Cherreads

Chapter 49 - Arc Riku — Hari Sekolah Kembali

Pagi itu gerbang sekolah tampak sama seperti dulu: deretan siswa yang bercampur tawa dan kecemasan kecil, jam dinding yang berdetak tenang, dan udara yang masih membawa sisa dingin pagi. Riku berdiri sedikit lebih dulu di tempat biasa, menunggu teman-temannya berkumpul.

Rei datang lebih dulu, menepuk punggung Riku saat lewat.

Riku : "Pagi, Rei. Tidur nyenyak nggak?"

Rei :"Lumayan. Kamu gimana? Kayaknya semalam santai banget ya."

Riku : "Iya... tidur lebih awal. Biar nggak kegabukan mikirin—eh, nggak apa-apa."

Tidak lama kemudian, langkah ringan Rika muncul dari ujung lorong, diikuti Airi dan Hina yang selalu penuh energi. Saat Rika melewati Riku, matanya menatap sekilas—seolah memeriksa sesuatu yang baru pada dirinya.

Riku : "Selamat pagi, Rika."

Rika: "Pagi, Riku."

Sepanjang pelajaran pagi, Riku berusaha tampil biasa. Ia mengangkat tangan ketika perlu, ikut berdiskusi, dan sesekali melempar candaan kecil yang membuat Airi tertawa. Tapi di sela-sela itu, ia mencuri pandang ke arah Rika—memperhatikan cara rambutnya jatuh, cara dia menulis di buku catatan, ekspresi yang muncul saat guru menjelaskan.

Saat jam istirahat, Riku menyelinap ke kantin lebih awal dan membeli beberapa makanan: satu porsi roti manis yang disukai Rika, segelas teh hangat, dan dua porsi ekstra untuk teman-teman di kelompok belajar.

Riku : "Eh, Rika, ini buat kamu. Biar nggak kelaperan pas latihan nanti."

Rika terkejut menerimanya. Matanya melebar sebentar, lalu ia menunduk dan mengulurkan tangannya.

Rika : "Eh... makasih, Riku. Kamu nggak perlu repot-repot gitu."

Riku : "Aku nggak repot. Aku senang aja kok."

Airi dan Hina memperhatikan. Airi menyenggol Hina sambil berbisik, membuat Hina mengangguk penuh arti. Rei tersenyum tipis, seolah mendukung gerakan kecil itu.

Selama makan bersama, obrolan ringan mengalir—tentang materi ujian yang akan datang, gurauan tentang tugas, dan rencana belajar malam nanti. Tetapi bagi Riku, setiap kalimat yang dilontarkan Rika adalah kesempatan kecil untuk dekat: menanyakan pendapatnya, menawarkan sepotong roti, atau menolong ketika tinta pulpen Rika tumpah tak sengaja.

Di sore hari, setelah latihan, kelelahan membuat semua basah oleh keringat dan napas berat. Riku membawa sebotol minum ekstra dan menyerahkannya ke Rika.

Riku : "Minum dulu, Rika. Kamu kelihatan capek."

Rika mengambil botol itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia meminum beberapa teguk panjang, lalu mengangkat wajah pada Riku.

Rika (berpikir): Kenapa dia sering begitu padaku akhir-akhir ini? Apa ini perhatian biasa, atau... sesuatu yang lain?

Rika (berpikir): Tapi aku ini cuma—gadis beastkin biasa. Siapa yang mau sama aku?

Keraguan itu selalu menghantui Rika. Dulu orang-orang menatap telinganya seolah lelucon. Sejak itu, Rika belajar menunduk duluan. Meski begitu, tindakan-tindakan kecil Riku menimbulkan rasa hangat yang tak mudah ia tolak.

Rika refleks menyembunyikan telinganya/ekornya saat mengingat perlakuan Riku.

Malam hari tiba dan mereka duduk untuk belajar bersama mempersiapkan ujian. Di meja yang sama, kertas latihan, buku catatan, dan pena tersebar. Rei memimpin sesi tanya-jawab, sementara Airi dan Hina saling berlomba mengingat rumus. Riku duduk dekat Rika, menawarkan bantuan ketika ada soal yang membuatnya bingung.

Riku : "Kalau soal nomor ini bikin kamu pusing, aku bisa jelasin pelan-pelan."

Rika menatap soal tersebut, lalu menatap Riku.

Rika :"Iya... boleh. Makasih, Riku."

Pembelajaran itu jadi momen kecil bagi mereka: kehadiran Riku tak lagi sekadar canda, melainkan penopang yang membuat Rika merasa aman — meski ia belum mau mengakuinya pada diri sendiri.

Selama beberapa hari berikutnya, pola itu terus berulang. Riku tak berlebihan; ia memilih tindakan-tindakan yang tenang dan konsisten: membawakan makanan, menawarkan minum, jadi pendengar ketika Rika bercerita tentang kecemasannya setelah perpisahan dengan teman-teman Aelria, dan membantu menjelaskan materi sulit.

Perlahan, Rika mulai menyadari perubahan itu. Bukan karena satu momen dramatis, tetapi karena kumpulan hal-hal kecil yang menumpuk—sebuah senyum di waktu yang pas, sentuhan ringan saat memberikan kertas latihan, atau tatapan yang menunjukkan perhatian tulus.

Rika (berpikir): Mungkin dia memang perhatian. Tapi... apakah itu artinya ia menyukaiku?

Rika (berpikir): Atau aku cuma terlalu berharap pada hal yang tidak nyata?

Meski ada harapan kecil yang tumbuh, Rika belum sepenuhnya percaya pada kemungkinan dirinya menjadi seseorang yang dicintai. Keraguan tentang identitasnya — tentang menjadi beastkin — masih berdengung di kepalanya, membuatnya menghalangi diri untuk menerima cinta sebelum itu datang.

Suatu sore, saat mereka pulang bersama, Riku berjalan di samping Rika. Suasana senja memberi warna hangat pada jalan-jalan sepi.

Riku : "Besok aku bawa latihan lagi jam sore. Kamu ikut, ya? Biar kita latihan bareng."

Rika menoleh, sedikit tersenyum, dan mengangguk.

Rika :"Iya... aku ikut."

Di dalam hati Riku, itu sudah kemenangan kecil. Ia tahu langkah besar belum datang — dan mungkin akan memakan waktu — tapi tiap momen seperti ini memperkuat tekadnya.

Riku : "Oke. Sampai besok, ya."

Riku : "Kalau besok capek, bilang aja."

Malam itu, sebelum tidur, Riku menulis kembali di catatannya: bukan rencana besar, melainkan daftar hal-hal kecil yang bisa ia lakukan tiap hari untuk mendekat tanpa memaksa — karena baginya, cinta yang tumbuh pelan jauh lebih berharga daripada pengakuan yang dipaksakan.

Riku : "Hari 1: berhasil memanggil namanya tanpa lari."

Di sisi lain, Rika menatap langit melalui jendela kamarnya—menginjak-nginjak rasa tak percaya yang masih ada dan secercah rasa penasaran yang wajar. Kedua perasaan itu bertarung dalam diam, sementara dunia mereka terus berjalan: kelas, latihan, ujian yang semakin dekat, dan hubungan yang perlahan menemukan jalannya sendiri.

Langkah demi langkah, hal kecil demi hal kecil, mereka melanjutkan hari-hari—saling memberi ruang untuk berkembang, sambil tanpa sadar membangun sesuatu yang mungkin, suatu saat nanti, akan disebut oleh kedua hati dengan nama yang sama.

More Chapters