Cherreads

Chapter 196 - BAB187: SIAP LATIHAN

​"Kau meminta kami untuk menghancurkan apa yang membuatmu bisa melindungi kami, Luffy?" suara Zoro berat, nyaris berbisik. "Jika kami melakukannya, siapa yang akan melindungimu saat dunia datang untuk membalas dendam?"

​Luffy menunduk, air mata jatuh ke lantai kayu Sunny Go. "Aku tidak peduli pada dunia, Zoro. Aku hanya ingin bisa memegang tangan Nami tanpa dia gemetar. Aku ingin kalian melihatku sebagai Luffy, bukan sebagai sesuatu yang menakutkan."

​Nami terisak, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak takut, tapi bayangan kekuatan 'Tuhan' yang baru saja ditunjukkan Luffy memang menyisakan trauma yang mendalam. Ia merasa bersalah karena ketakutannya sendiri justru menjadi beban paling berat bagi kaptennya.

​Sanji menyalakan rokok dengan tangan yang ikut gemetar. "Chopper... secara medis, apakah ada cara untuk menekan kekuatan Buah Iblis tanpa membunuhnya?"

​Chopper menangis tersedu-sedu sambil memeriksa buku medisnya dengan panik. "Ada... ada ramuan penawar sementara dari tanaman langka, tapi efek sampingnya... Luffy akan merasakan sakit fisik yang luar biasa karena tubuhnya dipaksa menolak kekuatan yang sudah menyatu dengan jiwanya. Itu seperti merobek kulit dari daging secara perlahan."

​Luffy mendongak, matanya merah namun penuh tekad. "Lakukan, Chopper. Sakiti aku. Aku lebih memilih rasa sakit itu daripada melihat kalian menjauh."

​Keheningan menyelimuti ruangan. Keputusan kini berada di tangan kru. Mereka harus memilih antara membiarkan kapten mereka menderita secara fisik demi kebersamaan, atau membiarkannya kesepian dalam kekuatannya yang tak terbatas.

Luffy terlempar mundur beberapa meter, menabrak sebuah tong kayu dan kepalanya tersangkut di dalamnya, pandangannya berputar-putar. Para kru Topi Jerami melongo, membeku di tempat dengan ekspresi campur aduk antara terkejut, bingung, dan sedikit... tidak percaya.

​Saitama menatap Luffy yang terjerembap dengan tatapan datar. "Nah, itu seharusnya bisa bikin kepala anak ini jernih sedikit. Emosi berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan." Ia lalu menoleh ke arah Zoro dan kru lainnya. "Ada toko diskon di sekitar sini? Aku butuh beli diskon beli satu gratis satu untuk sayuran."

​Kru Topi Jerami masih terlalu terkejut untuk menjawab, sementara Luffy merangkak keluar dari tong dengan benjol besar di kepalanya, wajahnya penuh tanda tanya. "Apa-apaan tadi itu?! Siapa kau?!"

​Zoro dan Sanji spontan memasang kuda-kuda, siap menghadapi 'ancaman' tak terduga ini. Nami dan Robin tampak waspada, sementara Chopper dan Usopp bersembunyi di belakang mereka.

​Saitama hanya menghela napas. "Yah, kalau tidak ada diskon, aku pergi saja kalau begitu. Padahal aku sudah sangat berharap..." Ia mulai melayang ke atas, menuju portal yang masih terbuka. "Kalian selesaikan saja drama kalian, ya. Emosi itu merepotkan."

​Sebelum ia benar-benar menghilang, Saitama melihat ke arah Luffy lagi, lalu menambahkan. "Oh ya, dan kekuatan itu... tidak buruk. Lebih baik kuat daripada lemah, kan? Itu saja." Dengan itu, ia menghilang ke dalam portal, meninggalkan kru Topi Jerami dan Luffy yang masih terpaku.

​Luffy mengusap benjol di kepalanya, menatap ke tempat Saitama tadi berdiri. Kata-kata terakhir pria botak itu... "Lebih baik kuat daripada lemah..." bergema di benaknya. Entah kenapa, pukulan konyol dan kalimat sederhana itu justru berhasil membuat kepalanya yang keras sedikit lebih jernih.

​Ia melihat ke arah kru-nya, yang kini menatapnya dengan berbagai ekspresi: kekhawatiran dari Nami dan Chopper, kemarahan dari Zoro, bingung dari Usopp, dan penasaran dari Robin.

​"Luffy... kau baik-baik saja?" tanya Chopper, mendekat dengan cemas.

​Luffy mengangguk pelan, rasa sakit di kepalanya seolah melunturkan sedikit kekeras kepalaannya. "Aku... aku tidak tahu siapa orang itu, tapi..." Ia menatap tangannya yang tadi ia anggap menakutkan. "Mungkin... mungkin kalian benar."

​Ingatan yang Terkunci

​Luffy terdiam di lantai dek, memegangi benjol raksasa di kepalanya. Rasa sakit dari pukulan itu bukan sekadar fisik; itu seperti kunci yang membuka pintu yang tertutup rapat di memorinya.

​"Tunggu dulu..." gumam Luffy, matanya melebar. "Wajah datar itu... jubah kuning konyol itu... dia kan..."

​Luffy tiba-tiba berdiri tegak, mengabaikan rasa peningnya. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang masih memasang wajah bingung dan waspada.

​"Kalian benar-benar tidak ingat?!" teriak Luffy frustrasi. "Dia itu teman kita! Dia pernah berlayar bersama kita! Dia yang membantu kita mengalahkan monster laut raksasa saat kita kekurangan stok daging! Dia yang selalu tidur di atap observasi karena katanya udaranya bagus untuk pertumbuhan rambut yang sudah tidak ada itu!"

​Zoro mengernyitkan dahi, memijat pelipisnya. "Apa yang kau bicarakan, Luffy? Pukulan orang itu pasti membuat otakmu bergeser. Kami baru pertama kali melihat orang aneh semacam itu."

​"Benar, Luffy," sahut Nami dengan nada khawatir. "Tidak mungkin ada orang sekuat itu di kru kita tanpa aku mencatat pengeluarannya untuk belanja sayur diskonan."

​Teriakan Keputusasaan

​Luffy tidak peduli. Ingatannya terasa begitu nyata. Ia ingat Saitama adalah satu-satunya sosok yang tidak memandangnya dengan rasa takut meskipun ia mengeluarkan kekuatan "Tuhan"-nya. Saitama hanya akan menguap dan bertanya, "Kapan kita makan siang?"

​Luffy berlari ke pinggir kapal, memanjat pagar, dan berteriak sekuat tenaga ke arah langit tempat portal tadi menghilang.

​"SAITAMAAAAAA!! BALIK SINI, BODOH!!"

​Suaranya menggelegar, menggetarkan layar Sunny Go.

​"KAU TIDAK BISA PERGI BEGITU SAJA! BANTU AKU! KAU BILANG JADI KUAT ITU LEBIH BAIK, TAPI BAGAIMANA CARANYA AGAR TEMAN-TEMANKU TIDAK TAKUT PADAKU?! SAITAMAAAA!! AJARKAN AKU CARA JADI BIASA SAJA SEPERTIMU!!"

​Luffy terus berteriak. Ia memanggil berkali-kali sampai suaranya serak. Ia berharap portal itu terbuka lagi, berharap pria botak itu muncul sambil mengeluh soal kupon belanja yang kedaluwarsa, dan memberinya jawaban yang tidak bisa diberikan oleh kru yang lain.

​Namun, langit tetap biru dan tenang. Hanya suara ombak yang menghantam lambung kapal sebagai jawaban. Saitama tidak kunjung datang.

​Kehampaan

​Luffy jatuh terduduk di dek, nafasnya memburu. Kru Topi Jerami hanya bisa terdiam melihat kapten mereka tampak begitu rapuh, memanggil seseorang yang menurut mereka tidak pernah ada dalam sejarah perjalanan mereka.

​"Dia tidak datang..." bisik Luffy lemah. "Kenapa kalian melupakannya? Dia satu-satunya yang... yang menganggap kekuatanku ini bukan apa-apa."

​Robin mendekat perlahan, raut wajahnya penuh spekulasi arkeolognya. "Luffy, jika ingatanmu benar dan kami semua melupakannya, berarti ada kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar Buah Iblis yang sedang bermain di sini. Tapi untuk sekarang... kau harus mengandalkan kami."

​Zoro menyarungkan pedangnya kembali, mendesah panjang. "Dengar, aku tidak tahu siapa 'Saitama' itu. Tapi jika dia benar-benar kuat, dia pasti benci melihatmu merengek seperti ini. Bangun, Luffy. Jika kau ingin kami tidak takut padamu, maka berhentilah bertingkah seperti Dewa yang menderita dan kembalilah jadi Kapten kami yang menyebalkan."

​Luffy menatap Zoro, lalu menatap tangannya. Ia menyadari sesuatu Saitama memukulnya bukan untuk menyakitinya, tapi untuk menunjukkan bahwa meskipun Luffy merasa dirinya adalah "Tuhan", di depan kekuatan yang tepat, dia tetaplah manusia yang bisa kena benjol.

Luffy mengusap benjol di kepalanya yang masih berdenyut. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Pukulan Saitama si botak yang entah mengapa hanya ia yang ingat telah meninggalkan satu pelajaran berharga: menjadi kuat bukan berarti harus kehilangan jati diri.

​"Baiklah," ucap Luffy pelan, namun suaranya terdengar tegas. Ia menatap Nami yang masih memegang bahu Chopper dengan gemetar. "Nami... aku minta maaf. Aku tidak akan membuang kekuatan ini, karena Zoro benar, ini bagian dariku. Tapi aku janji... aku akan berlatih. Aku akan belajar mengendalikannya sampai wujud ini tidak lagi terlihat menakutkan bagimu. Aku akan tetap menjadi Luffy-mu yang biasa."

​Nami tertegun, lalu perlahan tersenyum tipis meski matanya masih sembab. "Janji ya, Luffy? Jangan jadi 'Dewa' yang asing. Jadilah kapten bodoh kami saja."

​Luffy nyengir lebar, ciri khasnya yang sempat hilang seharian ini. "Shishishi! Janji!"

​Namun, di tengah momen haru itu, Robin berjalan menuju meja navigasi Nami. Ia mengambil sebuah foto lama kru yang selalu terpajang di sana. Matanya yang jeli menangkap sesuatu yang janggal.

​"Luffy... semuanya... lihat ini," panggil Robin dengan nada yang tidak biasa.

​Mereka semua berkerumun. Di dalam foto itu, di pojok paling belakang dekat tiang kapal, terdapat sebuah siluet putih yang pudar. Bentuknya menyerupai sosok pria berjubah, namun bagian wajahnya seolah-olah dihapus secara paksa dari realitas, meninggalkan noda kosong yang aneh.

​"Siapa ini?" tanya Sanji heran. "Aku tidak ingat pernah memotret hantu."

​"Ini Saitama!" teriak Luffy menunjuk siluet itu. "Lihat! Dia benar-benar ada di sana!"

​Robin mengusap permukaan foto itu. "Aneh sekali. Sepertinya dunia ini atau seseorang yang mengaturnya telah menghapus keberadaannya dari ingatan kolektif manusia. Hanya seseorang dengan tekad atau emosi yang sangat kuat, seperti Luffy saat ini, yang bisa menembus manipulasi itu."

​Sementara itu, jauh di Pangaea Castle, Mary Geoise, di dalam Ruang Singgasana Kosong yang dingin.

​Sosok misterius, Im-sama, berdiri di depan sebuah poster buronan raksasa yang sudah robek dan hangus. Di samping poster Luffy, terdapat sebuah sketsa kasar seorang pria botak dengan ekspresi datar. Im-sama memegang sebuah penghapus emas yang tampak bercahaya redup.

​"Anomali itu muncul lagi..." suara Im-sama berbisik, dingin seperti es. "Pria yang tidak terikat oleh hukum takdir dunia ini. Bagaimana bisa si Topi Jerami masih mengingatnya setelah aku menghapus keberadaan si 'Botak' itu dari sejarah?"

​Im-sama menatap ke arah jendela, ke arah laut lepas. "Jika sang Matahari dan sang Anomali bersatu, maka hukum dunia yang kubangun akan hancur dalam sekali pukul. Aku tidak boleh membiarkan mereka bertemu lagi."

​Kembali di Sunny Go, Luffy mengepalkan tinjunya ke langit. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Saitama sudah menonjokku agar aku sadar. Sekarang, ayo kita lanjut berlayar! Aku akan jadi lebih kuat, dan aku akan mencari tahu kenapa kalian semua jadi pelupa!"

​Kapal Thousand Sunny pun membelah ombak, membawa rahasia besar tentang sosok yang terlupakan dan tekad baru sang Kapten untuk menguasai kekuatan Dewa di dalam dirinya.

Latihan dimulai keesokan harinya di dek depan Sunny Go. Suasananya tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan semangat kompetisi yang konyol gaya khas kru Topi Jerami.

​"Dengar, Luffy," Zoro berdiri tegak dengan tangan bersedekap, sementara Sanji berdiri di sisi lain sambil menghisap rokoknya. "Masalahmu bukan pada kekuatanmu, tapi pada auramu. Saat kau masuk ke wujud itu, kau terlihat seperti monster yang tidak punya perasaan."

​"Aku setuju dengan si Marimo kali ini," Sanji menghembuskan asap rokok. "Kau harus bisa tetap tersenyum dan terlihat seperti orang bodoh meski kau sedang dalam wujud 'Dewa'. Jika kau terlihat keren dan menyeramkan, Nami-swan akan ketakutan. Tapi jika kau terlihat bodoh... yah, itu baru Luffy."

​Luffy memejamkan mata, berkonsentrasi penuh. Tubuhnya mulai mengeluarkan uap putih, rambutnya berubah menjadi putih seperti awan, dan detak jantungnya Gomu Gomu no Drums of Liberation mulai berbunyi keras.

​Dug-dak! Dug-dak!

​"Hentikan detak jantung itu!" teriak Zoro. "Kecilkan volumenya! Kau berisik sekali!"

​"Aku tidak bisa!" Luffy mencoba menahan nafasnya sampai wajahnya membiru. "Dia berbunyi sendiri!"

​Metode "Pukulan Kasih Sayang"

​Sanji mendesah dan memberikan sebuah tantangan. "Oke, begini saja. Cobalah berubah, tapi tetaplah diam dan jangan tertawa gila. Jika kau mulai terlihat 'menakutkan', kami berdua akan menendang dan menebasmu."

​Luffy berubah ke wujud Gear 5. Aura kebebasannya meledak, matanya mulai menonjol keluar karena antusiasme. "SHISHISHI! AKU MERASA SANGAT BEBAS!"

​"TIDAK! JANGAN TERTAWA SEPERTI ITU!" Zoro langsung menyerang dengan punggung pedangnya, menghantam kepala Luffy. PLAK!

​"ADUHHH!" Luffy memegangi kepalanya, wujud putihnya masih bertahan tapi ia mencoba menahan tawa gila itu.

​"Bagus," puji Sanji sambil melancarkan tendangan pelan ke arah perut Luffy. "Sekarang, coba tatap Nami yang ada di menara observasi dan berikan lambaian tangan yang normal. Bukan lambaian tangan yang bisa menciptakan badai."

​Luffy menoleh ke atas, melihat Nami yang sedang mengintip dengan cemas. Ia mencoba tersenyum bukan senyum liar Dewa Nika, melainkan senyum lebar Luffy yang biasa. Ia melambai pelan, menjaga agar energi putih di sekitarnya tidak meledak-ledak.

​Hasil Sementara

​Nami, yang melihat dari kejauhan, mulai merasa lebih tenang. Meskipun Luffy terlihat seperti sosok mitos yang bercahaya, cara dia menggaruk hidungnya yang tidak gatal dan cara dia hampir jatuh karena tersandung kakinya sendiri adalah Luffy yang dia kenal.

​"Dia sedang berusaha," bisik Nami pada dirinya sendiri, sedikit tersenyum.

​Di tengah latihan, Luffy tiba-tiba berhenti. Ia menatap telapak tangannya. "Zoro, Sanji... aku merasa kalau aku terlalu serius, kekuatanku jadi dingin. Tapi kalau aku ingat wajah si botak Saitama saat dia dipukul karena telat belanja... aku merasa... kekuatanku jadi lebih ringan."

​Zoro dan Sanji saling berpandangan. Mereka masih tidak ingat siapa Saitama, tapi mereka melihat ada perubahan pada Luffy.

​"Yah, siapa pun si Botak itu, dia memberimu motivasi yang bagus," kata Zoro sambil menyeringai. "Ayo, sekali lagi! Kali ini, coba kendalikan auramu agar tidak merusak jemuran Nami!"

​"SIAP!" teriak Luffy, kembali berlatih dengan penuh semangat di bawah sinar matahari.

​Latihan pun berlanjut selama berhari-hari.

More Chapters