukmu."

Rika menunduk sejenak, pipinya memerah. Ada jeda kecil di antara mereka seperti saat kristal retak lalu melebur kembali. Ia mengangguk pelan, suaranya keluar seperti bisikan hangat.

Rika : "Baiklah."

Riku tidak menahan diri. Ia merangkul Rika erat, menyatu dalam dekap yang lama dipendam. Rika gugup tapi membalas pelukan itu, tangan gemetar namun hangat.

Di bawah hujan kelopak sakura, mereka berdua berdiri di taman — seorang beastkin dan seorang manusia penguat tubuh — memulai sebuah kisah kecil di tengah malam yang indah.

Hina, yang menonton dari kejauhan sebelum mereka sadar, menutup mulutnya menahan senyum dan pedih di hatinya. Ia berdiri agak menjauh lalu berbisik pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk didengar siapa pun.

Hina (dalam hati): "Selamat atas kebahagiaan mu Riku, Rika, aku ikut bahagia. Kenapa hatiku terasa begitu berat, meski aku tahu mereka berbahagia?"

Angin malam membawa suara itu pergi, dan kelopak-kelopak sakura terus berjatuhan, menyaksikan awal dari sesuatu yang baru—janji sederhana dua hati yang memilih jujur pada perasaan mereka.

More Chapters