Cherreads

Chapter 198 - BAB 189: LATIHAN

Pertempuran di atas lautan yang membeku itu mencapai titik didihnya. Kelima Gorosei mengepung Sunny Go dari segala arah, menciptakan tekanan yang sanggup menghancurkan mental manusia biasa. Namun, Luffy berdiri di tengah-tengah mereka dengan mata yang bersinar putih tenang, kontras dengan kegelapan monster di sekelilingnya.

​Duel Kehendak

​Saint Jaygarcia Saturn menggeram, kaki-kaki laba-labanya menusuk-nusuk udara. "Kau hanyalah seekor serangga, Nika! Keberuntunganmu berakhir di sini. Kekuatanmu hanyalah lelucon bagi kami yang abadi!"

​Luffy menatapnya datar, sebuah ekspresi yang sangat mirip dengan Saitama. "Abadi? Tidak ada yang abadi kalau kau bisa dipukul. Temanku si botak itu bilang, kalau kau terlalu banyak bicara, berarti kau sedang menutupi rasa takutmu."

​"BERANINYA KAU!" teriak Saint Topman Warcurry. Babi hutan raksasa itu menerjang dengan seluruh berat tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang sanggup meruntuhkan pulau. "MATILAH BERSAMA IDEOLOGIMU YANG KONYOL!"

​Keributan di Barisan Belakang

​Zoro menahan tebasan pedang hitam Nusjuro dengan sekuat tenaga. SPARK! Percikan api hitam meledak di antara mereka.

"Oii, Koki! Jangan biarkan cacing itu mendekati Nami dan Robin!" teriak Zoro sambil menggertakkan gigi.

​Sanji melesat dalam wujud Ifrit Jambe, menendang moncong Ju Peter yang mencoba menelan kapal. "Aku tahu, Marimo! Kau fokus saja pada kuda kerangka itu! Luffy sedang menyiapkan sesuatu yang besar, kita harus menjaga punggungnya!"

​Usopp melepaskan rentetan Pop Green ke arah Marcus Mars yang menukik dari langit. "LUFFY! CEPAT LAKUKAN SESUATU! AKU TIDAK TAHU BERAPA LAMA LAGI JANTUNGKU BISA TAHAN MELIHAT WAJAH-WAJAH MONSTER INI!"

​Nami berteriak dari balik kemudi, "Luffy! Gunakan ketenanganmu! Jangan biarkan mereka memprovokasi kemarahanmu!"

Penumbangan Pertama

​Luffy menarik napas panjang. Ia memejamkan mata di tengah serbuan lima monster sekaligus. Dunia di sekitarnya seolah melambat. Ia mengingat satu hal yang pernah ia lihat dalam ingatan kaburnya tentang Saitama: sebuah pukulan yang tidak butuh nama besar, tidak butuh teriakan, hanya kejujuran dari sebuah kepalan tangan.

​"Kalian merasa tinggi karena kalian tidak pernah merasakan sakit yang nyata," bisik Luffy.

​Luffy melesat, bukan ke arah babi hutan atau laba-laba, melainkan langsung ke arah Saint Shepherd Ju Peter yang sedang membuka mulut raksasanya di bawah kapal.

​"Pertama, singkirkan pengganggu di bawah!"

​Luffy mengepalkan tangannya. Auranya yang putih tenang mengumpul di satu titik kecil di tinjunya. Tidak ada uap yang meledak, tidak ada kilat hitam yang liar. Hanya sebuah kepalan tangan yang terlihat sangat padat.

​"Gomu Gomu no... Normal White Punch."

​BOOOOOOOOOOM!!!

​Pukulan itu menghantam telak di tengah kepala Ju Peter. Efeknya tidak langsung menghancurkan, melainkan mengirimkan gelombang getaran yang menembus seluruh sel tubuh sang Gorosei. Suara teriakan kesakitan Ju Peter merobek langit sebelum tubuh raksasanya meledak menjadi serpihan cahaya hitam.

​Reaksi Para Gorosei

​"APA?!" Saint Marcus Mars berteriak di udara, kepakannya goyah. "Ju Peter... dikalahkan dengan satu serangan fisik?! Itu mustahil! Kami memiliki regenerasi abadi!"

​"Regenerasimu tidak berguna kalau serangan itu menghancurkan niatmu untuk bangkit," ucap Luffy, mendarat kembali di dek Sunny dengan tenang.

​Saint Jaygarcia Saturn gemetar hebat. Matanya yang tadinya penuh kesombongan kini dipenuhi ketakutan yang belum pernah ia rasakan selama 800 tahun. "Dia... dia benar-benar mewarisi esensi 'Pria Botak' itu... Pukulan yang mengakhiri segalanya tanpa usaha..."

​Zoro menyeringai lebar, menyeka darah di bibirnya. "Satu tumbang. Sisa empat. Mau lanjut, kakek-kakek?"

​Sanji menyalakan rokok barunya dengan tangan yang kini benar-benar stabil. "Sepertinya menu hari ini berubah. Kita akan berpesta besar malam ini setelah membersihkan sampah-sampah ini."

​Satu Gorosei telah jatuh!

Kematian Ju Peter yang permanen mengirimkan gelombang kejut metafisika ke seluruh struktur dunia. Langit di atas Sunny Go yang tadinya kelabu kini berubah menjadi ungu pekat, seolah-olah realitas itu sendiri sedang memar.

​Ritual Keputusasaan: "The Primordial Void"

​"Ini tidak mungkin... ini seharusnya mustahil!" Saint Jaygarcia Saturn meraung, sisa-sisa kakinya yang gemetar mengeluarkan cairan hitam yang mulai menguap. "Kita adalah pilar dunia!

​Saint Topman Warcurry menatap ke langit, ke arah Mary Geoise yang jauh. "Dia tidak menggunakan Haki biasa... Dia menggunakan 'Kekosongan' yang sama dengan pria botak itu.

Kehendak yang begitu murni sehingga hukum regenerasi kita ditolak oleh alam semesta!"

​Saint Marcus Mars menukik turun, suaranya kini melengking ketakutan. "Kita tidak punya pilihan! Sebelum dia menghapus kita satu per satu, kita harus menyatukan Essence kita!

Saudara-saudaraku, berikan nyawa kalian pada prototipe keabadian!"

​Keempat Gorosei yang tersisa mulai berputar di udara, tubuh raksasa mereka mulai mencair dan saling melilit satu sama lain seperti lumpur hitam yang menjijikkan.

Mereka tidak lagi berbentuk hewan, melainkan menjadi gumpalan daging dan mata yang berkedip-kedip sebuah anomali yang disebut "The One Who Rules the Void".

​Keributan di Dek Sunny Rasa Takut yang Baru.

​"APA-APAAN ITU?! ITU LEBIH BURUK DARI MIMPI BURUK!" Usopp berteriak sambil memeluk kaki Zoro. "Mereka bergabung menjadi satu bakso monster raksasa! Luffy! Itu bukan lagi sesuatu yang bisa kau pukul dengan santai!"

​Nami memucat, memegang kompasnya yang kini berputar gila. "Medan magnet di sekitar sini hancur... Luffy, energi yang mereka pancarkan... itu bukan dari dunia ini! Jangan mendekat!"

​Zoro mencoba menebas massa hitam itu dengan Ashura, tapi pedangnya hanya menembus seperti memotong bayangan. "Sial! Fisik mereka hilang! Mereka berubah menjadi energi murni!"

​Sanji melindungi Nami dan Robin dengan tubuhnya. "Ini gila... baunya seperti kematian yang sudah busuk selama ribuan tahun. Luffy! Jangan biarkan benda itu menyentuh kapal!"

​Robin berbisik dengan nada ngeri, "Mereka sedang mencoba memanggil sesuatu... bukan hanya menggabungkan kekuatan, mereka menjadikan diri mereka tumbal untuk menghadirkan kehendak langsung dari Tahta Kosong."

​Intervensi Sang Penguasa Tertinggi

​Tiba-tiba, sebuah suara yang begitu berat hingga sanggup membuat jantung siapa pun berhenti berdetak sesaat, menggema langsung di dalam kepala setiap kru.

​"Cukup."

​Langit terbelah. Sebuah tangan raksasa yang transparan dan berwarna hitam kelam turun dari awan, langsung memegang gumpalan monster Gorosei tersebut. Dari celah langit, muncul satu mata besar dengan pola lingkaran merah yang menatap langsung ke arah Luffy.

​Im-sama telah turun tangan. Bukan secara fisik, tapi melalui proyeksi kehendak yang sanggup menghapus pulau dalam sekejap.

​"Joy Boy..." suara Im-sama bergema dingin. "Kau telah menodai kesucian dunia ini dengan membawa pengaruh dari 'Luar'. Pria botak itu adalah kesalahan sejarah yang seharusnya sudah terkubur. Karena kau menolak untuk tunduk, maka akulah yang akan menghapusmu dari memori masa depan."

​Luffy tidak gemetar. Ia berdiri di ujung kepala singa Sunny Go, menatap mata raksasa di langit itu dengan ekspresi datar yang sangat ikonik.

​"Kau tahu, Im..." Luffy bicara dengan nada yang sangat dewasa, namun tetap dengan gaya lugunya. "Aku dulu berpikir menjadi Raja Bajak Laut adalah tentang menjadi yang paling kuat. Tapi setelah dipukul oleh si botak itu, aku sadar satu hal."

​Luffy mengepalkan tangannya, dan kali ini seluruh tubuhnya bersinar putih bersih, melenyapkan aura ungu di sekitarnya.

​"Kebebasan itu bukan tentang tidak ada orang yang memerintah mu. Kebebasan adalah ketika kau begitu kuat sehingga kau bahkan tidak perlu membuktikan bahwa kau kuat. Kau takut pada Saitama bukan karena dia jahat, tapi karena dia membuat semua 'aturan' dan 'keagungan'-mu terlihat seperti lelucon."

​Luffy melanjutkan sambil tersenyum tipis. "Kalian para Gorosei dan kau, Im... kalian terlalu serius mengurus dunia sampai lupa cara tertawa. Pukulan ini... bukan dariku. Ini adalah balasan dari semua orang yang namanya kau hapus dari sejarah."

​Luffy bersiap untuk melompat, auranya kini membentuk siluet samar seorang pria berjubah dengan tinju yang siap meledak.

​"Bersiaplah, Im. Aku akan memukulmu begitu keras sampai ingatan tentang si Botak itu kembali ke semua orang!"

Luffy mengambil kuda-kuda yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya. Bukan gaya bertarung karet yang liar, melainkan posisi yang sangat kokoh, sederhana, namun mematikan. Seluruh energi putih dari Gear 5 miliknya tidak lagi meluap-luap, melainkan terkompresi masuk ke dalam kepalan tangan kanannya hingga tangan itu bersinar lebih terang dari matahari.

​Momen Puncak di Atas Dek

​Im-sama (Suaranya menggetarkan realitas): "Hentikan kesia-siaan ini, Luffy! Kau mencoba menghancurkan pondasi dunia dengan satu pukulan? Aku adalah hukum! Aku adalah waktu yang membeku! Kau tidak bisa memukul sesuatu yang merupakan esensi dari keberadaan itu sendiri!"

​Luffy (Menatap tenang ke langit): "Hukum? Waktu? Itu semua terdengar membosankan. Si Botak itu mengajariku bahwa tidak peduli seberapa besar gelar yang kau punya, kalau wajahmu bisa terkena tinju, berarti kau bisa kalah. Kau bukan Tuhan, Im. Kau hanya orang kesepian yang takut pada perubahan."

​Zoro (Berteriak pada kru): "SEMUANYA, BERPEGANGAN! KAPAL INI AKAN TERGUNCANG OLEH SESUATU YANG BELUM PERNAH ADA DI DUNIA INI!"

​Sanji (Menjaga keseimbangan Nami): "Luffy... dia benar-benar melakukannya. Dia menggunakan gaya bertarung pria itu... Satu serangan untuk mengakhiri segalanya!"

​Nami (Sambil memejamkan mata): "Luffy! Pukul dia sampai ke ujung dunia! Kembalikan langit kami!"

​Eksekusi Serious Series - King of Liberation Punch

​Luffy melompat. Ia tidak memanjangkan tangannya. Ia hanya melesat lurus menuju proyeksi wajah Im-sama di langit. Udara di sekelilingnya pecah menjadi serpihan-serpihan kaca dimensi.

​Luffy: "Ini untuk setiap mimpi yang kau kubur... dan untuk teman botakku yang kau hapus dari ingatan teman-temanku! SERIOUS SERIES... KING OF LIBERATION PUNCH!"

​BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMM!!!!

​Pukulan itu menghantam proyeksi Im-sama tepat di tengah dahinya. Bukan ledakan api yang terjadi, melainkan gelombang "Kekosongan Putih" yang menyapu seluruh awan kelabu di Grand Line.

Tekanan udaranya begitu murni hingga monster gabungan Gorosei di bawahnya langsung terurai kembali menjadi debu sejarah.

​Dialog Pasca-Pukulan Kehancuran Tahta Kosong

​Di Mary Geoise, Im-sama yang asli tersentak dari singgasananya. Topengnya retak, dan darah mengalir dari dahi sang penguasa tertinggi. Ia terengah-engah, matanya yang melingkar merah bergetar karena syok.

​Im-sama: "Bagaimana... bagaimana bisa kehendakku hancur? Memori itu... memorinya kembali!"

​Di seluruh dunia, orang-orang tiba-tiba memegang kepala mereka. Di kedai-kedai, di kapal-kapal, semua orang teringat sesuatu.

​"Tunggu... aku ingat sekarang!" teriak seorang bajak laut di bar. "Ada pria botak... dia mengalahkan monster laut dengan satu tepukan!"

​"Iya! Dia pernah makan di bar-ku dan menangis karena kehabisan kupon diskon!" sahut yang lain.

​Kembali ke Sunny Go

​Luffy mendarat di dek dengan bunyi tap yang ringan. Wujud putihnya memudar, ia kembali menjadi Luffy yang mengenakan rompi merah biasa. Langit sekarang biru cerah, matahari bersinar sangat hangat.

​Zoro: "Kau melakukannya, Kapten. Kau memukul ingatan dunia sampai kembali normal."

​Sanji "Dan kau melakukannya tanpa menghancurkan dapurku. Terima kasih untuk itu."

​Nami berlari dan memeluk Luffy, kali ini dengan tawa lebar. "Luffy! Aku ingat dia sekarang! Saitama! Pria yang selalu mengeluh soal harga jeruk di kapalku!"

​Luffy (Nyengir lebar sampai matanya menghilang): "Shishishi! Aku bilang juga apa! Dia itu teman kita! Dan sekarang, karena semuanya sudah ingat..."

​Luffy mengangkat tangannya ke langit.

​"SAITAMAAAAAA! KAMI SUDAH INGAT! LAIN KALI KALAU KAU DATANG LAGI, AKU AKAN MEMBERIMU DAGING PALING ENAK SEBAGAI GANTI PUKULANMU TADI!"

​Jauh di dimensi lain, di sebuah apartemen kecil di Z-City, seorang pria botak yang sedang memotong bawang tiba-tiba bersin dengan sangat keras.

​Saitama "Hatchii! Sial... apa ada yang membicarakanku? Atau mungkin aku kena flu karena AC-ku rusak lagi?"

​Ia menatap langit-langit, lalu tersenyum tipis tanpa alasan yang jelas. "Entahlah. Rasanya aku baru saja membantu seorang anak kecil yang keras kepala."

Fajar Baru dan Pesta di Atas Sunny

​Langit Grand Line tidak pernah terlihat sebiru ini. Cahaya matahari memantul di atas ombak yang kini tenang, seolah-olah laut itu sendiri sedang beristirahat setelah perang panjang melawan para "Dewa" palsu.

​Di atas dek Thousand Sunny, suasana meledak dalam kegembiraan. Namun, kali ini ada yang berbeda. Tidak ada lagi rasa takut yang tersisa di mata siapa pun.

​"Luffy! Makan ini!" Nami tertawa sambil menyodorkan sepiring besar buah jeruk. Ia tidak lagi gemetar. Saat Luffy mengambil jeruk itu dengan tangan yang sedikit bercahaya putih, Nami justru mencubit pipi karet kaptennya itu. "Ingat ya, biarpun kau sudah jadi 'Dewa Ketenangan' atau apa pun, kau tetap kapten bodoh yang berutang banyak padaku!"

​Luffy (Sambil mengunyah jeruk): "Sishishi! Tentu saja, Nami! Dan sekarang aku tahu cara memegang jeruk ini tanpa membuatnya jadi gelembung sabun!"

​Zoro duduk bersandar di tiang utama, meminum sake langsung dari botolnya. Ia menatap langit dengan senyum tipis. "Saitama, ya... Sekarang aku ingat. Dia pernah mencoba mengasah pedangku dengan batu asah dapur yang harganya sepuluh berry. Aku hampir menebasnya saat itu."

​Sanji (Sambil memutar-mutar piring makanan): "Dan dia selalu memprotes kalau masakanku terlalu mewah. Katanya, 'Berikan saja aku nasi putih dan telur, sisa uangnya untuk beli deterjen'. Benar-benar pria yang aneh, tapi dia pria yang jujur."

​Robin tersenyum sambil membaca buku catatannya yang baru. "Keberadaannya bukan lagi noda dalam sejarah. Sekarang, semua orang di dunia membicarakan tentang 'Pria Botak yang Melampaui Takdir'.

Dia menjadi legenda yang hidup berdampingan dengan namamu, Luffy."

​Pesan Terakhir dari Cahaya

​Tiba-tiba, di tengah pesta, muncul sisa-sisa energi putih di tengah dek. Cahaya itu membentuk sebuah tulisan di udara sebuah pesan singkat yang sepertinya dikirim dari dimensi lain sebelum koneksinya benar-benar terputus.

​"Jangan terlalu serius. Dunia ini luas, cari diskon yang bagus. Dan Luffy... pukulanmu lumayan. 7/10."

​Luffy tertawa terbahak-bahak melihat tulisan itu. "Hanya 7/10?! Sialan, dia benar-benar sombong!"

​Chopper dan Usopp ikut melompat-lompat kegirangan. "Dia memberikan nilai! Pahlawan Botak itu memberikan nilai!"

​Kebebasan yang Sejati

​Di seluruh dunia, poster-poster buronan mulai dicopot. Rakyat di berbagai pulau tidak lagi melihat ke langit dengan rasa takut akan hukuman Im-sama. Pengaruh "Serious Punch" Luffy telah menghancurkan sistem pengawasan mental Pemerintah Dunia.

Orang-orang mulai tertawa kembali.

​Luffy berdiri di atas kepala singa Sunny Go, menatap ke arah garis cakrawala yang tak berujung. Ia merasa sangat ringan. Bukan karena kekuatan Gear 5, tapi karena beban untuk menjadi "sempurna" telah hilang.

​"Zoro, Sanji, semuanya!" Luffy berteriak dengan penuh semangat. "Ayo berangkat ke pulau berikutnya! Masih banyak daging yang belum kita makan dan banyak diskon yang harus kita cari sebelum Saitama menemukannya lebih dulu!"

​Sunny Go meluncur membelah laut, membawa kru bajak laut yang paling bebas di dunia. Mereka bukan lagi sekadar kru yang mencari harta karun, melainkan penjaga kebahagiaan yang diajarkan oleh dua sosok legendaris, Seorang pemuda karet yang ingin bebas, dan seorang pria botak yang hanya ingin menjadi pahlawan hobi.

​Keretakan Dimensi di Lautan

​Beberapa minggu setelah pertempuran besar, Thousand Sunny sedang berlayar tenang. Namun tiba-tiba, Log Pose milik Nami berputar gila-gilaan ke arah atas, bawah, dan samping secara bersamaan.

​"Luffy! Ada yang tidak beres!" teriak Nami panik. "Ruang di depan kita... seperti retak!"

​Di depan mereka, langit biru terkelupas seperti cat dinding yang tua, memperlihatkan sebuah kota modern dengan gedung-gedung tinggi yang sangat asing bagi mereka Z-City.

​Zoro (Menarik pedangnya): "Jangan katakan kalau kita akan terseret ke dunia si Botak itu sekarang."

​Sanji: "Mungkin ini kesempatanmu untuk membayar hutang daging padanya, Luffy."

​Tiba-tiba, dari retakan dimensi itu, bukan Saitama yang muncul, melainkan sesosok cyborg dengan rambut pirang dan mata hitam-kuning yang terlihat sangat serius. Ia mendarat di dek Sunny dengan dentuman logam yang keras.

​"Identifikasi subjek Topi Jerami," ucap cyborg itu datar. "Sensor emosiku mendeteksi sisa-sisa energi Sensei pada kalian. Di mana Saitama-sensei? Dan kenapa kalian memiliki jejak kekuatannya?"

​Debat dan Keributan di Kapal

​(Sang Cyborg) menatap Luffy dengan waspada, tangannya mulai bersinar karena energi insinerasi. "Bicara sekarang, atau aku akan membasmi kalian karena dicurigai telah melakukan sesuatu pada Sensei."

​Luffy (Mengorek hidung dengan santai): "Hah? Siapa kau? Dan kenapa tanganmu bisa menyala seperti Franky?"

​Franky (Mendekat dengan mata berbinar): "OI! LIHAT TEKNOLOGI INI! Ini bukan dari Vegapunk! Ini benar-benar SUPER! Anak muda, dari mana kau mendapatkan modifikasi tangan itu?!"

​ "Aku tidak punya waktu untuk urusan robotik rendahan. Aku sedang mencari Saitama-sensei. Ia menghilang saat sedang memotong bawang, dan satu-satunya petunjuk adalah lubang dimensi yang memancarkan aura 'Serious Punch' yang berasal dari dunia ini."

​Usopp (Bersembunyi di belakang Franky): "Luffy! Dia terlihat lebih berbahaya dari Pacifista! Dan dia memanggil si Botak itu 'Sensei'! Berarti dia muridnya!"

​Chopper (Membawa kotak P3K): "Tunggu! Dia terluka! Ada goresan dimensi di sirkuitnya! Biarkan aku memeriksamu, Tuan Robot!"

​(Bingung): "Rusa yang bicara? Dan seorang pembohong di belakang robot besar? Dunia apa ini sebenarnya?"

​Dialog Luffy dan Genos yang Rumit

​Luffy: "Dengar, Tuan Kabel. Saitama tadi memang ke sini. Dia memukulku sampai benjol, membantu kami menghajar kakek-kakek jahat, lalu dia pulang karena ingin beli sayur. Dia baik-baik saja."

​Genos (Mencatat di buku kecilnya dengan kecepatan tinggi): "Membantu menghajar kakek-kakek... Sayuran... Jadi Sensei benar-benar melakukan pahlawan hobi di dunia lain. Tapi kenapa kau bisa menggunakan tekniknya? Sensei tidak pernah mengajariku teknik sehebat itu. Dia hanya menyuruhku lari dan angkat beban."

​Luffy: "Aku tidak belajar. Aku hanya merasa kalau aku jadi 'tenang', aku bisa memukul lebih kuat. Itu saja!"

​Genos: "Hanya... itu? (Mencatat lagi: 'Kunci kekuatan Sensei adalah ketenangan batin yang ekstrem'). Terima kasih atas informasinya. Tapi selama portal ini terbuka, monster dari duniaku juga bisa masuk ke sini."

​Tiba-tiba, dari retakan dimensi itu, muncul seekor monster raksasa berbentuk kepiting yang mengenakan celana dalam (Crablante) atau mungkin monster tingkat Naga lainnya.

​Zoro: "Nah, sepertinya latihan 'Ketenangan' Luffy akan diuji lagi dengan tamu-tamu aneh dari duniamu."

​Apa yang akan terjadi?

More Chapters