Malam turun pelan di atas kota.
Setelah makan malam penuh candaan ringan, Rika kembali ke kamarnya. Lampu tidak terlalu terang, hanya satu kristal sihir di sudut ruangan yang memancarkan cahaya hangat.
Ia menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit.
Rika (dalam hati): Pasangan, ya…? Kenapa sih Ayah sama Ibu tiba-tiba ngomong sejauh itu…
Ia memeluk bantal, telinganya bergerak pelan. Bukannya tenang, pikirannya malah semakin ramai.
Begitu kata-kata Ibunya tentang "seseorang yang mungkin berdiri di sisimu suatu hari nanti" muncul, wajah pertama yang muncul di kepalanya justru—
Riku.
Rika langsung mengerutkan kening.
Rika (dalam hati): Kenapa harus dia? Banyak orang lain. Airi, Hina, Rei… teman-teman satu kelas, senior, siapa saja. Kenapa yang muncul malah manusia itu?
Ia membalikkan badan, membelakangi jendela. Tapi bayangan itu tetap menempel.
Tatapan dari kejauhan.
Jejak langkah di lantai kayu koridor.
Suara nafas yang ditahan di balik pintu lapangan.
Dan perlahan, kenangan-kenangan itu muncul satu per satu.
Kenangan 1 — Kelas, Kantin, dan Lapangan Sore
Ada masa sebelum insiden monster anomali, ketika hari-hari hanya diisi pelajaran, latihan, dan tugas.
Di kelas, setiap kali ia menghadap papan tulis, ia bisa merasakan sesuatu.
Bukan sihir. Bukan insting bahaya.
Lebih… seperti titik kecil yang selalu menempel di punggungnya.
Tatapan.
Saat istirahat, ketika ia berpura-pura melihat keluar jendela, matanya bisa menangkap pantulan halus di kaca: Riku, yang duduk dua baris di belakang, menatap sebentar, lalu buru-buru berpaling ketika tatapan mereka hampir bertemu.
Di kantin, saat Rika duduk bersama Airi dan Hina, makan tanpa banyak bicara, telinganya menangkap suara kursi bergeser pelan.
Langkah seseorang yang datang, berhenti dua meja belakang, seolah sengaja memilih tempat yang cukup dekat untuk memperhatikan, tapi cukup jauh supaya tidak mencolok.
Rika saat itu pura-pura tidak sadar. Tapi setiap gerakannya sebenarnya sangat terukur.
Rika (dalam hati, kala itu): Suara sendoknya pelan sekali. Seolah takut menarik perhatian. Hm… terlalu mencurigakan.
Puncaknya adalah saat sore hari, di lapangan latihan.
Biasanya, setelah jam pelajaran selesai, murid-murid mulai berkurang. Airi pulang lebih dulu untuk membantu ibunya di toko kue, Hina sering dipanggil guru penyembuh untuk membantu, dan Rei… sering kali tertahan oleh guru-guru lain.
Rika terbiasa berlatih sendirian.
Suara cakar yang diperkuat sihir menggores dummy kayu. Nafasnya teratur. Tubuhnya bergerak sesuai ritme.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang selalu ia rasakan:
Langkah pelan di dekat pintu masuk lapangan. Nafas tertahan. Berat badan bergeser dari kaki kanan ke kiri, gelisah.
Tidak berani masuk. Tidak juga pergi.
Hari itu, setelah beberapa kali mengabaikan, akhirnya ia berhenti.
Rika membelakangi pintu, telinganya menajam. Ia tidak menoleh, hanya berbicara dengan suara datar.
Rika : "Kalau butuh sesuatu… jangan hanya menatap."
Hening.
Suara langkah terhenti total.
Rika : "Diam saja tidak membuatmu tidak terdengar."
Tetap tidak ada jawaban. Rika menghela nafas pelan, menurunkan tangannya, lalu membalikkan badan.
Koridor kosong.
Rika menatap sejenak ke arah pintu masuk lapangan, ekornya berkedut kecil.
Rika (dalam hati): Lari, ya…? Bodoh.
Saat itu, ia memilih tidak mengejar. Ia hanya kembali berlatih, berpura-pura melupakan.
Tapi malam ini, di kamarnya, kenangan itu muncul kembali begitu jelas.
Rika (dalam hati): Jadi… dari dulu dia memang sering…?
Kenangan 2 — Setelah Insiden Monster (Ruang Periksa)
Adegan berikutnya yang muncul di kepalanya bukan lagi lapangan tenang.
Melainkan ruang periksa di hari-hari setelah insiden monster pertama.
Bau obat kuat, suara kristal sihir yang menyala redup, dan percakapan pelan guru-guru.
Rei duduk di atas ranjang sihir, diperiksa oleh guru dan instruktur. Airi dan Hina baru saja dipanggil ke ruangan lain untuk cek kondisi sihir dan pemulihan, menyisakan hanya dua orang di ruangan itu:
Rika.
Dan Riku.
Riku berdiri di dekat jendela, tangannya memegang tas, tapi tatapannya… sekali lagi, jatuh ke arah Rika yang sedang bersandar di dinding.
Rika sudah terlalu lelah untuk berpura-pura tidak sadar.
Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Riku.
Rika : "Riku."
Riku sedikit terkejut.
Riku : "…Ya?"
Rika mendorong diri menjauh dari dinding, melangkah mendekat. Ia berhenti di jarak yang tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk melihat jelas ekspresi gugup di wajah Riku.
Rika : "Kenapa kau selalu menatapku diam-diam?"
Riku membeku.
Riku : "…"
Rika : "Aku beastkin. Pendengaranku tajam. Langkahmu di lapangan… suaramu di tribun… tatapanmu di koridor. Kau pikir aku tidak sadar?"
Riku membuka mulut, tapi yang keluar hanya:
Riku : "Aku hanya…"
Ia tidak melanjutkan.
Dan hanya bisa menundukkan wajahnya sembari mengepalkan jari-jarinya.
Kata-katanya menggantung di udara, seolah kalimat itu berat sekali jika benar-benar ia selesaikan.
Rika menahan nafas sejenak, menunggu.
Tidak ada kelanjutan.
Rika mengalihkan pandangan, lalu melipat kedua tangan di depan dada.
Rika : "Kalau kau tidak ingin bilang, tidak apa."
Ia berbalik, bersandar lagi ke dinding. Riku menunduk, menggenggam tali tasnya lebih erat.
Riku : "Maaf…"
Hanya itu. Dan percakapan mereka berhenti di sana.
Saat itu, Rika menganggapnya tidak penting. Atau lebih tepatnya, memaksa dirinya untuk menganggap itu tidak penting.
Tapi sekarang, di malam hening ini, ia memutar ulang setiap detik.
Rika (dalam hati): 'Aku hanya…' apa? Hanya… cemas? Hanya… memperhatikan? Hanya… menyuka—
Ia langsung menutup wajah dengan bantal.
Rika : "Tidak! Kenapa aku harus memikirkan sampai sejauh itu?!"
Telinganya panas, walaupun tidak ada siapa-siapa yang melihat.
Kenangan 3 — Insiden Monster Anomali
Kenangan berikutnya jauh lebih keras, penuh suara retakan, teriakan, dan rasa takut yang nyata.
Lapangan besar yang biasanya jadi tempat latihan terasa seperti medan perang. Di langit, barrier pelindung sekolah bergetar, retakan bercahaya menjalar cepat.
Monster anomali itu jauh lebih besar dari yang seharusnya muncul di area latihan biasa. Tubuhnya seperti gabungan bayangan dan daging, dengan mata-mata merah yang muncul dan hilang di permukaan kulit hitam pekat.
Di tengah kekacauan, suara Airi yang tegas terdengar duluan.
Airi : "Rika, Hina, tahan monster itu dulu! Aku akan memperbaiki dan memperkuat perisainya! Kalau perisai utama runtuh, monster itu akan masuk area sekolah!"
Hina menggenggam tongkatnya erat, wajahnya tegang.
Hina : "Aku akan jaga kalian dari jarak dekat! Kalau ada yang terluka, langsung mundur!"
Rika berdiri di garis depan, cakar yang dilapisi sihir berkilat samar.
Rika : "Baik."
Saat itu, Riku melangkah maju, berdiri sejajar dengan Rika, padahal posisi awalnya bukan di tim garis depan.
Rika masih ingat jelas kata-katanya di koridor sebelumnya.
Riku : "Aku manusia penguatan fisik. Garis depan tempatku. Tapi kalau keadaan kacau… aku akan tarik mundur kalian sendiri."
Rika sempat melirik, keningnya berkerut.
Rika : "Ini bukan waktunya sok pahlawan."
Riku tersenyum tipis, tapi matanya serius.
Riku : "Bukan sok pahlawan. Itu tugas."
Retakan di perisai sihir utama semakin melebar. Airi berdiri di belakang, kedua tangannya terangkat tinggi, keringat menetes deras di dagu.
Airi : "Sedikit lagi… tahan sebentar lagi!"
Rika dan Riku melompat menghindar saat monster itu mengibaskan lengannya, mengirim gelombang energi hitam ke arah mereka. Tanah terbelah, udara bergetar.
Rika : "Serang sisi kepala dan kaki belakang! Kalau kita bisa ganggu keseimbangannya—"
Riku menguatkan tubuhnya dengan sihir penguatan, aura tipis menyelimuti otot-ototnya.
Riku : "Mengerti!"
Mereka berdua maju bersamaan.
Riku mengarah ke sisi kepala monster, tinjunya menghantam tepat di dekat salah satu mata merah. Benturan itu menghasilkan suara berat—namun seolah hanya menghantam lumpur pekat. Energi pukulan seakan tertelan.
Di saat yang sama, Rika melompat ke samping, cakar yang diperkuat menghantam keras kaki belakang monster.
Tidak ada efek berarti. Seolah daging monster itu menyerap kekuatan dan meredamnya.
Rika : "Apa—?!"
Ia hampir tidak punya waktu untuk heran ketika monster itu mengibaskan lengan lagi.
Rika dan Riku berhasil melompat mundur, tubuh mereka terguling di tanah, tapi masih dalam jarak aman.
Namun—
Hina tidak.
Hina sedang berlutut di samping seorang murid yang terjatuh, tangannya memancarkan cahaya hijau penyembuh.
Saat ia menoleh, energi hitam itu sudah terlalu dekat.
Hina : "—Eh?"
Pukulan udara hitam menghantamnya telak. Hina terpental keras, membentur tanah beberapa meter jauhnya dan langsung tak sadarkan diri.
Airi : "Hina!!"
Rika merasakan sesuatu meletus di kepalanya. Bukan sihir. Bukan strategi.
Hanya amarah.
Rika : "Kau berani menyentuh teman kami…!"
Ia maju tanpa pikir panjang, menerjang kembali ke arah monster sebelum Airi sempat berteriak untuk menahannya.
Riku : "Tunggu, Rika!—"
Namun bukannya menahan, Riku justru ikut maju, berlari di sampingnya.
Riku : "Kalau kau maju, aku juga maju!"
Mereka berdua menerjang gelombang energi berikutnya. Meski berhasil menahan sebagian, tekanan kekuatan monster itu terlalu besar.
Monster itu mengangkat lengan tinggi, kemudian menghantamkan ke tanah dengan kekuatan penuh.
Gelombang kejut menyebar seperti badai.
Tanah berguncang. Udara menekan tubuh mereka dari segala arah.
Rika dan Riku terlempar bersamaan, tubuh mereka menghantam paviliun taman kecil di sisi lapangan. Kayu berderak keras, beberapa bagian hancur. Nafas mereka memburu, tulang terasa bergetar, penglihatan kabur sejenak.
Rika masih ingat jelas—di tengah rasa sakit, ia menoleh.
Riku terbaring tidak jauh darinya, tapi walau dadanya naik-turun berat, matanya tidak lepas dari Rika, seolah memastikan satu hal:
Apakah Rika masih hidup.
Riku (pelan): "Rika…?"
Rika (dalam hati, kala itu): Kenapa sejauh ini? Kenapa kau maju sejauh ini?
Saat itu, ia tidak punya waktu untuk berpikir lebih dalam. Monster masih mengamuk, guru-guru akhirnya turun tangan, situasi diselamatkan dengan susah payah.
Namun malam ini, semua potongan itu menyatu.
Riku yang selalu melihatnya dari kejauhan.
Riku yang tidak bisa menjawab ketika ditanya langsung.
Riku yang tanpa ragu maju ke garis depan, bahkan ketika jelas-jelas itu gila.
Riku yang lebih fokus memastikan dirinya baik-baik saja, bahkan saat ia sendiri babak belur.
Kembali ke kamarnya, Rika membuka mata. Ia bahkan tidak sadar kalau tadi sempat memejamkan mata terlalu lama karena terbawa kenangan.
Rika (pelan): "…apa benar aku menyukai dia?"
Pertanyaan itu keluar tanpa sadar, melayang di udara sepi.
Telinganya memerah lagi. Ia buru-buru membalikkan badan dan menutup kepala dengan selimut.
Rika : "Tidak! Ini cuma… salah paham. Dia pasti cuma… terlalu baik. Iya. Terlalu baik."
Ia mencoba meyakinkan diri sendiri.
Rika (dalam hati): Dia seperti itu karena dia orang yang baik. Bukan karena aku. Bukan karena aku… spesial.
Tapi suara lain di dalam hati pelan-pelan bertanya:
Kalau dia baik pada semua orang…
Kenapa langkahnya selalu berhenti di pintu lapanganmu?
Dan saat berbahaya, dia selalu berlari mengikutimu, bukan menjauh darimu?
Rika menggigit bibir.
Rika (dalam hati): Aku beastkin biasa. Bukan seperti Airi, bukan seperti Aelria, bukan seperti Hina. Tidak ada alasan kenapa dia harus…
Ia tidak melanjutkan.
Di luar jendela, angin malam bertiup pelan, menggerakkan tirai.
Di dalam kamar, seorang gadis beastkin yang merasa "biasa saja" berguling lagi di kasurnya, berusaha lari dari kesimpulan yang pelan tapi pasti mendekat:
Bahwa mungkin, hanya mungkin…
apa yang dilihat Riku selama ini bukan "beastkin biasa".
Dan bahwa mungkin…
hatinya sendiri yang selama ini pura-pura tidak mau melihat.
Dan di kepalanya, suara langkah itu masih ada—tidak pernah benar-benar diam.
