Di dek kapal. Luffy masih duduk dengan tenang di samping embernya. Auranya begitu tenang, namun sangat menekan.
"Luffy, hentikan semuanya sekarang," Zoro melangkah maju, tangannya tidak lagi gemetar, tapi suaranya sangat rendah. "Ini bukan tentang ikan teri lagi. Ini tentang kau. Kau mulai memandang dunia ini sebagai kumpulan benda yang harus kau 'perbaiki'. Kau tidak lagi melihat kami sebagai teman, tapi sebagai objek yang harus dibuat kuat."
Luffy menoleh pelan. Wajahnya datar sempurna. "Kenapa kau marah, Zoro? Aku hanya ingin kalian tidak perlu terluka lagi. Kalau Teru-chan kuat, dia bisa melindungi dirinya. Kalau kalian semua bisa memukul seperti Saitama, aku tidak perlu takut kehilangan siapa pun lagi. Apa itu salah?"
Sanji: "Itu salah, Luffy! Sangat salah! Kehidupan itu indah karena ada kelemahan! Aku memasak karena manusia lapar dan butuh nutrisi. Kalau kau membuat semua orang menjadi monster yang tidak butuh makan dan tidak bisa terluka, maka apa gunanya aku? Kau sedang membunuh 'kemanusiaan' kami!"
Luffy: "Kemanusiaan? Sanji, aku melihat Ace mati di depanku karena dia 'manusia' yang lemah di depan Akainu. Aku melihat penduduk Wano menderita karena mereka 'manusia' yang tidak bisa melawan. Jika aku bisa memberikan mereka kekuatan untuk mengakhiri penderitaan dengan satu pukulan, kenapa aku harus membiarkan mereka tetap lemah?"
Nami: (Suaranya bergetar) "Tapi kau memaksa, Luffy! Kau memaksakan kehendakmu pada seekor ikan! Kau tidak bertanya apakah Teru-chan ingin menjadi pahlawan! Kau hanya ingin memuaskan rasa takutmu akan kehilangan kami! Kau menjadi egois dengan kedok kebaikan!"
Luffy: "Egois? Nami, aku menghabiskan seluruh waktuku untuk berlatih dan mengajar. Aku tidak makan daging sebanyak dulu. Aku tidak bermain. Aku hanya ingin memastikan dunia ini aman. Bagaimana itu bisa disebut egois?"
Robin: (Yang biasanya tenang, kini angkat bicara) "Luffy... pahlawan yang terlalu kuat seringkali berakhir menjadi tiran yang paling mengerikan. Karena mereka tidak bisa lagi memahami rasa sakit. Jika kau tidak bisa merasakan rasa sakit, kau tidak bisa mencintai. Kau hanya bisa 'mengatur'."
Luffy berdiri. Dek kapal retak sedikit hanya karena dia memindahkan berat badannya. Tekanan Haki-nya yang tidak disengaja mulai membuat burung-burung di langit jatuh pingsan.
Luffy: "Jadi kalian ingin tetap lemah? Kalian ingin tetap berada dalam risiko kematian setiap kali kita berlabuh di pulau baru? Kalian ingin aku tetap menjadi kapten yang hanya bisa berteriak saat salah satu dari kalian diculik?"
Zoro: "IYA! Kami lebih memilih mati sebagai manusia daripada hidup selamanya sebagai boneka yang kau ciptakan! Aku berlatih pedang untuk melampaui batas diriku, bukan untuk menerima 'keajaiban' dari latihan konyolmu itu! Kau menghina kerja kerasku, Luffy!"
Usopp: (Sambil menangis) "Aku takut, Luffy! Aku selalu takut! Tapi ketakutanku itulah yang membuatku merasa hidup! Kalau kau membuatku menjadi tidak terkalahkan seperti Saitama, maka keberanianku tidak ada artinya lagi! Kau mencuri jati diriku!"
Luffy: "Ketakutan itu tidak berguna, Usopp. Itu hanya menghambatmu. Saitama tidak pernah takut. Dia hanya bosan. Dan bosan itu lebih baik daripada sedih karena kehilangan teman."
Kai: (Berteriak di tengah pertengkaran) "LUFFY! Lihat jurnal ini! Tulisan ini mulai memudar! Cerita ini kehilangan 'jiwa'-nya karena tidak ada lagi konflik yang masuk akal! Kau menghancurkan narasi hidupmu sendiri! Editor... bukan, SEMESTA ini tidak akan membiarkan pahlawan yang terlalu baik sepertimu ada! Kau akan dihapus jika kau terus begini!"
Luffy terdiam. Dia melihat ke arah krunya. Mereka semua menatapnya bukan dengan kekaguman, tapi dengan ketakutan. Mereka takut pada kapten mereka sendiri yang kini terlalu suci, terlalu kuat, dan terlalu "baik".
Luffy: "Jadi... kalian tidak suka?"
Nami: "Kami membencinya, Luffy. Kami benci kapten yang tidak bisa tertawa bersama kami karena dia terlalu sibuk mengkhawatirkan kekuatan kami."
Luffy menunduk. Dia melihat ikan teri di ember. Ikan itu masih berkilat hitam, siap menghancurkan apa saja. Luffy baru menyadari bahwa sejak dia mulai mengajar Teru-chan, dia tidak pernah benar-benar mendengar suara tawa teman-temannya. Kapal ini menjadi sunyi.
Luffy: "Begitu ya... Jadi menjadi pahlawan yang hebat itu... ternyata sangat kesepian."
Luffy mengangkat ember itu. Tangannya gemetar untuk pertama kalinya sejak dia berlatih ala Saitama.
"Maafkan aku," bisik Luffy.
Dia menuangkan air dari ember itu ke laut. Teru-chan jatuh ke dalam ombak Grand Line. Kilat hitam di sisiknya perlahan memudar seiring Luffy "menarik kembali" niatnya untuk menjadikannya pahlawan.
"Pergilah, Teru-chan. Jadilah ikan teri biasa. Dimakan atau memakan, itu urusanmu. Maaf aku mencoba membuatmu menjadi sesuatu yang bukan dirimu."
Luffy berbalik menghadap krunya. Ekspresi datarnya retak. Sedikit demi sedikit, mata besarnya yang penuh rasa ingin tahu kembali, meski auranya masih sangat kuat.
"Aku lapar," ucap Luffy pelan. "Sanji... aku mau daging. Daging yang banyak. Aku tidak mau makan ubi lagi."
Semua kru terdiam, lalu secara serentak mereka menghembuskan napas lega yang begitu besar sampai layar kapal Sunny mengembang.
Nami menangis, Sanji terduduk lemas sambil menyalakan rokok dengan tangan gemetar.
Pertengkaran ini menyadarkan Luffy bahwa kekuatan absolut adalah kutukan bagi hubungan manusia. Tapi, apakah "Glitch" yang dia tanamkan pada ikan teri itu benar-benar hilang? Ataukah Teru-chan akan menjadi legenda baru di dasar laut.
Luffy mencoba memulihkan hubungan dengan krunya, tapi dia menyadari dia masih punya kekuatan Saitama yang sulit dikendalikan
Malam itu, meja makan di Thousand Sunny seharusnya menjadi simbol kembalinya kedamaian. Bau daging panggang memenuhi ruangan, dan lampu gantung bergoyang pelan. Namun, suasana tetap terasa seperti berjalan di atas kulit telur yang tipis.
Luffy duduk di kursinya, berusaha keras untuk tersenyum lebar seperti dulu. Tapi, ada sesuatu yang hilang: keringat. Sejak berlatih ala Saitama, tubuhnya tidak pernah lagi menunjukkan tanda-tanda kelelahan manusiawi.
Sanji meletakkan piring besar berisi daging monster laut di depan Luffy. "Makanlah, Kapten. Ini resep spesial, penuh lemak dan bumbu. Bukan ubi rebus."
Luffy mengambil garpu dengan sangat hati-hati. Dia mencoba menjepit daging itu.
KRETEK.
Garpu perak padat itu hancur menjadi bubuk logam di antara jari-jarinya seolah-olah terbuat dari biskuit kering.
Luffy: (Membeku) "Eh... maaf. Aku hanya ingin menusuk dagingnya."
Nami: (Suaranya bergetar) "Luffy, itu garpu ketiga dalam dua menit. Bisakah kau... tidak terlalu bersemangat?"
Luffy: "Nami, aku bersumpah, aku sudah mencoba selembut mungkin. Rasanya seperti aku mencoba memegang gelembung sabun dengan tanganku yang sekarang. Semuanya terasa sangat... rapuh."
Zoro: (Menatap dari balik gelas sake-nya) "Itu masalahnya, Luffy. Kau sudah melampaui batas di mana benda-benda di dunia ini bisa menahan keberadaanmu. Kau ingin kembali menjadi 'manusia', tapi ototmu sudah tidak setuju."
Sanji: "Ini tidak masuk akal. Bagaimana aku bisa menyajikan makanan kalau alat makannya saja hancur hanya karena kau sentuh? Apa kau mau makan pakai tangan? Tapi lantai kayu ini bisa retak kalau kau menumpu beban tubuhmu terlalu keras saat mengunyah!"
Luffy: "Aku tahu! Aku merasa seperti monster! Aku ingin memeluk kalian semua karena aku senang kita sudah berbaikan, tapi aku takut tulang rusuk kalian akan remuk hanya karena aku bernapas terlalu dekat!"
Chopper: (Meneteskan air mata) "Luffy... ini menyedihkan. Kau pahlawan kami, tapi kau tidak bisa menyentuh kami. Apa gunanya kekuatan itu kalau membuatmu terisolasi di kapalmu sendiri?"
Luffy: "Saitama tidak pernah memberitahuku tentang bagian ini. Dia hanya bilang 'jadilah kuat'. Dia tidak bilang bahwa setelah kuat, kau akan merasa seperti orang asing di rumahmu sendiri. Aku ingin tertawa, tapi kalau aku tertawa terlalu keras, aku takut tekanan udaranya akan meledakkan jendela kapal."
Usopp: "Mungkin kita bisa membantumu, Luffy. Bagaimana kalau kau mencoba... tidak menggunakan ototmu sama sekali? Gunakan kekuatan karetmu saja! Bukankah karet itu elastis dan lembut?"
Luffy: "Masalahnya, Usopp... karetku sekarang juga berbeda. Dulu aku membal. Sekarang, kulitku terasa seperti baja yang bisa meregang. Jika aku meninju dinding untuk bercanda, dinding itu tidak akan membal mental, tapi akan menghilang dari sejarah."
Robin: "Luffy, kau sedang mengalami apa yang disebut 'Disosiasi Fisik'. Kau terlalu kuat sampai otakmu tidak bisa lagi mengirim sinyal 'lemah' ke tanganmu. Kau harus belajar untuk menjadi lemah lagi."
Luffy: "Bagaimana caranya belajar menjadi lemah?! Aku sudah mencoba tidak push-up seharian ini, tapi aku tetap merasa bisa menghancurkan bulan dengan bersin!"
Zoro: "Dengar, Kapten. Kami mencintaimu, tapi kami juga manusia yang punya rasa takut. Setiap kali kau bergerak cepat di dekat kami, insting pendekar pedangku berteriak 'BAHAYA! MATI!'.
Aku tidak bisa bersantai di dekatmu jika kau adalah bom atom berjalan yang setiap saat bisa meledak hanya karena kau ingin menepuk pundakku."
Luffy: (Menunduk, suaranya parau) "Jadi kalian ingin aku pergi?"
Nami: "TENTU SAJA TIDAK, BODOH! Kami ingin kau kembali! Kami ingin Luffy yang kalau dipukul kepalanya olehku, dia akan benjol dan menangis! Sekarang, kalau aku memukulmu, tanganku yang patah dan kau hanya menatapku dengan wajah datar itu! ITU MENYEBALKAN, LUFFY!"
Luffy: "Aku juga benci ini! Aku rindu merasa sakit! Aku rindu merasa capek! Aku rindu merasa takut kalah!"
Luffy mencoba menggebrak meja karena frustrasi.
BUM!
Meja makan kayu jati itu seketika menjadi serpihan kayu kecil. Piring-piring terbang, dan daging favoritnya jatuh ke lantai.
Semua orang terdiam. Keheningan yang sangat menyakitkan.
Kai: (Sambil memegang kepalanya yang pening) "Luffy, masalahnya bukan di tanganmu. Masalahnya ada di 'Status'-mu. Kau sudah menjadi 'Karakter Gag' di dalam dunia 'Drama'. Seperti Saitama yang masuk ke dalam dunia yang serius. Kau tidak akan pernah bisa menyatu selama kau membawa 'Logika Satu Pukulan' itu di sini."
Luffy: "Lalu apa yang harus kulakukan, Kai? Kau penulisnya, kan?! Ubah ceritanya! Buat aku jadi lemah lagi!"
Kai: "Aku tidak bisa!
Kontraknya sudah ditandatangani! Kau sudah menjadi aset 'Overpowered'. Jika aku membuatmu lemah secara tiba-tiba, pembaca akan protes karena ceritanya menjadi tidak konsisten!"
Luffy: "S*etan dengan pembaca! Aku ingin teman-temanku bisa tertawa tanpa takut mati tersapu angin napasku!"
Di tengah kekacauan meja yang hancur, Brook yang sedari tadi diam mulai memetik gitarnya. Sebuah nada yang sangat pelan dan lembut.
Brook: "Yohoho... Luffy-san. Mungkin kau tidak perlu menjadi lemah. Kau hanya perlu mencari 'Kelemahan' yang lain. Kelemahan hati. Jika kau bisa merasa sedih, kau akan kembali menjadi manusia.
Luffy: "Aku sedih sekarang, Brook! Aku sangat sedih!"
Brook: "Bukan sedih karena kekuatanmu. Tapi sedih karena kau menyadari bahwa... bahkan dengan kekuatan ini, kau tetap tidak bisa memiliki segalanya. Kau tidak bisa memiliki 'Kemanusiaan yang Normal' sekaligus 'Kekuatan Dewa'. Kau harus memilih untuk menderita demi kami."
Luffy menatap tangannya yang tadi menghancurkan meja.
Dia mulai menangis. Bukan tangisan pahlawan, tapi tangisan bocah yang kehilangan mainannya. Air matanya jatuh ke lantai dan ajaibnya air mata itu tidak menghancurkan lantai. Air mata itu terasa... hangat dan biasa.
Nami: (Mendekat perlahan, tidak berani menyentuh, tapi berdiri di sampingnya) "Luffy... pelan-pelan. Kita cari caranya bersama. Jangan push-up lagi. Jangan squat lagi. Dan demi Tuhan... jangan pernah makan ubi lagi."
Luffy mencoba "Latihan Menjadi Lemah" yang sangat konyol (seperti mencoba mengangkat selembar tisu tanpa merobeknya).
Kru mencoba mencari "Buah Iblis Penawar" atau cara mistis untuk menyegel sebagian kekuatan Luffy.
Nami: (Menunjuk peta kuno dengan kasar) "Menurut catatan tua yang kutemukan di Wano, ada buah iblis legendaris bernama Noro Noro no Mi varian purba, atau mungkin Muchi Muchi no Mi. Buah yang bisa membuat penggunanya menjadi 'Botol' yang menyegel energi berlebih. Kita harus menemukannya dan mencekokannya ke mulut Luffy!"
Zoro: (Menyandarkan punggung ke dinding, wajahnya gelap) "Kau gila, Nami? Kau mau menumpuk Buah Iblis di dalam tubuhnya? Kau tahu aturannya tubuhnya bisa meledak! Kau ingin menyegel kekuatannya atau membunuhnya?"
Nami: "LALU APA?! Kau mau kita terus hidup seperti ini? Kau sendiri tadi bilang kau takut padanya! Kalau kita tidak melakukan sesuatu yang ekstrem, Luffy akan menjadi 'Tuhan' yang kesepian di atas kapal ini, dan kita hanyalah semut yang menunggu terinjak!"
Zoro: "Aku tidak bilang aku mau dia mati! Aku bilang kita harus mencari cara yang terhormat. Menyegel kekuatan pria dengan buah iblis pengecut itu penghinaan bagi seorang petarung!"
Chopper: (Menangis sesenggukan di atas meja) "Aku sudah memeriksa semua buku medis... Tidak ada obat untuk 'Terlalu Kuat'! Secara biologis, sel Luffy sudah bermutasi menjadi sesuatu yang padat dan tak terkalahkan. Satu-satunya cara adalah menggunakan Batu Laut tingkat tinggi untuk melemahkannya secara permanen!"
Sanji: "Batu Laut? Chopper, dia pengguna buah iblis karet! Jika kau memasangkan borgol batu laut padanya secara permanen, dia tidak hanya kehilangan kekuatan Saitama, dia akan menjadi lumpuh dan mual selamanya! Kau mau kaptenmu hidup seperti mayat hidup hanya supaya kau merasa aman?!"
Chopper: "TIDAK! Tapi aku tidak punya pilihan lain! Aku dokter, Sanji! Tugasku menyembuhkan penderitaan, dan saat ini, kekuatan Luffy adalah penyakitnya!"
Robin: "Ada cara lain... yang lebih gelap. Di Ohara, aku pernah membaca tentang ritual 'Pemindahan Beban'. Kita bisa memindahkan sebagian 'Esensi Keberadaan' Luffy ke objek mati. Tapi itu membutuhkan tumbal... atau risiko bahwa objek itu akan menjadi monster baru yang tak terkendali."
Semakin Tajam
Usopp: "Tunggu, Robin! 'Memindahkan beban'? Maksudmu kita membagi kekuatannya kepada kita semua? Jika itu bisa membuat Luffy kembali normal, aku bersedia mengambil sedikit! Meskipun aku takut kepalaku akan meledak!"
Sanji: "Bodoh! Tubuhmu tidak akan kuat, Usopp! Lihat apa yang terjadi pada ikan teri itu! Jika kau mengambil kekuatan Luffy, kau tidak akan menjadi pahlawan, kau akan menjadi naskah yang rusak! Masalahnya bukan pada kekuatannya, tapi pada fakta bahwa dunia ini tidak dirancang untuk menampung kekuatan seperti itu!"
Brook: "Yohoho... mungkin kita harus bertanya pada sang penulis, Kai-san. Dia yang mencatat semua ini. Kai! Apakah tidak ada 'Penghapus' yang bisa mengurangi status Luffy?"
Kai: (Sambil meremas rambutnya, wajahnya pucat) "Kalian tidak mengerti! Jika aku mengubah status Luffy secara paksa melalui naskah, 'Logika Dunia' akan menganggap itu sebagai kesalahan sistem! Luffy bisa terhapus sepenuhnya dari garis waktu karena dia dianggap 'karakter yang gagal diperbaiki'! Pilihannya hanya dua: Biarkan dia seperti ini, atau ambil risiko dia hilang selamanya!"
Nami: (Membanting penggaris ke meja, air mata kemarahan jatuh) "AKU TIDAK PEDULI PADA LOGIKA DUNIA! Aku ingin temanku kembali! Aku ingin Luffy yang bisa kupukul tanpa aku harus takut tanganku hancur! Aku ingin Luffy yang bisa kupeluk saat aku ketakutan! Saat ini... saat aku melihatnya, aku hanya melihat sebuah senjata pemusnah yang memakai topi jerami! ITU MENYAKITKAN, TAHU?!"
Zoro: "Kecilkan suaramu, Nami! Dia bisa mendengarmu dari dek bawah! Kau pikir dia tidak merasa hancur mendengar kita merencanakan cara untuk 'melemahkan' dirinya seolah-olah dia adalah hama?"
Nami: "BIAR DIA DENGAR! Biar dia tahu kalau kita sedang berjuang demi dia! Dia pikir dia berkorban dengan menjadi kuat, padahal dia sedang menghancurkan kita dengan kehebatannya!"
Tiba-tiba, pintu ruang navigasi terbuka perlahan. Suara engsel pintu yang biasanya berderit, kini hanya mengeluarkan suara pelan karena Luffy memegang gagang pintu dengan ujung kuku agar tidak menghancurkannya.
Luffy berdiri di sana. Matanya tidak marah. Matanya penuh dengan kesedihan yang sangat dalam.
Luffy: "Kalian... sudah selesai?"
Semua orang terdiam. Nami membeku, wajahnya merah karena tangis dan malu.
Luffy: "Kalau kalian ingin aku memakai Batu Laut... aku akan memakainya. Kalau kalian ingin aku makan buah iblis penawar... aku akan memakannya. Aku tidak peduli kalau aku jadi lumpuh atau hilang dari waktu. Aku hanya tidak ingin melihat Nami menangis karena takut padaku lagi."
Luffy mengulurkan tangannya yang gemetar tangan yang bisa membelah benua, tapi kini tampak sangat rapuh di matanya sendiri.
Luffy: "Tolong... lakukan saja. Apa pun. Buat aku jadi Luffy yang tidak berguna lagi. Aku lebih suka jadi sampah daripada jadi 'Tuhan' bagi kalian."
Suasana di ruangan itu menjadi sangat berat. Kru Topi Jerami sekarang dihadapkan pada pilihan: Menyakiti fisik kapten mereka demi "normalitas", atau membiarkannya tetap kuat namun terasing.
