Cherreads

Chapter 197 - BAB 188: PERTEMPURAN

Latihan yang awalnya penuh tawa itu tiba-tiba terhenti saat langit di atas Thousand Sunny berubah menjadi kelabu yang tidak alami. Sebuah kapal perang besar dengan simbol Pemerintah Dunia muncul dari balik kabut tebal, namun ini bukan kapal biasa. Di atasnya berdiri sosok utusan khusus dari Mary Geoise, dikawal oleh sepasukan unit Pacifista model terbaru.

​"Mugiwara no Luffy!" suara dari pengeras suara kapal itu menggema. "Kami tahu kau sedang kehilangan kendali atas kekuatan 'Dewa'-mu. Serahkan dirimu untuk 'karantina' demi keamanan dunia, atau kru-mu akan kami musnahkan sekarang juga!"

​Seketika, suasana di Sunny Go menjadi kacau balau. Para kru mulai ribut dan saling berteriak karena panik dan emosi.

​"Apa?! Karantina?!" teriak Usopp sambil berlari mencari tempat persembunyian. "Itu bahasa halus untuk dijadikan kelinci percobaan di penjara bawah tanah! Luffy, jangan dengarkan mereka! Kita harus lari! Menjauh! SEKARANG!"

​Nami memegang tongkat Clima-Tact-nya dengan tangan gemetar. "Karantina? Mereka hanya ingin memanfaatkan kondisi Luffy yang belum stabil! Lihat kapal itu, mereka membawa senjata yang tidak masuk akal hanya untuk menjemput satu orang!"

​Zoro sudah menarik ketiga pedangnya, auranya menghitam. "Diam kalian semua! Jangan tunjukkan kelemahan di depan mereka! Luffy, tetaplah di posisimu! Biar kami yang mengurus kutu-kutu ini. Jangan biarkan emosimu terpancing, atau latihan kita sia-sia!"

​"Bagaimana aku bisa diam, Marimo bodoh?!" bentak Sanji sambil menendang udara. "Jika Luffy bertarung sekarang, dia bisa kehilangan kesadarannya lagi dan menjadi monster itu! Kita harus melindunginya agar dia tetap tenang, tapi bajingan-bajingan di kapal itu sengaja memancing amarahnya!"

​Chopper mulai menangis ketakutan dalam wujud Brain Point-nya. "Luffy jangan pergi! Mereka pasti akan menyuntikkan hal-hal aneh padamu! Aku tidak mau kehilangan kaptenku!"

​Franky memukul telapak tangannya. "Ini benar-benar tidak SUPER! Mereka memanfaatkan celah saat kita sedang kesulitan. Robin, apa yang harus kita lakukan?"

​Robin menatap tajam ke arah kapal Pemerintah Dunia. "Mereka tahu tentang 'Nika'. Mereka tidak ingin mengarantina Luffy, mereka ingin menghapusnya sebelum dia benar-benar bisa menguasai kekuatannya. Jika Luffy menyerah, dunia akan kehilangan harapannya."

​Brook mencabut pedang jiwanya. "Yohohoho! Sepertinya suasana menjadi sangat panas, meskipun saya tidak punya kulit untuk merasakan panas. Teman-teman, jangan biarkan Luffy-san merasa tertekan!"

​Di tengah keributan itu, Luffy berdiri diam. Uap putih mulai keluar dari tubuhnya secara tidak terkendali karena kemarahannya mulai memuncak. Suara detak jantung "Drums of Liberation" mulai terdengar lagi, makin lama makin keras.

​"Hentikan... berisik sekali..." gumam Luffy, matanya mulai memutih.

​"Luffy! Ingat latihan kita!" teriak Zoro. "Kendalikan! Jangan biarkan mereka menang hanya dengan kata-kata!"

​"Tapi mereka mengincar kalian!" teriak Luffy balik, suaranya bergetar antara suara manusianya dan suara gema Dewa. "Aku tidak bisa diam saja melihat mereka mengarahkan meriam itu ke Sunny!"

​"TIDAK, LUFFY!" Nami berlari dan memeluk punggung Luffy dari belakang. "Jangan marah! Jika kau marah, kau akan menjadi sosok yang menakutkan itu lagi! Kami tidak apa-apa, kami bisa bertarung! Tolong, tetaplah menjadi Luffy yang kami kenal!"

​Luffy tersentak. Ia merasakan pelukan hangat Nami dan mendengar keributan teman-temannya yang sebenarnya adalah bentuk rasa sayang mereka. Ia teringat kembali pada bayangan Saitama.

​"Si Botak itu... dia tidak pernah marah meski dihina..." Luffy berbisik pada dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam detak jantungnya yang menggila.

​"Oii, Pemerintah Dunia!" teriak Luffy ke arah kapal perang itu, suaranya kini tenang namun penuh otoritas. "Aku tidak akan pergi kemana-mana! Dan aku tidak butuh karantina kalian!

Kalau kalian berani maju selangkah lagi, aku akan menunjukkan cara bersenang-senang yang akan membuat kalian menyesal!"

​Para kru terdiam melihat ketenangan Luffy yang baru. Keributan tadi perlahan mereda menjadi kesiagaan tempur.

​Zoro menyeringai. "Nah, itu baru kaptenku."

​Sanji menyiapkan kakinya yang mulai membara. "Akan kubuatkan menu selamat tinggal untuk para utusan pemerintah ini."

​Usopp yang tadi gemetar, kini sudah menyiapkan ketapelnya. "Baiklah! Kalau Luffy tenang, aku juga... (sedikit) tenang! Ayo maju, kalian bajingan!"

Kapal perang Pemerintah Dunia tidak bergeming. Utusan berjubah putih itu mengangkat tangannya, memberikan aba-aba dingin. "Negosiasi gagal. Luncurkan 'Seraphim-S' Proyek Penghapus Anomali."

​Dari lambung kapal perang, keluar tiga peti logam raksasa yang jatuh menghantam laut dan meluncur cepat ke arah Sunny Go. Saat peti itu terbuka, muncul tiga sosok robotik yang memiliki sayap hitam dan api di punggungnya (ciri khas Lunarian), namun yang membuat kru terbelalak adalah wajah mereka.

​"Apa?! Itu... wajah kita saat kecil?!" teriak Nami ngeri melihat Seraphim yang mirip dengannya.

​Satu Seraphim yang mirip Luffy kecil melesat ke udara, tinjunya diselimuti laser laser kuning terang. "Mati," ucap robot itu datar.

​Keributan di Atas Dek

​"Gawat! Mereka menggunakan Seraphim model baru!" Franky langsung masuk ke mode tempur. "Robot-robot ini punya data bertarung kita semua!"

​Zoro menahan serangan Seraphim-Zoro dengan pedangnya. TRANG! "Luffy! Jangan bergerak! Biarkan kami yang menghadapi masa lalu kami sendiri! Kalau kau ikut campur dengan emosi, semuanya berantakan!"

​Sanji memblokir tendangan Seraphim-Sanji. "Sial, robot ini benar-benar menyebalkan! Nami-san, menjauhlah dari sana!"

​"Jangan memerintahku, koki bodoh!" teriak Nami sambil mengayunkan Clima-Tact, menciptakan petir untuk menghalau unit Pacifista yang mulai naik ke kapal. "Luffy! Fokus pada pernapasanmu! Jangan lihat mereka!"

​Usopp lari terbirit-birit dikejar robot mini. "BAGAIMANA BISA TENANG KALAU ADA ROBOT YANG WAJAHNYA MIRIP AKU TAPI LEBIH KEREN SEDANG MENEMBAKKAN LASER KE ARAHKU?!"

​Kekuatan Baru: "The Calm Sun"

​Luffy berdiri di tengah badai pertempuran. Ia melihat Seraphim-Luffy bersiap menembakkan laser raksasa tepat ke arah Nami yang sedang terdesak. Emosinya mendidih, tapi ia ingat latihan Zoro dan pukulan Saitama.

​Jangan meledak. Jangan jadi monster. Jadilah kebebasan yang tenang.

​Luffy menutup matanya. Tiba-tiba, suara detak jantungnya yang tadinya keras seperti drum perang, berubah menjadi irama yang sangat lembut, seperti detak jantung bayi yang tenang namun sangat kuat.

​"Gomu Gomu no..." Luffy berbisik.

​Tubuhnya tidak berubah menjadi raksasa, juga tidak tertawa gila. Rambutnya tetap putih bersinar, namun auranya tidak lagi menekan. Sebaliknya, udara di sekitar Sunny Go menjadi sangat ringan, seolah-olah gravitasi menghilang.

​"The Calm World."

​Luffy membuka matanya. Seketika, semua serangan laser yang menuju kru Topi Jerami berubah menjadi gelembung sabun yang pecah dengan suara pop yang lucu. Seraphim yang sedang bergerak cepat tiba-tiba melambat, seolah-olah mereka sedang berenang di dalam sirup.

​"Hah? Apa yang terjadi?" Chopper kebingungan melihat musuhnya tiba-tiba menari balet secara tidak sengaja.

​"Ini..." Robin terpana. "Luffy tidak menghancurkan mereka... dia mengubah 'niat jahat' di sekitar sini menjadi sesuatu yang tidak berbahaya. Ini adalah level tertinggi dari kebebasan."

​Luffy berjalan santai di udara, mendekati Seraphim-Luffy. Ia tidak memukulnya dengan keras. Ia hanya menyentuh dahi robot itu dengan satu jari.

​TING!

​Robot itu terpental jauh ke langit, bukan karena ledakan, tapi karena didorong oleh tekanan udara yang sangat murni.

​"Oii, Pemerintah Dunia!" Luffy berteriak ke arah kapal perang, wajahnya tersenyum lebar namun matanya sangat tajam. "Kalian tidak bisa mengambil kebebasan kami dengan mainan-mainan ini. Bilang pada orang tua di istana itu... Luffy sudah kembali, dan kali ini aku lebih 'sadar' dari sebelumnya!"

​Utusan Pemerintah Dunia di atas kapal gemetar. "Ba... bagaimana mungkin? Dia mengendalikan wujud itu tanpa kehilangan kewarasannya?! Laporkan pada Im-sama! Target telah berevolusi!"

​Luffy mendarat di dek, wujud putihnya perlahan memudar kembali ke normal tanpa membuatnya pingsan. Nami berlari ke arahnya dan memegang lengannya. Kali ini, tangannya tidak gemetar lagi.

​"Luffy... kau melakukannya," bisik Nami bangga.

​Luffy nyengir, lalu perutnya berbunyi sangat keras. KRUYUUUUK!

​"SHISHISHI! Aku lapar! Sanji, buatkan daging yang sangat banyak! Berlatih jadi tenang ternyata membuatku lapar sepuluh kali lipat!"

​Zoro menyarungkan pedangnya dan menghela napas lega. "Hampir saja. Tapi setidaknya kau tidak menghancurkan kapal ini jadi karet, Luffy."

​Di Dalam Aula Bunga, Mary Geoise

​Suasana di dalam ruangan itu begitu sunyi hingga suara tetesan air dari tanaman merambat terdengar seperti dentuman. Sosok Im-sama duduk di anak tangga terbawah, menatap ke arah peta dunia yang terbentang di lantai.

​Di depannya, seorang pria berjubah putih dengan topeng emas bersujud hingga dahinya menyentuh lantai dingin. Pria ini adalah pemimpin unit rahasia yang menyerang Sunny Go, namanya adalah Saint Vancour, utusan khusus dari Ordo Tertinggi Pemerintah Dunia.

​"Lapor... Yang Mulia," suara Vancour bergetar hebat. "Proyek Seraphim-S... gagal total. Target 'Mugiwara' tidak lagi mengamuk. Dia... dia menemukan cara untuk menyatukan kesadarannya dengan kekuatan itu. Dia menyebutnya 'Dunia yang Tenang'."

​Im-sama tidak bergerak. Namun, lilin-lilin di sekitar ruangan tiba-tiba padam secara bersamaan.

​"Vancour..." suara Im-sama terdengar seperti bisikan ribuan jiwa yang tertindas. "Kau bilang dia... tenang?"

​"B-benar, Yang Mulia! Dia tidak tertawa seperti iblis, dia tidak menghancurkan secara buta. Dia memanipulasi realitas dengan kendali penuh. Kami tidak bisa menyentuhnya."

​Kemarahan Sang Penguasa

​Im-sama berdiri perlahan. Jubah hitamnya yang panjang menyeret di lantai. Ia berjalan menuju sebuah poster buronan yang sudah sangat tua, poster milik seorang pria botak dengan jubah kuning Saitama yang hanya ada di ruang simpanan pribadinya karena sudah dihapus dari sejarah dunia.

​"Dulu, si 'Botak' ini masuk ke dunia kita dan mengacaukan segala hukum logika hanya karena dia mencari diskon sayuran," gumam Im-sama, suaranya mengandung kebencian yang mendalam.

"Aku berhasil menghapus ingatan dunia tentangnya, mengisolasinya kembali ke dimensinya... tapi rupanya, dia meninggalkan 'noda' pada jiwa Joy Boy."

​Im-sama mengangkat tangannya. Tiba-tiba, tubuh Saint Vancour terangkat ke udara oleh kekuatan yang tak terlihat.

​"Nama 'Vancour' tidak lagi dibutuhkan dalam sejarah," ucap Im-sama dingin.

​"T-tolong, Yang Mulia! Aaaargh!"

​Dalam sekejap, tubuh Vancour lenyap, hancur menjadi partikel cahaya hitam, seolah-olah dia tidak pernah ada di sana. Nama, keberadaan, dan jasanya dihapus dari catatan dunia dalam hitungan detik.

​Langkah Terakhir

​Im-sama kini menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke laut lepas. Matanya yang memiliki lingkaran merah aneh itu bersinar dalam kegelapan.

​"Jika Joy Boy belajar menjadi tenang... maka tawa tidak lagi bisa menghentikannya. Aku harus memanggil Lima Tetua (Gorosei) secara penuh. Tidak ada lagi Seraphim. Tidak ada lagi utusan bertopeng."

​Im-sama mengambil sebuah bidak catur berbentuk matahari dan meremukkannya hingga menjadi abu.

​"Jika dia ingin menjadi Matahari yang Tenang, maka aku akan memberikan Gerhana yang Abadi."

​Di Thousand Sunny

​Sementara itu, di kapal, Luffy sedang melahap paha daging besar dengan semangat. Ia tiba-tiba tersedak dan menatap ke arah cakrawala.

​"Ada apa, Luffy?" tanya Nami sambil memberikan segelas air.

​Luffy mengusap mulutnya, wajahnya mendadak serius sesaat sebelum kembali nyengir. "Tidak ada... aku hanya merasa ada orang tua yang sedang marah-marah di tempat jauh. Shishishi! Biarkan saja, yang penting daging ini enak!"

​Zoro yang sedang mengasah pedang hanya melirik. "Bersiaplah, Luffy. Pukulan si Botak itu mungkin menyelamatkanmu kemarin, tapi perang yang sebenarnya baru saja dimulai."

Gelombang laut di sekitar Thousand Sunny tiba-tiba membeku. Bukan karena es, melainkan karena tekanan gravitasi yang begitu besar hingga air tidak berani bergerak. Lima lingkaran sihir raksasa muncul di udara, dan dari sana, para Gorosei turun dalam wujud monster mereka yang mengerikan.

​Suasana di dek kapal menjadi sangat mencekam. Kru Topi Jerami berdiri dalam formasi tempur, melindungi kapten mereka.

​Konfrontasi di Dek Sunny

​Saint Jaygarcia Saturn (dalam wujud laba-laba raksasa) menatap Luffy dengan mata merahnya yang dingin. "Nika... Kau telah melampaui batas. Kedamaian yang kau temukan adalah ancaman bagi tatanan dunia yang telah kami jaga selama delapan ratus tahun."

​Saint Topman Warcurry (wujud babi hutan raksasa) mendengus, suaranya menggetarkan kayu kapal. "Menghapus ingatan tentang si 'Botak' itu adalah peringatan, tapi kau justru menyerap esensinya. Keberadaanmu tidak bisa lagi ditoleransi."

​Luffy berdiri di paling depan, rambut putihnya berkibar pelan. Ia tidak lagi tertawa gila. Ia menatap mereka dengan ketenangan yang mematikan. "Kalian bicara soal kedamaian, tapi kalian menghapus orang-orang hanya karena kalian takut. Itu bukan kedamaian. Itu penjara."

​Zoro mencabut ketiga pedangnya, aura King of Hell menyelimutinya. "Lima lawan satu? Kalian benar-benar pengecut untuk ukuran orang-orang yang mengaku penguasa dunia."

​Saint Ethanbaron V. Nusjuro (dalam wujud kerangka kuda dengan pedang hitam) menebas udara ke arah Zoro. "Bicara soal kehormatan pada kami adalah penghinaan, pendekar pedang. Kami adalah hukum itu sendiri."

​Sanji memblokir serangan kilat dari Saint Shepherd Ju Peter (cacing raksasa) yang mencoba menelan kapal dari bawah. "Hukum yang hanya menguntungkan orang tua bangka seperti kalian? Maaf, tapi menu hari ini adalah 'Gorosei Panggang'!"

​Kekacauan dan Perdebatan Kru

​Usopp berteriak sambil gemetar, namun tangannya tetap kokoh membidikkan ketapel. "OI! APAKAH HANYA AKU YANG MERASA KITA SEDANG MELAWAN DEWA-DEWA KEMATIAN?! Luffy! Kau yakin bisa menangani ini dengan 'Ketenangan' itu?!"

​Nami menciptakan awan hitam raksasa di atas mereka. "Usopp, diam dan tembak saja! Luffy, jangan biarkan mereka memancingmu! Ingat apa yang dikatakan si Botak itu! Jangan biarkan emosimu membuatmu kehilangan kendali!"

​Robin menatap para Gorosei dengan tatapan penuh kebencian sekaligus pengetahuan. "Mereka adalah manifestasi dari kegelapan sejarah. Luffy, jika kau kalah di sini, tidak akan ada lagi yang bisa mengingat kebenaran."

​Saint Marcus Mars (wujud burung raksasa) memekik, suaranya merobek telinga. "Kebenaran adalah apa yang kami tulis! Nika, tunjukkan pada kami kekuatan yang kau pelajari dari anomali itu!"

​Serangan Pembuka

​Luffy menarik napas dalam. Irama jantungnya kini terdengar sangat melodius, seperti musik yang menenangkan di tengah badai.

​"Aku belajar dari Saitama... bahwa kekuatan yang besar tidak butuh amarah," ucap Luffy pelan.

​Luffy melesat maju. Gerakannya tidak lagi liar. Saat Saturn mencoba menusuknya dengan kaki laba-labanya, Luffy hanya bergeser satu inci, lalu menyentuh kaki itu dengan telapak tangannya.

​"Gomu Gomu no... White Ripple."

​Gelombang putih menyebar dari sentuhan Luffy, mengubah kaki keras Saturn menjadi selembut karet yang tidak berdaya, membuatnya kehilangan keseimbangan.

​"Apa?! Bagaimana mungkin?!" teriak Saturn terkejut. "Kau mengubah esensi kekuatanku?!"

​Warcurry menerjang dengan taring raksasanya. "Hancurlah!"

​Luffy tidak menghindar. Ia hanya mengangkat satu tangan, menciptakan dinding udara yang transparan. "Kalian terlalu berisik. Dunia butuh ketenangan."

​BOOOOOM!

​Benturan itu menciptakan ledakan energi yang menyapu laut hingga berkilo-kilo meter, namun Thousand Sunny tetap tenang di tengah-tengahnya, dilindungi oleh aura Luffy.

​Zoro menyeringai, menebas serangan Nusjuro. "Lihat itu? Kapten kita akhirnya benar-benar menjadi 'Dewa' yang mengendalikan dunianya sendiri."

​Sanji tertawa kecil sambil menendang Ju Peter. "Si Botak itu benar-benar memberikan hadiah yang luar biasa bagi kita."

​Pertempuran terbesar dalam sejarah baru saja dimulai. Lima penguasa dunia melawan satu Kapten yang telah menemukan arti kebebasan sejati melalui ketenangan.

​ Mengeluarkan teknik puncak yang terinspirasi langsung dari 'Serius Punch' milik Saitama?

Gelombang laut di sekitar Thousand Sunny tiba-tiba membeku. Bukan karena es, melainkan karena tekanan gravitasi yang begitu besar hingga air tidak berani bergerak. Lima lingkaran sihir raksasa muncul di udara, dan dari sana, para Gorosei turun dalam wujud monster mereka yang mengerikan.

​Suasana di dek kapal menjadi sangat mencekam. Kru Topi Jerami berdiri dalam formasi tempur, melindungi kapten mereka.

​Konfrontasi di Dek Sunny

​Saint Jaygarcia Saturn (dalam wujud laba-laba raksasa) menatap Luffy dengan mata merahnya yang dingin. "Nika... Kau telah melampaui batas. Kedamaian yang kau temukan adalah ancaman bagi tatanan dunia yang telah kami jaga selama delapan ratus tahun."

​Saint Topman Warcurry (wujud babi hutan raksasa) mendengus, suaranya menggetarkan kayu kapal. "Menghapus ingatan tentang si 'Botak' itu adalah peringatan, tapi kau justru menyerap esensinya. Keberadaanmu tidak bisa lagi ditoleransi."

​Luffy berdiri di paling depan, rambut putihnya berkibar pelan. Ia tidak lagi tertawa gila. Ia menatap mereka dengan ketenangan yang mematikan. "Kalian bicara soal kedamaian, tapi kalian menghapus orang-orang hanya karena kalian takut. Itu bukan kedamaian. Itu penjara."

​Zoro mencabut ketiga pedangnya, aura King of Hell menyelimutinya. "Lima lawan satu? Kalian benar-benar pengecut untuk ukuran orang-orang yang mengaku penguasa dunia."

​Saint Ethanbaron V. Nusjuro (dalam wujud kerangka kuda dengan pedang hitam) menebas udara ke arah Zoro. "Bicara soal kehormatan pada kami adalah penghinaan, pendekar pedang. Kami adalah hukum itu sendiri."

​Sanji memblokir serangan kilat dari Saint Shepherd Ju Peter (cacing raksasa) yang mencoba menelan kapal dari bawah. "Hukum yang hanya menguntungkan orang tua bangka seperti kalian? Maaf, tapi menu hari ini adalah 'Gorosei Panggang'!"

​Kekacauan dan Perdebatan Kru

​Usopp berteriak sambil gemetar, namun tangannya tetap kokoh membidikkan ketapel. "OI! APAKAH HANYA AKU YANG MERASA KITA SEDANG MELAWAN DEWA-DEWA KEMATIAN?! Luffy! Kau yakin bisa menangani ini dengan 'Ketenangan' itu?!"

​Nami menciptakan awan hitam raksasa di atas mereka. "Usopp, diam dan tembak saja! Luffy, jangan biarkan mereka memancingmu! Ingat apa yang dikatakan si Botak itu! Jangan biarkan emosimu membuatmu kehilangan kendali!"

​Robin menatap para Gorosei dengan tatapan penuh kebencian sekaligus pengetahuan. "Mereka adalah manifestasi dari kegelapan sejarah. Luffy, jika kau kalah di sini, tidak akan ada lagi yang bisa mengingat kebenaran."

​Saint Marcus Mars (wujud burung raksasa) memekik, suaranya merobek telinga. "Kebenaran adalah apa yang kami tulis! Nika, tunjukkan pada kami kekuatan yang kau pelajari dari anomali itu!"

​Serangan Pembuka

​Luffy menarik napas dalam. Irama jantungnya kini terdengar sangat melodius, seperti musik yang menenangkan di tengah badai.

​"Aku belajar dari Saitama... bahwa kekuatan yang besar tidak butuh amarah," ucap Luffy pelan.

​Luffy melesat maju. Gerakannya tidak lagi liar. Saat Saturn mencoba menusuknya dengan kaki laba-labanya, Luffy hanya bergeser satu inci, lalu menyentuh kaki itu dengan telapak tangannya.

​"Gomu Gomu no... White Ripple."

​Gelombang putih menyebar dari sentuhan Luffy, mengubah kaki keras Saturn menjadi selembut karet yang tidak berdaya, membuatnya kehilangan keseimbangan.

​"Apa?! Bagaimana mungkin?!" teriak Saturn terkejut. "Kau mengubah esensi kekuatanku?!"

​Warcurry menerjang dengan taring raksasanya. "Hancurlah!"

​Luffy tidak menghindar. Ia hanya mengangkat satu tangan, menciptakan dinding udara yang transparan. "Kalian terlalu berisik. Dunia butuh ketenangan."

​BOOOOOM!

​Benturan itu menciptakan ledakan energi yang menyapu laut hingga berkilo-kilo meter, namun Thousand Sunny tetap tenang di tengah-tengahnya, dilindungi oleh aura Luffy.

​Zoro menyeringai, menebas serangan Nusjuro. "Lihat itu? Kapten kita akhirnya benar-benar menjadi 'Dewa' yang mengendalikan dunianya sendiri."

​Sanji tertawa kecil sambil menendang Ju Peter. "Si Botak itu benar-benar memberikan hadiah yang luar biasa bagi kita."

​Pertempuran terbesar dalam sejarah baru saja dimulai. Lima penguasa dunia melawan satu Kapten yang telah menemukan arti kebebasan sejati melalui ketenangan.

More Chapters