Cherreads

Chapter 48 - Arc Riku Bagian — Langkah Kecil Menuju Keberanian

Pintu kamar Riku tertutup pelan di belakangnya. Suara klik dari kunci yang diputar terdengar jelas di ruangan yang hening. Lampu kamar menyala lembut, menerangi tumpukan buku pelajaran, beberapa foto yang tertempel di dinding, dan selembar poster pemandangan Aelria yang ia beli setelah kejadian monster anomali itu.

Riku menjatuhkan diri ke atas kasur, menatap langit-langit.

Dalam kepalanya, suara ayah dan ibunya masih berputar.

"Perasaan itu bukan untuk disembunyikan selamanya, Rik."

"Yang penting, jangan berhenti jujur pada diri sendiri."

Riku menghela napas panjang.

Riku :"Haaah... ngomongnya gampang banget sih, Ayah, Ibu..."

Ia memiringkan kepala, matanya tertuju pada rak kecil di samping meja belajar. Di sana, ada bingkai foto berisi dirinya, Rika, Rei, dan teman-teman lain — termasuk teman-teman dari Aelria yang baru saja mereka lepas kepergiannya.

Ia bangkit, mendekat, dan mengambil bingkai itu. Jemarinya menyapu pelan permukaan kaca.

Riku :"Kalau aku ngomong... terus semuanya jadi canggung... apa kita masih bisa ketawa bareng kayak di foto ini?"

Dadanya terasa sesak memikirkan kemungkinan jarak yang mungkin tercipta. Tapi di balik rasa takut itu, ada luka lain yang tak kalah menyakitkan: bayangan Rika tersenyum bersama orang lain, bukan dirinya.

Riku :"Tapi kalau aku terus diem... dan suatu hari dia malah jadi milik orang lain... aku yakin aku bakal nyesel seumur hidup."

Ia meletakkan kembali bingkai foto itu, lalu duduk di kursi meja belajarnya. Di depannya, buku catatan kosong tergeletak.

Tanpa berpikir terlalu lama, ia meraih bolpoin. Di halaman pertama, ia menulis:

"Kenapa aku pengecut?"

Ia terdiam. Lalu, di bawahnya, ia mulai mencoret-coret, membuat dua kolom:

"Kalau jujur" dan "Kalau tetap diam".

Di kolom pertama ia menulis pelan:

"Mungkin hubungan berubah."

"Mungkin dia nolak."

"Malu setengah mati."

"Tapi... nggak ada penyesalan karena sudah mencoba."

Lalu di kolom kedua:

"Lingkaran pertemanan tetap sama (mungkin)."

"Nggak canggung."

"Tapi... Rika nggak tahu perasaanku."

"Bisa kalah sama orang lain."

"Menyesal terus."

Riku menatap hasil tulisannya. Hening sejenak.

Riku :"Kalau dipikir-pikir... sisi 'tetap diam' justru lebih nyakitin ya."

Ia menyandarkan dagu di atas buku, menatap kertas itu dengan mata lelah.

Riku :"Aku takut ngerusak yang udah ada... tapi aku juga takut ngelihat dia jalan bareng orang lain sambil aku pura-pura senyum kayak nggak ada apa-apa."

Ponselnya bergetar di atas meja. Notifikasi dari grup chat mereka.

Di layar, tertulis:

Rika : "Besok kita masuk sekolah lagi ya... agak deg-degan, soalnya ini pertama kali kita balik ke sekolah setelah kejadian gerbang itu."

Riku menelan ludah. Bahkan hanya melihat namanya saja, jantungnya sudah berdetak lebih cepat.

Ia membaca ulang chat itu beberapa kali sebelum akhirnya membalas.

Riku: "..."

Riku: "...hff."

Ia mengetik:

Riku : "Iya, besok kita kumpul di gerbang bareng aja? Biar nggak kerasa aneh sendiri pas masuk."

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

Rika : "Ide bagus! Kamu bilangin Rei juga ya? Nanti kita ketemu di depan jam biasa."

Lalu, satu pesan lagi masuk.

Rika : "Oh, dan... makasih ya, Riku. Kalau kamu ada, entah kenapa rasanya lebih tenang."

Riku terpaku menatap pesan itu. Wajahnya memanas.

Riku :"A-apa-apaan sih ini..."

Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi, menutup muka dengan tangan.

Riku :"Kalimat kayak gitu bisa bikin orang salah paham tau nggak sih..."

Namun, di balik keluhannya, bibirnya tersenyum kecil. Kata-kata Rika barusan seperti menyiram sedikit keberanian ke dalam hatinya.

Riku :"...atau mungkin bukan salah paham?"

Ia berdiri dan berjalan ke depan cermin di lemari. Menatap pantulan dirinya sendiri — seorang remaja yang selama ini lebih pandai bercanda dibanding mengekspresikan hal yang benar-benar penting.

Riku :"Kalau besok ketemu Rika... apa aku bisa sedikit lebih jujur, ya?"

Ia tertawa kecil sendiri.

Riku :"Lihat tuh, sama ngomong ke kaca aja masih gugup. Gimana mau ngomong langsung ke orangnya."

Ia merapikan rambutnya, menatap dalam-dalam ke matanya sendiri.

Riku :"Oke. Mungkin aku nggak perlu langsung 'nembak' besok. Itu terlalu cepat, dan aku pasti beku di tempat."

Ia mengangkat satu jari, seolah memberikan poin pada dirinya sendiri.

Riku :"Langkah kecil dulu. Pertama... berhenti lari dari perasaan sendiri. Kedua... mulai ngobrol sama dia bukan cuma soal bercanda atau topik aman."

Riku :"Coba berani nanyain hal yang bener-bener pengen aku tau. Tentang dirinya, tentang apa yang dia rasain setelah teman-teman Aelria pulang, tentang hari-harinya."

Ia kembali ke meja, membuka halaman baru, dan menulis judul:

"Rencanaku Besok"

Lalu ia menulis poin-poin sederhana:

Datang lebih awal ke gerbang sekolah.

Kalau ketemu Rika duluan, jangan panik. Tarik napas.

Tanya: "Kamu beneran nggak apa-apa setelah perpisahan kemarin?"

Dengarkan jawabannya sampai selesai, jangan potong.

Kalau ada kesempatan, bilang: "Kalau kamu sedih, kamu bisa cerita ke aku kapan aja."

Riku menatap poin terakhir dan menggigit ujung bolpoin.

Riku :"Kedengarannya sepele... tapi buat aku, ini udah hampir level 'misi rank S'."

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Rei.

Rei : "Riku, tadi gimana? Udah ngomong ke orang tuamu soal keraguanmu?"

Riku tersenyum miring.

Ia membalas pelan.

Riku :"Iya, mereka malah lebih serius dari yang aku kira. Tapi... kayaknya pembicaraan itu yang aku butuhin."

Ia menunggu sebentar, lalu Rei membalas:

Rei : "Kalau kamu takut, itu wajar. Tapi ingat, kamu nggak sendirian. Kalau suatu hari kamu mau jujur ke Rika, aku dukung."

Rei : "Dan kalaupun sesuatu berubah, kita bakal cari cara biar lingkaran pertemanan kita nggak hancur gitu aja."

Riku menatap layar dengan mata sedikit berkaca.

Riku :"...Rei, dasar MC tapi kok jadi sahabat ideal begini sih."

Ia mengetik balasan:

Riku :"Makasih, Rei. Serius. Untuk sekarang... aku mau coba langkah kecil dulu. Berani jujur sama diri sendiri dulu lah."

Balasan datang cepat.

Rei : "Itu udah langkah besar kok. Semangat, Riku."

Riku meletakkan ponsel, lalu menatap lagi catatan "Rencanaku Besok".

Riku :"Oke. Besok, nggak ada lagi Riku yang cuma bercanda doang buat nutupin rasa takut. Kalau aku mau berdiri di samping Rika... aku harus jadi versi diriku yang sedikit lebih berani tiap harinya."

Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Langit malam terlihat tenang, bintang-bintang berkelip samar di atas kota yang mulai sepi.

Riku :"Rika... kalau suatu hari nanti aku cukup berani buat ngomong semuanya... aku harap, saat itu, kamu lagi ngelihat ke arah aku juga."

Ia tersenyum kecil, tidak lagi sepenuhnya pahit.

Riku :"Tapi untuk sekarang... besok dulu. Besok aku bakal ada di gerbang, berdiri di sampingmu, dan... memastikan kamu nggak merasa sendirian."

Ia kembali ke kasur, merebahkan diri dan menarik selimut.

Detak jantungnya masih cepat jika membayangkan wajah Rika. Tapi kali ini, di sela-sela rasa cemas, ada sesuatu yang baru tumbuh: tekad kecil yang hangat.

Riku :"Langkah kecil... tapi tetap langkah maju."

Klik

Ia menyalakan alarm tiga puluh menit lebih pagi, lalu meletakkan seragamnya rapi di kursi.

Ia kembali ke kasur. Tak lama kemudian, matanya terpejam, sementara di meja, catatan bertuliskan "Rencanaku Besok" terbuka — menjadi saksi awal dari keberanian yang pelan-pelan ia bangun, demi seseorang yang begitu ia sayangi namun belum berani ia sebut dengan lantang.

More Chapters