Cherreads

Chapter 199 - BAB 190: IRAMANYA... SANGAT SUPER.

Hadir sosok lain yang secara tak terduga terseret lewat retakan dimensi itu seseorang yang punya otoritas di dunianya dan akan membuat kru Topi Jerami pusing tujuh keliling dengan "aturan" pahlawannya.

​Tamu Tak Diundang Sang Raja Mesin

​Dari retakan dimensi yang berderak itu, muncul seorang pria tinggi besar dengan rambut pirang klimis, bekas luka tiga garis di matanya, dan jubah yang gagah.

Ia berdiri mematung di dek Sunny Go dengan wajah yang sangat sangar dan mengintimidasi.

​DUM... DUM... DUM... DUM...

​Suara detak jantung yang sangat keras dan berat menggema di seluruh kapal. Itu adalah "King Engine".

​Usopp (Langsung sujud di dek): "AMPUN! TEKANAN APA INI?! Detak jantungnya saja terdengar seperti genderang perang! Luffy, ini pasti bos besar dari dunia si Botak itu!"

​Zoro (Tangan sudah di gagang pedang, berkeringat dingin): "Aura ini... dia tidak bergerak sedikitpun, tapi aku merasa jika aku menyerang, aku yang akan mati dalam sekejap. Siapa kau, orang kuat?!"

​Sanji (Menghadang di depan Nami): "Oi, Marimo! Jangan gegabah! Lihat matanya... dia menatap kita seolah kita ini hanya debu. Dia tidak terlihat ingin bertarung, dia terlihat sedang menilai apakah kita layak untuk hidup."

​King (Dalam hati: TOLONG! AKU DI MANA?! Kenapa ada bajak laut? Kenapa ada rusa bicara? Kenapa orang berambut hijau itu menatapku seolah ingin memotongku? King Engine-ku semakin keras, mereka pasti akan tahu kalau aku ketakutan!)

​Luffy (Mendekat dengan mata berbinar): "Ooooh! Kau terlihat sangat hebat! Detak jantungmu keren sekali! Apakah kau teman si Botak?!"

​King (Mencoba tetap tenang, suaranya berat dan dalam): "Si Botak? Maksudmu Saitama? Jadi... dia benar-benar lewat sini. Di mana dia sekarang?"

​Nami (Berbisik): "Luffy, hati-hati! Dia menyebut nama Saitama tanpa rasa takut. Dia pasti setingkat dengannya!"

​Franky: "Oiii! Tuan Hebat! Apa kau punya meriam di dalam dadamu? Suara dum-dum itu sangat SUPER!"

​King (Suaranya bergetar tapi terdengar mengancam bagi yang lain): "Aku hanya ingin pulang. Dunia ini... terlalu berisik bagi hobi permainanku."

​Munculnya Ancaman dari Balik Retakan

​Tiba-tiba, retakan dimensi di belakang King membesar. Sesosok monster setingkat Dragon (Bencana Tingkat Naga), Boros (atau sisa-sisa energinya yang terwujud kembali karena ketidakstabilan dimensi), mulai mengintip dari lubang itu.

​Boros (Bayangan Energi): "Aku mencium aura Nika... dan aura Pria Terkuat di Bumi (King). Akhirnya, pertarungan yang layak!"

​Zoro: "Nah, sekarang ada monster bermata satu yang ingin menghancurkan kapal kita!"

​Luffy: "King! Biar aku yang urus! Aku ingin mencoba teknik baruku lagi!"

​King (Dalam hati: APA?! JANGAN SURUH AKU BERTARUNG!): "Tunggu... biarkan aku... (King ingin bilang 'biarkan aku sembunyi', tapi yang keluar adalah...) ...biarkan aku melihat seberapa jauh kemampuanmu, Topi Jerami."

​Usopp: "LIHAT! King bahkan tidak sudi mengotori tangannya! Dia ingin menguji Luffy! Aura kepemimpinannya benar-benar gila!"

​Robin: "Menarik. Dia menggunakan kita sebagai pion untuk mengukur kekuatan dimensi ini. Dia benar-benar penguasa taktis."

​Luffy vs. Bayangan Boros (Dengan King sebagai "Saksi")

​Luffy melompat ke udara, berubah menjadi wujud putihnya yang tenang.

​Luffy: "Gomu Gomu no... White Comet!"

​Pukulan Luffy menghantam bayangan Boros, menciptakan ledakan cahaya yang luar biasa. King yang berdiri di dek terhempas angin ledakan tapi tetap berdiri kaku (karena kakinya lemas dan tidak bisa digerakkan).

​Kru Topi Jerami: "LIHAT! King bahkan tidak berkedip saat ledakan terjadi di depannya! Benar-benar pria yang tangguh!"

​King (Dalam hati: AKU TULI! TELINGAKU BERDENGING! AKU INGIN PULANG DAN MAIN GAME!)

King, yang sedang sekarat karena ketakutan, justru dianggap memberikan pencerahan tertinggi.

​Luffy mendarat di dek setelah menghalau bayangan Boros. Ia terengah-engah, auranya masih sedikit tidak stabil. Ia menatap King yang masih berdiri mematung dengan King Engine yang berdegup sangat kencang.

​Luffy: "Hah... hah... hebat juga monster tadi. Tapi aku merasa masih ada yang kurang. King! Kau adalah pria terkuat di duniamu, kan? Beri aku saran! Bagaimana cara mengalahkan musuh tanpa harus membuang banyak tenaga seperti si Botak?"

​King (Dalam hati: Aduh, dia bertanya padaku! Aku harus bilang apa? Kalau aku bilang aku tidak tahu, dia mungkin akan memukulku! Pikir, King, pikir! Apa yang biasanya dilakukan Saitama kalau sedang malas bertarung?)

​King menatap ke bawah, ke arah tangannya yang gemetar, lalu ia melihat sebuah kecoa kecil lewat di dek kapal. Ia teringat salah satu video game dating sim yang baru ia mainkan, di mana karakter utamanya harus "menunggu saat yang tepat" untuk menekan tombol.

​King (Suaranya berat dan bergetar karena panik): "Kau terlalu banyak bergerak, Topi Jerami. Kekuatan sejati... bukanlah tentang seberapa keras kau memukul."

​Luffy (Mata berbinar): "Bukan tentang seberapa keras? Lalu tentang apa?!"

​ "Kekuatan sejati adalah... tentang... 'Jeda'. Kau harus tahu kapan harus berhenti menekan tombol. Jika kau terus menekan, karaktermu maksudku, jiwamu akan kelelahan. Kau harus belajar untuk 'diam' bahkan di tengah serangan. Seperti... saat kau sedang menunggu loading permainan yang lambat."

​Reaksi Heboh Para Kru

​Zoro (Terdiam, merenung dalam): "'Jeda'? Menunggu saat diam di tengah serangan? Maksudnya... dia bicara tentang Zanshin tingkat tinggi? Di mana kita tidak menyerang maupun bertahan, tapi menjadi satu dengan kekosongan? Gila... nasihat ini sangat dalam!"

​"Maksudnya kita harus menghemat energi untuk momen yang paling krusial? 'Menunggu loading'... apakah itu metafora untuk mengumpulkan energi alam semesta? Orang ini benar-benar filosofis!"

​Robin: "Menarik. Dia mengajarkan Luffy tentang konsep 'Antara'. Bahwa dalam setiap gerakan, ada titik diam yang merupakan sumber kekuatan terbesar. King benar-benar seorang guru taktik."

​Usopp: "DENGAR ITU, LUFFY! Kau harus jadi seperti King! Lihat dia, dari tadi hanya diam tapi monster tadi langsung ketakutan! Itu karena dia menguasai 'Jeda'!"

​Luffy Mencoba Teknik "Jeda"

​Luffy: "Jeda... Diam... Tidak menekan tombol... BAIKLAH! AKU MENGERTI!"

​Tiba-tiba, retakan dimensi itu mengeluarkan serangan laser susulan dari Boros. Luffy tidak melompat. Ia justru berdiri diam, menutup matanya, dan membiarkan tangannya tergantung lemas. Ia membayangkan dirinya sedang menunggu sebuah "permainan" dimulai.

​Saat laser itu hampir menyentuhnya, Luffy hanya bergeser satu milimeter dengan gerakan yang sangat malas, seolah-olah ia sedang mengantuk. Laser itu lewat begitu saja.

​Luffy: "Ooh! Aku merasakannya! Saat aku tidak mencoba untuk menang, gerakanku jadi lebih ringan! King, kau jenius!"

​King (Dalam hati: HAH? Dia benar-benar melakukannya? Padahal aku tadi cuma membayangkan kontroler game-ku yang rusak!)

​King (Berusaha tetap cool): "Hmph. Kau baru menyentuh permukaannya saja. Intinya adalah... jangan sampai konsentrasimu terganggu oleh hal-hal sepele... seperti lapar atau keinginan untuk menang."

​Luffy: "JANGAN LAPAR?! ITU SULIT SEKALI! Tapi demi menjadi kuat, aku akan mencobanya!"

​Perpisahan Sang Raja

​Retakan dimensi mulai menyusut, menarik King masuk kembali ke dunianya.

​King: "Sepertinya waktuku habis. Ingat, Topi Jerami... hidup ini bukan hanya tentang level yang tinggi, tapi tentang bagaimana kau menikmati jalan ceritanya."

​Luffy: "TERIMA KASIH, RAJA MOTOR! AKU AKAN MENGINGAT NASIHAT 'JEDA'-MU!"

​King menghilang ke dalam portal. Begitu portal tertutup, King langsung jatuh pingsan di lantai apartemennya karena serangan jantung ringan. Sementara itu di Sunny Go...

​Zoro: "Luffy, coba tunjukkan lagi teknik 'Jeda' itu."

​Luffy mencoba diam, tapi sedetik kemudian perutnya berbunyi.

​Luffy: "Aku tidak bisa! Teknik King terlalu berat! Menunggu 'loading' tanpa makan daging itu adalah siksaan terbesar di dunia!"

​Nami: "Tapi setidaknya sekarang kita tahu, teman-teman Saitama semuanya adalah monster yang aneh dan bijaksana."

Kemarahan Im-sama kini bukan lagi sekadar dingin, melainkan sebuah kehampaan yang membara. Di dalam Aula Bunga, setiap kelopak mawar hitam yang ia sentuh langsung berubah menjadi debu. Kejadian King yang masuk ke dunianya dan memberikan "pencerahan" pada Luffy dianggap sebagai penghinaan terakhir terhadap hukum realitas yang ia jaga.

Tahta yang Bergetar

​Im-sama berdiri di depan Lensa Kosong, sebuah alat kuno yang bisa melihat seluruh garis takdir. Namun, layar itu kini buram, dipenuhi bayangan seorang pria botak dan seorang pria pirang dengan bekas luka.

​"Jeda? Menunggu loading?" suara Im-sama bergetar karena murka. "Mereka membawa logika permainan konyol ke dalam tatanan duniaku! Mereka memperlakukan sejarah delapan ratus tahun ini seolah-olah hanya sebuah hiburan!"

​Lima kursi kosong di depannya yang biasanya diduduki Gorosei kini mengeluarkan api hitam. Im-sama mengangkat tangannya ke langit.

​"Jika Joy Boy belajar untuk 'diam', maka aku akan memberikan suara yang akan menghancurkan jiwanya.

Bangkitkan Proyek Zero-Memory!"

​Kekacauan di Sunny Go Teknik "Jeda" vs Teror Mental

​Kembali di kapal, Luffy sedang mencoba mempraktekkan nasihat King. Ia duduk bersila di atas kepala singa Sunny, berusaha untuk "diam" dan tidak memikirkan daging.

​"Luffy, kau terlihat seperti patung yang sedang menahan buang air besar," celetuk Sanji sambil membawa nampan berisi camilan.

​"Diamlah, Sanji! Aku sedang menunggu loading!" balas Luffy dengan wajah serius yang dipaksakan. "King bilang, kekuatanku akan meledak kalau aku bisa melewati saat-saat membosankan ini!"

​Tiba-tiba, langit berubah menjadi merah darah. Suara bisikan jutaan orang yang telah dihapus dari sejarah mulai bergema di telinga mereka. Ini adalah serangan mental dari Im-sama.

​Usopp (Menutup telinga): "Aaaaah! Suara apa ini?! Kepalaku serasa mau pecah! Luffy, hentikan latihanmu! Kita diserang!"

​Nami: "Ini bukan serangan fisik! Kapal tidak rusak, tapi... aku merasa seluruh ingatanku tentang petualangan kita mulai memudar! Aku lupa kenapa aku benci Arlong! Aku lupa kenapa aku mencintai laut!"

​Zoro (Mengertakkan gigi, berusaha mencabut pedang): "Sial... dia mencoba menghapus 'makna' dari gerakan kita. Kalau kita lupa kenapa kita bertarung, kita tidak akan bisa mengayunkan pedang!"

​Duel Mental: Ketenangan King vs Kebencian Im-sama

​Im-sama memproyeksikan suaranya langsung ke pusat kesadaran Luffy.

​Im-sama: "Joy Boy... kau hanyalah bocah yang bermain-main. Untuk apa kau bertarung? Untuk apa kau bebas? Pada akhirnya, kau akan terlupakan seperti pria botak itu. Menyerahlah pada 'Jeda'-mu... dan biarkan aku menghapus eksistensimu."

​Luffy masih memejamkan mata. Ia merasakan ingatannya mulai ditarik keluar. Wajah Sabo, Ace, dan teman-temannya mulai buram. Namun, di tengah kegelapan itu, ia mengingat wajah King yang tetap kaku dan tenang (padahal King hanya pingsan).

​Luffy (Bicara dalam pikiran): "King bilang... jangan biarkan hal sepele mengganggu konsentrasi. Dan bagiku, kau, Im... kau adalah hal sepele yang paling berisik!"

​Luffy tiba-tiba membuka matanya. Ia tidak marah. Ia justru terlihat sangat santai, hampir seperti sedang mengantuk.

​Luffy: "Oiii, Im! Kau tahu kenapa aku suka teknik 'Jeda' ini? Karena saat aku diam, aku tidak mendengar suaramu yang berisik. Aku hanya mendengar suara perutku yang minta makan. Dan itu... jauh lebih penting dari sejarahmu!"

​Luffy berdiri. Auranya tidak meledak, tapi King Engine (detak jantung Luffy yang meniru King) mulai berbunyi.

​DUM... DUM... DUM... DUM...

​Brook: "Yohohoho! Irama jantung Luffy-san meredam suara bisikan kutukan itu! Iramanya sangat... SUPER!"

​Robin: "Dia menggunakan kekosongan yang diajarkan King untuk menelan kebencian Im-sama. Dia tidak melawan serangan itu, dia hanya membiarkannya lewat seperti loading yang tidak penting."

​Serangan Balik dari Jarak Jauh

​Luffy mengepalkan tangannya ke arah langit.

​"Im! Berhenti mengirim suara-suara aneh! Kau membuat koki-ku pusing dan Nami-ku takut! Ambil ini... Serious Series: Jeda Penghancur!"

​Luffy tidak memukul. Ia hanya menjentikkan jarinya ke udara dengan sangat pelan. Namun, karena ia melakukannya dalam kondisi "Jeda" yang sempurna, jentikan itu menciptakan gelombang kejut yang membelah awan merah dan langsung menghantam menara tertinggi di Mary Geoise.

​CRAAAK!

​Lensa Kosong milik Im-sama pecah berkeping-keping.

​Im-sama terpukul mundur lagi oleh teknik "lelucon" yang dianggap Luffy sangat serius.

More Chapters