Cherreads

Chapter 50 - Bab: Musim Sakura dan Janji yang Tumbuh

Suasana pagi itu hangat—angin membawa wangi manis bunga sakura yang mulai bermekaran di sepanjang jalan menuju sekolah. Kelopak berjatuhan seperti salju merah muda, menaburi atap gedung dan trotoar. Setelah ujian kenaikan kelas berakhir dengan lancar, hari-hari jadi lebih ringan; tawa dan langkah siswa terdengar seperti musik kecil yang mengobati kenangan kelam.

Tahun ajaran baru dimulai—kelas mereka kini kelas tiga. Rei duduk di bangku yang biasa, dengan Airi di sampingnya; Airi sekarang lebih mudah tersenyum dan tak lagi malu-malu menatap Rei. Di seberang, Rika duduk dekat Riku—posisi yang membuat Riku berkali-kali menelan ludah karena harus menahan gugupnya. Hina duduk tak jauh, matanya hangat, menatap dua sahabatnya yang perlahan menemukan ritme baru.

Bisik-bisik beredar pelan: beberapa murid dari berbagai ras mengira Airi dan Rei sudah berpacaran karena kedekatan mereka sejak libur. Tapi mereka yang dekat tahu: kedekatan itu lebih rumit—berbentuk lapisan rasa aman dan perhatian kecil yang tidak pernah meminta balasan.

Di sudut kelas, Riku membuka buku catatan kecilnya—lembar rencana yang telah ia susun sejak liburan: ide-ide sederhana untuk mendekat pada Rika tanpa merusak pertemanan. Ia mengulang beberapa poin di kepala: bantu latihan fisik, jadi pendengar yang baik, ajak pergi dalam kelompok kecil, beri perhatian yang tidak berlebihan tapi konsisten.

Riku (dalam hati): Mulai dari hal kecil saja. Jangan buru-buru. Jujur. Kalau gugup, tarik napas dulu.

Rika, yang sedang menata alat tulis, menoleh sekilas. Ia tersenyum samar—tidak menolak, tidak pula sepenuhnya sadar. Di benaknya terselip kilas kata-kata orang tua: tentang keberanian, tentang kehangatan yang tidak membuat takut. Gambar Riku mulai muncul lebih sering di pikirannya, bukan karena ia mencari, tetapi karena perhatian Riku datang tanpa menuntut.

Di kantin, saat mereka makan bersama, suasana ringan. Airi dan Hina bercanda, Rei kadang menyela dengan komentar tenang yang membuat semua orang tertawa. Riku ingat Rika suka teh hangat tanpa gula—dan ia menyelipkan gelas itu di dekat tangan Rika, seolah itu rutinitas kecil yang wajar.

Rika : "Terima kasih, Riku."

Riku menunduk sedikit, masih meraba kata yang tepat.

Riku : "Ah… nggak apa-apa. Aku cuma… pengin bantu saja."

Hina memperhatikan dari samping; matanya menyimpan campuran lega dan rasa sakit manis. Malam harinya, rasa itu mengunjungi hatinya lagi.

Hina (dalam hati): Jika dia bahagia, aku ikut bahagia. Tapi… kenapa dada ini tetap perih?

Ia mengusap tangan yang menggenggam gelas teh, berusaha menenangkan diri. Hina memilih hadir, mendukung hubungan yang mungkin tumbuh, karena persahabatan ini rapuh dan berharga—lebih berharga daripada ego memilikinya sendiri.

Hari-hari berlalu pelan. Perhatian Riku tidak pernah meledak—hanya menetap.

Suatu kali, saat mereka berpindah kelas, ekor Rika hampir terjepit kursi yang digeser orang. Riku bergerak duluan, menahan kursi itu dengan telapak tangan, lalu mengembalikannya perlahan tanpa suara. Rika sempat menoleh, kaget—dan Riku hanya menggaruk pipinya, pura-pura santai.

Rika (dalam hati): Dia… selalu ada di momen-momen kecil begini.

Suatu sore, di bawah pohon sakura yang besar, kelas menggelar persiapan festival sekolah. Stand-stand berwarna bermunculan: makanan, permainan, pameran budaya. Kelopak yang berjatuhan menambah suasana romantis tanpa sengaja.

Riku mengajukan ide sederhana: ikut membantu stand Rika—bukan sebagai alasan untuk dekat, tetapi sebagai tawaran tulus. Rika menerima, sedikit ragu, tapi dengan senyum yang menunjukkan ia tidak keberatan.

Riku : "Kalau aku bantu hari ini, kamu nggak perlu repot nanti. Kita kerjain bareng."

Rika mengangguk.

Rika : "Baiklah. Terima kasih sudah mau bantu."

Hina, melihat gestur Riku kepada Rika, menahan napasnya dan memutuskan untuk tersenyum lebih lebar membantu suasana. Ia memilih menjadi jangkar. Kadang hatinya mencari celah untuk menangis sendiri, tapi di depan mereka ia kuat.

Malam festival tiba. Sekolah diterangi rentetan lampion dan lentera. Aroma makanan, tawa, dan musik memenuhi udara. Rei, Airi, Hina, Riku, dan Rika berjalan berjajar, tidak sepenuhnya rapi tapi cukup dekat.

Di tengah keramaian, saat mereka menyeberang jalan kecil yang diterangi lampion, Riku menguatkan diri—bukan untuk pengakuan besar, tapi untuk satu langkah sederhana. Tangannya terangkat setengah, ragu sepersekian detik… lalu menggenggam tangan Rika.

Rika menoleh, sedikit terkejut. Ada jeda kecil—seperti dunia berhenti bernapas. Lalu Rika menatap tangan yang menggenggamnya—hangat, tapi lembut.

Riku : "Boleh aku…?"

Jari Riku terasa sedikit gemetar. Rika melihatnya—dan entah kenapa, itu justru membuatnya tenang.

Rika tersenyum, tak menolak.

Rika : "Boleh."

Kelopak sakura jatuh perlahan, tanpa suara, seolah mengerti bahwa ada janji kecil yang baru saja lahir. Di momen itu, Hina menatap lampion, menahan napas sepersekian detik saat tangan itu tergenggam—lalu menghembuskannya pelan, seperti mengikhlaskan sesuatu yang selama ini ia simpan.

Rei melihat semuanya dengan tenang—mata kanannya hitam, kiri biru, mencerminkan malam berbunga. Di hatinya ada kelegaan melihat teman-temannya menemukan satu sama lain perlahan, dan sebuah bisik kecil: dunia berubah, tetapi ada hal-hal yang bisa dipilih untuk dijaga—kejujuran, keberanian, dan persahabatan.

More Chapters