Cherreads

Chapter 194 - BAB 185 : AJARAN SAITAMA YANG LUFFY TANGKAP SALAH

Jam di Dek Sunny

​Setelah portal Future Straw Hats tertutup dan langit Wano kembali biru normal, suasana di atas Thousand Sunny mendadak sunyi. Kelelahan mental akibat duel tebak-tebakan logika tadi membuat semua orang terdiam.

​Luffy Prime duduk di kepala singa, menatap tangannya yang tadi sempat transparan. Dia merasakan sesuatu yang mengganjal di telapak tangannya. Ketika dibuka, ada sebutir pasir hitam berkilauan yang tidak mau jatuh meski ditiup angin.

​"Itu adalah Chronos Dust," suara Kai terdengar pelan di belakangnya. "Sisa dari keberadaan Eradicator yang kau kalahkan.

​Luffy menoleh. "Kai, apa kau sadar? Saat aku main tebak-tebakan tadi, aku melihat sesuatu di dalam kepala si Tuan Waktu itu."

​"Apa yang kau lihat?"

​Luffy terdiam sejenak, wajahnya tidak lagi datar, melainkan tampak berpikir keras. "Aku melihat banyak sekali 'Aku' yang lain. Ada 'Luffy' yang jadi angkatan laut, ada 'Luffy' yang tidak pernah bertemu Shanks, dan ada 'Luffy' yang... sudah mati di Marine ford."

​Kai tertegun. Dia tahu apa artinya itu. Itulah alasan mengapa Chronos Eradicator begitu terobsesi menghapus mereka: Timeline ini adalah satu-satunya di mana Luffy bertemu dengan kekuatan yang melampaui dimensi (Saitama).

​Zoro mendekat, membawa sebuah kotak kecil yang entah bagaimana tertinggal di dek setelah versi masa depannya pergi. "Oi, Luffy. Si Botak dari masa depan itu meninggalkan ini untukmu."

​Luffy membuka kotak itu. Isinya bukan emas atau buah iblis. Di dalamnya hanya ada sebuah Cermin Kecil Kusam dan secarik kertas bertuliskan:

​"Jangan hanya melihat ke depan. Sesekali, lihatlah ke belakang untuk memastikan bayanganmu masih mengikuti. Jika bayanganmu menghilang, berarti kau sudah menjadi terlalu kuat bagi dunia ini."

​Luffy menatap cermin itu. Alih-alih pantulan wajahnya sendiri, cermin itu menunjukkan sosok Saitama di dunianya, sedang duduk di balkon apartemennya sambil memegang kupon diskon yang sama dengan yang diberikan pada Luffy.

​Saitama di dalam cermin itu mendadak menoleh, seolah bisa melihat Luffy dari dimensi lain.

Dia memberikan jempol, lalu kembali mengupil.

​"Shishishi!" Luffy tertawa kecil. "Dia masih sama saja."

​Malam itu, Kai menulis di halaman terakhir bab ini. Dia menyadari bahwa kontrak emas yang dia pegang sekarang bukan sekadar pencapaian profesional, tapi sebuah tanggung jawab besar.

​"The Chronos Eradicator tidak benar-benar kalah karena tebak-tebakan Luffy. Dia kalah karena dia menyadari bahwa 'Narasi' dunia ini sudah tidak bisa dia kendalikan lagi. Kehadiran 'Sesuatu yang Asing' (Saitama) telah menginfeksi logika One Piece menjadi sesuatu yang baru. Dunia ini sekarang adalah perpaduan antara Takdir dan Absurd."

​Kai menutup jurnalnya. Dia melihat ke arah langit-langit kabinnya. "Jika aku terus menulis ini... apakah aku juga akan menjadi bagian dari legenda mereka? Ataukah aku hanya alat bagi sang Editor?"

​Jauh di dasar laut, di tempat yang tidak tersentuh oleh cahaya matahari maupun waktu, sebuah retakan kecil muncul di dinding realitas. Retakan itu berbentuk kepalan tinju.

​Sesuatu dari dunia Saitama mungkin seekor lalat, atau mungkin sebuah debu dari kekuatan pukulannya telah masuk secara permanen ke Grand Line melalui portal waktu tadi.

​Dunia One Piece mungkin sudah stabil, tapi hukum fisika di dalamnya sudah mulai retak selamanya.

​Luffy berdiri di ujung dek, menghirup udara malam. "Oi, Sanji! Besok pagi aku mau sarapan ubi cilembu lagi! Aku merasa kekuatanku akan bertambah kalau aku makan ubi!"

​"JANGAN LAGI! KAU MAU MENGHANCURKAN PULAU SELANJUTNYA DENGAN GASMU?!" teriak seluruh kru serempak.

Cerita ini tidak berakhir di sini. Kekalahan sang Penguasa Waktu hanyalah pembuka bagi babak baru di mana Luffy akan menyadari bahwa menjadi bebas berarti juga berani menjadi absurd.

​ Di Dek Sunny

​Pagi itu, laut sangat tenang, namun suasana di Thousand Sunny terasa sangat tegang. Luffy tidak sedang berlatih tanding dengan Zoro atau meminta makanan pada Sanji. Dia sedang berjongkok di depan sebuah ember kayu kecil berisi air laut. Di dalamnya, berenang seekor Ikan Teri kecil sepanjang lima sentimeter yang tampak bingung.

​"Dengar, Teru-chan," ucap Luffy dengan nada sangat serius, wajahnya sedatar papan cucian. "Kau punya potensi. Aku bisa merasakannya. Kau hanya perlu memfokuskan semangatmu ke ujung siripmu."

​Luffy menjentikkan jarinya ke air. "Ayo, gunakan Busoshoku! Keraskan sisikmu sampai menjadi hitam!"

​Ikan teri itu hanya mengedipkan mata, lalu mengeluarkan gelembung kecil. Blub.

​Nami adalah yang pertama datang. Dia membawa peta, tapi langkahnya terhenti melihat pemandangan absurd itu.

​"Luffy," panggil Nami pelan, mencoba menahan emosi. "Apa yang sedang kau lakukan? Kita punya jadwal untuk sampai ke pulau berikutnya sebelum badai."

​"Ssst! Jangan berisik, Nami," bisik Luffy tanpa menoleh. "Teru-chan sedang dalam fase kritis. Dia hampir bisa merasakan aliran energi alam semesta. Saitama pernah bilang, guru yang baik adalah guru yang bisa mengajar makhluk paling lemah sekalipun."

​"SAITAMA TIDAK PERNAH BILANG BEGITU!" teriak Nami, akhirnya meledak. "Luffy, itu adalah ikan teri! Ikan teri tidak punya sirkulasi Haki! Mereka hanya punya insting untuk dimakan atau memakan plankton! Kau membuang-buang waktu yang berharga!"

​Luffy menatap Nami dengan tatapan bijak yang menyebalkan. "Nami, kau terlalu terikat pada peta. Kau melihat dunia sebagai garis dan angka. Tapi Teru-chan... dia melihat dunia sebagai kemungkinan tanpa batas. Kalau dia bisa pakai Haki, dia bisa melawan hiu sendirian. Bukankah itu kebebasan?"

​Nami memegang dahinya. "Kebebasan bukan berarti membuat ikan teri menjadi senjata pemusnah massal, Luffy!"

​Chopper datang membawa stetoskop, merasa ini adalah masalah medis. Dia memeriksa ikan itu, lalu memeriksa dahi Luffy.

​"Luffy, secara anatomis, sistem saraf ikan ini terlalu sederhana untuk memproses konsep Haoshoku sekalipun," ucap Chopper dengan nada prihatin. "Otaknya hanya sebesar butiran pasir. Jika kau memaksanya menggunakan Haki, kepalanya bisa meledak karena tekanan mental!"

​"Itu karena kau melihatnya dengan sains, Chopper," sahut Luffy datar. "Saitama bilang, kalau kau berpikir kau bisa, maka kau bisa. Meskipun kau tidak punya otot."

​Sanji datang sambil membawa piring kosong. "Oi, Luffy. Aku butuh ikan itu untuk hiasan salad siang ini. Berikan padaku."

​Luffy langsung menutupi embernya dengan tangan. "Jangan! Teru-chan adalah murid pertamaku! Dia adalah pewaris teknik 'Serious Series' versi air! Kau tidak boleh memasak masa depan dunia bawah laut!"

​Sanji menghembuskan asap rokoknya dengan frustrasi. "Masa depan apa?! Itu ikan teri yang bahkan tidak cukup untuk satu gigitan! Luffy, kau mulai kehilangan kontak dengan realitas. Kekuatan Saitama itu merusak otakmu! Kau mulai berpikir bahwa segala hal di dunia ini bisa jadi 'pahlawan' hanya dengan latihan 100 kali sehari!"

​Kai mendekat, mencoba menggunakan pendekatan narasi. "Luffy, dengar. Dalam struktur cerita mana pun, karakter sampingan seperti ikan teri ini tidak diberikan 'power-up'. Ini akan merusak keseimbangan alur! Jika semua ikan di laut punya Haki, maka tidak ada lagi kapal yang bisa berlayar!"

​Luffy berdiri, menatap mereka semua satu per satu. "Kalian semua salah. Kalian takut pada perubahan. Kalian takut kalau ikan teri ini menjadi lebih kuat dari kalian."

​"KAMI TIDAK TAKUT PADA IKAN TERI!" teriak Zoro dari kejauhan, yang akhirnya terbangun karena keributan itu. "Kami takut kapten kami sudah benar-benar gila! Aku tidak akan membiarkan reputasiku sebagai pendekar pedang hancur karena aku harus bertarung melawan ikan teri yang bisa melapisi siripnya dengan Haki!"

​Luffy kembali berjongkok. "Lihat..."

​Tiba-tiba, ikan teri itu melompat dari air. Selama satu milidetik, sirip kecilnya tampak berkilat hitam legam warna khas Busoshoku Haki. Ikan itu menabrak pinggiran ember kayu, dan ember itu... retak.

​KRAK.

​Semua orang terdiam. Hening total di atas Thousand Sunny.

​"T-tadi itu..." suara Chopper gemetar. "Tadi itu benar-benar Haki?"

​Nami jatuh terduduk. "Tidak mungkin... alur dunia ini benar-benar sudah hancur. Luffy benar-benar telah menularkan 'logika absurd'-nya pada rantai makanan terbawah."

​Zoro mendekat ke ember, menatap ikan itu dengan serius. "Luffy... apa yang kau ajarkan padanya selain push-up?"

​Luffy menyeringai, tapi matanya tetap datar. "Aku hanya menyuruhnya membayangkan bahwa dia bukan lagi seekor ikan, melainkan sebuah kepalan tinju yang berenang. Dan sepertinya, dia mulai mengerti."

​Sanji membuang rokoknya. "Kalau begitu... aku berhenti jadi koki. Bagaimana aku bisa memasak bahan makanan yang bisa menangkis pisauku dengan Haki?"

​Kai buru-buru menulis di jurnalnya dengan panik. "Bencana dimulai. Bukan karena musuh besar, tapi karena Luffy mulai memberikan kekuatan dewa pada hal-hal yang tidak penting. Jika ini terus berlanjut, seluruh ekosistem akan memberontak."

​Luffy menatap langit. "Nah, Teru-chan. Besok kita mulai latihan lari 10 kilometer di dasar laut. Tanpa menggunakan insang."

​"IKAN ITU AKAN MATI KALAU TIDAK PAKAI INSANG, BODOH!" teriak mereka semua serempak.

​"Oke, Luffy," Sanji maju sambil melipat lengan kemejanya, wajahnya sangat serius. "Kalau kau memang yakin 'semua hal' bisa jadi hebat hanya dengan latihan 100 kali, mari kita bertaruh. Kita buat kompetisi keahlian."

​Luffy mengangkat alisnya (yang sekarang jarang bergerak karena ekspresi datarnya). "Taruhannya apa?"

​"Kalau kau kalah," Sanji menunjuk ke ember ikan teri, "Kau harus melepaskan Teru-chan kembali ke laut dan berhenti mengajarinya teknik pernapasan Saitama. Dan kau harus kembali makan daging buatan koki, bukan ubi rebus hambar!"

​Luffy terdiam sejenak. "Dan kalau aku menang?"

​"Maka..." Sanji menelan ludah, "Aku akan memasak ubi untukmu selama satu bulan penuh dan mengakui Teru-chan sebagai asisten koki."

​"Setuju," ucap Luffy pendek.

​Kompetisi pertama dimulai di dapur yang dipindahkan ke dek. Aturannya sederhana: Memotong tumpukan wortel menjadi irisan tipis dalam 10 detik.

​Sanji bergerak seperti kilat. Pisau dapur di tangannya menjadi blur perak. Taktaktaktaktak! Dalam 5 detik, tumpukan wortel sudah menjadi irisan sempurna yang identik satu sama lain. Sanji berpose keren sambil menyalakan rokok. "Teknik, Luffy. Itu yang namanya keahlian."

​Kini giliran murid Luffy. Ikan Teri itu diletakkan di atas talenan di samping sebatang wortel.

​"Ayo, Teru-chan! Gunakan Serious Headbutt!" teriak Luffy.

​Ikan teri itu melompat, tubuhnya berkilat hitam Haki, dan dia menabrak wortel itu dengan moncongnya.

​BOOM!

​Wortel itu tidak teriris. Wortel itu meledak menjadi debu atom. Seluruh dek kapal Sunny kini tertutup debu wortel berwarna oranye.

​"Itu bukan memotong, bodoh! Itu penghancuran!" teriak Nami sambil mengelap wajahnya yang penuh bubuk wortel. "Poin untuk Sanji karena kerapihan!"

​Luffy cemberut. "Tapi wortelnya hilang. Itu artinya sangat cepat."

​Nami menantang murid Luffy untuk menentukan arah ke pulau terdekat tanpa kompas. Nami menggunakan insting cuaca, merasakan kelembapan udara, dan arah angin. "Pulau itu ada di arah Barat Laut, 20 mil dari sini!"

​Ikan teri itu hanya berputar-putar di dalam air, lalu tiba-tiba dia meluncur ke arah Timur dengan kecepatan peluru, menabrak lambung kapal, dan membuat kapal Sunny sedikit bergeser.

​"Dia tidak menavigasi!" teriak Nami. "Dia cuma panik karena airnya mulai surut!"

​Luffy menggeleng. "Bukan, dia sedang melakukan Terraforming. Dia mencoba memindahkan pulau itu ke kita supaya kita tidak perlu berlayar."

​"LOGIKA MACAM APA ITU?!" Kai berteriak, hampir membenturkan kepalanya ke jurnal.

​Zoro yang sudah gemas akhirnya maju. "Cukup main-mainnya. Luffy, kau bilang kau murid Saitama yang paling hebat sekarang. Kalau begitu, mari kita adu ketahanan batin. Kita akan duduk diam, tanpa bicara, tanpa bergerak, di bawah sinar matahari selama 5 jam. Siapa yang bergerak duluan, dia kalah."

​Zoro duduk bersila, matanya tertutup, memancarkan aura pendekar pedang yang tenang. "Aku bisa melakukan ini berhari-hari."

​Luffy duduk di depannya. Ikan teri di dalam ember diletakkan di tengah.

​Satu jam berlalu... Dua jam...

​Zoro mulai berkeringat. Dia merasa ada yang aneh. Luffy di depannya tidak terlihat seperti manusia yang sedang bermeditasi. Luffy terlihat seperti... patung batu yang tidak bernyawa. Wajah datarnya begitu absolut hingga Zoro mulai merasa tertekan secara psikologis.

​Lalu, masalah sebenarnya muncul. Ikan teri itu.

​Teru-chan, karena bosan, mulai menggunakan Haoshoku Haki (Haki Raja) tingkat rendah. Getaran lemah keluar dari ember itu, membuat telinga Zoro berdenging. Ikan teri itu menatap Zoro dengan mata kecilnya yang datar, seolah-olah sedang menghakimi seluruh hidup Zoro.

​"Kenapa kau punya tiga pedang kalau kau hanya punya satu mulut?" Seolah-olah itu yang dikatakan ikan tersebut lewat telepati Haki.

​Zoro mulai gemetar. Pembuluh darah di keningnya berdenyut. "Ikan... ikan ini... dia menghinaku..."

​"Zoro, jangan bicara! Kau akan kalah!" teriak Sanji dari pinggir.

​Tiba-tiba, Luffy membuka satu matanya. Matanya tidak lagi bulat besar, tapi sipit dan datar. "Zoro... kau tahu kenapa kau belum bisa menebas besi dengan satu jari?"

​"A-apa?" Zoro terjebak dalam dialog.

​"Karena kau terlalu banyak membawa beban," ucap Luffy dengan suara berat. "Kau membawa beban masa lalu, beban janji, dan beban tiga bilah besi. Lihat Teru-chan. Dia tidak punya apa-apa. Dia hanya punya ember. Dan dia bahagia."

​Zoro meledak. Dia berdiri dan menghunus pedangnya. "CUKUP! AKU TIDAK BISA MENERIMA FILOSOFI DARI SEEKOR IKAN TERI! LUFFY, KAU SUDAH BENAR-BENAR MERUSAK OTAKKU!"

​"Zoro bergerak! Luffy menang babak ini!" teriak Chopper sambil memegang bendera kecil.

​Nami mendekati Luffy, kali ini dengan nada bicara yang sangat lambat, seolah bicara pada anak kecil. "Luffy... tolong. Lihat kami. Kami adalah kru-mu. Kami manusia. Kami butuh kapten yang... yang setidaknya tahu kalau ikan tidak bisa menjadi Shogun."

​Luffy menatap Nami. "Aku tahu itu, Nami. Aku tidak mau dia jadi Shogun."

​"Terima kasih Tuhan."

​"Aku mau dia jadi Pahlawan yang Melindungi Laut," lanjut Luffy. "Supaya saat kita tidak ada, laut ini punya penjaga yang bisa mengalahkan Sea King dengan satu sundulan."

​Kai jatuh berlutut.

Dia menyadari bahwa Luffy tidak bisa "disadarkan" karena Luffy merasa dia sedang melakukan hal yang mulia. Di dalam kepala Luffy, ini adalah bentuk cinta kepada dunia.

​"Ini bukan masalah kegilaan," bisik Kai ke kru lainnya. "Ini adalah masalah Kebaikan yang Terlalu Kuat. Dia ingin semua orang bahkan ikan teri menjadi sekuat dirinya agar tidak ada lagi yang terluka. Itulah inti dari ajaran Saitama yang dia tangkap salah."

More Chapters