Cherreads

Chapter 46 - ARC RIKA — BAGIAN 1 Pertanyaan yang Tak Pernah Dipikirkan

Senja baru saja turun ketika Rika berdiri di depan pintu rumahnya.

Rumah kecil dua lantai dengan dinding kayu hangat itu berdiri di pinggir distrik tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Aroma masakan menguar samar dari sela jendela, bercampur dengan bau rumput basah selepas hujan sore. Telinga beastkin Rika bergerak pelan, mengikuti suara panci beradu dari dapur.

Ia menarik napas pelan, memegang gagang pintu.

Rika : "Aku pulang…"

Pintu bergeser, dan kehangatan rumah menyambutnya. Di ruang tamu, sang ibu sudah menoleh dari dapur, ekor beastkin-nya melambai pelan.

Ibu : "Selamat datang, Rika. Tumben sekali pulang cepat. Biasanya matahari sudah malas muncul lagi baru kamu pulang."

Rika melepas sepatu, menaruhnya rapi di rak. Ia mengusap belakang lehernya, sedikit canggung.

Rika : "Hari ini… nggak ada latihan tambahan. Aku cuma ikut teman-teman buat nganter Aelria dan yang lain pamitan."

Ibu menatap putrinya lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya.

Ibu : "Oh, jadi kalian sudah berpisah, ya. Rasanya cepat sekali, padahal baru kemarin Ayah dan Ibu dengar nama Aelria pertama kali dari kamu."

Rika berjalan masuk, tasnya ia letakkan di sofa. Ada sedikit hampa di dadanya saat nama Aelria disebut—bukan karena cemburu, bukan juga iri, lebih seperti… ruang kosong setelah badai besar berlalu.

Rika : "Iya… rasanya aneh, Bu. Kemarin-kemarin dunia kayak… terlalu ramai. Sekarang tiba-tiba sepi."

Suara berat namun hangat terdengar dari arah ruang kerja.

Ayah : "Kalau sepi, itu artinya kamu sempat selamat. Itu sudah cukup bagus, 'kan?"

Ayahnya keluar sambil mengelap tangannya dengan kain lap. Jejak-jejak energi sihir masih samar terasa di sekitar tubuhnya, seperti sisa percikan petir yang belum benar-benar padam.

Rika : "Ayah sudah pulang? Biasanya kalau lagi proyek besar, Ayah baru pulang malam."

Ayah menguap kecil, lalu menjatuhkan diri di kursi panjang.

Ayah : "Bos Ayah baik hari ini. Katanya, 'Akhir pekan ini Hari Keluarga. Semua orang pulang lebih awal.' Jadi ya, Ayah nurut saja."

Rika mengerjap.

Rika : "Bos Ayah… maksudnya, ayahnya Riku, 'kan?"

Ayah mengangguk pelan, Matanya menangkap perubahan kecil di ekspresi putrinya—hal yang biasanya luput bagi orang lain.

Ayah : "Iya. Dia yang biayai renovasi besar-besaran sekolah kalian. Bukan cuma bangun lagi, tapi juga perkuat fondasi sihir, perbaiki jalur evakuasi. Ayah cuma bagian kecil dari proyek itu."

Rika duduk di sebelah ayahnya, ekornya bergerak pelan. Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya sedikit berbinar.

Rika : "Terus gimana, Yah? Sekolahnya… sudah selesai dibangun?"

Ayah tersenyum, kali ini dengan bangga.

Ayah : "Bangunannya sudah. Kelas, lorong, arena latihan, semuanya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tinggal satu pekerjaan terakhir: sihir pertahanan utama. Kami akan pasang barrier lapis tiga di sekeliling area sekolah."

Ibu keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan kue kecil. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di kursi seberang mereka.

Ibu : "Baru juga sampai rumah, sudah bicara soal sekolah lagi."

Rika memeluk bantal kecil di pangkuannya, telinganya sedikit tegak—antusiasme yang tidak bisa ia sembunyikan.

Rika : "Aku nggak sabar mau balik, Bu. Aku masih belum puas sama latihan terakhir. Rasanya, kalau arena latihan sudah diperkuat, aku bisa…"

Ia menghentikan kalimatnya, membayangkan bentuk latihan baru, sihir-sihir yang lebih berat, dan tubuhnya yang semakin kuat menahan semuanya.

Ibu menyandarkan dagu di tangan, menatap Rika dengan senyum menggoda.

Ibu : "Mau latihan… atau mau cepat-cepat ketemu pujaan hati di sekolah?"

Rika langsung menoleh, alisnya bertaut. Ia menghela napas, tidak ada rona di pipinya, setidaknya secara kasat mata.

Rika : "Aku cuma mikirin latihan. Cinta itu… belum ada di otakku, Bu."

Ayah dan Ibu saling berpandangan. Ayah menghela napas panjang, seperti seseorang yang sudah tahu jawaban tapi tetap harus mengulang pertanyaan.

Ayah : "Begitu, ya…"

Ibu : "Padahal Ibu lihat, ada yang suka sekali melihat kamu diam-diam di sekolah."

Telinga Rika bergerak kecil. Ia mengingat sesuatu—tatapan yang terlalu sering ia tangkap dari ujung kelas, dari pojok lapangan, dari deretan kursi paling belakang saat evaluasi. Tatapan yang cepat berpaling setiap kali ia menoleh.

Rika : "Itu cuma perasaan Ibu saja. Lagian… siapa yang mau sama beastkin biasa kayak aku?"

Ayah mengangkat satu alis.

Ayah : "Beastkin biasa yang bisa mengangkat tiga batu runik sekaligus tanpa bantuan sihir, ya?"

Rika menggumam pelan, mengalihkan pandangan.

Rika : "Itu beda, Ayah… Aku cuma sedikit lebih kuat. Tapi… aku nggak secantik Airi, nggak sekeren Aelria, dan nggak sebaik hati Hina. Aku… biasa saja."

Ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa ia sadari ada seberapa dalam racun perbandingan itu menempel di pikirannya, sembari menundukkan wajah dan ekor yang ikut tertunduk.

Ruangan menjadi sedikit lebih hening.

Ibu menatap wajah anaknya dengan lembut. Ia lalu bangkit, berjalan mengitari meja, dan duduk di sebelah Rika. Tangan hangatnya terulur, mengusap lembut kepala Rika di antara kedua telinganya.

Ibu : "Rika, dengar Ibu sebentar."

Rika : "…"

Ibu : "Kamu tahu? Tidak ada satu pun ras di dunia ini yang diciptakan untuk hidup sendirian. Entah beastkin, manusia, elf, demon, atau ras lain. Kita bisa kuat, bisa berdiri sendiri… tapi pada akhirnya, hati kita tetap ingin punya seseorang yang berdiri di sebelah."

Ayah menyandarkan tubuh, menatap langit-langit.

Ayah : "Ayah melatih kamu untuk kuat supaya kamu bisa melindungi dirimu sendiri, itu benar. Tapi Ayah nggak pernah bilang kamu harus hidup sendirian sampai tua."

Ia memalingkan kepala, menatap mata putrinya langsung.

Ayah : "Setiap ras punya pasangan hidup. Bukan berarti kamu harus buru-buru cari, tapi… jangan sampai kamu menutup pintu sebelum ada yang sempat mengetuk."

Rika menggigit bibir bawahnya.

Dan untuk pertama kalinya, Rika sadar—selama ini ia melatih otot dan sihirnya, tapi tidak pernah melatih hatinya untuk menerima bahwa ia juga pantas dipilih.

Rika : "Tapi… kalau nggak ada yang tertarik? Lagian, selama aku bisa melindungi Ayah dan Ibu, itu sudah cukup buatku."

Ibu tersenyum, namun ada sedikit kesedihan di ujung matanya.

Ibu : "Masalahnya bukan cuma kamu melindungi kami. Saat nanti Ibu dan Ayah sudah tua… apa kamu mau kami pergi dengan pikiran kalau kamu masih sendirian, nggak punya bahu untuk bersandar?"

Rika terdiam. Kata-kata itu menancap pelan, lebih berat daripada latihan mana seharian.

Ayah menambahkan, suaranya kali ini lebih dalam, seperti nasihat yang sudah ia simpan lama.

Ayah : "Dalam hidup, kita ini seperti mozaik. Setiap orang punya kepingan yang hilang. Ada kekurangan yang nggak bisa kita isi sendiri. Pasangan, kalau tepat, bukan orang yang sempurna… tapi orang yang kekurangannya menyatu dengan kekurangan kita. Menutup celah, bukan menambah luka."

Rika menunduk. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

Rika : "Tapi… aku nggak tahu harus mulai dari mana. Aku bahkan belum pernah benar-benar mikirin soal… cinta."

Ibu terkekeh pelan.

Ibu : "Ya wajar. Kamu dari kecil lebih tertarik ngangkat batu, banting boneka latihan, sama berlari di atap rumah tetangga."

Ayah : "Dan bikin Ayah hampir dibentak tetangga karena genteng mereka copot."

Rika : "Itu sudah lama sekali, Ayah…"

Ibu mengangkat jari telunjuk, seolah memberi rangkuman.

Ibu : "Ibu tidak bilang kamu harus segera cari pasangan besok. Ibu cuma minta satu hal: kalau suatu hari ada seseorang yang membuat hati kamu bergetar—walau cuma sedikit—jangan langsung kamu tolak hanya karena kamu merasa 'biasa saja'."

Rika mengerjap perlahan.

Ibu : "Karena buat orang yang tepat… kamu bukan 'biasa saja'. Kamu bisa jadi satu-satunya."

Ayah menambahkan pelan.

Ayah : "Dan kadang, orang yang kamu anggap paling biasa… justru yang paling keras menjaga kamu dari jauh. Kamu saja yang nggak sadar."

Sebuah bayangan melintas di kepala Rika—seorang manusia dengan rambut yang sedikit berantakan, dengan tatapan lembut yang selalu berpaling tepat satu detik setelah matanya tertangkap.

Rika buru-buru mengibaskan bayangan itu.

Rika : "Aku… belum tahu. Tapi… aku akan pikirkan kata-kata Ayah dan Ibu."

Ibu tersenyum puas.

Ibu : "Itu saja sudah cukup."

Ia menepuk ringan pipi Rika, lalu berdiri.

Ibu : "Sekarang cuci tangan. Makan malam sebentar lagi siap. Hari ini kita makan bareng, soalnya Ayah kamu ini jarang-jarang pulang cepat."

Ayah : "Hei, Ayah juga butuh dimanjakan, tahu."

Rika : "Iya, iya…"

Rika bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. Di tengah perjalanan, ia berhenti sebentar di depan jendela. Dari sana, ia bisa melihat samar bangunan sekolah di kejauhan, rangka sihir perlindungan yang belum sempurna memantulkan cahaya samar di langit.

Ia menatapnya lama.

Rika (dalam hati): Aku ingin menjadi lebih kuat. Itu masih tujuanku… Tapi… apa aku benar-benar harus memikirkan soal… pasangan hidup juga?

Di cermin kecil di samping pintu kamar mandi, ia melihat pantulan dirinya: rambut yang sedikit berantakan, telinga yang kadang dianggap lucu oleh orang lain, mata kuning keemasan yang menurutnya terlalu biasa.

Rika (dalam hati): Siapa juga yang mau sama gadis beastkin biasa, yang cuma sedikit kuat…?

Di malam yang sama, di distrik lain, di rumah berbeda, seorang pemuda manusia bernama Riku sedang menatap layar hologram yang menampilkan jadwal kerja ayahnya dan rencana renovasi sekolah—setiap sedikit perubahan selalu ia perhatikan, hanya karena satu hal: semakin cepat sekolah aman, semakin cepat ia bisa melihat gadis beastkin yang selalu ia anggap… luar biasa.

Namun Rika tidak tahu itu.

Yang ia tahu hanya satu: kata-kata Ayah dan Ibunya yang terus terngiang.

"Jangan menutup pintu sebelum ada yang sempat mengetuk."

"Untuk orang yang tepat… kamu bukan biasa saja."

Saat makan malam dimulai, tawa ringan mengisi rumah kecil itu. Namun jauh di dalam, sesuatu yang selama ini tidak pernah Rika sentuh mulai bergerak pelan—bukan sihir, bukan kekuatan fisik…

Melainkan pertanyaan baru tentang dirinya sendiri, dan tentang kemungkinan seseorang yang suatu hari… mungkin akan berdiri di sisinya.

More Chapters